Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tekad Melodi



●●●●


"Sialan kau Zach!! Dasar pria brengsek!! Selalu saja berpikiran ambigu!" Ditempat lain seorang wanita tengah mengamuk histeris. Bagaimana tidak, ia mendapatkan kabar bahwa pria yang dicintainya sudah resmi menikahi wanita lain. Melodi tak dapat lagi menyembunyikan kemarahannya, segala sesuatu yang ada di dekatnya tak lepas dari amukan. Ya, wanita yang tengah mengamuk itu tak lain ialah Melodi.


"Kenapa kau mau menikahinya? Bukankah kemarin pernikahan kalian sudah batal? Kenapa Zach? Kenapa?? Arghhh…." Melodi berteriak histeris menyerupai orang gila.


Prangg


Prang


Beberapa barang kembali dipecahkannya.


"Apa kau mau balas dendam pada ku Zach? Maafkan aku, aku sangat mencintaimu Zach, sangat. Tapi aku membutuhkan ayah dari bayi ini karena darinya lah aku mendapatkan kepuasan. Hiks…hikkss…" ia berucap seolah Zach ada di hadapannya sekarang.


Cukup lama menangis meratapi kabar pernikahan Zach, Melodi akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


°°°°


"Dimana aku? Arghh…" saat terbangun, Melodi sudah berada di rumah sakit. Ia memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit.


"Nona sudah bangun, sebentar saya panggil kan dokter dulu." Seorang asisten rumah tangga menghampiri Melodi, dia lah yang menemukan Melodi dan membawanya ke rumah sakit.


Tak lama datanglah seorang dokter pria muda memeriksakan keadaan Melodi.


"Apa yang anda rasakan saat ini Miss?" Tanya dokter tersebut.


"Perut saya sakit dokter." Imbuh Melodi.


"Ini wajar karena anda baru saja mengalami pendarahan. Tapi tenang saja, ini tidak akan berlansung lama Miss." Jelas Dokter.


"Baguslah." Gumam Melodi. Sama sekali ia tak menanyakan keadaan bayinya.


"Satu lagi, bayi anda baik-baik saja. Jika anda membutuhkan atau anda merasakan sesuatu anda bisa memanggil saya Miss." ucap dokter itu.


"Thanks." Balas Melodi.


"Saya permisi dulu." Dokter tersebut tersenyum kemudian meninggalkan kamar inap Melodi.


"Seandainya, ayah bayi ini atau Zach bisa seperti dokter itu." Senyum Melodi dengan raut wajah tak biasanya, ada senyum licik jika seseorang memperhatikannya dengan detail.


"Bagaima caranya, aku harus bisa dekat dengan dokter tadi. Akan ku rencanakan sesuatu dengan sangat baik dan rapi." Melodi bertekad, namun tekad yang salah.


°°°°


Banding terbalik dengan Melodi, pasangan pengantin itu baru saja terbangun dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Sepertinya mereka sudah mulai terbiasa akan sentuhan masing-masing. Celo melepaskan pelukan Zach dengan pelan agar suaminya itu tak terusik tidurnya.


"…." Dari jarak sedekat ini Celo memperhatikan detail wajah suaminya. Wajah yang sudah membuatnya jatuh kedalam pesona nya.


Puas dengan itu, Celo beranjak ke kamar mandi. Ia harus segera turun membantu Bibi dan juga Mertuanya untuk mempersiapkan sarapan.


Sesampainya didapur Celo belum mendapati siapapun. Dengan inisiatif sendiri Celo memutuskan memasak omurice, omelet yang berisikan nasi goreng asal korea selatan. Selain itu Celo juga memasak bihun goreng special tak lupa ia tetap menata roti lengkap dengan selai di atas meja makan.


"Astaga Nona.. kenapa nona mengerjakan ini semua?" Celo yang tengah menata meja dikejutkan oleh suara Bibi yang tak kalah terkejutnya.


"Bibi mengagetkan saja." Ucap Celo seraya mengusap dadanya sekilas.


"Nona, kenapa nona tidak memanggil saya? Nyonya besar akan marah nanti." Bibi cemas bila nyonya besar akan tau.


"Tidak apa-apa Bi, Mami tidak akan marah. Lagi pula, tadi Celo melihat Bibi menjemur pakaian sangat banyak."


"Tapi Nona-"


"Tidak apa-apa" potong Celo cepat.


"Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?" Tetiba saja, Mami datang dari arah ruang utama.


"Itu nyonya..-" dengan terbata Bibi bermaksud akan menyampaikannya.


"Tidak ada apa-apa Mi, Celo hanya membantu Bibi saja." Lagi, Celo memotong pembicaraan Bibi.


"Oh…wah..makanan sudah siap semua. Celo sayang, panggilkan suami mu nak." Pinta Mami pada Celo.


"Ya Mi."


"Siapa yang memasak ini semua Bi?" Sepeninggal Celo, Mami kembali menanyakannya pada Bibi. Karena tidak biasaniya Bibi berinisiatif sendiri untuk memasak sesuatu.


"Maaf nyonya, sebenarnya ini semua nona Celo yang memasaknya tanpa bantuan dari saya. Saya minta maaf nyonya." Bibi takut jika nyonya nya akan marah.


"Benarkah? Wahh...ternyata memang tidak salah aku memilih menantu." Puji Mami dengan tatapan mata yang berbinar.


"Nyon-nyonya ttidakk marah?"


"Marah? Kenapa?"


"Karena saya membiarkan nona memasak sendiri." Bibi menundukkan kepalanya takut.


"Hahaa…bibi lucu. Kenapa saya harus marah. Malahan bagus, jadi saat mereka tinggal berdua, Celo tidak canggung karena ia istri yang mandiri."


Mereka tertawa akan ketakutan bibi tadi.


°°°°


Ceklek


"Mas…bangun mas." Zach masih saja belum bergeming dari tidurnya.


"Mass…mas.."


"Eungghh…"


"Mas... bangun mas." Untuk kesekian kalinya Celo membangunkan suaminya.


"Ayolah mas… bangunnn…" kali ini dengan mengguncang pundaknya. Zach yang sebenarnya sudah bangun, ia tersenyum gemas melihat reaksi istrinya yang seperti anak kecil.


Plak plakk


Kesal karena Zach tak kunjung bangun, Celo memukul lengannya dengan keras karena, jika pelan tak akan terasa oleh lengan berotot milik suaminya itu.


"Aduhh..aw.. berhenti.." pinta Zach.


"Bangun!!" Celo semakin kesal.


"Hahaaha…"


"Mass…" rengeknya lagi.


"Baiklah. Baiklah…" Zach bangun mendudukkan tubuhnya, kemudian memeluk istrinya.


"Mas…Papi, Mami udah nungguin kita."


"Biar saja. Kita sarapannya siang aja sekalian makan siang. Lebih hemat, hemat waktu juga uang." Seringai licik menyertai ucapannya.


"Lalu kita mau ngapain? Masa tidur lagi mas? Badan bisa pegal semua kalau kita tidur seharian." Dengan polos nya Celo berucap pada suaminya."


"Ya nggak tidur juga. Kita bisa olahraga."


"Olahraga apa? Celo nggak suka olahraga mas. Celo temani mas aja ya olahraganya." Entah kenapa pembahasan mereka jadi aneh dan tidak nyambung.


"Kamu harus ikut. Olahraga ini khusus untuk dua orang pasangan suami istri." Bisik Zach tepat di telinga Celo.


"O-olahragga ap-ppa mas?" Celo gugup bukan main akan perlakuan nakal suaminya.


"Ya olahraga, disini, diatas ranjang." Kali ini ucapan Zach diikuti kecupannya.


"Geli mass..shh.." Celo menahan dada Zach yang terus saja mendekat ke tubuhnya.


Zach sepertinya tak mau melewatkan kesempatan ini. Ia tak peduli Mami bahkan Papinya sekaligus akan berteriak dari luar kamar. Baginya saat ini Celo harus seutuhnya menjadi miliknya.


°°°°


Zach turun, dengan wajah kesal dan marah, lagi-lagi kegiatannya harus terganggu dan lagi-lagi karena Mami nya.


"Zach…maafkan Mami." Mami segera saja minta maaf saat melihat putranya turun dari tangga.


"Zach akan selalu memaafkan Mami, dan Mami akan selalu mengulanginya lagi." Ia menjawab dengan ketus permintaan maaf Mami nya.


Flashback


"Mass…."


"Mm…sebentar saja."


Ceklek


"Shitt…" umpat Zach. Saat menoleh, lagi Zach mendapati Maminya.


"Mm-" belum sempat beliau mengucapkan maaf dan membela diri, Zach sudah bergegas masuk ke kamar mandi dengan wajah memerah karena murka.


BRAKKK


Dengan sekuat tenaga Zach membanting pintu kamar mandi karena kesal.


Flashback off


"Mami benar-benar gak sengaja. Lagian kalian kenapa harus pagi sih? Kan bisa malam?" Mami tentu saja tidak mau disalahkan begitu saja.


"…."


"Hahh….Papi bisa cepat tua kalau begini terus. Setiap sarapan ada saja masalahnya, nanti tidak berkah apa yang akan kita makan." Papi pusing di buatnya, sudah dua hari ini istri dan putranya selalu berdebat bahkan sampai adu urat.


"…." Tak ada satupun yang berani buka suara saat Papi bernasehat.


●●●●


**teman-teman semua jangan lupa dukungannya dan support nya ya.


sebelumnya terimakasih banyak buat yang sudah mampir dan memberi dukungan.


luv u all**