Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Ini kah yang dinamakan karma?



●●●●


"Mas..cepat kemari, kak Chris….dia...dia.." Celo menghubungi suaminya karena sesuatu telah terjadi.


"Ada apa? Kau kenapa? Apa yang dilakukan anak itu?" Zach yang mendengar suara cemas penuh ketakutan istrinya sontak saja berpikiran buruk dan lansung mengarah ke adiknya, Christa.


"Kak Chris…Mas kesini saja dulu, bantu Celo."


"Baiklah, tunggu sebentar. Mas segera turun kebawah." Tanpa mempedulikan pekerjaannya yang banyak, Zach terburu menyusul istrinya. Pikirannya gusar dan tak tenang sekarang ini.


Hanya butuh beberapa menit saja Zach sudah sampai di toko milik Celo. Segera ia masuk dan mencari dimana keberadaan istri kecilnya itu.


"Celo, sayang. Kau tidak apa-apa kan?"


"Celo tidak apa-apa Mas. Tapi kak Chris, dia tak sadarkan diri. Ayo kita bawa ke rumah sakit Mas, sedari pagi juga dia sering mual dan wajahnya sangat pucat." Celo mulai menangis menceritakan perihal keadaan adik iparnya itu.


Benar saja, Zach menoleh ke arah sofa yang terdapat tubuh lemah adiknya. Zach menghampiri Chris lalu membawanya dalam gendongan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Biar bagaimana pun rasa sayang terhadap adiknya itu akan selalu ada.


"Celo ikut Mas."


"Mm…" Zach mengiyakan permintaan istrinya.


Usai menitipkan toko pada karyawannya, Celo segera menyusul dan masuk ke dalam mobil suaminya. Ia duduk di belakang seraya memangku Chris dalam pelukannya.


••••


"Permisi, apa disini ada suami pasien?" Tanya seorang dokter begitu ia keluar dari ruangan dimana Christa di tangani.


"Suami? Adik saya belum menikah dokter." Zach buka suara.


"Ah..maaf." terang saja dokter tersebut heran, karena penjelasannya akan berhubungan dengan kehamilan Chris.


"Ada apa Dokter? Kami kakaknya, jelaskan apa yang terjadi dan apa sakitnya?" Zach sedikit khawatir melihat raut heran di wajah Dokter itu.


"Baiklah, kita bicara diruangan saya saja." Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Dokter yang tak jauh dari kamar Chris.


"Begini Tuan, Nona, apa kalian mengetahui kondisi pasien yang tengah hamil muda?" Dokter itu sedikit menjaga perkataannya karena takut akan menimbulkan emosi.


"Tidak. Dia belum lama ini tinggal disini bersama kami. Lansung saja Dokter, jangan bertele-tele." Zach tipikal orang yang suka lansung ke intinya saja.


"Adik anda sedang hamil dan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke lima. Di usia ini, ibu muda akan rentan untuk mengalami yang namanya pendarahan dan juga kelelahan karena perubahan hormon. Untuk itu pasien butuh lebih banyak perhatian dan pastikan ia memakan makanan yang cukup gizinya agar si janin berkembang dengan baik dan sehat." Dokter itu menjelaskan dengan bahasa yang simple dan mudah dipahami.


Saat ini Zach dan Celo sedang duduk di depan ruang rawat Chris. Selesai mendengar penjelasan dari dokter, Zach termenung dengan tatapan mata kosong.


"Mas…" Celo menyentuh pundak suaminya dengan gerakan pelan.


"…." Zach benar-benar diam seribu bahasa, ia menatap ke arah Celo tapi tetap saja tatapan itu kosong.


"Mas… Celo keluar sebentar ya mau beli makan, saat bangun pasti kak Chris lapar." Masih tak ada respon dari Zach, Celo beranjak berdiri. Ia ingin memberikan space untuk suaminya itu, Zach pasti sangat terpukul sekarang mengingat apa yang dialami adiknya saat ini.


"Tetaplah disini, jangan tinggalkan Mas Celo." Pinta Zach dengan air mata sudah menggenang di sudut matanya.


Celo yang kembali duduk yang langsung di sambut pelukan erat oleh Zach. Suaminya itu benar-benar emosional sekarang.


"Maaf kan Mas Celo." Disela pelukan nya, Zach berucap dengan lirih disertai turunnya air mata yang sedari tadi ia tahan. Selama mereka bertemu dan akhirnya bersama baru kali inilah Celo melihat Zach menangis.


"Ini kah yang dinamakan karma? Karma karena Mas pernah mempermainkan dan menyakiti mu. Sampai sekarang pun Tuhan belum memberikan kita malaikat kecil, sebagai gantinya Tuhan malah memberikannya pada Chris. Bukannya kabar bahagia, ini malah akan mendatangkan malu dan mencoreng nama baik keluarga kita." Zach menjeda kalimatnya sejenak.


"Aku sudah gagal. Gagal sebagai seorang pria dan suami, juga gagal sebagai seorang anak dan sekarang aku juga gagal menjadi seorang kakak." Ia menumpahkan segala emosi dan air matanya di bahu sang istri.


"Mas…Mas salah, ini bukan kegagalan. Tapi ini salah satu bentuk teguran dari Tuhan agar kita lebih mensyukuri nikmatnya dan juga saling memperhatikan satu sama lain." Celo menangkup wajah suaminya, dengan tangan mungilnya ia mengusap lelehan air mata diwajah Zach.


"Mas sangat mencintai mu Celo, jangan pernah tinggalkan Mas." Zach semakin memberatkan dakapannya.


"Tidak akan pernah Mas. Karena cinta Celo lebih besar pada Mas." Ia berinisiatif untuk mengecup pipi suaminya itu, hanya itu satu-satunya cara yang terpikir disaat Zach sangat terpuruk seperti saat sekarang.


••••


"Miss, sebaiknya anda jaga kesehatan dan juga pola makan anda. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran." Dokter masuk memeriksakan keadaan Chris setelah di beri tau kan oleh perawat bahwa dia sudah sadar.


"Baiklah. Terima kasih dokter. Mm..kapan saya bisa pulang?"


"Sehabis cairan masuk ke tubuh anda, anda sudah bisa pulang." Dokter beranjak keluar, setelah pertanyaan terakhir Chris tadi.


Di depan pintu, Zach bersiap menanyakan kembali bagaiman keadaan adik semata wayangnya.


"Bagaimana keadaanya?"


"Oh..bagus lah. Apa akan baik-baik saja jika ia bepergian dengan pesawat?" Pertanyaan Zach membingungkan Celo.


"Untuk sekarang jangan dulu Tuan, tunggu setidaknya sampai usia kehamilan memasuki dua belas minggu."


"Mm…baiklah. Terima kasih." Bersama dengan Celo membuat banyak perubahan di diri Zach. Bahkan untuk mengucapkan terima kasih yang sangat pelit dikeluarkannya, sekarang dengan lancarnya meluncur dari bibirnya.


"Mas…apa maksud Mas menanyakan hal tadi?" Celo berani bertanya karena Dokter sudah pergi dari sana.


"Chris harus pulang Celo, tidak mungkin dia tinggal selamanya bersama kita." Tak memberi kesempatan pada istrinya kembali bertanya, Zach berlalu masuk ke kamar rawat adiknya.


"Tapi Mas.."


"Celo mengertilah." Nada suaranya berubah jadi datar.


••••


"Bagaimana keadaan mu? Apa yang kau rasakan?" Zach duduk disisi ranjang tepat disamping Chris.


"Sudah baik-baik saja Kak." Ia menundukkan wajahnya.


"Celo, bisakah kau tunggu di luar sebentar?" Pinta Zach.


"Mas..." ia khawatir Zach akan marah.


"Celo please.." mengerti maksud Zach, Celo memilih keluar. Toh Zach sudah pernah bilang kalau dia tidak akan pernah menyakiti adiknya.


"Baiklah."


Sepeninggal istrinya, mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda.


"Siapa ayahnya?"


"Maafkan Chris kak…" ia masih saja menunduk dan mencengkeram selimutnya.


"Kalau bicara tatap lawan bicara mu itu." Suara Zach sedikit lebih keras.


"Maaf…"


"Aku tidak butuh maaf mu! Katakan siapa ayahnya? Siapa yang sudah menghamili mu?" Emosinya mulai tak terkendali sekarang.


"…."


Dengan keterdiaman adiknya, Zach menghela nafas kasar lalu melepaskannya dari mulut. Begitulah caranya untuk meredam emosi, selain usapan menenangkan dari Celo.


"Chris, disini aku bertanya sebagai kakak mu. Tak bisakah kau jujur pada kakak? Kakak tau belakangan hubungan kita tidak baik, tapi asal kau tau kakak tidak pernah membenci mu bahkan rasa sayang untuk mu selalu menempati hati kakak di tempatnya sendiri."


"Maaf kak…"


"Baiklah, jika kau tidak mau mengatakannya. Akan kakak tunggu sampai kau mau menyebutkan siapa pria itu. Kakak keluar dulu." Zach mencium sekilas kening adiknya sebelum keluar.


"Bryan. Bryan ayah dari bayi ini." Ucap Chris saat Zach sudah berada diujung pintu.


●●●●


Teman-teman semua jangan lupa ya


Tekan Favorite


Beri Like dan tinggalkan Comment atau saran kalian


Bagi yang bersedia silakan VOTE


TERIMA KASIH BANYAK


#***workfromhome


#stayhome


#staysave


#darikitauntukkita


#savegardaterdepan


#Thanksteammedis***