Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Melupakannya



"Mi…maafkan Zach. Zach janji akan kembali ke Zach yang dulu. Zach yang selalu mami sayangi dan mami lindungi, sekarang giliran Zach yang akan melindungi mami bahkan dari Christa adik sekaligus putri mami."


"Zach juga akan mengubah tata krama dan gaya hidup Christa dengan cara Zach sendiri. Zach janji mi."


■■■■


Lima hari sudah maminya diopname dirumah sakit dan selama itu pula Zach mengurung adiknya dirumah, ia membatasi semua gerak Christa mulai dari menerima panggilan dan juga temannya yang hendak bertamu. Ia ingin membuat adiknya tersebut jera dan tak lagi bersikap kurang ajar.


Karena kesahatan mami sudah semakin membaik papinya mengabari bahwa mami akan kembali kerumah sore ini. Zach bingung apakah ia harus tetap dirumah menyambut maminya, tapi bagaimana kalau maminya tak mau bertemu dengannya dan kembali down. Jika ia kembali keapart Eric, itu sama saja ia tak ada bedanya dengan Christa yang tak peduli akan kesahatan maminya.


"Pi…mami pulang nanti, apa gak apa-apa kalau Zach ada dirumah?" Zach menghubungi papinya karena ragu.


"Kenapa memangnya?" Jawab papi diseberang panghilan.


"Gak apa-apa sih pi. Zach cemas aja kalau mami akan down lagi saat ketemu Zach." Ia menyampaikan keraguannya itu, ia yakin papinya pasti punya jalan terbaik.


"Kamu tenang aja. Mami gak bakal kenapa-napa, mami kuat. Tenang aja." Papi mengerti akan kecemasan putranya.


"Tunggu kami dirumah, sebentar lagi juga sampai." Sambung papi lagi.


"Baiklah pi, Zach akan stay dirumah." Zach menutup panggilan dengan senyum mengembang diwajahnya.


Tak sampai stengah jam, mobil papinya memasuki pekarangan. Zach datang menyambut kepulangan maminya dan membantu menuntun beliau kekamar. Ia merasa senang karena maminya tak menolak semua bantuannya, ia juga berharap semoga semua kerenggangan dalam keluarga mereka secepatnya berakhir.


"Mami mau makan apa? Atau mami butuh sesuatu?" Tanya Zach masih menggenggam erat tangan maminya.


"Tidak Zach. Mami ngantuk, mami mau istirahat dulu sebentar." Benar, setelah tadi minum obat beliau merasa matanya sangat berat dan meronta minta segera dibawa tidur.


"Ya mi, Zach akan temani mami disini." Ia mengecup sekilas kening maminya dan menaikkan sedikit selimut agar wanita yang telah melahirkannya itu merasa nyaman.


°°°°


Disisi lain, Celo merasa betah bekerja direstoran, bibi pemiliknya juga sangat baik dan sayang padanya. Seperti dibalik semua kesulitannya, Tuhan mengirimkan orang-orang baik disekelilingnya. Tapi, ada satu hal yang sangat disayangkan oleh Celo, Russel selalu saja datang merecokinya walau ia selalu menemukan cara untuk kabur namun tetap saja ia merasa terganggu. Seperti halnya hari ini, pemuda itu menungguinya seharian dimeja pelanggan. Ia merasa tak enak hati pada bosnya, meski sebenarnya itu tak masalah karena Russel keponakan pemiliknya bukan, Celo saja yang tak mengetahuinya.


"Ayolah. Kali ini saja, pulanglah bersamaku Celo." Pinta Russel memelas.


"Hahh…baikl-.." baru saja akan mengiyakan, seorang pria menghampiri mereka.


"Maaf tuan, tapi nona ini akan pulang bersama saya." Eric menghampiri Celo dan Russel, ia melihat raut keberatan diwajah gadis itu.


"Siapa kau??" Tanya Russel sedikit ketus.


"Saya…" belum sempat Eric menjawab Celo memotongnya.


"Dia kakak sepupu Celo kak. Ohh… hampir saja Celo lupa kalau punya janji sama kakak sepupu Celo, maaf ya kak Russel." Sesalnya, namun sebenarnya ia merasa senang akan kehadiran Eric.


"Dasar gadis nakal." Tutur Eric mencoba seakrab mungkin.


"Kakak sepupu? Tapi kau tak pernah bilang kalau punya sepupu." Russel heran sekaligus tak percaya.


"Hei bro. Kau siapanya hingga ia harus memberi taumu semua tentangnya?" Perkataan Eric membuat pemuda itu bungkam seketika.


"Ayo nona kecil, kita pulang sekarang." Eric segera membawa Celo kemobilnya.


Celo tak bisa menolak, lebih baik ia pulang bersama Eric dari pada harus pulang berdua diantar Russel.


"Kenapa menolaknya? Tampaknya dia pemuda yang baik dan sopan." Ucap Eric.


"Celo tak suka kak Russel. Memang dia baik, tapi karenanya Celo pernah kena masalah. Maaf ya kak Celo sudah merepotkan."


"Ya. Masalah apa?" Tanya Eric lagi.


"Kak Russel itu kekasihnya kak Christa, waktu itu kak Christa salah paham dan menyangka Celo punya hubungan dengan kak Russel. Makanya kak Christa selalu marah kalau ketemu Celo." Jelas Celo singkat.


"Ya kak."


"Apa kau sudah dengar kabar maminya Zach dirawat inap dirumah sakit?" Eric memberitau Celo soal mantan calon mertuanya, menurutnya gadis itu berhak untuk tau. Karena mereka nyaris saja akan jadi satu keluarga.


"Benarkah kak? Celo tidak tau itu." tanyanya terdengar sedih.


"Ya, tapi sekarang beliau sudah baik-baik saja. Kabarnya sore tadi sudah dibolehkan pulang kerumah."


"Syukurlah mami sudah baik-baik saja." Jelas terdengar helaan nafas lega.


"Mau ikut aku ke rumah Zach?" ajak Eric.


"Untuk apa?" Tanya gadis itu dengan sedikit panik.


"Melihat mami Zach lah, kau pikir untuk apa? Meski tak sengaja aku tak akan pernah mengizinkanmu bertemu pria pengecut itu lagi." Ucap Eric asal karena kesal.


"Heheheee…." Tentu saja Celo tertawa, Eric sungguh nampak lucu sekarang. Seperti bibi kedai saat memarahinya.


"Kenapa kau tertawa HAH!!" Dia kesal sekarang.


"Maaf kak, Celo tak sengaja" belanya, sambil mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.


"Lupakan. Jadi kau mau ikut tidak?" Tanyanya ulang pada Celo.


"Tidak usah kak. Celo titip salam saja, semoga lekas sembuh dan sehat selalu." Tolaknya, dan mendoakan mami Zach dengan tulus.


"Mau menghindar?" Celo hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Apa kakak tau, cinta bisa tumbuh karena terbiasa, dan kebiasaan itu bermula dari pertemuan. Dengan seringnya pertemuan cinta akan semakin bertambah dan semakin besar. Sementara sekarang, Celo sedang berusaha melupakan mas Zach. Jika Celo kesana, bagaimana bisa Celo melupakannya kak. Dan juga jika kita ingin melupakan seseorang, itu tak cukup hanya dengan orang itu saja semua yang berkaitan dengannya termasuk orang yang berada disekitarnya." Terang Celo dengan mata menatap kearah luar jendela kaca mobil.


"Gadis ini benar-benar bijak dan dewasa. Sangat salah Zach telah melepaskannya, ia akan menyesal dikemudian hari." Ucap Eric dalam hati.


"Lalu kenapa kau mau menemuiku. Bukankah aku juga orang terdekat Zach?" Pancing Eric karena penasaran.


"Hanya hari ini, juga karena kakak sudah membantu Celo." Jawabnya polos dan jujur.


"Oo…berarti setelah ini kau juga akan menghindariku?" Eric masih melanjutkan pertanyaannya.


"Ya. Tapi mungkin, suatu saat Celo masih akan butuh bantuan dari kak Eric." Gadis itu selalu saja jujur dalam menjawab semua pertanyaan orang lain. Zach hanya menjawab dengan senyum.


"Ya. Aku akan menunggu saat itu, sementara aku akan selalu memperhatikan dan menjagamu dari jauh. Karena kau sudah kuanggap sebagai adikku, seperti janjiku pada Audrey." Ucap Zach hanya dalam hati.


Pada malam saat Celo gagal menikah Audrey sangat sedih. Ia merasa sangat terluka saat melihat Celo tak menangis dan memaksakan senyumnya. Pada malam itu juga ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga Celo meski jauh. Eric yang melihat wanita paling dicintainya sedih berusaha memasuki perasaanya dan ikut berjanji akan menjaga Celo dan menganggapnya sebagai adik demi Audrey wanita paling berharga dihidupnya.


Sesenang apapun kehidupan seseorang, tetap ia akan menjalani jalan yang rumit. Karena tak ada jalan mulus dalam setiap kehidupan, bohong jika mereka bilang hidupnya selalu tenang dan berjalan mulus. __Areum Kang__


■■■■


Maaf baru bisa Up 🙏🙏🙏


terimakasih untuk semua yang udah mampir


yang terspesial buat yang udah Like dan Comment


yang teristimewa buat yang udah Vote


terimakasih banyak semua


terus like dan comment ya, untuk penyemangat dan juga untuk mempercepat Up