
,▪︎▪︎▪︎▪︎
Zach melarang Eric dan Audrey menginap di hotel. Karena ia sudah sengaja membuat rumahnya seperti kost-kost an dengan banyak kamar, agar sahabat atau keluarga yang berkunjung bisa stay di rumahnya.
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, Zach tidak pernah bisa tidur dengan tenang dan nyenyak karena tidak ada Celo. Kehangatan yang biasa didapat dari memeluk tubuh mungil itu, kini hampa rasanya.
"Sedang apa kau disana sayang? Apa kau juga merasakan apa yang Mas rasakan?" Gumam Zach seraya tidur terlentang ia menggunakan kedua tangannya sebagaian bantal dan tatapan mata menatap langit-langit kamar.
Bagai roll film semua kenangan saat bersama wanitanya seolah berputar diatas sana. Zach tersenyum sendiri jika sudah mengingat semua tingkah pola istrinya yang selalu bisa membuatnya tenang juga membuatnya menjadi candu.
Tok tokk tok
Lamunan Zach lansung buyar tatkala seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia beranjak dari tidurnya menuju pintu karena Zach pikir itu pasti Audrey. Hanya wanita itu yang berani mengusiknya, terlebih sekarang ia sedang hamil dan banyak maunya.
Ceklek
Baru saja terbuka seorang wanita dengan pakaian minim segera menubruk tubuh besarnya.
"Mau apa kau?" Jerit Zach terkejut sekaligus tak percaya.
"Aku tau kau kesepian Zach. Biarkan aku berbagi kehangatan untuk mu." Ucapnya seraya membelai wajah Zach.
"Heh!! Dasar menjijikkan. Keluar dari kamar ku atau-" ancam Zach yang lansung di potong wanita itu.
"Ssttt….aku tau kau tidak akan pernah bisa menyakiti ku Zach karena apa? Karena separuh cinta ku masih tertinggal di hati mu." Tangan nakalnya semakin bergerilya menyentuh setiap inci tubuh Zach.
Ayolah, Zach pria normal dan juga sekarang ia sangat kesepian. Melodi senang karena Zach menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Saat bibirnya hampir menyatu dengan bibir pria itu tetiba terdengar suara tamparan.
Plakk
"Arghh….apa yang kau lakukan Zach!" Teriak Melodi saat tau kalau Zach lah yang menamparnya.
"Melakukan apa seharusnya ku lakukan ja**ng! Kau pikir tangan bahkan tubuh kotor mu itu layak menyentuh tubuh ku? Jangan menghayal kau!!" Tak cukup sampai disitu, Zach mencengkeram lengannya kasar lalu menyeret paksanya keluar.
"Pergi kau!!" Bentak Zach kasar seraya menghempaskan kasar tubuhnya ke lantai. Bukannya tak peduli akan kehamilan wanita itu, namun wanita itu saja tak peduli akan keselamatan bayinya sendiri.
"Ada apa ini?" Eric, Audrey juga Chris mereka yang mendengar suara gaduh akan teriakan Zach keluar dari kamar mereka.
"Ja**ng ini mulai berulah! Beraninya dia mengganggu ku!" Teriak Zach. Selama berhubungan dengan Melodi baru kali ini dia bicara kasar pada wanita itu.
"Apa? Kau menyebut ku apa?" Tanya nya tak percaya.
"Ja**ng itu sudah mencuci otak mu Zach. Lihatlah sekarang bahkan kau memusuhi adik mu sendiri karena wanita itu!" Dalam keadaan seperti itu masih saja dia sanggup berteriak.
"Jangan pernah kau menyebut istriku seperti itu dengan mulut mu yang kotor. Ingat itu!!" Ancam Zach mencengkeram kasar kedua sisi wajahnya.
"Istri? Bagaimana kau menyebutnya istri jika status mu masih kekasih bahkan tunangan ku." Melodi mencoba peruntungannya dengan mengingatkan Zach akan status mereka yang masih belum berakhir.
"Ohh…kalau begitu mulai hari ini hubungan kita berakhir dan kau bukan tunangan ku lagi. Sekarang enyahlah dari keluarga dan hidup ku!" Masih tak bergeming, Zach menyeret paksa wanita itu keluar dari rumahnya.
^^^^
Di lain kota dan negara, Celo baru saja turun dari mobil travel. Ia sampai ditempat tujuannya, tapi bukan kampung halaman ibunya melainkan kampung halaman Bibi pemilik toko bunga tempatnya pernah bekerja.
Seminggu kedatangannya dari Holland, Celo menghampiri Bibi dan berkata bahwa Zach menyuruhnya bersembunyi. Ia terpaksa berbohong karena jika jujur Celo takut Bibi akan menyalahkan Zach nantinya.
"Ahh…akhirnya sampai juga." Ucapnya, Celo merentangkan tangan dan menghirup udara segar banyak-banyak.
"Mas…maafkan Celo, tapi Celo harus memulai hidup baru disini." Lirihnya diikuti jatuhnya air mata.
Celo lansung menuju rumah yang memang sudah dicarikan oleh Bibi Mey. Karena tak membawa barang terlalu banyak, jadi dia tak membutuhkan bantuan orang lain.
"Ini rumahnya nak. Semoga nyaman dan betah tinggal disini, jika butuh sesuatu jangan segan-segan minta bantuan ke rumah ibu disebelah." Ujar Ibu pemilik kontrakan.
"Baik Bu, terima kasih." Balas Celo ramah.
"Sama-sama." Ibu itu tersenyum, lalu pergi meninggalkan Celo.
^^^
"Kenapa akhir-akhir ini Celo sangat cepat kelelahan ya? Mungkin karena tidak terbiasa berjalan jauh kali ya." Bertanya sendiri, menjawab pun sendiri pula.
"Mas…Mas sedang apa sekarang? Apa Mas memikirkan Celo?" Celo dilema seperti abg labil yang baru saja putus cinta.
"Pasti sekarang si Melodi itu selalu mendakati suami Celo. Lihat saja, jika benar nanti Mas membawa anaknya pulang dan bertemu dengan Celo akan Celo cubit sampai menangis anaknya." Dia kesal sendiri membayangkan bagaiman gencarnya wanita itu ingin kembali ke suaminya.
"Apa Celo kembali saja? Ah…tidak, tidak boleh. Tapi jika Mas menjemput dan memohon Celo akan pertimbangkan lagi. Apa mungkin Mas akan menemukan Celo disini?" Hampir seperti orang gila ia nyaris bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya itu.
Lelah berkecamuk dengan diri sendiri, akhirnya wanita itu tertidur dengan sendirinya.
^^^
Waktu sudah menunjukkan masuknya makan malam, Celo terbangun karena merasa sudah mulai gelap.
"Ughh…Mas, kenapa gelap sekali?" Tak sadar, Celo memanggil suaminya. Perlahan ia terduduk dan kembali ke reality yang ada, air mata kembali mengalir dikedua sudut matanya.
"Ibu…apa Celo tidak berhak bahagia? Kenapa kebahagiaan itu hanya sekejap saja?" Tangisan itu berubah menjadi isakan tersedu-sedu.
Selama menangis, Celo menatap lekat cincin pernikahan yang melingkar erat di jari manisnya, ia juga menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.
"Celo akan selalu memakai ini Mas, karena dengan ini Celo bisa merasakan cinta dan kehangatan Mas." Seperti ucapan Zach bahwa Celo harus selalu memakai kalung itu setiap saat.
^^^
"Uncle mau kemana?" Tanya Audrey yang baru keluar dari kamar, ia melihat Zach sudah tapi dengan busana khas orang akan ke kantor.
"Ada meeting, Garret tidak bisa diandalkan." Gerutunya.
"Garret?? Siapa?" Eric yang juga baru keluar ikut menimpali pertanyaan istrinya tadi.
"Asisten ku di kantor."
"Bryan?" Zach lupa menceritakan perihal Bryan yang ia rumahkan sementara waktu.
"Nanti saja ceritanya. Aku buru-buru." Sebelum pergi Zach menyempatkan diri mengecup kening Audrey sekilas.
"Jaga keponakan ku." Yang diakhiri dengan mengacak rambut istri sahabatnya itu.
"Tentu uncle. Hati-hati dijalan." Serunya seraya melambai ke arah Zach.
"Dimana kau?" Sepeninggal Zach, Eric menghubungi seseorang.
"Di hotel."
"Temui aku di apartement Zach makan siang nanti. Ajak juga dia." Perintah yang diberikan oleh Eric itu mutlak hukumnya, siapapun yang baru saja di hubunginya harus menuruti perintah itu.
"Baiklah." Sautan pelan terdengar dari seberang panggilan.
"Siapa yang baru saja kau hubungi honey?" Tanya Audrey yang melihat wajah serius suaminya.
"Tidak ada honeymoon, hanya anak nakal. Ayo kita cari sarapan diluar, baby pasti lapar." Ajaknya dengan tangan merangkul pinggang ramping istrinya.
"Oke. Hehehe..tapi ajak Chris juga ya, kasihan sendirian saja." Pinta Audrey yang kasihan akan nasib wanita itu.
"Tentu. Ayo." Mereka beranjak keluar, setelah sebelumnya membangunkan dan mengajak Chris bersama mereka.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Ini bukan crazy up kan ya? Tapi nyicil haahaaa…
Jangan lupa dukungannya dengan LIKE dan sertakan juga COMMENT.
Biasakan juga berbagi pada Author dengan memberikan VOTE
Bukankah berbagi itu indah…
THANKS ALL