
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Maaf ya lama. Kau sudah pesan?" Bryan kembali dari menghubungi seseorang saat melihat kearah meja matanya lansung melotot.
"Astaga? Siapa yang akan memakan ini semua?" Tak percaya dengan semua yang dilihatnya.
"Tentu saja kita, kenapa? Kau keberatan? Kan tadi kau sendiri yang bilang, apa saja yang kau suka." Cibirnya.
"Astaga. Tapi tidak sebanyak ini juga Sesyil, kalau makan sebanyak ini kau bisa gemuk nanti. Orang-orang akan mengejek ku berkencan dengan seekor ****." Bryan memasuki tahap frustasi menghadapi kekasih barunya ini.
"Kalau begitu dari sekarang saja kau anggap aku ****, mulai sekarang kau berkencan dengan seekor ****. Puas!!" Kesal Sesyil.
"Baiklah, bagaimana kalau kita menjadi sepasang ****?" Seru Bryan dengan senyumnya.
"Bre****k kau!!" Ia memukul tangan pria yang sudah menjadi kekasihnya itu.
"Kau tau Se, kau yang apa adanya ini yang membuatku jatuh cinta pada mu." Ujar Bryan tulus.
"Aku tau itu dan terima kasih sudah menerima ku B." Sesyil membalas senyum Bryan.
"Mm…Se?" Ditengah makan malam mereka Bryan kembali buka suara.
"Mm…" masih dengan melanjutkan makannya.
"Saat di toko, kau jaga Celo ya." Pintanya serius.
"Kenapa? Ah..tunggu, apa jangan-jangan kalian itu mantan kekasih dan kau mendekati ku bermaksud untuk kembali dan merebut Celo dari Tuan Zach. Tidak! Tidak akan ku biarkan itu B, asal kau tau saja mereka saling mencintai." Prasangka buruk Sesyil membuatnya marah pada Bryan.
"Astaga, terkadang aku juga kesal dengan sikap mu yang apa adanya itu." Pria itu mengusap kasar wajahnya.
"Lalu apa?"
"Dengar, aku sudah menganggap Celo itu seperti adikku sendiri. Jangan pernah berprasangka buruk lagi, oke!" Terangnya.
"Baiklah. Aku percaya."
"Yang pasti jika sedang berada di toko kau lindungi dia dari Chris dan Melodi. Kau sudah mengenal Chris bukan, kalau Melodi ini photonya." Bryan memberi lihat kekasihnya photo Melodi.
"Ah…wanita ini, dia sudah sering ke toko kami. Dan kau tau B, dia sangat kasar juga sombong aneh saja dia bisa begitu baik dan malah minta berteman dengan Celo." Sesyil menceritakan perihal kedatangan Melodi ke toko mereka dan juga ke anehannya.
"Kapan dia pertama datang?"
"Mmm…sebelum Chris kau bawa ke rumah sakit hari itu."
"Sial! Dia benar-benar sudah merencanakan segalanya." Umpat Bryan yang masih dapat didengar Sesyil.
"Apa yang sedang terjadi sebenarnya B?" Sesyil heran akan hal itu.
"Ada waktu untuk ku ceritakan semuanya, tapi tidak sekarang." Pintanya
"Mm..baiklah. Untuk Celo, aku pasti akan menjaganya." Usai pembicaraan serius tersebut mereka kwmbali melanjutkan maka malam mereka, tetap dengan segala perdebatan kecilnya
^^^
"Bagus. Rasakan kau Celo! Inilah akibatnya jika kau berani bermain-main dengan ku. Sebentar lagi wanita rendahan itu pasti akan ditendang keluar dari rumah ini." Ia menengadahkan kepalanya ke atas menikmati sapuan angin.
"Sekarang saatnya menyaksikan pertunjukan besar. Emm…sepertinya masih pertunjukkan pembuka, yang besarnya masih harus menunggu lagi." Ia berkata seorang diri bak orang gila yang disertai senyum liciknya.
Dengan langkah besarnya Zach menghampiri Celo yang sedang menata makan malam mereka. Masih dengan emosi yang meliputi tanpa sepatah kata pun ia setengah menyeret tubuh Celo ke kamar mereka.
"Mass…ada apa Mas?" Tanya Celo tentunya sangat terkejut atas perlakuan Zach.
"Mass…" ia menggapai tangan Zach yang mencengkeram erat lengan atasnya.
"Mass…lepas Mas, lepaskan tangan Celo. Ssaakiit Mas.." pintanya dengan mata yang sudah berair. Sayang, suaminya sama sekali tak mengindahkan permintaan istrinya itu.
Sesampainya didepan kamar mereka, Zach membuka pintu lalu menutupnya dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman yang kencang.
Tak sampai disitu, ia juga menghempaskan tubuh mungil istrinya ke ranjang. Zach melemparkan bukti pil pencegah kehamilan yang tadi direbutnya dari Chris.
"Aa-appa innii Mass? Hiks…" tak bisa ditahan lagi, Celi sangat ketakutan. Air mata juga mengalir deras di wajahnya.
"Mmas…Mas hiks.. kenapa? Celo tidak mengerti hiks..maksud Mas?"
"Sekali lagi ku tanya, apa ini Celo?" Kali ini bukan lagi bentakkan, tapi nada yang sangat dingin dan itu membuat Celo menciut.
"Ce-llo tidaak ttau Mass.." karena memang ia tak tau apa obat itu.
"Heh! Kau mengecewakan Celo. Kau selalu bersikap seolah kau sangat kesepian, sangat menginginkan hadirnya seorang anak dikeluarga kita. Tapi apa!!" Suara Zach kembali meninggi.
"Kau munafik!! Kenapa kau mengkonsumsi obat ini? Kenapa kau tidak mau punya anak dari ku!!" Zach tak memberi Celo ruang untuk menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari bibir suaminya.
"Kenapa?? Jawabb!!" Bentakan Zach semakin kencang saja.
"Kenapa kau tidak mau punya anak dari ku hah!! Kau lihat di luar sana, Chris dan Melodi saja yang hamil tanpa suami mau mempertahankan bayi mereka! Tapi kau? Kau bahkan mencegah hadirnya bayi itu. Kau jahat Celo, kau wanita jahat." Tak ada kesempatan untuk Celo menjawab, Zach malah pergi meninggalkan kamar mereka.
^^^
Saat keluar dari kamar dengan nada marahnya, ia melihat adiknya makan malam dengan lahap seolah tak terjadi apa-apa. Tak memperdulikan itu, Zach melewati Chris begitu saja tak mau ambil pusing.
Diraihnya kunci mobil entah kemana dia akan pergi. Dari raut wajahnya sangat jelas Zach dengan dalam mode marah besar.
"Kak, kakak mau kemana?" Ia menghampiri kakaknya.
"Bukan urusan mu! Kau lupa bahwa kau hanya orang luar Chris. Ingat! Jangan ikut campur, jika kau berani berbuat sesuatu akan ku habisi kau!!" Ancam Zach, lalu pergi meninggalkan rumah.
Selepas kepergian Zach, Chris melangkah mendekat ke kamar kakak dan kakak iparnya. Bukan Chris namanya jika ia mengindahkan peringatan dari Zach.
Ceklek
Bingo, pintu itu tidak di kunci. Pemandangan pertamanya sangat menyenangkan menurut Chris. Ia melihat Celo tengah meringkuk menyembunyikan wajahnya di lutut yang di tekuk di bawah ranjang.
"Celo, apa yang terjadi?" Dengan suara prihatin yang di buat-buat ia mendekat dimana Celo berada.
"…." Yang ada hanya suara isakan, dan sesegukan sesekali.
"Ohh…kasihan sekali. Jika seperti ini, bagaiman kau akan melewati tahapan selanjutnya? Ahhh tidak seru." Ia ikut berjongkok didepan Celo.
"Dengar, ini baru awalnya Celo. Kedepannya akan ku buat kakak lebih membenci mu dan kau akan menangis sepanjang hari." Ucapan itu diakhiri tawa kemenangan.
"Kenapa? Kenapa Kak Chris melakukan semua ini?" Celo mengangkat wajahnya yang basah dan mata yang sudah sembab.
"Kau tanya kenapa? Karena aku membenci mu dan karena kau tidak pantas untuk kakak ku!" Jawabnya kasar.
"Tapi kenapa? Apa salah Celo kak?"
"Arhhh…." Bukannya jawaban yang didengar Celo, Chris malah memukulnya. Ia menampar wajah Celo juga menarik rambutnya untuk kemudian dia hempaskan.
"Kau masih tanya kenapa Hah!! Si***n!! Bre****k! Aku membenci mu! Mati saja kau sana!! Akhh.." dengan membabi buta ia terus memukuli Celo hingga tubuh mungil itu tak sanggup lagi menerimanya dan jatuh tak sadarkan diri.
Melihat istri kakaknya pingsan, Chris memastikannya dengan mendorong tubuh Celo menggunakan kakinya.
"Shitt!! Dia pingsan." Bak tak punya hati, ia membiarkan Celo tergeletak begitu saja.
"Matilah kau! Toh kakak juga tidak akan pulang malam ini." Yakinnya, dengan santai ia meninggalkan kamar itu.
Malam itu, semua kesakitan dirasakan Celo, ia tak begitu memperdulikan tubuhnya yang remuk karena pukulan bertubi-tubi dari Chris. Yang membuatnya sakit sampai tak berdaya ialah tatapan kekecewaan Zach, meski Celo tak tau bahkan tak melakukan semua kesalah itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Buat mengisi waktu kosong dirumah, kita buka MangToon/ NovelToon yuk
Mana tau Komik/ Novel favorite nya ada yang Up
Jangan lupa beri dukungannya
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
VOTE juga untuk memberi author semangat
TERIMA KASIH