Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Inikah akhir kisah?



●●●●


"Selamat siang Miss. Dari yang saya lihat perkembangan anda sangat bagus dalam hal pemulihan. Biasanya pasien saya tidak betah jika harus berlama-lama berada di rumah sakit, tapi anda sangat sabaran ya. Wahh…ini benar-benar mengesankan." Dokter muda itu tersenyum sinis. Nate, itulah nama Dokter muda nan tampan itu.


"Dr. Nate bisa saja dalam hal memuji." Bukannya tidak mengerti maksud cibiran dari Nate, tapi memang Melodi lah yang tidak mempedulikan hal itu.


"Baiklah. Kali ini apa lagi keluhan anda Miss, sampai anda meminta saya lansung untuk datang?" Nate sudah sangat hapal akan isi otak wanita licik itu.


"Baiklah, akan aku ikuti permainan mu Miss Melodi." Batin Nate dengan evil smirk nya.


"Badan saya terasa tidak enak dokter. Rasanya panas menjalar di sekujur badan saya." Ucap Melodi dengan semenggoda mungkin seraya menggigit pelan bibir bawahnya.


"Ohh…kalau itu kita tidak bisa memeriksakannya disini Miss. Jika anda tidak keberatan, bagaimana kalau kita ke Club atau ke Hotel saja?" Nate benar-benar masuk dalam permainan wanita itu.


"Jika menurut Dokter itu yang harus dilakukan. Ayo." Saut nya dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Tentu dengan senang hati juga anak buah saya akan membantu anda disana." Kalimat licik itu dengan lancarnya diucapkan oleh Nate.


"Apa? Kurang ajar sekali kau! Apa pantas seorang Dokter seperti mu berbicara seperti itu pada seorang wanita!!" Melodi berteriak membentak Nate.


"Jangan membentak saya Miss. Karena..-" Nate menahan kalimatnya untuk mendekat kan wajahnya ke telingan Melodi.


"Saya tau apa dan siapa anda sebenarnya! Wanita licik!!" Nate menjauhkan wajahnya dan kembali ke posisi semula dengan seringai liciknya.


"Jika anda masih membutuhkan saya, silakan panggil saya lagi Miss." Kali ini lebih mengerikan, tatapan tajam Nate seolah bisa menghabisi siapa saja yang ada disana.


Glek


"Sial! Pria ini seperti duplikat Eric si pria sialan jual mahal itu!" Cicitnya dalam hati.


••••


Di sudut lain, Nate tertawa puas di ruangannya setelah kembali dari kamar Melodi. Bagaimana tidak, ia berhasil membuat wanita licik penggoda itu terpojok oleh kata-katanya.


"Heh..ternyata benar kata Eric, tampang tak berdosa bak malaikat nya bisa membuat siapa saja terperangkap. Beruntung Zach si pria bodoh itu sudah menikah sekarang." Lagi, Nate tersenyum puas.


"Lihat saja, ini baru awalnya saja. Akan ku buka topeng mu itu, dan ku tunjukkan pada Zach siapa kau sebenarnya." Seketika senyum puas itu berubah menjadi kilatan kemarahan.


••••


Kembali ke Melodi, wanita yang tengah berbadan dua itu melampiaskan kemarahannya pada asisten pendampingnya.


"Dari mana dia tau? Heh Kau! kemari!" Ia memanggil wanita yang selalu mendampinginya ke manapun ia dipindahkan oleh ayah dari bayi nya.


"Ya Nona. Apa anda butuh sesuatu?" Tanya wanita itu seraya mendekat.


"Kau! Kau kan yang memberitahu pada Dokter Nate!" Bentaknya.


"Memberi tau apa Nona? Saya tidak mengerti maksud anda." Sanggahnya.


"Diam!! Siapa yang menyuruh mu bicara ******!!"


"…."


"Kenapa kau diam saja HAH!! Keluar! Aku muak melihat wajahmu!!" Melodi benar-benar berprilaku seperti orang gila sekarang.


"Dasar….semua sama saja! Tidak ada yang baik kepada ku.. hiks…" Usai berteriak dan marah-marah, Melodi menangis dengan sendirinya.


"Zach…maaf kan aku. Aku sangat membutuhkan mu disini, andai saja waktu itu aku mau menerima tawaran mu untuk menjadi ayah dari bayi ini. Pasti aku menjadi wanita paling bahagia sekarang, Zach kembali lah pada ku…" semua kegelapan yang tadinya meliputi hati dan pikiran tiba-tiba saja berubah menjadi sendu. Jelas sekali ia terlihat sangat tertekan dengan pilihan yang dijalaninya saat ini.


°°°°


Tak terlalu ambil pusing, Celo segera bangkit menuju ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Baru saja menggerakkan tubuh bagian bawahnya, seketika nyeri melanda.


"Ughh…" ringisan kecil terdengar dari bibir tipisnya.


Karena sudah kesiangan Celo memaksakan diri untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari. Gadis yang sudah menjadi wanita itu menekan pelan perut bagian bawahnya bermaksud untuk meredam nyeri yang menyerang bagian sensitive nya.


Tok tokk


"Celo sayang, bangun nak. Kita sarapan bersama." Samar-samar terdengar suara Mami memanggilnya untuk sarapan.


Ceklek


Celo berjalan layaknya siput, pelan sekali ia berjalan menuju pintu untuk menyahuti panggilan mertuanya. Jika ia hanya bersorak dari dalam kamar itu sangat tidak sopan, lagi pula kamar mereka kedap suara.


"Ah…menantu Mami sudah bangun rupanya. Ayo turun sarapan sayang." Ajak Mami mengulangi.


"Ya Mi. Maaf Celo bangun kesiangan."


"Tidak apa-apa sayang." Saut Mami melihat raut bersalah dari wajah menantu yang sudah seperti putrinya sendiri.


Celo bertanya tentang keberadaan suaminya, karena sama sekali ia belum melihatnya. Namun alangkah terkejutnya Celo begitu mendengar dari mertuanya bahwa suaminya itu telah berangkat ke Airport pagi-pagi sekali.


"Mami pikir Zach sudah pamitan dangan mu nak." Celo menggeleng pelan akan pemikiran Mami.


"Nggak Mi, Mas Zach gak bilang apa-apa ke Celo." Ucapnya sedih


"Aishh…anak nakal itu. Yaa sudah. Kalau mau, Celo susul saja Zach ke airport, Mami rasa Zach masih belum pergi kok. Tapi diantar supir Papi aja ya." Ucap Mami yang tak tega melihat wajah murung menantu kesayangannya.


"Ya Mi. Celo mau. Tapi Papi bagaimana ke kantor nya Mi?" Jawab Celo cepat yang dilanjutkan pertanyaan lain.


"Papi bisa ke kantor sendiri. Tu supir Papi ada didepan. Kam-" belum usai Mami berkata, Celo sudah berlalu dari hadapan beliau.


"Ahh…dasar Celo. Sebegitu besarnya cintanya pada Zach, sungguh beruntung nya anak Mami." Gumam Mami sendiri.


"Eh tunggu dulu…Celo…sayang…." Mami berlari, coba menghampiri menantunya untuk mengingatkan sesuatu.


"Cepat jalan Paman. Nanti keburu Mas Zach pergi." Seru Celo bahkan ia tak menghiraukan atau tak mendengar panggilan dari Mami.


"Baik Nona Muda."


Di perjalanan, rupanya Mami menghubungi supir untuk mengantar Celo lansung bertemu Zach. Ia tak mau jika Celo berlarian tak jelas dan malah tak bertemu dengan suaminya.


"Nona, kita sudah sampai. Mari saya antar Nona ke tempat tuan muda." Ujar sang Supir yang biasa di panggil Paman Sam.


"Oh iya Paman. Terima Kasih." Celo mengekor dibelakang Paman Sam layaknya anak ayam mengikuti induknya.


Celo sama sekali tak memperhatikan kemana Paman Sam membawanya, yang jelas ia hanya mengikuti kemana beliau melangkah.


"Kenapa Mas tidak bilang ke Celo jam berapa berangkatnya? Apa Celo tak berhak tau? Apa setelah ini Celo akan dibuang? Inikah akhir kisah Celo tuhan?" Serentetan pertanyaan berputar dibenak Celo. Karena terlalu larut dalam pikirannya, ia tak sadar bahwa sudah berdiri seseorang dihadapannya.


●●●●


Sekali lagi Maaf ya teman-teman, untuk sekarang gak bisa dulu Up nya sering-sering…


Tapi, minggu depan bakal Up tiap hari lagi kok


Sekali lagi maaf ya teman-teman….