Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Pasti kalian kesepian



●●●●


"Sialan kau!! Dari kemarin ku hubungi kemana saja kau Hah!!" Bentak seorang wanita saat sambungan panggilan melalui ponselnya diangkat oleh orang yang di hubunginya.


"Ada apa kau gencar sekali menghubungi ku?" Dengan nada datar dan dingin suara di seberang sana membalas bentakan kasar wanita itu.


"Kita harus bertemu!" Titahnya dengan kasar.


"Heh!! Kau gila!" Balasnya.


"Jangan tutup panggilan ini atau aku menggugurkan anak kau Bryan!!" Kentara sekali akan ancaman yang dilontarkannya.


"Anak? Heh!! Kau pikir aku bodoh Chris? Kau yakin bahwa itu anak ku?" Ejek Bryan tak kalah dinginnya.


"Te-tenntu saja ini anak mu!" Elak Chris.


Ya, wanita yang terus menghubungi seseorang itu ialah Christa dan pria yang tengah di hubunginya adalah Bryan kaki tangan kakaknya Zach.


"Heh!! Kalau benar itu anak ku, kau gugurkan saja. Kau pikir aku sudi berbagi darah untuk anak haram mu itu!" Tanpa ba bi bu lagi Bryan lansung saja mematikan sambungan panggilan tersebut.


"Arghh….sialan! Lalu apa aku harus minta pertaggung jawaban pada si tua bangka itu? Tidak! Itu tidak mungkin!!" Ia menarik rambutnya kasar sampai-sampai beberapa helai ikut tertarik saat melepas tarikannya.


"Bagaimana ini? Apa hidupku akan hancur setelah ini? Tidak! Aku tidak mau itu sampai terjadi. Aku harus pergi. Ya, itu harus! Hanya dia yang bisa melindungi ku." Untuk kesekian kalinya Christa harus berpindah tempat untuk menghindari orang-orang suruhan Papi dan Kakaknya.


••••


"Sayang, jangan lupa makan makanan yang sehat dan bergizi agar kau bisa segera hamil dan rumah kita akan diramaikan olehnya suara tangis bayi. Ah..membayangkannya saja sudah membuat ku bahagia." Zach tertawa membayangkan apa yang sedang ada dipikirkannya.


"Ya Mas." Saut Celo patuh.


"Mm…Mas.." seru Celo memanggil suaminya itu, Zach yang sedang mengangcingkan lengan bajunya menoleh sekilas.


"Kenapa?" Ia kembali melanjutkan aktifitasnya merapikan pakaiannya.


"Maafkan Celo Mas." Ia menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Hei…maaf kenapa Heum?" Ia menghentikan kegiatannya lalu beralih meraih wajah istrinya untuk ia tatap.


"Tidak apa-apa…" Celo bersiap melangkah pergi.


"Kenapa heum??" Zach meraup tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Katakan, ada apa?" Tak berhenti disitu, Zach mendesak Celo untuk menceritakan apa yang di rasanya.


"Maaf karena Celo belum juga hamil Mas." Mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca.


"Sayang, kita sudah membahas hal ini, dan juga kita sudah kedokter. Tidak ada masalah, mungkin benar memang Tuhan lah yang belum mempercayakan kita untuk memiliki seorang anak. Jangan selalu menyalahkan diri mu sendiri. Bersabarlah sayang." Zach mengusap kepala istrinya lalu mengecup keningnya lama.


"Terima kasih Mas."


"Sama-sama sayang. Oh ya, dasi Mas dimana?"


"Sebentar." Ia beranjak menuju lemari lalu memilihkan dasi yang cocok untuk suaminya tercinta.


"Biar Celo yang pasangkan Mas." Dengan telaten Celo melilitkan dan membuat simpul dari dasi di leher prianya. Zach sangat puas menatap istrinya dari jarak yang sangat dekat ini.


"Selesai." Karen sedari tadi Zach memegangi pinggang rampungnya, Celo yang tak mau kalah pun mengalungkan kedua lengannya dikejar sang suami.


"Hahh…senangnya setiap hari seperti ini." Seru Zach seraya mendekatkan wajahnya untuk mengecup sekilas bibir mungil istrinya.


"Mas berangkat dulu ya sayang, kalau tidak terlalu sibuk Mas makan siang di rumah nanti."


"Ya Mas."


Celo mengantar suaminya kedepan rumah lalu melambai hingga mobil yang dikemudikan Zach hilang dari penglihatannya. Ia masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum sempat ia selesaikan.


"Ahh…rasanya sangat bosan begini terus." Celo yang bersantai di belakang rumah melirik kearah sekitar taman yang terdapat disekitarnya.


"Kenapa taman ini sepi sekali? Tidak ada bunga yang bagus." Wanita itu berujar seraya menghampiri bunga yang menurutnya kurang menarik itu.


"Kasihan sekali kalian. Pasti kalian kesepian kan seperti Celo, ayo kita berteman." Ia mengulurkan tangannya seolah-olah tengah bersalaman dengan kenalan baru.


••••


"Belum Bos."


"Kau ini bagaimana?" Zach melirik sekilas, namun kembali lagi pada berkas tadi.


"Tapi tenang Bos, kebetulan sekali saat akan masuk kekantor. Aku tak sengaja melihat ada kedai yang disewakan tepat di seberang gedung kita ini. Sepengetahuan ku kantor kita memiliki tempat strategis dan juga iklim disini cukup bagus. Bagaimana Bos?" Sesaat Zach menghentikan kegiatannya dan menyimak perkataan kaki tangannya itu.


"Menurutku ya Bos, kalau kakak ipar membuka kedai di seberang. Secara tak lansung kalian bisa bersama sepanjang waktu, bukan begitu." Melihat ketersediaan Zach tadi, Bryan menyampaikan pendapatnya.


"Bagus juga ide kau itu, segera lakukan negosiasi dengan pemiliknya. Untuk harga tak masalah, kalau bisa kita beli saja tak usah di sewa." Zach menyetujui saran dari pria yang sudah dianggap adik itu.


"Sepp Bos." Baru akan beranjak meninggalkan ruangan Bosnya, tetiba saja Zach yang lebih dulu keluar dari sana.


"Mau kemana Bos?" Sahutnya dari arah belakang Zach.


"Pulang, makan siang dengan wanita ku. Kau tidak boleh ikut! Selesaikan tugas mu segera." Zach melayangkan tatapan membunuhnya pada Bryan.


"Ops…oke, oke…"


Meski berjalan bersisian tetap saja saat di lobi kantor jalur mereka berubah haluan.


••••


Di rumah, Celo yang sudah dihubungi Zach kini tengah mempersiapkan makan siang mereka. Ia menata semua makanan yang sudah dibuatnya di atas meja makan minimalis itu.


Baru saja selesai menata segala sesuatunya, Celo mendengar suara deru mobil dihalaman depan. Nampaknya suaminya itu sudah sampai.


"Mas.." ia menghampiri Zach begitu pria itu turun dari mobil. Zach yang melihat Celo menunggunya segara menghampiri istrinya seraya ia memegang sesuatu dibelakang punggungnya.


"Mas bawa apa?" Celo memperhatikan gerak gerik suaminya itu.


"Tidak ada. Sini peluk Mas." Ia merentangkan sebelah tangannya untuk di peluk istri kecilnya.


Usai melepas pelukan mereka, barulah Zach menyerahkan sebuket bunga krisan nan ditata begitu cantiknya.


"Ini untuk istri Mas tercinta. I love you my wifey." Ia melayangkan kecupan sekilas di pipi Celo.


"Terima kasih Mas, i-i love you too." Dengan malu-malu wanita itu membalas pernyataan cinta suaminya itu.


"Ayo kita masuk, Mas sudah tidak sabar untuk menyantap masakan yang dibuat istri Mas siang ini."


Mereka berjalan dengan saling merangkul satu sama lain. Celo menggiring suaminya untuk duduk di kursi meja makan sementara dirinya mengambilkan makanan sesuai porsi Zach. Barulah ia menyusul untuk ikut bergabung dengan Zach untuk santap siang.


"Mas….Celo mau berkebun."


"Uhuk…uhukk." Zach terkejut akan keinginan Celo kali ini.


"Mas…kalau makan hati-hati Mas." Celo menyerahkan segelas air untuk diteguk Zach.


"Maksud Celo, Celo mau berkebun di taman belakang rumah kita. Kasihan bunga-bunga disana mereka kesepian." Ia mengerti melihat suaminya terkejut tadi.


"Kesepian? Kau ini ada-ada saja." Zach tertawa akan ucapan istrinya tadi.


"Mass…"


"Baiklah sayang. Nanti Mas temani membeli bibit bunga." Zach mengusap matanya yang sedikit berair karena tertawa tadi.


"Yeay…"


Tak ada habisnya kebahagiaan dan kehangatan melingkupi kehidupan rumah tangga Celo. Semoga tak ada lagi badai menerpa kehidupannya lagi, sudah cukup ia berjuang sendiri.


●●●●


*Teman-teman ayo kita dukung #workfromhome #stayathome #staysave*


Semoga dengan adanya Noveltoon dan Mangatoon bisa menghilangkan kejenuhan kita saat berada dirumah.


Tetap sehat dan semangat untuk kita semua…


Semoga menjelang masuknya bulan suci ramadhan, ALLAH SWT menyudahi ujian ke IMANAN umatnya dan menyembuhkan Buminya…AAMIIN 🙏🙏🙏


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT & VOTE nya ya**..