
■■■■
"Ric, apa kau mencintaiku?" Tetiba saja Audrey menanyakan perasaan cinta Eric terhadapnya. Ya, sepulangnya bertemu dengan Celo Audrey menemui Eric di apartnya.
"Kenapa? Apa ada pria lain yang menyatakan cintanya padamu heum?" Eric bertanya lembut seraya tangannya mengusap lembut wajah tunangannya.
"Memangnya boleh?" Tanyanya balik.
"Jika itu bisa membuatmu bahagia kenapa tidak? Tujuan hidupku sekarang hanya satu, membahagiakan mu satu-satunya orang yang kumiliki." Ucap Eric sungguh-sungguh.
"Jangan bercanda, aku tak menginginkan hal itu aku sudah sangat bahagia bersama kau sekarang." Audrey tak kalah serius sekarang.
"Lalu kenapa kau menanyakan pertanyaan tak jelas seperti itu? Tentu saja aku sangat mencintaimu melebihi apapun?" Tegas Eric dan membawa Audrey kepelukannya.
Selama mereka kenal hingga bertunangan, Eric sama sekali tak pernah menyentuh Audrey sama sekali. Hanya pelukan untuk menenangkannya dan sesekali menciumnya jika ada suasana romantis. Seperti yang kita tau Eric sangat menjaga kehormatan seorang wanita. Lain halnya dengan dua sahabatnya yang selalu saja mencari wanita untuk kepuasan mereka.
"Ric.."
"Mm.."
"Kenapa kau mencintaiku dan mau menjadikanku tunanganmu? Aku mau jawaban jujur Ric."
"Heuhh….kau tau kan kita punya latar belakang yang sama. Awalnya aku hanya kasihan dan selalu ingin melindungimu. Dan kau tau, cinta tak butuh alasan. Entah sejak kapan rasa kasihan itu telah berubah jadi cinta yang semakin hari semakin bertambah besar." Jelas Eric tentang perasaannya dengan senyum.
"Aku juga sangat mencintaimu." Audrey membalas senyum tunangannya.
"Apa kau ingin kita segera menikah?" Tanya Eric lagi.
"Tentu saja. Tapi setelah masalah Celo dan Zach selesai."
"Masalah Zach? Masalah apa?" Eric dibuat bingung olehnya.
"Aku mau nyatuin mereka Ric, aku mau Celo yang jadi pasangan Zach bukan Melodi. Toh, Celo mencintai Zach kan" Ungkap Audrey menyampaikan niatnya.
"Audrey, kita tak bisa memaksakan perasaan seseorang. Kalaupun akhirnya mereka bersama tapi salah satu diantara mereka memaksakan diri atau membohongi perasaannya itu sangat tidak baik." Bujuknya. Ia tau maksud Audrey baik, tapi itu bukanlah hal yang harus ia ikut campur.
"Tapi-…"
"Biarkan itu menjadi urusan mereka sendiri. Mereka juga sudah besar dan tau mana yang harus mereka putuskan."
"Baiklah." Eric mengusap kepala Audrey penuh sayang.
°°°°
Setelah pertemuannya dengan Celo malam itu, Zach menghabiskan waktunya dirumah mengawasi adiknya atau pergi
kesana kemari menghampiri teman-temannya. Ia tak mau lagi pikirannya melayang pada Celo gadis yang sudah ia rusak hidupnya. Seperti halnya hari ini, Zach hanya diam dirumah ia bingung harus apa dan kemana.
"Zach…" mami menghampiri Zach yang terlihat sangat santai diruang tengah.
"Mi…" Zach tersenyum ia memeluk perut maminya yang tengah berdiri dihadapannya. Karena kepergiannya yang tinggal beberapa hari lagi membuatnya semakin manja dan tak mau jauh dari maminya.
"Kau tidak keluar hari ini?" Tanya mami lalu duduk disamping putranya.
"Malas mi, ntar malam aja Zach main kerumah si Shane."
"Kapan kau berangkat?"
"Tiga hari lagi mi."
"Bukannya lima hari lagi?" Mami sedikit kaget mendengarnya.
"Zach majuin mi, lebih cepat lebih baik." Ucapnya serius
"Mami mau tanya sekali ini saja. Apa kau sudah yakin akan ke Holland?" Mami coba untuk membujuk putranya, lagi pula tak ada seorang ibu pun yang mau anaknya berjauhan.
"Zach udah sangat yakin mi." Mantapnya.
"Kau benar-benar tak mau mencobanya dengan Celo?" Terlihat jelas tatapan sendu dikedua bola mata indah maminya.
"Maaf mi, Zach gak bisa. Zach gak mau menyakitinya lebih lama lagi. Biarlah dia sakit sekarang karena lebih cepat juga dia melupakannya." Sebenarnya ia juga ragu akan kata-katanya barusan.
"Baiklah. Mami tak akan membicarakan ini lagi. Apa kau sudah mempersiapkan segala sesuatunya?" Mami coba mengalihkan arah pembicaraan mereka.
"Belum, pas mau berangkat besok saja. Lagian gak banyak yang bakal Zach bawa, hanya beberapa barang yang penting-penting saja." Tentu saja, selain ia seorang pria, Zach juga bisa membeli yang baru setibanya disana.
"Lakukan yang terbaik menurutmu." Mami menepuk pelan bahu Zach dan berlalu setelahnya.
Zach mengambil ponselnya dan menghubungi Shane, ia berencana akan kerumahnya malam ini.
"Halo, ada apa?" Terdengar suara Shane dari seberang sana.
"Dimana kau?" Bukannya menjawab, Zach malah balik bertanya.
"Masih di airport, kenapa? Kau merindukanku ya?" Cibirnya dengan nada gemulai yang dibuat-buat.
"Setan kau! Memangnya kau dari mana?" Ledek Zach balik.
"It tuu…aku dari Italia. Ya Italia…" Shane sedikit gugup.
"Italia? Untuk apa kau kesana? Apa disini sudah tak ada lagi wanita yang bisa memuaskanmu hingga kau mengejar ****** hingga sejauh itu?" Ejek Zach.
"Kau membuatku malu saja. Jelas-jelas kau sudah tau, masih saja bertanya." Jawabnya.
"Dasar gila kau. Aku mau kerumah mu malam ini. Mungkin akan menginap, kita pesta." Dengan lancarnya Zach mengatakan niatnya.
"Okk…apa perlu membawa wanita?" Gurau Shane.
"Cukup kita saja ok! Apa kau belum puas juga heh!" Jika bersama Shane tak pernah habis kata untuk mengejeknya.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Eric, agar ia tak mengajak Audrey. Gila saja ia bersenang-senang berdua bersama wanitanya, sementara kita?" Sungutnya.
"Kau yang gila. Eric tak pernah menyentuh Audrey, ia tak sama seperti kita." Bela Zach, padahal mereka sama-sama tau bagaimana sifat sahabat mereka satu itu.
"Ya. Ya. Apa jangan-jangan Eric pernah dikebiri ya?" Lanjutnya dengan bahasa yang lebih gila.
"Aishh…kau benar-benar. Sudah, kututup sekarang. Biar aku yang menghubungi Eric, bisa mati kalau kau yang bicara."
"Baiklah. Baiklah…." Mereka sama-sama menutup panggilan diponsel masing-masing.
°°°°
Malam ini, seperti perkataan mereka tadi Zach dan dua sahabatnya berkumpul dirumah Shane. Hanya mereka bertiga tanpa Audrey dan para ****** kebutuhan Shane.
"Wah…wah..ternyata ini benar-benar hanya kita ya." Ucap Shane lesu.
"Tentu saja bodoh!" Kali ini Eric yang bicara seraya tangannya menjitak kepala Shane.
Mereka tertawa bersama, belakangan ini mereka memang jarang sekali bersama terhitung sejak pertemuan Zach dan Celo.
"Kenapa kau mempercepat keberangkatanmu?" Eric buka suara perihal kepindahan Zach.
"Lebih cepat lebih baik saja." Hanya singkat saja jawabannya.
"Baiklah. Aku tak akan bertanya lagi, itu hanya akan membuat kita bertengkar." Eric mengalah.
"Kau benar. Bicara tentang kita saja." Ucap Zach lalu meneguk minumannya.
"Ric, kapan kau menikah dengan Audrey?" Kali ini Shane yang buka suara.
"Tumben sekali kau bertanya seperti itu." Aneh saja, seorang Shane menanyakan hal seperti itu.
"Kau tau, Audrey semakin cantik saja. Jika kau tak mau menikahinya biar untukku saja. Bagaimana?" Lidah Shane berbicara dengan kurang ajarnya.
"Sialan kau! Mau ku kirim keneraka kau sekarang juga hah!" Eric dengan wajah sangarnya namun tetap saja mereka masih dalan mode bercanda.
"Hahahaa….kau benar-benar gila rupanya." Zach juga ikut mengejeknya.
"Hahahaa….sesekali, dari pada kalian bicara serius terus." Shane sudah hampir hilang kesadarannya.
Malam itu mereka lewati dengan senda gurau tak ayal mereka asal membual karena setengah teler.
Persahabatan sesungguhnya tak akan pernah lekang oleh waktu dan tak terpisah ruang dan waktu. Pertemanan bisa dikatakan sahabat jika bisa menyelesaikan masalah bersama-sama dan tak mudah terkena hasutan dari luar. Saling terbuka dan tak pernah menyinggung satu sama lain. __Areum Kang__
■■■■
Jangan lupa LIKE dan COMMENT ya teman-teman.
Bagi yang mau silakan VOTE
THANKS and LOVE YOU ALL