Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Mau toko bunga



●●●●


Belum habis ketakutannya, Celo merasa ada tangan besar menyentuh pundaknya dan juga menyebut namanya.


"Miss Celo…"


"Siapa? Jangan mendekat!" Cegah Celo ketakutan, ia juga menggunakan bahasa inggris karena ia pikir pria itu warga negara Holland.


"Tenang Miss Celo, bicara seperti biasa saja. Oh, maaf jika saya mengejutkan dan menakuti anda Miss, perkenalkan saya Dr. Nate yang kemarin memeriksa anda dan juga saya kenalannya Zach." Nate menjelaskannya karena melihat Celo yang ketakutan.


"Maaf tuan, saya hanya coba waspada saja." Sesal Celo.


"No problem. Sedang apa anda disini Miss?" Ia membaca raut kebingungan diwajah celo.


"Mmm…itu…" Celo nampak ragu untuk mengatakannya.


"Tidak apa-apa Miss, saya bukan orang jahat. Lagi pula siapa tau saya bisa membantu anda."


"Eumm…begini tuan, saya sepertinya tersesat dan juga saya lupa membawa ponsel. Saya, saya tidak tau jalan pulang." Ia menunduk malu setelahnya.


"Jadi begitu."


"Mm…" gumam Celo pelan.


"Begini saja Miss, jika anda tidak keberatan bagaimana kalau saya antar pulang? Sebentar lagi hari semakin gelap dan malam akan datang." Nate menawarkan bantuan.


"Tapi, apa tidak apa-apa?" Celo masih ragu akan tawaran dari Nate.


"Tenang saja Miss, saya orang baik-baik. Jika macam-macam saya sendiri yang akan di gantung suami anda nanti." Candanya membuat suasana menjadi lebih santai.


"Baiklah." Setelah mengiyakan tawarannya, Nate mengajak Celo ke mobilnya untuk segera diantar pulang.


••••


"Astaga Celo…..kau pergi kemana sayang??" Zach mondar mandir didepan halaman rumahnya. Ia sangat terkejut mendapati rumah dalam keadaan kosong karena istrinya pergi keluar dan tak kunjung kembali sampai saat ini.


Ia sudah mencoba menghubungi ponsel istrinya itu, tapi sayang deringnya malah terdengar dari arah kamar mereka. Zach kembali menghubungi Bryan, sebab tadi ia meminta orang kepercayaannya itu untuk mencari istrinya sementara ia akan tetap dirumah kalau-kalau Celo pulang nanti.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan Celo?" Tanya Zach to the point begitu Bryan mengangkat sambungan panggilannya.


"Belum bos. Aku sudah berkeliling, tapi tak menemukan kakak ipar."


"Bodoh!!" Lansung saja Zach mematikan sambungan itu.


"Arghh…." Zach menjambak rambutnya kasar.


Lelah karena terus mondar mandir tak jelas, saat akan masuk kedalam rumah untuk mendudukkan tubuhnya. Zach melihat sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumahnya. Hampir saja ia tak peduli siapa yang datang, hingga akhirnya sosok istri kecil yang membuatnya sangat khawatir itu keluar dari mobil tersebut.


"Celo…." Ingin rasanya ia merengkuh istrinya dalam pelukan, tapi ia masih kesal karena Celo keluar tanpa bilang padanya dan juga wanitanya itu meninggalkan ponselnya di rumah.


"Mas Zach."


"Kemana saja kau? Pergi diam-diam dan meninggalkan ponsel mu." Kesal Zach.


"Maaf Mas."


"Sudahlah, masuk sana." Ia menyuruh istrinya itu untuk masuk kedalam rumah karena udara diluar sangatlah dingin.


Ingin rasanya Nate buka suara, tapi ia urungkan karena Celo masih ada disana. Setelah istri temannya itu masuk, barulah ia bicara.


"Jangan marah padanya, tadi dia tersesat makanya kemalaman. Kasihan kalau kau marahi, ia sangat ketakutan ketika aku menemukannya tadi." Tutur Nate meredakan emosi Zach


"Diam kau, jangan ikut campur urusan orang!" Zach melangkah memasuki rumahnya meninggalkan Nate yang masih berdiri disana.


"Ternyata kau masih membenci ku Zach." Batin Nate, lalu bersiap masuk kedalam mobilnya.


"Tuan Neopard, terima kasih sudah mau menolong istri ku." Seru Zach lalu ia benar-benar masuk kedalam rumah setelahnya.


"Sama-sama." Nate tersenyum dan pergi meninggalkan kediaman Zach dan istrinya.


••••


"Mas maafkan Celo, lain kali tidak akan Celo ulangi." Wanita itu masih saja membujuk suaminya agar tak marah lagi.


"Mas.."


"Apa saja yang dia lakukan padamu? Apa pria tadi menyentuh mu?" Bukannya memaafkan, ia malah bertanya hal yang aneh menurut Celo.


"Tidak, tuan tadi sama sekali tidak menyentuh Celo bahkan berdekatan saja tidak."


"Baguslah."


"Mas…" Celo mendekat ke arah suaminya yang duduk ditepi ranjang, lalu memeluk erat pinggang Zach.


"Jangan marah lagi Mas."


"Baiklah. Baiklah. Mas akan maafkan, tapi ada imbalannya." Pria itu menyembunyikan senyumnya.


"Apa Mas?" Tanya Celo dengan polosnya.


Setelahnya mereka melakukan kegiatan rutin mereka sebagai suami istri. Kekesalan Zach lenyap begitu saja ketika ia bisa merengkuh nikmat bersama wanita yang dicintainya.


••••


Usai menghabiskan malam penuh kenikmatan, merek berdua masih belum terlelap. Zach masih sibuk mengatur nafasnya, sementara Celo memikirkan bagaiman caranya ia bicara pada Zach agar ia diperbolehkan untuk bekerja.


"Mm…Mass.." Celo yang semula tidur terlentang beralih menghadap ke suaminya.


"Mm..."


"Mas.."


"Apa??" Zach yang masih agak lelah sedikit emosi jadinya.


"Apa Celo boleh bekerja?" Meski ragu ia tetap menyampaikannya.


"Tidak!" Tanpa pikir, Zach menolaknya mentah-mentah.


"Kenapa?" Tak terima di tolak begitu saja, ia menanyakan alasannya.


"Untuk apa bekerja heumm?? Apa uang yang Mas beri tidak cukup?" Zach mengusap peluh yang masih membasahi kening istrinya itu.


"Bukan begitu, tapi Celo bosan dirumah terus. Celo kesepian Mas, bahkan sampai sekarang pun Celo belum juga hamil." Tersirat kekecewaan dan kesedihan mendalam pada nada suaranya.


"Bersabarlah sayang, Tuhan masih memberikan kita waktu untuk menikmati kebersamaan. Kalau untuk bekerja Mas tidak akan izin kan tapi Mas akan bukakan usaha untuk mu." Zach tak mau jika istrinya itu terhanyut akan kesedihan.


"Benarkah? Celo mau buka toko bunga, apa boleh?" Dia nampak sangat antusias.


"Tentu sayang. Besok Mas akan minta Bryan untuk mencarikan toko ditempat yang strategis untuk mu." Zach mengecup sekilas bibir istrinya itu.


"Terima kasih Mas."


"Sama-sama sayang."


"Ah…kau belum menceritakan kemana saja kau berjalan tadi." Zach penasaran kemana perginya istrinya tersebut seharian ini.


"Celo hanya jalan-jalan disekitar sini awalnya, lalu Celo melihat toko bunga. Disana bunganya sangat canti-cantik, pemiliknya juga baik dan ramah sampai-sampai karena keasyikan berbincang Celo jadi lupa waktu."


"Lalu kau melupakan ponsel mu juga." Sanggah Zach


"Mmm…Celo sangat takut Mas, beruntung ada Dokter Nate. Katanya dia teman Mas, apa benar?"


"Bukan!!" Tolaknya cepat.


"Tapi katany-"


"Jadi karena itu kau mau membuka toko bunga?" Zach mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan tentang Nate.


"Iya, selain karena bunganya yang cantik, Celo juga sudah punya pengalaman disana." Ujar Celo semangat.


"Bagus. Ingat, kedepannya jangan pergi sendiri lagi. Tempat ini masih asing untuk mu, dan juga bawa ponsel kemanapun kau pergi. Paham!" Ingat Zach pada istri kecilnya yang selalu saja ceroboh.


"Paham Mas."


"Ya sudah ayo kita tidur. Atau kau mau lagi?" Goda Zach dengan tatapan yang susah diartikan.


"Maasss…Celo lelah."


"Sekali ini lagi saja, setelah itu Mas janji kita akan benar-benar tidur." Tak menerima penolakan, Zach menggunakan berbagai macam bujukan hingga akhirnya mereka melakukan lagi sampai tubuh mereka benar-benar lelah.


Jika Zach dan Celo sedang asyik memadu kasih, lain hal nya dengan Bryan. Pria itu masih kelimpungan mencari istri dari bos sekaligus pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Zach dengan sialannya tidak mengabari Bryan bahwa istrinya sudah pulang dalam keadaan semangat.


●●●●


Teman-teman semua jangan lupa ya


Tekan Favorite


Beri Like dan tinggalkan Comment atau saran kalian


Bagi yang bersedia silakan VOTE


TERIMA KASIH BANYAK


#**workfromhome


#stayhome


#staysave


Semoga kita semua terjauhkan dari bahaya yang mengintai diluar sana terutama Covid-19


Aamiin 🙏🙏🙏


Jika harus terpaksa keluar rumah jangan lupa gunakan masker mulut ya teman-teman


#darikitauntukkita**