
▪︎▪︎▪︎
lima bulan berlalu. Di kediaman utama Alterio di dihebohkan dengan Celo yang akan melahirkan. Semenjak usai kehamilan Celo menginjak tujuh bulan, Mami memboyongnya ke rumah utama takut tidak ada yang menjaga menantu kesayangan beliau itu. Jadilah di sana ada dua ibu hamil, dengan usia kehamilan Chris yang memasuki usia enam bulan.
"Dadd, ss-sakitth…"keluh Celo meringis sakit sembari memegangi perut buncitnya. Sedangkan Zach, pria itu wajahnya sudah pucat pasi tidak tega melihat wanita yang dicintainya itu kesakitan.
"Tuan, mobil sudah siap." Super kepercayaannya menghampiri mereka.
"Baiklah Paman. Tolong bantu membawakan keperluan istri dan anak saya." Pinta Zach sopan, sementara ia membopong Celo keluar rumah menuju mobil.
Di dalam gendongan Zach, Celo masih saja meringis kesakitan, jadilah wanita itu merengkuh erat tengkuk suaminya dan menggigit pundak sang suami. Namun, bukan Zach namanya jika ia mengeluh akan kesakitannya, terlebih di hadapan wanita yang teramat ia cintai dan itu pun karena anak dalam kandungan sang istri, anaknya, buah cinta mereka.
"Jangan lupa kabari Mami ya nak." Mami hanya bisa mengiringi kepergian anak dan menantunya hingga pintu, sebab beliau tidak bisa ikut sekarang di karenakan harus menunggu si kembar pulang sekolah juga Chris yang tengah hamil besar.
"Ya Mi. Kami berangkat dulu." Pamit Zach setelahnya turut masuk ke dalam mobil.
"Ya. Hati-hati di jalan, nanti Mami akan menyusul bersama si kembar." Seru Mami di saat mobil telah melaju. Wanita yang berstatus nenek itu, menyaksikan hingga mobil yang di berisikan anak, menantu serta calon cucunya hingga menghilang di telan pagar rumah nan tinggi.
***
Sementara Papi, semenjak pertemuan terakhirnya dengan Bryan. Yang dimana Bryan pergi tepat di hari itu, tidak lagi banyak bicara bahkan cenderung pendiam khas orang menyimpan rahasia.
Secara diam-diam beliau sudah mengerahkan segalanya untuk melacak ke mana Bryan dan Sesyil pergi. Tapi sayang, hingga sekarang pun tidak membuahkan hasil sama sekali. Beliau memutuskan untuk jujur setelah kelahiran Cucu ke tiganya ini. Meski harus menghadapi amarah sang putra setidaknya Zach bisa membantu mencari keberadaan Bryan.
***
Tiga hari kemudian Celo serta bayinya sudah di perbolehkan pulang. Berhubung Celo melahirkan secara normal, jadi tidak butuh waktu lama untuk keluar dari rumah sakit.
Sama seperti saat pertama kali melahirkan, mereka di sambut dengan pesta kecil-kecilan atas hadirnya anggota baru dikeluarga besar Alterio.
Di tengah hangat dan bahagianya pesta tersebut, Papi meminta waktu Zach untuk berbicara hal serius.
"Ada apa Pi?" Zach baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa setelah tadi mengetuk pintu sebagai bentuk aturan berlaku. Sedang Papi, beliau duduk di kursi single yang menjadi favorite nya untuk menghabiskan waktu membaca buku di ruang pribadinya ini.
"Ada hal serius yang harus kau tau dan itu Papilah penyebabnya." Beliau meletakkan buku yang tadinya tengah di baca. Sorot matanya menatap Zach dengan raut penuh penyesalan.
"Apa Pi?"
"Sebenarnya,-" papi menceritakan segalanya tanpa terlewat satu pun. Beliau sudah mempersiapkan diri jikalau Putra satu-satunya itu akan marah bahkan membencinya.
"Hahh…." Usai mendengar keseluruhan cerita dari Papi, Zach membuang nafa berat. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Maafkan Papi Zach. Sungguh, bukan itu niat Papi sebenarnya." Papi yang selama ini berwibawa dan bijaksana, rupanya bisa juga melakukan kesalahan. Benar kata pepatah, tidak ada satupun manusia yang terlahir sempurna.
"Zach tau Pi." Jawab Zach singkat. Ia kembali menegakkan posisi duduknya, menatap iba pada sosok yang sudah membesarkan dan mendidiknya, juga sosok yang selama ini menjadi panutannya.
"Maafkan Zach Pi. Zach hanya ingin Papi jujur dan terbuka, agar kita bisa mencari jalan keluarnya bersama."
"Tidak Zach, jangan minta maaf. Papi pantas mendapatkannya. Jika kau ingin marah silakan, kau berhak melakukannya dan Papi tidak akan menentang mu." Dua orang pria berbeda umur tersebut saling tatap, sama-sama membaca arti dari tatapan mereka.
"Jujur, Zach memang marah dan kecewa awalnya. Namun, sebagai Ayah, Zach memahami posisi Papi. Dimana Papi tidak ingin Chris bahagia dan melupakan kesedihannya. Tapi cara Papi salah, tidak seharusnya Papi mengorbankan kebahagiaan orang lain demi orang yang kita cintai." Jelas Zach yang mengerti posisi sang Ayah.
"Zach tidak mau salah langkah, jika memihak Bryan Zach tidak mau disebut anak durhaka, sementara tindakan Papi pun tidak bisa di benarkan. Zach tidak mau di anggap berpihak pada salah satu dari kalian karena apa, karena Papi dan Bryan sama-sama orang yang berperan penting dalam hidup Zach."
"Maafkan Papi nak. Seharusnya Papi jujur sedari awal." Papi kembali menyalahkan diri. Pelajaran berharga baru saja beliau dapat dari anaknya. Tidak penting siapa yang mengajari kita pengalaman, cukup ambil pembelajaran yang kita dapatkan.
"Tidak perlu minta maaf Pi. Zach juga salah dalam hal ini, karena mengabaikan kondisi Chris."
***
Di sudut kota nan asri, sepasang suami istri sibuk dengan rutinitas keseharian mereka. Jika Bryan disibukkan dengan kedai kopi sederhana miliknya, maka sang istri tercinta di sibukkan dengan taman bunga hasil berkebun sendiri.
"Sayang, jangan bekerja terlalu berat, ingat pesan Dokter, kau harus banyak beristirahat agar tidak kelelahan. Kasihan anak kita." Bryan membantu Sesyil duduk di sebuah bangku rotan yang sengaja di susun di teras belakang rumah agar sang istri bisa bersantai disana sembari menikmati indahnya pemandangan juga sejuknya udara.
"Aku bosan di rumah terus sayang. Toh aku tidak merasa kelelahan juga, kasihan anak kita jika aku terus berada di rumah, dia merasa pengap." Sesyil mengerucutkan bibirnya tidak setuju dengan perkataan sang suami.
"Kau ini, anak saja yang selalu kau jadikan alasan." Bryan pun tak kalah mendengus dengan alasan wanitanya yang selalu mengkambing hitamkan anak mereka. Tangannya mengusap-usap lembut perut Sesyil yang belum terlalu menonjol itu.
Dua bulan mereka pindah ke kota tersebut, Sesyil dinyatakan positive hamil oleh Dokter sekitar. Dan kini usia kandungannya sudah menginjak bulan ke tiga.
Tok tokk
Percakapan sepasang suami istri itu terhenti manakala ada suara ketukan pintu dari luar. Sesyil hendak berdiri untuk membukakan pintu di cegah oleh Bryan.
"Biar aku saja, kau tetap duduk di sini." Imbuh Bryan. Ia bangkit dari duduknya, masuk kedalam rumah untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang bertamu.
Ceklek
"Selamat siang. Maaf anda siapa dan mencari sia,-" kedua bola mata Bryan membola ketika menyadari siapa yang menyambangi rumahnya siang ini.
▪︎▪︎▪︎
Tebak-tebakan Kuy, kira-kira siapa hayoo….
Jangan lupa dukungannya ya, LIKE, COMMENT dan VOTE..
TERIMA KASIH
Salangaheo