Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Hamil?



●●●●


"Kita mau kemana Mas?"


"Kita akan Holland."


"Oh. Tapi Celo masih mengantuk Mas, Celo juga sangat lelah." Keluh Celo dengan lemah.


"Maafkan Mas ya, tapi kita harus berangkat. Nanti saat di pesawat juga bisa tidur lagi Celo." Zach menarik tubuh istrinya untuk bangun.


"Huftt….baiklah. Tapi masih sempat kan kalau mandi sebentar?" Keadaan Celo sangat meng iba sekarang.


"Tentu, pergilah. Tapi jangan lama-lama atau kau tak usah ikut pergi." Ancamnya.


"Mass…."


"Ya. Ya…cepatlah atau perlu Mas mandi kan heum?" Zach menyeringai ke arahnya.


"Jangan!!" Segera Celo membungkus tubuhnya dengan selimut untuk kemudian berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi.


Zach yang melihatnya antara geram dan tertawa, geram karena gerak istrinya yang lambat dan tertawa melihat tingkah istrinya yang lucu menurutnya.


Senyum tak pernah lepas diwajah Zach melihat perjalanan hidupnya bersama Celo. Menjalani hubungan yang salah diawal yang kemudian Tuhan menuntun hatinya untuk melihat cahaya tulus yang diberikan oleh wanita yang kini telah menjadi tulang rusuk nya.


••••


Usai berkemas Zach dan Celo turun membawa satu koper milik istrinya. Dibawah mereka sudah disambut oleh Mami dan Papi yang kebetulan Papi sedang Free hari ini jadi beliau pergunakan untuk melepas anak dan menantunya ke airport.


"Sudah siap semua Zach?" Sapa Papi.


"Sudah Pi. Ayo berangkat sekarang." Saut Zach.


"Tunggu, Mami ikut…" terdengar teriakan Mami dari arah ruang tengah dekat kamar utama, beliau sudah bersiap akan ikut mengantar anak-anaknya.


"Heishh…." Desis Papi pelan.


"Biarlah Pi." Zach mengusap pelan bahu Papinya.


Sedangkan Celo, ia hanya bisa tersenyum sedang, karena jujur saja Celo sedang tidak bersemangat. Bukannya ia tak suka akan ikut pergi dengan suaminya tapi tubuhnya benar-benar lelah dan hampir mati rasa sekarang.


••••


Dalam perjalanan didalam mobil, Mami yang sedari tadi memperhatikan menantunya jadi penasaran. Ia melihat ada raut tak senang diwajah manisnya itu, sekelebat pertanyaan siap beliau layangkan.


"Sayang, Celo kenapa? Mami perhatikan sejak dari rumah tadi Celo sepertinya tidak senang ikut dengan Zach. Apa benar begitu?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir Mami.


"Eh…?" Celo tentu saja terkejut akan pertanyaan mertuanya, diikuti Zach yang sontak lansung menoleh melalui kaca spion depan, karena saat ini Zach lah yang menyetir.


"Jujur saja." Perlahan Mami mengusap wajah menantunya.


"Bukan Mi. Bukan begitu, Celo hanya merasa kurang enak badan saja." Aku Celo jujur, karena memang begitu adanya.


"Jangan bohongi Mami nak." Mami kekeuh bahwa menantunya tidaklah senang dengan pindahan ini.


"Celo tidak bohong Mi, Celo hanya benar-benar lelah saja." Ia meyakinkan mertuanya bahwa ia sungguh tidak keberatan seperti tebakan Mami.


"Ah…Mami tau, pasti karena tadi pagi kan?" Teringat akan kejadian saat pagi ketika beliau naik ke atas untuk membangunkan mereka.


"Ehemm…" Zach yang paham arah pembicaraan Maminya berdehem keras agar Celo tak semakin terpojok.


••••


Usai perpisahan yang mengharukan ala-ala Mami dan menantunya, akhirnya Zach san Celo berangkat ke Holland.


"Celo kenapa heum? Mas perhatikan wajahmu pucat sekali." Zach menyentuh wajah istrinya itu.


"Celo baik-baik saja kok Mas, cuma kurang enak badan saja dan lagi sekarang Celo mual Mas." Benar, kepalanya seperti terasa berputar.


"Mual? Apa mungkin Celo hamil?" Pikir Zach.


"Ya sudah, tidur saja Mas temani."


Karena mereka mengambil first class, jadi Celo bisa tertidur dengan nyaman.


Sesampainya dirumah mereka, Zach merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang lalu kemudian ia menghubungi Dokter kenalannya.


"Bry, hubungi Nate, minta ia untuk segera datang." Perintah Zach pada Bryan yang tadi menjemputnya dari airport.


••••


"Mau kemana lagi?"


"Aku harus kembali, ada banyak pekerjaan menanti dan juga aku tidak mau ada yang curiga nantinya." Ujar Mr. X pada Melodi yang barusan bertanya.


"Heh…selalu saja begitu." Sungut Melodi.


"Bersabarlah. Ingat jaga anak itu baik-baik, jangan sampai pendarahan lagi oke." Ingat Mr. X, karena kedatangannya kali ini karena Melodi kembali berulah hingga ia hampir membahayakan janinnya.


"Mmm…." Melodi melepas prianya pergi, ia hanya mengantar sampai pintu saja. Ia menatap kepergian ayah dari bayinya hingga hilang tak tampak lagi dari jangakauan matanya.


••••


Usai memastikan Mr. X pargi jauh, wanita hamil itu memanggil asistennya.


"Hei Kau! Kemari segera!" Titahnya bak seorang bos besar.


"Saya Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?"


"Kenapa selalu saja itu yang kau ucapkan?" Kesal Melodi.


"Kapan aku harus check up" imbuhnya bertanya.


"Masih seminggu lagi Nona, apa anda ada merasakan keluhan sekarang?" Tanya Delin memastikan.


"Tidak! Tapi segera kau hubungi hospital, bilang pada mereka untuk memajukan jadwal Check up ku jadi besok!" Pintanya lagi.


"Tapi kenapa Nona? Lagi pula, pasti pihak hospital pasti tidak akan mau jika tidak ada keluhan." Tolaknya halus, takut akan kena amarah lagi.


"Kau!! Beraninya kau membantah perintah ku." Benar saja, Melodi lansung meluapkan amarahnya.


"Baiklah Nona, akan saya lakukan." Pasrah Delin bukan apa-apa, ia hanya ingat akan pesan Tuannya bahwa Melodi tidak boleh stress.


"Bagus."


••••


"Bagaimana kondisi Celo Nate?" Zach bertanya usai Temannya itu memeriksa keadaan istrinya.


"Tidak apa-apa dia hanya mengalami jet lag. Mungkin karena beru pertama kali melakukan perjalanan jauh lewat udara." Terang Nate.


"Lalu, apa dia. Maksud ku, Celo tidak hamil?" Ada nada kekecewaan disana.


"Maaf Zach, tapi istri mu sepertinya belum hamil. Bersabarlah, kalian kan baru saja menikah. Masih ada banyak waktu untuk dia hamil." Nate berupaya mengurangi kekecewaan temannya.


"Ya kau benar. Thanks. Kau boleh pergi sekarang." Ucap Zach dingin.


"Mm…sama-sama." Balas Nate.


"Zach, apa tidak ada waktu untuk kita minum bersama? Ini sudah sangat lama." Saat akan keluar dari kamar Zach, Nate berbalik dan menyampaikan niat hatinya.


"Pergilah." Ulang Zach tak kalah dinginnya dari tadi.


"Baiklah. Tapi asal kau tau Zach, aku benar-benar tak bersalah malam iti." Tepat setelah itu, Nate benar-benar menghilang di balik daun pintu kamar.


Sedangkan Zach, sebenarnya ia juga tak percaya bahwa sahabatnya itu dulu pernah menghianati nya. Setelah kebersamaan mereka sedari kecil.


"Bukannya aku tak mau memaafkan mu, tapi rasa kecewa itu jelas masih ada." Ucap Zach dalam hati.


Melupakan sebentar masa lalunya dengan Nate, Zach beralih menatap istrinya yang tengah tertidur. Diusapnya pelan peluh yang terlihat di kening istrinya.


"Maaf, kalau tadi Mas terlalu berharap bahwa kamu hamil. Benar kata Nate, kita baru satu bulan menikah dan juga masih ada banyak waktu untuk kita memiliki bayi." Zach berbicara dengan sangat pelan sekali.


●●●●