
▪︎▪︎▪︎
Flashback
"Kenapa Papi melakukan semua itu Pi? Bryan pasti salah sangka, dengan mengira jika Chris lah yang telah meminta Papi untuk melakukannya." Chris mencerca Ayahnya itu dengan pertanyaan yang di dasari rasa kecewa. Bagaimana tidak, Bryan yang sedari dulu memang tidak menyukai dirinya pasti akan berpikiran tidak-tidak tentangnya. Itulah yang kini ada di benak wanita itu.
"Tenangkan diri mu nak, kasihan cucu Mami. Kita bisa membicarakan hal ini dengan kepala dingin, tapi sebelumnya kita dengarkan dulu penjelasan Papi mu." Mami mengambil posisi tepat di samping putri satu-satunya itu, memenangkannya dengan mengusap lembut punggung Chris terlebih ia sedang hamil sekarang ini.
Malam ini, selesai makan malam bersama Papi meminta semua berkumpul di ruang keluarga. Terkecuali Celo, wanita itu harus banyak istirahat karena harus menjaga Baby Seth.
"Chris kecewa dengan Papi." Air mata perlahan menumpuk di pelupuk matanya. Entahlah, mungkin karena sedang hamil Chris jadi lebih sensitive tidak jarang pula ia menangis dalam kesendiriannya.
"Maafkan Papi nak. Sungguh, bukan niat Papi seperti itu. Papi hanya ingin yang terbaik untuk mu, dan dari yang Papi lihat kau masih menyimpan rasa untuk Bryan. Maka dari itu Papi gelap mata dan melakukan semua kesalahan ini." Ya, Papi menyebut ini kesalahan karena telah bertindak bodoh hingga kehilangan salah satu anak asuh yang sudah seperti anak sendiri baginya.
Di sudut lain, Zach hanya diam dan mendengarkan. Ia tidak mau ikut campur, biarlah Ayahnya itu menyelesaikan apa yang sudah beliau mulai. Itu jugalah ajaran dari sang Ayah untuk menyelesaikan masalah yang di timbulkan sendiri tanpa melibatkan orang lain.
"Tau apa Papi tentang perasaan Chris?" Bentak Chris dengan menegakkan posisi duduknya. Sorot mata wanita itu menatap tajam sang Ayah dengan mata basah dan memerah karena air mata.
"Maafkan Papi nak."
"Chris mencintai Kak Shane Pi, suami Chris." Akunya.
"Tapi, Ane bilang,-" kalimat Papi disela cepat oleh Chris.
"Ane? Jadi selama ini Papi mematai rumah tangga kami melalui Ane? Papi benar-benar keterlaluan!" Emosi Chris yang sedari tadi sudah ia tekan, kini tidak sanggup lagi ia tahan. Ia benar-benar marah sekarang pada Ayahnya.
"Tidak. Bukan sepe,-"
"Bukan apa Pi?" Bentak Chris lagi.
"Stop Chris! Kau sudah keterlaluan, mana sopan santun mu terhadap orang tua Huh! Dengarkan dulu penjelasan Papi, jika kau terus emosi bagaimana masalah ini akan selesai?" Zach buka suara, ada kilat kemarahan di matanya. Ia tidak bisa membiarkan begitu saja adiknya berlaku kasar pada Ayah mereka.
"T-tapi Kak,-" melirik sekilas tatapan Zach, Chris menunduk patuh. Bagaimana pun yang di katakan Kakaknya itu benar.
"Maaf Pi." Chris kembali menoleh ke arah Papi, matanya menyiratkan penyesalan.
"Tidak apa-apa nak, Papi lah yang seharusnya meminta maaf." Tukas Papi dengan senyum tipisnya.
Mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda karena kemarahan Chris yang pecah.
"Hari itu, Papi tidak sengaja melihat mu memeluk Bryan di makam Shane. Disana Papi berpikir, mungkin saja kau masih menyimpan rasa terhadap Bryan. Sebab itu pulalah, Papi mencari tau kenapa Shane bisa kecelakaan." Papi mulai menceritakan percakapannya dengan Ane, asisten rumah tangga putrinya itu.
"Maafkan Papi karena telah mengambil kesimpulan sendiri tanpa menanyakan perasaan mu yang sesungguhnya lebih dahulu. Papi hanya ingin yang terbaik untuk mu, karena selama ini Papi sudah lalai dan kurang dalam memberimu perhatian. Maka dari itu, Papi ingin melakukan hal yang dulu sempat tidak pernah Papi lakukan untuk mu nak." Penjelasan Papi cukup membuat mereka terkejut. Sungguh besar kasih sayang yang beliau curahkan untuk anak-anaknya, bahkan di saat Chris sudah dewasa pun beliau masih enggan melepas tanggung jawabnya sebagai orang tua, walau jalan yang beliau pilih itu salah.
"Pi," Chris berdiri dari duduknya dengan sebelah tangan memegang perut buncitnya. Ia melangkah pelan ke tempat Ayahnya duduk, kemudian duduk di sana dan memeluk erat sang Ayah.
"Maafkan Chris Pi. Chris tidak pernah menyalahkan Papi maupun Mami. Semua kasih sayang yang kalian berikan sudah lebih dari cukup, hanya saja Chris yang terlalu serakah." Ia membenamkan wajahnya di dada sang Ayah, menangis tersedu disana.
"Papi juga minta maaf nak." Beliau mengelus-elus rambut putrinya itu penuh kasih, beliau juga mengecup lama kening Chris. Sementara Zach dan Mami, tidak mau ketinggalan mereka ikut bergabung dan jadilah satu keluarga itu saling berpelukan bersama.
Flashback off
***
"Selamat siang. Maaf anda siapa dan mencari sia,-" kedua bola mata Bryan membola ketika menyadari siapa yang menyambangi rumahnya siang ini.
"Zach,-" Sapa Bryan mengetahui siapa yang datang ke rumahnya. Ia tidak menyangka jika sahabatnya itu bisa menemukan keberadaannya. Usai meneliti Zach, senyum sinis di tampikkan Bryan menyadari siapa yang berdiri di samping sahabatnya itu.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini?" Kentara sekali rasa tidak suka Bryan akan kehadiran Chris. Ya, Chrislah yang menemani Zach menemui Bryan dan tentu saja itu atas paksaan wanita itu sendiri.
Flashback
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Kak, Pi?" Tanya Chris. Mereka sudah saling melepas pelukan hangat keluarga tadi dan duduk dengan posisi saling berdekatan.
"Kau tenang saja, Kakak akan membawa Bryan dan Sesyil kembali." Imbuh Zach, tidak ingin menambah kekhawatiran sang adik satu-satunya.
"Chris ikut Kak." Chris mengajukan diri.
"Tidak. Kakak tidak akan mengizinkan mu untuk ikut. Ingat kau sedang hamil besar sekarang." Terang saja Zach menolak, semata demi keselamatan Adik juga calon keponakannya.
"Tapi Kak, Chris harus memperjelas masalah ini dengan Bryan. Chris tidak mau ada lagi ke salah pahaman, terlebih untuk Sesyil." Alasan Chris sangat masuk akal sebenarnya.
"Apapun itu Chris, Kakak tidak akan mengajak mu untuk ikut." Zach telah memutuskan sampai suara Mami terdengar.
"Zach, biarkan adik mu ikut. Chris benar, dialah yang seharusnya memperjelas masalah ini. Usia kandungannya juga sudah memasuki enam bulan, dan itu tidak apa-apa jika bepergian, dan bukankah ada kau yang akan menjaga adik mu?" Ujar Mami yang tidak bisa di bantah lagi.
Flashback off
"Aku yang membawanya." Zach menjawab pertanyaan Bryan mewakili Chris yang menunduk sendu.
"Kau tidak mengizinkan kami masuk?" Ujar Zach kemudia. Sedari tadi di bukakan pintu, Bryan belum juga mempersilakan mereka masuk.
"Ah, itu..maaf Zach. Mari masuk ke dalam." Bryan mengusap tengkuknya karena merasa bodoh. Ia menuntun dua tamu yang baginya penting itu menuju ruang tamu di rumah sederhananya tersebut.
"Kalian mau minum apa?" Bryan yang tidak ikut duduk, menawarkan minuman.
"Apa saja." Sahut Zach seraya mencari posisi duduk yang nyaman untuknya.
"Baiklah. Sebentar." Bryan melangkahkan kakinya ke arah sisi kanan, mungkin disanalah dapur rumah mereka.
Tidak berselang lama sepeninggal Bryan, suara lembut menyapa mereka dari arah kemana Bryan pergi tadi.
"Hai Zach, Chris, apa kabar?" Sapa Sesyil dengan senyum mengembang. Wanita itu perlahan semakin mendekat dan mendudukkan diri di sofa yang berhadapan tepat di depan Chris dan Zach.
"Hai Se, apa kabar?" Zach balas menyapa balik.
"Yah, seperti yang terlihat. Semua baik." Senyum tak pernah lepas dari wajahnya dan itu membuat Chris semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa demi dirinya, Papi telah menghapus senyum indah itu dari wajah teduh Sesyil. Tidak terbayang rasanya, saat kita mengetahui jika suami kita di minta untuk menikahi wanita lain dan lebih parahnya masih orang terdekat kita.
"Bagaimana kabar mu Chris? Keponakan ku, apa jenis kelaminnya?" Sesyil membuyarkan lamunan Chris, dengan tatapan lembut wanita itu menatap perut buncitnya.
"Ah, A-aku, kami baik dan dia juga sehat. Aku tidak mau mengetahui jenis kelaminnya, biarlah menjadi kejutan saat dia lahir nanti." Chris memaksakan senyumnya, dalam hati ia merasa sangat bersalah.
▪︎▪︎▪︎