
••••
"Apa yang kau inginkan?" Hal pertama yang ia dengar ialah jawaban ketus.
"Maaf Bry.."
"Bukan itu yang mau ku dengar. Cepat katakan mau mu apa?" Bryan kembali menjawab dengan nada tak bersahabat sama sekali.
"Mm..itu..ittu…ak-"
"Cepat katakan!!" Bryan kehabisan kesabarannya.
"Maaf. Bisa tolong belikan aku makanan pedas? Aku sangat menginginkannya, tolong aku Bry sekali ini saja." Kentara sekali dari suaranya bahwa Chris memohon.
"Akan ku kirim kan segera." Jawabnya cepat dan singkat.
"Benarkah? Terima kasih banyak Bry, ma-"
Tut tutt
Belum usai bicara, pria itu sudah mengakhiri sambungan panggilan mereka. Sontak saja itu membuat Chris sedih dan menumpahkan Air matanya.
"Apa sebegitu bencinya kau pada ku? Maafkan aku Bry…maaf…" ia mengucapkannya berulang kali seolah Bryan berada di hadapannya.
Lelah menangis, Chris beranjak keluar dari kamar. Ia tak mau kalau sampai Bi Welma yang menerima pesanannya, bisa-bisa ia akan dilarang lagi nanti.
"Nona muda mau kemana?"
"Cuma ke teras depan Bi, Chris sedang menunggu kiriman paket."
"Oh…begitu, baiklah. Kalau begitu Bibi kebelakang dulu menyiram tanaman Nona Celo."
"Ya Bi."
Tak sampai setengah jam, yang di tunggu Chris pun tiba. Bukannya orang suruhan namun Bryan sendirilah yang mengantarnya.
"Bry…" gumam Chris pelan.
Tanpa bicara sepatah kata pun pemuda gagah itu menyerahkan kresek yang didalamnya terdapat makanan yang di idamkan wanita hamil itu.
"Mm….terima kasih Bry." Ucapnya seraya menerima ukuran kresek itu dengan mata penuh binar.
Tak butuh waktu lama camilan itu tandas sudah di tenggorokannya. Senyum lega juga puas jelas terpatri di wajah yang sedikit pucat itu.
"Kau sudah gila menghabiskan semuanya!! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kalian hah!" Suara Bryan terdengar nyaring sarat akan bentakan, namun terselip kekhawatiran didalamnya.
"Maaff…karena terlalu menginginkannya, aku jadi lupa kalau semua sudah habis." Chris menunduk takut akan kemarahan pria disampingnya.
"Terserahlah. Apa peduli ku." Ia beranjak berdiri untuk kemudian melangkahkan kakinya pergi dari kediaman Zach
^^^
"Celo, aku pulang dulu ya, besok aku akan kemari lagi." Pamit Melodi
"Mm..baiklah Nona." Celo mengiyakan, sebenarnya ia agak enggan berbincang dengannya lagi apalagi setelah pembicaraan mereka tadi. Ia merasa agak sedikit terganggu.
Sepeninggal Melodi para karyawan mulai mengerubunginya. Mereka penasaran akan pembahasan Bos mereka dan wanita kasar tadi.
"Bos…ceritakan pada kami apa yang kalian bicarakan tadi?" Desak mereka.
"Tidak ada hal penting." Elaknya.
"Ayo lah bos." Rengek mereka secara bersamaan.
"Apa?" Celo balik bertanya dengan wajah penuh senyumnya.
"Boss…"
"Tidak ada hal penting. Dia hanya menceritakan kisah cintanya saja." Tidak mungkin Celo membuka aib orang lain bukan.
"Ahh…Bos pelit…" mereka menyerah dan membubarkan diri.
^^^
Waktu terus bergulir menuju petang hari, Celo masih menunggu suaminya untuk menjemput. Karena tadi Zach menghubunginya bahwa ia agak sedikit telat datang karena masih ada sedikit pekerjaan penting.
"Miss belum pulang?" Sesyil menghampiri Celo yang masih berada di ruangannya.
"Belum. Mas Zach bilang agak terlambat karena masih ada pekerjaan." Saut Celo.
"Mau saya temani Miss?" Tawarnya.
"Mm..boleh. Jika Nona Syesil tidak keberatan."
"Mm…Miss, maaf jika aku terlalu ikut campur. Tapi sebaiknya Miss hati-hati saja dengan Miss Achazia itu, bukan apa-apa. Aku hanya merasa dia punya niat tidak baik terhadap Miss, entah apa itu." Ia coba menyampaikan keresahan hatinya melihat kedekatan Celo dengan wanita yang menurutnya licik itu.
"Tidak apa-apa. Celo mengerti keresahan Nona Sesyil, terima kasih." Celo menggenggam tangan karyawannya itu.
"Mm…Nona, apa boleh aku sedikit mengetahui kisah cinta mu dengan Tuan Zach?" Bukannya kepo, tapi Sesyil hanya mau mengalihkan pembicaraan.
"Hahah…itu..itu sangat tak patut untuk didengar Nona. Itu memalukan. Hahaa…" Celo tertawa jika ia harus menceritakannnya.
"Ayo lah Miss, aku bahkan belum pernah jatuh cinta apa lagi berpacaran sebelumnya." Ia mendadak jadi cemberut.
"Hei…ah..baiklah." Celo menyerah lalu mulai menceritakannya, tentu saja yang hanya baik-baik saja.
"Ahh... begitu rupanya. Jadi sekarang kalian saling mencintai."
"Menurut Nona Sesyil bagaimana?" Celo juga butuh pendapat orang lain.
"Dari yang saya lihat Tuan sangat mencintai Miss, dari pancaran matanya selalu penuh cinta setiap kalian bertemu." Mendengar itu sontak saja pipi Celo bersemu merah.
"Tapi aku merasa sedih. Sampai sekarang pun Celo belum hamil jua, Celo merasa kesepian maka dari itu Celo minta di buatkan toko ini. Celo takut suatu saat nanti jika Celo belum juga hamil Mas Zach akan meninggalkan Celo." Ia mengeluarkan semua beban yang terpendam selama ini.
"Miss…" Sesyil mengulurkan tangannya untuk Celo masuk dalam pelukannya.
"Apa kalian sudah ke rumah sakit?" Celo hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Dokter bilang baik-baik saja, dan sebentar lagi aku pasti akan mengandung." Jelas Celo.
"Nah…kalau begitu untuk apa Miss merasa cemas. Tenang saja, semua ada waktunya lagi pula kalian masih tergolong pengantin baru." Bukan hanya untuk menenangkan, tapi memang itu lah kenyataannya.
"Tapi semakin hari semakin berat rasanya. Semakin lama Celo hamil semakin besar rasa takut akan kehilangan Mas Zach."
"Bersabarlah."
Sementara di luar ruangan Zach yang sudah sedari tadi datang hanya mendengarkan curahan hati istrinya.
"Sayang, Mas tidak pernah mendesak agar kau segera hamil. Ketakutan mu tidak lah beralasan, sampai kapan pun Mas tidak akan meninggalkan mu." Janji Zach pada dirinya sendiri.
^^^
"Bry…kenapa kau membenci ku?" Baru selangkah berjalan Bryan terhenti karena ucapan Chris.
"Jangan bertanya pertanyaan yang kau sendiri jelas tau apa jawabannya." Ucapnya datar tak kalah dinginnya.
Tanpa ia ketahui wanita itu tengah mengerang sakit dan keringat membasahi dahi nya. Chris menggigit bibir bawahnya agar Bryan tak mendengar rintihan nya.
"Bry..an..shh.."
Brukk
Bryan segera menoleh dan mendapati Christa jatuh tersungkur dilantai dengan tidak sadarkan diri. Ia hampiri tubuh ringkih itu lalu memeluknya untuk menyadarkannya, takutnya ia hanya berpura-pura untuk mendapatkan perhatian.
"Heh bangun! Kau kenapa? Jangan bermain-main dengan ku Christa!" Bryan mengguncang-guncangkan tubuh wanita yang tengah hamil tersebut.
"Bi…Bi Welma. Bryan akan membawa Christa ke rumah sakit. Kabari Bos." Teriaknya lancang dari arah luar agar Bibi dapat mendengarnya.
Bryan membopong Christa dalam gendongannya lalu memasukkan dalan mobil. Ia mengemudikan mobilnya dengan cukup bar-bar, walau ia membenci Christa tak mungki ia tega membiarkan wanita itu kesakitan didepan matanya.
"Melihat kau dan anak mu baik-baik saja." Disetiap helaan nafasnya Bryan selalu meramalkan doa semoga Chris baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit, ia memilih menghubungi Nate. Karena mereka saling kenal, pasti Christa akan mendapat penanganan terbaik.
Di duduk dengan gelisah di ruang tunggu sementara Chris sedang ditangani oleh Nate. Kegelisahannya semakin menjadi tatkala Zach dan Celo belum juga datang. Tak mungkin ia bisa menjaga Chris seorang diri mengingat ia sangat membenci wanita itu.
"Shitt! Kemana sih mereka? Sibuk terus ber lovey dovey disaat genting begini." Bryan menjambak kasar rambutnya.
Entahlah, apa yang membuat Bryan begitu se khawatir ini. Bisa jadi rasa bersalah karena sudah mau menuruti permintaan Chris untuk dibelikan makanan pedas. Itu sebabnya wanita itu terbaring di brankar rumah sakit dalam keadaan lemah tak berdaya.
••••
Teman-teman semua mohon dukungannya ya
Ga susah kok cuma kasih LIKE juga COMMENT
Gak bayar Juga…
Lumayan kan buat isi kegiatan #stayathome gratis lagi…
VOTE juga sangat menentukan kapan Updatenya…
TERIMA KASIH