Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tidaklah lagi harmonis



▪︎▪︎▪︎


Menempuh perjalanan jauh, sepasang pengantin baru itu tampak kelelahan. Namun setelah tiba ditempat tujuan, rasa lelah itu hilang seketika berganti dengan tatapan takjub.



"Kau yakin ini tempatnya, sayang?" Sesyil menatap tak percaya akan suguhan pemandangan di hadapannya. Gadis itu meninggalkan begitu saja koper serta bawaan lainnya untuk memastikan segalanya bukanlah sekedar mimpi. Sedangkan Bryan, pria itu tersenyum menyaksikan tingkah polah sang istri yang baru tiga hari ia nikahi.


"Menurut mu kenapa mereka bisa menyambut kita, jika salah hehm?" Melangkah mendekat, Bryan kemudian melingkarkan lengannya disekeliling perut datar Sesyil. Gadis itu menyambut baik, ia memejamkan matanya meresapi kehangatan yang dialirkan dari tubuh prianya.


"Ini sangat cantik Bry." Sesyil turut memeluk lengan Bryan diperutnya, matanya mengelilingi sekitar masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.




"Kau suka?"


"Suka. Sangat suka. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah Bry." Papar Sesyil kagum.


"Kalau begitu kita bisa mulai sekarang."


"Mulai apa?"


"Jangan berpura bodoh Baby. Kau sangat tau, jika kita belum melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pengantin baru. Malam pertama kita." Bisik Bryan tepat di telinga istrinya sengaja untuk menggoda, karena posisi mereka masih sama.


"Wahh, lihat Bry air kolam nya sangat jernih. Pasti seru jika kita berenang sekarang." Sesyil melepas pelukan Bryan, berniat untuk mengelak.


"Jangan coba mengalihkan Baby. Aku menginginkannya sekarang." Tukas Bryan. Dengan langkah lebar, kembali diraihnya tubuh Sesyil untuk ia ajak bergumul di ranjang. Melakukan apa yang seharusnya sudah mereka lakukan dimalam pertama mereka menikah.


***


Tiga bulan berlalu, pernikahan Bryan dan Sesyil berjalan sebagai mana mestinya bahkan terkesan romantis hingga membuat pasangan lain iri. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua, hanya disaat bekerja mereka berpisah untuk beberapa jam. Itu pun masih mereka sempatkan untuk makan siang bersama.


"Siang ini kau ingin makan dimana Baby?" Selama di perjalanan didalam mobil pun, mereka selalu bergandengan tangan, dan tak jarang pula Bryan mengecup tangan Sesyil yang berada dalam genggamannya.


"Di tempat biasa saja."


"Baiklah. Nanti aku jemput." Begitulah percakapan singkat mereka, dan itu selalu berulang setiap harinya. Sebelum ke kantor, Bryan akan mengantarkan lebih dulu sang istri ke toko bunga milik Celo yang berada tepat di seberang kantor Zach yang dikelolanya. Jika diingat, toko itu Bryan sendirilah yang menemukan juga mengarahkan orang-orang untuk membentuknya sesuai keinginan Celo.


"Jaga diri mu dari pria lain Baby." Tukas Bryan sembari meninggalkan kecupan yang cukup lama di kening Sesyil, pun dengan wanita itu yang meresapi kecupan sang suami dengan memejamkan mata.


"Kau juga Sayang. Jaga selalu hati mu untuk ku." Bergantian dengan Bryan. Jika pria itu mengecup keningnya, makan Sesyil mengecup sekilas bibir suaminya itu.


Puas dengan romansa pagi, mereka berpisah untuk bekerja masing-masing.


***


Banding terbalik dengan Bryan, rumah tangga Chris dan Shane tidaklah lagi harmonis. Belakangan mereka lebih sering berselisih paham, meski kembali berbaikan namun akan berdebat hingga pertengkaran kecil terjadi lagi. Seperti halnya lagi ini.


Srakk


"Apa lagi ini Chris!" Shane menghampiri Chris didapur sedang memasak. Dengan wajah memerah siap meledakkan emosinya, Shane membanting sebuah memory card tepat ke hadapan sang istri. Sontak itu membuat Chris terkejut dengan wajah yang lansung memucat seperti tidak dialiri darah.


"A-apa ini Kak?" Tangannya yang tadi memegang spatula untuk memasak, kini dengan gemetaran meraih memory card tersebut.


"Cukup jawab dan jangan bertanya! Sudah berapa pria yang kau jebak untuk kau tiduri HAH! Sudah berapa banyak pria yang menjamah tubuh mu?" Shane dengan suara geram mencerca istrinya tampan jeda, tanpa sempat wanita itu jawab satu per satu. Pria mana yang tidak terima dengan semua kebohongan yang di utarakan istrinya, sementara dia sudah menerima segala kekurangannya dan belajar untuk mencintainya.


"Jawab!" Chris terlonjak terkejut karena bentakan Shane. Baru sekali ini pria itu membentaknya, walau mereka sudah sering bertengkar tidak sekali pun suaminya itu membentakknya, meski terkadang nada suaranya meninggi.


"Ku pikir kau beda dengan Melodi, nyatanya kalian sama. Sama-sama pembohong, dan sama-sama mencari kesenangan dari para pria di luaran sana, bahkan pria yang sama pula. Tapi kenapa harus Bryan? Kenapa HAH!" Emosi Shane benar-benar sudah di luar batasnya, jadilah pria itu melampiaskan kemarahannnya pada lemari kaca di dekatnya. Seketika kepalan tangan Shane menghantam lemari itu menjadi serpihan kaca dengan bentuk tak beraturan.


"K-Kak, tangan K-kakak berdarah." Tidak hanya merusak lemari kaca, Shane pun turut melukai tangannya akibat tadi menghantam kaca. Isak tangis Chris semakin tak terbendung, ia sudah menangis sejak tadi Shane membentaknya.


"Luka ini tidak seberapa dengan luka yang kau torehkan karena kebohongan mu. Kau berlaku seolah kau korban, dan merekalah yang telah memperdaya mu. Kau, kau,- kenapa kau merekam perbuatan perbuatan kotor mu Chris? Kenapa?" Chris membisu, diam seribu bahasa.


"Oh, apa kau berniat untuk menawarkannya pada pria lain lagi,-"


"Cukup Kak, hentikan,-"


"Atau untuk kau koleksi?"


"Hentikan Kak!" Suara mereka sama-sama keras, tidak ada yang mau mendengarkan satu sama lain, terlebih mengalah.


"Selama pernikahan kita berjalan, sudah berapa kali kau bermain dengan pria lain dibelakang ku Chris? Jawab Aku!!"


"Cukup Kak! Cukup!! Aku akui aku memang berbohong, itu semua kulakukan karena ada alasannya. Aku, saat itu aku,-"


Flashback


"Mau kau kemari Chir? Zach tidak ada disini." Malam itu Chris mendatangi apartement Kakaknya, yang ditempati Bryan, sebagai orang kepercayaan Zach. Ia datang dengan pakaian minim dan sexy, sudah seperti wanita penggoda.


"Aku datang bukan untuk mencari Kak Zach, aku mau bertemu dengan mu. Boleh aku masuk?" Tidak hanya pakaian, cara bicara Chris juga terkesan menggoda. Bukannya tergoda, Bryan malah memandang Chris dengan jijik. Jika saja gadis di hadapannya saat ini bukanlah adik Zach, sudah dipastikan dia akan menedangnya jauh-jauh.


Bryan bertahan di depan pintu, dengan kedua tangan bersedekap didada, bertujuan menghalangi Chris masuk. Namun, bukan Chris namanya jika bisa dicegat.


"Chris. Kau tidak bisa masuk sembarangan, apa kata orang jika tau kita hanya berdua didalam apartement ini?" Bryan menolak, dan mengusir gadis itu secara halus.


"Lalu? Toh ini apartement milik Kakak ku sendiri." Decihnya sombong, yang membuat Bryan semakin tidak menyukainya.


"Baiklah. Kalau begitu aku yang akan keluar." Bryan memutar tubuhnya hendak meninggalkan Chris, baru satu langkah tubuh tegap itu ambruk ke lantai dan itu karena Chris. Tanpa sepengetahuannnya, Chris telah menyiapkan suntikan yang mengandung entah obat apa, disaat Bryan lengah ia menusukkan jarum suntik tersebut tepat ke tengkuk pria itu.


▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa dukungannya ya Teman-teman. Berbagi VOTE, LIKE, COMMENT, dan FAVORITE kan ya.


Mampir juga ke Sesason 2 nya, juga ada cerita khusus untuk Yumi yang mana masih bagian dari judul ini.


Follow juga ya saya di IG @areumkang16


...TERIMA KASIH...