Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Hal penting



"Celo Adhisti Alterio, I love You."


"Terima kasih Mas.."


●●●●


"Sialan kau Eric!! Kau menolak ku hanya karena gadis panti asuhan itu!! Semua pria sama saja!! Cinta cinta cinta. Apa mereka pikir dengan cinta mereka akan bahagia?" Lagi-lagi Melodi mengamuk. Sepertinya hidup wanita itu dipenuhi dengan kesialan.


Sejumlah kisah cinta rumit dialami olehnya, tidak cukupkah ia hanya mencintai Zach? Lalu apa lagi hubungannya dengan Eric?


"Hei kau! Kemari!" Bentaknya pada asisten pribadinya.


"Saya Nona. Apa anda butuh sesuatu?" Tanya wanita itu sopan.


"Bilang pada tuan mu untuk segera menjemputku dan anaknya." Perintah Melodi tak terbantahkan.


"Baik Nona." Segera wanita itu pergi dan melaksanakan perintah Nona nya karena kalau tidak, bisa mengamuk lagi dia.


••••


Belum setengah jam asisten yang bernama Delin itu keluar, ia sudah kembali dengan seorang pria dibelakangnya.


"Sayangg…." Begitu menoleh Melodi mendapati sosok pria yang telah mengisi rahimnya dengan seorang janin.


"Apa kabar mu heumm…?" Tanya pria itu.


"Siapa yang kau tanyakan? Anak kita atau aku?" Wanita itu mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja kalian berdua. Lihat baby, Ibu mu cemburu sayang." Ucap si pria mengusap perut Melodi yang baru mulai membuncit.


"Jangan di sentuh begitu, geli." Melodi menjauhkan tangan ayah si bayi dari perutnya.


"Lalu kau mau disentuh bagaimana dan dimana heumm?" Pria itu berucap dengan nada menggoda.


"Hentikan…" pipinya bersemu merah karena godaan barusan.


"Ok oke.." pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara layaknya seorang sandera yang ditodong pistol.


"Sayang….aku bosan disini." Rengek wanita itu dengan manja nya. Bagaiman jadinya jika pria itu tau bahwa Melodi baru saja menggoda dokter muda dirumah sakit itu?


"Baiklah, ayo kita pulang. Delin, urus segala sesuatunya." Perintah si Pria, atau kita sebut saja dia Mr. X.


"Baik tuan." Hari itu, setelah di jemput oleh Mr. X Melodi akhirnya pulang bersama ayah dari bayi dalam rahimnya. Itu bukan berarti wanita itu akan berhenti dan menyerah untuk menggoda Dr. Nate.


"See you Nate, i'll be back soon." Batinnya seraya tersenyum miring.


••••


Tak ada habisnya kejutan yang diberikan Zach untuk istrinya. Usai pernyataan cintanya yang sukses membuat Celo menangis terharu, Zach juga memberikan kejutan yang lain.


"Sayang, tutup matanya sebentar." Pinta Zach.


"…." Tanpa menjawab lansung saja Celo menutup mata sesuai intruksi dari Zach. Sesaat Celo tak merasakan apa-apa, namun beberapa detik setelahnya, wanita itu merasakan ada sesuatu yang melingkar di lehernya. Sontak saja ia lansung membuka mata dan mendapati sebuah kalung berlian cantik terpasang dilehernya.


"Mas ini.." ucapnya tak percaya.


"Untuk istriku tercinta. Pakai selalu kemana pun kau pergi." Ujar Zach pada Celo.


"Ya Mas, terima kasih." Ini yang paling dikagumi oleh Zach dari Celo, ia selalu berterima kasih atas apa saja yang diperbuatnya.


Usai keromantisan mereka, Zach dan Celo terdiam cukup lama menatap rembulan yang seolah tersenyum menatap mereka. Saat ini posisi Zach tengah memeluk istrinya dari belakang agar dapat memberi kehangatan.


"Mm…" pria itu semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.


"Apa Mas sudah tau kalau kak Chris pergi dari rumah?" Celo bertanya dengan sangat hati-hati takut membuat suaminya itu emosi.


"Tau. Kenapa?" Apa yang ditakutkan Celo tidaklah terjadi, Zach menjawab dengan tenang.


"Mas tidak ikut mencari?" Dia masih sangat berhati-hati dalam berucap. Zach mengerti akan kekawatiran istri kecilnya, membalik tubuh Celo hingga kini mereka saling berhadapan.


"Sayang, dengar. Mas, Papi, bahkan Eric dan juga Shane sudah mencari dia ke segala penjuru tapi belum juga menemukannya. Itu berarti dia sendiri yang bersembunyi dan pilihannya untuk tidak mau kita menemukannya. Jangan cemaskan apapun, dia pasti akan baik-baik saja, lagi pula dia akan pulang dengan sendirinya nanti." Zach menenangkan istrinya dan memperingati bahwa tak semuanya harus ia pikirkan.


"Tapi Celo merasa bersalah, karena Celo kak Audrey jadi seperti ini." Celo larut dalam perasaan bersalah nya sehingga air mata mengalir di wajahnya.


"Dengar, tidak ada yang salah dalam hal ini. Christa hanya sedang menemukan jati dirinya, dengan berada di luar sendirian dia akan dewasa nantinya." Lagi Zach tak bisa melihat Celo menyalahkan diri sendiri atas kesalahan adiknya.


"Maaf Mas…"


"Sudah. Sudah…jangan menangis lagi." Ia mengusap wajah Celo yang masih basah oleh air mata.


"Sebaiknya kita pulang. Ada hal penting yang harus kita lakukan saat dirumah nanti, dan juga ada kejutan lainnya untuk mu besok pagi." Ajak Zach.


"Kejutan apa Mas?" Seketika Celo penasaran dibuatnya.


"Jika diberi tau tidak kejutan lagi namanya." Dicubit gemasnya pipi sang istri tercinta.


"Hehehee…." Zach merangkul pinggang kecil Celo untuk menyuruhnya masuk dalam mobil.


Sesampainya mereka di rumah, Zach melakukan apa hal penting yang dikatakannya tadi. Mereka melepas rindu setelah tiga minggu tak bersama, meski tubuh mereka sama-sama lelah namun mereka tetap dapat menikmatinya bersama. Mereka saling menyalurkan rasa cinta dalam bentuk sentuhan entah apapun itu, hanya mereka berdua dan tuhan yang tau.


••••


Lain halnya dengan pasangan yang baru saja menikah siang tadi, jika Zach dan Celo saling melepas rindu maka Eric dan Audrey sedang berdebat sekarang. Semua karena Audrey yang menangis ketakutan saat Eric akan mendekatinya.


"Eric stopp!! Jangan mendekat lagi." Teriaknya histeris.


"Apa?? Kenapa??" Tentu saja ia tak habis pikir. Bagaimana bisa istri ketakutan saat suami akan menyentuhnya?.


"Tidak Ric. Aku takut, orang bilang saat melakukannya sakit hikss…hiks…"


"Astaga…" Eric menepuk keningnya karena kepolosan gadis yang baru saja dinikahinya itu.


"Aku mohon..kalau begitu kita tidak jadi saja menikah nya." Sesal Audrey entah sadar atau tidak dengan kata-katanya. Seketika itu pula ia mendapat tatapan mematikan dari suaminya.


"Buk-bukkkan ssese-perti itu maksud ku sayang. Sebaiknya kita tunda saja pernikahan kita." Tutur Audrey terbata-taba.


"Sebenarnya kau serius tidak menikah dengan ku Audrey? Kau tau bukan aku paling tidak suka dengan yang namanya main-main." Eric menekankan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Aku serius. Tapi aku takut sakit." Jelas sekali kalau ia merasa bersalah.


"Dengar sayang, memang ini malam pertama kita sebagi suami istri. Dan sudah kewajiban mu untuk melayani ku sebagai seorang istri. Tapi aku tidak akan memaksa mu, akan ku tunggu sampai kau siap, kau mengerti?" Ucap Eric meyakinkan Audey seraya mengusap lembut wajah Audrey, memang sudah tugasnya membimbing, mengajari, dan menjaga gadisnya.


"Eric, maafkan aku." Ia menyesal lalu memeluk erat tubuh suaminya.


"Tidak apa-apa sayang. Tapi jangan pernah lagi menangis karena ku, mengerti." Audrey hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Tunggu dulu, dari mana kau tau kalau aku akan melakukannya atau tidak?" Eric sungguh tak habis pikir akan jalan pikiran Audrey.


●●●●