
▪︎▪︎▪︎
"Apa Dokter? Istri saya hamil?" Sentak Bryan dengan wajah terkejut. Untuk ukuran kabar bahagia, reaksi Bryan di luar dugaan orang yang melihatnya.
"Iya Tuan. Selamat Tuan, Nyonya, tidak lama lagi kalian akan menjadi orang tua." Imbuh Dokter wanita tersebut dengan wajah menahan tawa.
"B-Bry,-" Sesyil takut melihat reaksi suaminya, pikirannya buruk jikalau sang suami tidak menginginkan kehamilannya ini.
Bruk
Tidak disangka, pria yang itu yang tadinya memasang wajah aneh, kini menubruk pelan tubuh istrinya. Merengkuhnya dalam pelukan masih dalam posisi duduk bersisian.
"Terima kasih Baby. Terima kasih." Bryan membisikkan kata terima kasih tepat di telinga Sesyil, membuat leher wanita itu menghangat jadinya. Sedangkan di hadapan mereka Dokter yang tadi memeriksa dan memberi kabar baik itu hanya bisa tersenyum melihat sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
"Bry, ada Dokter di depan kita. Malu." Bisik Sesyil, seraya melepas rengkuhan sang suami di tubuhnya. Bryan ikut tersadar. Selepas mengurai pelukan mereka, pria yang akan menjadi Ayah itu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidaklah gatal.
"Maaf Dokter." Sungkan Bryan seraya menunduk malu.
"Tidak apa-apa Tuan, saya maklum. Karena rata-rata para calon orang tua reaksinya sama seperti kalian ini." Dokter berujar dengan senyum lebarnya.
"Namun ada hal yang harus kalian perhatikan disini, sehubungan dengan kondisi Nyonya Sesyil. Karena janin masih sangat muda dan rentan, juga ini kehamilan pertama si Ibu, jadi kondisinya cukup lemah." Penjelasan dari Dokter butuh waktu bagi mereka untuk mencernanya karena sama-sama masih awam.
"Lalu apa yang harus kami lakukan Dokter?" Mereka serempak untuk bertanya.
"Jangan buat si Ibu tertekan, hindari sesuatu yang bisa menimbulkan stress juga kelelahan. Saya akan resepkan beberapa vitamin, juga rekomendasikan susu apa yang bagus untuk di konsumsi oleh Nyonya Sesyil." Dokter tersebut menuliskan serangkaian resep dengan tulisan berupa cacingnya. Kemudia menyerahkannya pada Bryan untuk nanti mereka tebus di apotek.
"Terima kasih Dokter." Senyum bahagia tercetak jelas di wajah tegas pria itu.
"Sama-sama Tuan. Sekali lagi selamat atas kehamilan istri anda."
***
Bryan memarkirkan mobilnya tepat di halaman besar rumah milik Zach. Ya, memang tak dapat di pungkiri bahwa segala yang ia miliki saat ini hanyalah pinjaman dari Zach. Tidak tepat juga jika di sebut pinjaman, karena Zach menyerahkannya dengan ikhlas asal Bryan mau mengelola dengan baik perusahaan mereka.
Zach lebih suka menyebutnya perusahaan mereka sebab, jika tidak ada Bryan entah siapa yang akan memegang kendali di perusahaan yang ia bangun sendiri itu.
Baru beberapa langkah menapaki kaki, Bryan menangkap sosok yabg sangat ia kenal. Sosok yang membuatnya lari bak seorang pengecut. Tuan besar Alterio, Ayah dari Zach dan Chris.
"Eh, Paman. Paman apa kabar?" Suara Sesyil menyapa Papi menghentak pendengaran Bryan yang baru saja terdiam di tempatnya berdiri.
"Baik. Kau sendiri bagaimana nak?" Papi meletakkan cangkir teh yang sepertinya baru saja beliau sesap isinya. Pria yang umurnya sudah sepuh itu mengalihkan tatapan ke arah Bryan yang masih tidak bergeming dari posisinya. Tatapan penuh isyarat juga arti.
"Sayang, kenapa diam di situ? Ini ada Paman." Sesyil memanggil suaminya yang berdiam bak patung di ambang pintu.
"…." Bryan memasang senyum yang terkesan di paksakan. Ia melangkah semakin mendekat ke arah sang istri kini berdiri.
"Istirahatlah ke kamar. Biar aku yang menemani Paman." Bryan membelai lembut wajah Sesyil.
"Ta,-"
"Baik Tuan." Dengan langkah khas orang tua, wanita paruh baya itu menghampiri Nyonya rumah untuk di antar ke kamar mereka. Sesyil membaca isyarat mata dari suaminya hanya menuruti tanpa berkomentar apapun.
"Paman, Saya istrirahat ke kamar dulu." Pamit Sesyil sopan. Biar bagaimana pun, wanita itu sadar akan kebaikan keluarga Alterio terhadap suaminya.
"Baiklah nak."
***
Bryan mengajak Papi berbicara di halaman belakang, setelah tadi mewanti-wanti Bibi Wu untuk mencegah istrinya ke sana. Ia tidak ingin Sesyil tau, karena itu bisa membahayakannya juga calon anak mereka.
"Ada apa dengan Sesyil? Apa dia sakit?" Sebenarnya Papi orang yang baik, Bryan juga mengerti alasan beliau melakukan hal demikian tidak lain dan tidak bukan karena rasa sayangnya terhadap Chris. Namun, Bryan juga tidak bisa mengorbankan kebahagiaan keluarga kecilnya hanya karena hutang budi. Menurutnya, ada cara lain jika memang beliau mengharapkan balasan, meski sama sekali beliau tidak mengharapkan balasan yang ia maksudkan.
"Hanya kurang enak badan dan sedikit masuk angin saja Paman." Bryan harus berbohong, bukannya bermaksud menutupi tapi ini memang bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya.
"Apa maksud kedatangan Paman yang mendadak ini masih berhubungan dengan pembahasan kita tempo hari?" Terka Bryan yang tidaklah salah.
"Ya. Dan Paman belum mendapatkan jawaban memuaskan dari mu." Pria yang sudah menjadi kakek itu menatap Bryan tajam, dari sorot matanya tergambar sebuah ancaman.
"Jawaban saya sudah jelas Paman. Maaf, saya tetap tidak bisa memenuhi permintaan Paman yang tidak masuk akal itu." Bryan kembali menegaskan jawabannya.
"Tidak masuk akal bagi mu. Namun dari kaca mata seorang ayah, itu masuk akal dan akan dia perjuangkan kebahagiaan putrinya meski,-"
"Meski memaksa seorang suami meninggalkan istrinya? Paman tidak berhak melakukan hal serupa itu. Ingat Paman, Zach dan yang lain begitu mengagumi sosok Paman yang selalu membantu orang lain tanpa balasan dan tidak pernah menyakiti perasaan orang lain." Kalimat tajam Bryan sontak membuat Papi terhenyak, beliau terdiam.
"Saya akan membalas segala kebaikan yang telah Paman dan keluarga berikan. Tapi tidak dengan cara seperti ini Paman, masih ada cara lain." Tatapan Bryan sendu. Mereka yang duduk saling berhadapan saling tatap, menyelami sorot mata masing-masing.
"Baiklah jika kau tetap kekeh dengan pendirian mu. Paman pergi kalau begitu." Beliau terlihat menyerah. Tubuh yang tidak lagi muda itu berdiri dari duduknya, di ikuti Bryan yang mengekori.
Tepat di langkah ke tiga, beliau berbalik badan kembali menghadap Bryan.
"Paman harap pembicaraan ini tidak sampai ke telinga Zach. Bisa-bisa keluarga besar jadi kacau, Bry." Tatapan tajam sarat dengan ancaman kembali beliau layangkan pada orang kepercayaan putranya itu.
"Tentu Paman. Cukup ini jadi rahasia antara kita berdua."
***
Malam yang semakin larut tidak membuat Bryan menyerah dengan rasa kantuknya. Pikirannya semakin tidak tenang setelah tadi melihat Papi menyerah. Ia pikir, pasti ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh pria yang sudah dianggap sebagai Ayah olehnya itu.
"Sayang, kenapa belum tidur?" Sesyil terbangun dari tidurnya. Mungkin karena mereka selalu tidur dalam posisi berpelukan, oleh karena itu ia terbangun sebab pria itu belum memeluknya.
"Ah, eh, iya Baby. Ini juga mau tidur." Bryan gelagapan harus beralasan apa.
"Peluk aku. Aku tidak bisa tidur tanpa mu." Sesyil merengek sembari merentangkan tangannya lebar.
"Dasar. Bagaimana kau akan jadi Ibu, jika begini saja masih manja." Bryan mencubit gemas kedua pipi sang istri karena gemas dengan ekspresi wanita hamil itu.
▪︎▪︎▪︎