
▪︎▪︎▪︎▪︎
Nate menarik Zach selaku suami Celo agak sedikit menjauh, ia harus menyapaikan sesuatu.
"Mereka baik-baik saja kan?" Kecemasan mewarnai siapa saja yang dapat mendengarnya.
"Secepatnya kita harus bawa Celo ke rumah sakit Zach. Dia sudah mau melahirkan." Tegas Nate.
"Apa? Usianya baru masuk bulan ke delapan, bagaimana mungkin?" Terkejut, tapi Zach masih bersuara pelan.
"Celo mengalami yang namanya pecah ketuban dini, dimana ia tertekan hingga stress. Juga Celo menjalani kehamilannya dengan berat badan yang kurang, dan hamil anak kembar terlebih lagi usianya masih sangat muda. Semua bisa saja terjadi Zach." Ternag Nate lagi.
"Lalu kita harus apa sekarang? Aku tidak mau kehilangan mereka Nate. Tolong, selamatkan istri dan anak-anakku." Untuk pertama kalinya Zach memohon dengan berurai air mata.
"Mmash..Mas dimana Mas." Panggil Celo lirih masih berupa gumaman.
"Ya, sayang Mas disini." Dengan kasar ia menghapus air matanya lalu secepat kilat kembali menemani istrinya.
"Mas kenapa?" Tangan dinginnya mengusap pelan wajah Zach.
"Tidak apa-apa. Sayang kita harus ke rumah sakit, Baby,-"
"Kenapa anak kita Mas?"
"Hei..tidak apa-apa. Jangan khawatir, tetap ikuti arahan Nate ya. Tarik nafas, lepaskan ulangi lagi." Ujar Zach menenangkan Celo masih dengan tangan mengusap perut juga kepala istrinya.
"Ssa-kit Mas. Arghh.." rintih Celo memegangi perutnya.
"Sayang kita ke rumah sakit sekarang ya. Anak kita sudah mau keluar." Saut Zach dengan suara nyaris saja berteriak.
"Tidak Mas, ini masih delapan bulan." Tolak Celo dengan gelengan.
"Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu kita sayang." Sepelan mungkin Zach bersuara, takut akan berteriak lagi.
Tak membuang waktu, Zach segera menggendong istrinya ala bridal style ke mobil. Ia tak mau membuang waktu yang bisa membahayakan istri dan anak-anaknya. Di belakang, Nate juga Keana kekasihnya mengiringi mereka dengan wajah tak kalah cemasnya.
"Chris, kakak ipar dan keponakan mu akan baik-baik saja kan?" Entah pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan Mami ke putrinya.
"Kita berdoa saja Mi." Saut Chris.
"Tuhan jangan ambil anak-anak Celo seperti kau mengambil anak ku." Doa Christa dalam hati. Ia berharap semoga apa yang terjadi padanya tidaklah menimpa Celo juga.
"Jangan bicara saja disana, mau ikut tidak!" Panggil Papi setengah kesal.
"Jangan ambil lagi cucu ku Tuhan, cukup sekali saja." Dalam hati Papi tak kalah paniknya, hanya saja Beliau tetap bersikap tenang.
^^^^
Bugh
"Beraninya kau mengusik kamu lagi Hah!!" Satu pukulan dilayangkan Eric pada pria gembul yang tadi membawa Celo.
"Hahaha." Kalian pikir aku akan membiarkan begitu saja kalian hidup bahagia sedang aku terpisah dari anakku hah!!" Bentaknya tak kalah sengit.
Bugh bughh
Membabi buta Eric menghajarnya. Untuk kedua kalinya ia menyesal telah memberi kesempatan untuk penjahat seperti mereka untuk berubah yang nyatanya malah semakin menjadi.
"Heh, kau benar-benar baik rupanya, demi teman kau menomor dua kan istri mu. Tunggu saja apa yang akan terjadi." Dia berucap disertai senyum miringnya pertanda mencibir Eric.
"Hahaha, kau pikir aku takut? Lihat dia! Perhatikan baik-baik." Ternyata Eric beberapa langkah lebih dulu didepannya, ia berhasil memangkap orang yang akan menyerang Audrey dan anaknya. Hanya saja dalam hal Celo ia sedikit kecolongan.
"Shit!!" Umpatnya merasa kekalahan sudah di depan mata.
Flashback
*Terjadi pemadaman di hotel karena memang sudah direncanakan. Pemadaman yang hanya di setting kurang dari lima belas menit itu, di manfaatkan sehati-hati mungkin untuk menggantikan Celo dengan seorang wanita bayaran.
"…." Begitu di bekap, lansung saja Celo hilang kesadaran tanpa seorang pun tau. Tepat saat itulah wanita bayaran itu masuk lalu di rengkuh Zach dalam pelukannya.
Dengan waktu terbatas itu mereka membawa Celo ke suatu tempat yang sudah direncanakan. Sayang, masih setengah perjalanan mobil penculik itu di cegat oleh sebuah mobil yang hanya berisikan seorang pemuda tampan.
Nico, orang kepercayaan Eric lah pemuda itu. Dengan gagahnya ia mencegat lalu melumpuhkan orang-orang suruhan yang baru saja menculik Celo. Tak butuh waktu lama meski ia hanya beraksi menggunakan tangan kosong, ia mengambil alih Celo untuk diantarkan kembali ke Zach.
"Bodoh!! Menghadapi satu orang saja kalian kalah! Mati sajalah kalian semua!!" Ia langsung mematikan sambungan, tak mau mendengar alasan anak buahnya.
"Sial!! Kenapa sampai kecolongan begini? Gagal semua!!" Teriaknya kemudian menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.
Brakk
Masih kesal dengan kelakuan anak buahnya yang tidak becus, sekelompok orang menyerang tempat persembunyiannya itu.
Tentu saja secepatnya ia harus melarikan diri, tapi lagi-lagi gagal. Dengan mudahnya Eric melumpuhkannya dalam sekali serang saja*.
Flashback off
"Untuk kali ini, tidak ada lagi kesempatan bagimu. Aku sendiri yang akan mencabut nyawa manusia h**a macam kau ini." Kilatan kemarahan menyelimuti mata gelap Eric.
"Ampun Tuan, saya mohon maafkan saya. Saya berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi, masukkan lagi saja saya ke penjara Tuan." Ia berlutut sambil memohon pada Eric.
"Kau pikir aku percaya? Ah, satu lagi usai menghabisi mu aku juga akan menghabisi ja***g mu juga keturunanmu yang baru saja di lahirkannya." Sentak Eric tajam dan mematikan.
"Jangan Tuan. Jangan!!"
Dorr
Tidak mau lagi mendengar alasan, dengan satu tembakan saja Eric mencabut nyawa pria gembul kekasih Melodi itu.
"Bereskan kekacauan ini, repot jika harus berhubungan lansung dengan polisi." Dengan perintah itu saja Eric akan terbebas dari segala hukuman.
^^^^
"Zach sebaiknya kita ke ruangan Dokter sebentar." Pinta Nate.
"Baiklah." Dengan langkah berat terpaksa ia meninggalkan istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Tidak bisakah kau saja yang menangani Celo Nate?" Ujar Zach lemah.
"…." Nate menggeleng pasrah. Ia harus mengikuti aturan yang berlaku.
"Tapi akan ku usahakan untuk mendampingi mereka." Ucapan singkat itu berhasil membuat Zach sedikit lega.
"Tuan, kami butuh tanda tangan anda untuk segera melakukan operasi caesar. Jika dibiarkan si kembar akan keracunan air ketuban ibu mereka." Jelas Dokter tidak mau berlama-lama.
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk mereka. Aku mau istri dan anak-anakku selamat." Zach meraih dokumen yang akan ditanda tanganinya.
"Tentu Tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin." Melihat raut wajah penuh harap Zach, Dokter itu hanya bisa menenangkan saja.
"Sebaiknya kau kembali dulu ke Celo, buat dia rileks jangan sampai dia cemas." Saran Nate.
"Baiklah. Terima kasih." Ucapnya sebelum berlalu keluar dari ruangan Dokter.
"Mm…apa mereka menikah karena terpaksa?" Dokter yang penasaran akhirnya berkesempatan bertanya pada Nate yang ternyata mereka saling kenal.
"Mereka saling mencintai, kenapa? Ah saya tau. Mereka LDR selama Celo hamil." Nate yang paham menjelaskannya.
"Ah begitu." Rasa penasaran itu terjawab sudah akhirnya.
^^^^
Hampir tiga jam anggota keluarga Alterio menunggu didepan ruang operasi. Akhirnya perawat keluar dengan mendorong dua baby box, ya karena mereka memang kembar.
"Apa itu cucu kami?" Mami refleks berdiri melihat dua bayi mungil itu.
"Ya Nyonya, tapi maaf. Untuk saat ini mereka harus di masukkan ke inkubator dahulu karena lahir sebelum waktunya." Penjelasan perawat itu membuat Mami sedikit kecewa, pada akhirnya beliau tidak keberatan karena itu demi cucunya.
"Bagaimana istri saya?" Lain halnya Mami, Zach menanyakan keadaan wanita yang dicintainya.
"Semua stabil Tuan." Terdengar helaan nafas lega setiap orang disana. Perawat itu hendak meninggalkan mereka semua.
"Tunggu, apa jenis kelamin Cucu kami?" Mami kembali penasaran begitu tau menantunya sudah baik-baik saja.
"Mereka-"
▪︎▪︎▪︎▪︎