
■■■■
Seminggu telah berlalu, setelah kejadian malam itu baik Zach maupun Celo sama-sama saling melupakan. Mereka tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Jika Celo masih tetap bekerja ditoko bunga milik bibi, sedangkan Zach, karena ia masih dalam masa instrospeksi diri ia memilih menyibukkan diri disalah satu Club malam milik Eric. Walaupun hubungan mereka masih renggang, namun tetap saja ia tak mau melepas sahabatnya begitu saja.
"Ric, sampai kapan kau akan bersikap dingin begini padaku?" Zach masih mencoba membujuk Eric agar mereka kembali seperti dulu lagi. Namun Eric masih saja tetap diam, ia hanya akan bicara pada Zach jika itu berhubungan dengan Club.
"Ric, hanya kau satu-satunya harapanku. Jika kau juga tak bisa memahami kondisiku, lalu aku harus kemana lagi?" Zach sudah tak tahan akan kediaman semua orang terhadapnya.
"Kau salah Zach, bukan orang lain yang harus memahami kondisimu melainkan dirimu sendiri." Eric yang melihat keterdiaman sahabatnya kembali melanjutkan.
"Bicaralah pada orangtuamu, yakinkan mereka kalau alasan yang kau punya tepat. Pergilah. Aku tau tempat kau bukan disini Zach." Eric menasehati Zach, selain ia yang paling tua dan berpikiran dewasa, Zach juga tipekal orang yang mudah dinasehati dan menerima masukan dari orang lain.
Tanpa babibu lansung, Zach pergi menyelesaikan masalahnya yang masih belum tuntas.
°°°°
"Hah…jika begini terus akan susah, ini saja hanya cukup untuk pengobatan ayah. Bagaimana dengan kebutuhan lainnya dan juga untuk nenek. Ini saja sudah diberi lebih oleh bibi. Aku harus mencari uang kemana lagi?" Celo coba menghitung pendapatannya dan juga pengeluarannya yang ternyata tak sebanding.
"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan tambahan. Tapi dimana? Apa ada orang yang menerima karyawan yang hanya tamat Senior high school dan juga baru lulus?" Ia merasa pesimis akan hal itu, namun karena tekad yang kuat tak ada salahnya mencoba.
"Baiklah, sepertinya besok aku harus mulai mencari pekerjaan, jika kedai sedang tidak ramai mungkin bibi akan mengizinkanku." Mencoba untuk optimis tak ada salahnya.
Celo membuka pintu rumah yang selama ini telah menjadi tempat berteduhnya.
"Kau pulang kemari lagi nak?" Nenek bertanya begitu ia memasuki rumah.
"Ya nek. Mas Zach belum kembali dari pekerjaannya." Bohong gadis itu.
"Baiklah. Bebersihlah, nenek akan panaskan makanannya."
"Ya nek. Terimakasih." Celo beranjak kekamar dan membersihkan diri. Setelahnya ia keluar dan sedikit makan makanan yang telah disiapkan neneknya.
"Sudah selesai? Kenapa hanya makan sedikit heumm?" Nenek yang baru kembali dari kamar ayahnya, melihat Celo hanya makan sedikit malam ini.
"Celo sudah kenyang nek."
"Apa rasanya ada yang kurang?" Nenek merasa ada yang aneh dengan cucu satu-satunya itu.
"Bukan nek. Bukan, masakan nenek seperti biasa selalu enak kok nek. Hanya saja Celo benar sudah kenyang." Tak ada yang salah dari jawabannya, memang tak ada yang salah dengan masakan neneknya. Hanya saja tenggorokan gadis itu terasa kebas, air yang ia minum terasa duri, dan nasi keras bak batu.
"Ya sudah. Istirahatlah sekarang, Nenek juga mau istirahat."
"Ya nek. Tapi Celo mau melihat ayah dulu."
Sebelum tidur disempatkan diri untuk melihat keadaan ayahnya. Terlihat beliau sudah tidur, dirapikan selimut yang menutupi ayahnya lalu dikecup sekilas kening ayahnya sebagai ucapan selamat tidur.
"Jangan khawatir ayah, Celo akan terus berusaha agar ayah selalu mendapatkan pengobatan. Celo ingin ayah cepat sembuh dan kembali ketengah-tengah kami lagi." Ucap Celo dalam hati saat akan meninggalkan kamar ayahnya.
■■■■
Tok tok
"Mi, apa Zach boleh masuk?" Zach mengetuk pintu kamar maminya, tapi nihil tak ada jawaban. Zach memutuskan untuk masuk menemui maminya.
Nampak disana maminya tengah berbaring, istirahat tampaknya.
"Mi…apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja? Zach cemas jika mami begini terus." Digenggamnya tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Keluarlah. Mami tidak apa-apa, hanya butuh istirahat." Tolaknya masih tetap membelakangi putranya.
"Mi…sampai kapan mami akan begini? Sampai kapan mami akan menghukum Zach mi?" Ia mengusap air mata yang mangalir dikedua sudut matanya.
"Mami tak pernah menghukummu. Mami hanya lelah, keluarlah." Dari awal Zach buka suara, beliau telah lebih dulu menangis dalam diam.
"Baiklah mi, Zach akan keluar." Ia berucap dengan nada yang sarat akan kesedihan.
"Mi, Zach sudah putuskan. Zach akan kembali ke Holland, dan akan memulai semua disana dari awal." Zach mengucapkan dengan berurai air mata.
Mami masih saja diam tak bergeming dari posisinya.
"Apa keputusan ini sudah tepat?" Ya, saat diperjalanan Zach memikirkan hal ini.
Benar yang dikatakan papinya ia harus menemukan kembali jati dirinya, dirinya saat ini sungguh jauh berbeda dari Zach yang dulu, yang selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa menyebabkan masalah lainnya. Dan ia memutuskan tempatnya untuk kembali adalah dimana ia dulu pernah menuntut ilmu.
■■■■
Malam harinya, papi meminta bibi Yan memanggilkan Zach keruang kerjanya.
"Tuan muda, tuan besar meminta anda menemui beliau diruang kerja." Panggil bibi begitu Zach membukakan pintu kamarnya.
"Zach segera kesana bi."
"Ya tuan muda."
Tanpa buang waktu Zach menghampiri papinya di ruang kerja beliau.
"Pi.."
"Masuklah Zach." Aneh rasanya, tak ada lagi kata nak antara mereka.
"Ada apa pi?" Tanya Zach lansung saja.
"Papi dengar kau akan ke Holland?" Kenapa?" Beliau buka suara.
"Ya pi. Zach akan memulai semua dari awal lagi, dan disana semua bermula. Zach akan meyakinkan papi dan mami bahwa Zach masih putra kalian yang dulu. Dan juga Zach akan buktikan bahwa Zach bisa membantu papi diperusahaan." Jelasnya.
"Baiklah, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Kapan kau akan berangkat?"
"Dua minggu lagi pi."
"Baiklah, persiapkan semua dengan matang."
"Pi, boleh Zach bertanya sesuatu?"
"Soal apa?"
"Kenapa kalian selalu menentang hubungan Zach dan Melodi?" Mendengar pertanyaan putranya, papi menatap Zach sekilas.
"Papi yakin kau sudah tau jawabanya?"
"Tapi kenapa pi? Apa karena dia hanya anak yatim piatu? Lalu bagaimana dengan Celo, ia bahkan tak beda jauh dari Melodi bahkan ia lebih beruntung darinya."
"Ini yang tidak papi sukai dari sifatmu yang sekarang, kau selalu membandingkan sesuatu namun hanya menatap kesatu arah. Kami tidak menyukainya semata bukan karena hal itu. Tapi semua terletak pada dirimu, kau yang telah merubah dirimu. Kaulah yang selalu membandingkan sesuatu dan tak lagi memikirkan perasaan orang lain. Dan semua itu semenjak kau menjalin hubungan dengannya."
"Tapi pi…"
"Sudahlah Zach, papi tidak mau lagi ada perdebatan dalam keluarga kita. Papi harap kau bisa lebih dewasa lagi saat disana, biar bagaimana pun kaulah harapan papi satu-satunya. Dan untuk saat ini kau belum sanggup memimpin perusahaan karena ketidak dewasaanmu dalam berpikir. Kau tau disana banyak sekali orang yang menggantungkan hidup mereka makanya kau harus siap."
"Baiklah pi.." Zach keluar dari ruang papinya dengan penuh pikiran. Ia mulai paham akan maksud dan tujuan papinya.
■■■■
Tekan Favorite
Like
Comment
Vote
Ya readers-nim
Buat yang udah sudi mempir trus tekan yang diatas..
Thanks so much
🥰🥰🥰