Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Surprise



●●●●


"Heh...heh….kalian dengar tadi bukan. Tuan Bryan bilang bahwa wanita tadi istri presdir kita." Ujar salah satu perempuan kepada teman-temannya.


"Ya. Aku juga dengar itu." Saut wanita satu lagi.


"Tapi kampungan ya." Wanita lainnya juga turut menimpali.


"Meski kampungan, tapi dia cantik loh." Wanita yang pertama terlihat memuji Celo.


"Eii….cantik dari segi mananya? Palingan dia menikah dengan Tuan Zach karena perjodohan atau mungkin dia menjebaknya." Caci wanita kedua.


"Hush... kau ini, kalau ada yang mendengar bagaimana? Kau tidak lihat tadi kalau Tuan Zach sangat romantis dengan istrinya itu?" Wanita ketiga juga terlihat berpihak ke Celo.


"Heh..kalian dasar wanita bodoh!" Entah bagaimana ceritanya mereka malah berdebat satu sama lain.


Ditengah perdebatan itu datang seorang wanita menghampiri mereka dengan wajah masam sarat dengan emosi.


"Hehh…kalian! Kalian pikir perusahaan ini membayar kalian untuk bergunjing Hah!!" Gwen membentak para wanita tersebut. Ya, wanita yang emosi itu tak lain dan tak bukan ialah Gwen. Semenjak pertemuan dan pembicaraan singkatnya dengan Celo tadi ia jadikesal sendiri. Usai melepas kekesalannya, ia bergegas pergi keruangannya.


"Kenapa dengan Miss Gwen ya? Dia nampak sangat kesal." Gunjingan mereka pun beralih dan kali ini Gwen lah bahan gunjingan mereka.


"Memangnya kalian tidak tau? Dia kan sangat tergila-gila pada Tuan Zach, bahkan saat di luar dia mengaku-ngaku bahwa Tuan Zach itu kekasihnya." Wanita yang pertama sepertinya tau lebih banyak tentang gosip di kantor mereka.


"Ahh…iya ya….biar ku tebak. Pasti dia baru saja bertemu dengan wanita tadi, Istrinya Tuan Zach. Makanya dia jadi kesal dan dia meluapkan kekesalannya pada kita." Wanita ketiga ikut menambahkan.


"Dasar penjilat dia." Wanita kedua nampaknya sangat kesal dengan Gwen.


Usai berbagi gunjingan, mereka membubarkan diri karena dari kejauhan mereka melihat siluet Bryan mendekat. Bukan apa-apa, tapi mereka sangat takut pada Bryan karena pria itu kaki tangan Zach.


••••


"Sayang, Mas meeting sebenatar ya. Kamu tunggu disini lakukan sesuka dan senyaman kamu. Selesai meeting kita akan ke suatu tempat, mengerti?" Zach duduk disebelah Celo yang kini berada di sofa.


"Ya Mas." Sebelum pergi ia sempatkan untuk mengecup sekilas bibir mungil istrinya.


"Mass…kalau ada yang lihat bagaimana?" Protes Celo dengan wajah yang sudah memerah layaknya kepiting rebus.


"Bagus kan. Biar mereka semakin tau bahwa wanita cantik ini memang benar istri Mas. Istri yang sangat Mas cintai." Lagi Zach mengecup bibir istrinya dan kali ini sedikit lebih lama.


Tok tok


Terlarut dalam kecupan singkat mereka, tiba-tiba saja Bryan dengan kurang ajar nya masuk tanpa ketukan terlebih dahulu.


"Ops..sorry Bos."


"Shit!" Umpat Zach kesal akan kekurang ajaran kaki tangannya itu.


"Apa kau sudah lupa peraturan untuk masuk ke ruangan ku Bry??" Zach berucap dengan kedua bibirnya tetap terkatup seperti sedang menahan marah besar.


"Harusnya Bos berterima kasih karena jika aku tidak masuk, pasti Bos akan melewatkan meeting hari ini karena kebablasan." Bryan dengan membanggakan dirinya.


"Kau!!" Geram Zach.


"Ayolah Bos, lain kali jangan lupa berpesan pada ku dan juga menutup pintu. Bagaimana kalau para karyawan genit mendapat tontonan gratis." Tanpa takut sedikit pun ia tetap menggoda Bosnya.


Zach beralih menatap istrinya, dan benar saja wajah Celo sudah memerah bahkan sampai ketelinganya.


"Sayang. Mas keluar dulu, jangan kemana-mana. Oke." Dengan wajah masih menunduk Celo hanya mengangguk kecil saja.


"Ayo keluar. Jika kau tetap berdiri disini, ku pastikan seseorang akan dikuburkan besok." Ucapan datar itu sukses membuat Bryan jadi pucat pasi.


"Bo-bbos... itu hanya candaan untuk selingan disela waktu luang kit-tta Bbos. Jangan ambil Hati oke. Kakak ipar maafkan adik ipar mu ini, aku masih ingin bertobat dan mencari istriyang cantik seperti mu." Tutur nya seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Lupakan." Zach melangkah duluan keluar dari ruangannya menuju ruang idaman mereka akan meeting.


Kini yang tersisa hanya Celo seorang, usai memastikan Bryan juga keluar dari sana barulah ia berani mengangkat wajahnya.


Entah dimana nantinya akan ia sembunyikan wajah manisnya itu jika bertemu Bryan lagi. Lagi kenyataan itu menghantam kepalanya mengingat Bryan juga tinggal bersama mereka.


"Astaga, Mas Zach ada-ada saja. Bagaimana kalau Bryan kembali menggoda Celo nanti. Aduhhh…ayah, Celo sangat malu."


••••


"Bagaimana? Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" Lain Celo, lain pula Zach sepertinya ia sudah melupakan kejadian tadi. Baginya jika tepergok seperti tadi itu adalah hal yang sudah biasa baginya, tapi dulu saat ia masih suka bersenang-senang dengan wanita. Sekarang ia hanya membutuhkan satu wanita saja yaitu Celo, istrinya, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan nenek dari cucu-cucunya.


"Tenang Bos, semua sudah siap. Aku rasa saat makan siang nanti waktunya sangat pas Bos, beberapa promosi juga sudah dilakukan. So, semua akan berjalan lancar nanti." Bryan, pria itu selalu saja berbangga hati terhadap semua pencapaiannya.


"Bagus. Kau selalu dapat diandalkan, thanks Bry."


"Kembali Bos."


Zach kembali lagi keruangannya, disana ia melihat wanitanya tengah tertidur. Perlahan ia melepas jas yang dipakainya untuk di sampirkan di kaki kecil istrinya.


"Maaf ya sayang, kau pasti kebosanan tadi." Ia mengambil tempat duduk disisi tepat disamping Celo karena sofanya cukup besar. Dengan sepelan mungkin agar Celo tak terbangun diusapnya wajah manis itu.


Tak tega membangunkan Celo, Zach membiarkan istrinya tetap tidur. Seraya menunggu, Zach kembali melanjutkan sisa pekerjaannya.


Jam makan siang tiba, Celo terbangun karena sudah cukup lama ia tertidur. Tidak biasanya pula ia tidur saat siang hari dan lagi perutnya juga sudah merengek minta diisi.


"Uhh…sudah jam berapa?" Ia menolehkan kepalanya kedinding yang tadi ia lihat ada jam disana.


"Astaga, lama sekali Celo tidur." Ia bergerak gelisah dari duduknya, semua itu sedikitpun tak luput dari perhatian Zach.


"Ehem…" Zach berdehem singkat untuk memberitahukan keberadaannya pada Celo, tentu saja wanita itu menoleh seketika.


"Mas sudah kembali? Dari kapan?" Tanya Celo dengan malu.


"Sudah sayang. Eumm…cukup puas untuk melihat istri Mas tertidur dengan gemasnya." Goda Zach.


"Kenapa Mas tidak membangunkan Celo?" Ia kembali bertanya seraya tangannya dengan telaten merapikan Jas suaminya yang tadi menutupi kakinya.


••••


Selepas makan siang, Zach membawa Celo ke sebuah toko bunga tepat diseberang kantornya.


"Wahh…kenapa Celo baru tau kalau ada toko bunga disini ya?" Ucapnya pada diri sendiri.


"…." Zach hanya tersenyum saja menanggapi ucapan istrinya.


"Ayo kita masuk." Ajak Zach, tak lupa tangannya selalu setia merangkul pinggang ramping Celo.


"Wahh…bunganya sangat banyak. Lebih lengkap dari toko bunga yang waktu itu." Dengan antusiasnya Celo memperhatikan satu per satu bunga-bunga disana.


"Kau mau tau siapa pemilik toko ini?" Ia menatap lekat dan serius wajah istrinya.


"Siapa Mas? Apa salah satu kenalan Mas?"


"Ya, sini Mas kenalkan." Zac membawa Celo masuk kedalam sebuah ruangan yang sepertinya itu ruangan dimana si pemilik akan bernaung.


Ceklek


"Masuklah." Celo begitu terkejut begitu menoleh dan mendapati papan nama pemilik toko disana.


"Mas, ini..?"


"Surprise..."


●●●●


Mampir yuk teman-teman ke judul baru


UNEXPECTED LOVE


jangan lupa dukungannya dengan cara LIKE & COMMENT


FREE


TERIMA KASIH