Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tak berhak marah



■■■■


Entahlah, hari ini rasanya Zach malas sekali untuk keluar rumah dan ia lebih memilih untuk istirahat dikamar, lelah sisa kemarin masih terasa ditubuhnya.


Pikiran-pikiran buruk terus berputar dibenaknya, membuat ia sangat sulit untuk memejamkan mata. Zach beralih kehalaman belakang ia memilih untuk menceburkan diri dikolam renang yang ada disana juga. Ia pikir, mungkin dengan berenang bisa mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan berat.


Hampir satu jam dia habiskan untuk berenang dan berendam, benar saja bebannya sedikit berkurang setelahnya. Zach menghabiskan waktunya dengan berenang hingga waktu makan siang tiba. Zach masuk kedalam untuk membersihkan diri dikamarnya, siang itu Zach memilih berpakaian casual.


"Bi Anne…" tegur Zach begitu turun dari kamar dan berpapasan dengan bibinya yang berprofesi sebagai dokter.


"Ehh…Zach. Jarang-jarang sekali kau ada dirumah. Ada angin apa heum?" Benar, seorang sibuk seperti Zach memang aneh jika berada dirumah siang hari.


"Kak Zach lagi dihukum papi bi, gara-gara gak jadi kawin.." Christa datang entah dari mana lalu mengejek kakanya.


"Benar Zach?" Zach hanya mengangguk pelan.


"Ceritakan semua pada bibi nanti. Sekarang bibi mau kekamar mami kalian dulu." Bi Anne pergi kekamar kakaknya karena dari yang ia dengar kakaknya sedang tidak enak badan.


Zach yang juga merasa cemas mengekor kekamar maminya. Setibanya disana, begitu maminya melihatnya, beliau lansung memalingkan wajahnya. Zach merasa sedih, ia keluar dengan perasaan bersalah.


"Kakak mau kemana?" Adiknya benar-benar membuat Zach tambah kesal.


"Keluar. Cari angin!" Zach menyahuti adiknya dengan tak kalah kesalnya.


"Kak, Chris ikut.." ucapnya manja.


"Jika kau beranjak selangkah saja, jangan harap kau akan bertemu kakak selamanya!!" Ancam Zach. Ia hanya ingin sendiri sekarang.


°°°°


Bibi terkejut melihat Celo pagi itu. Bagaimana tidak, dia masih pengantin baru dan lagi bukannya ia harus melayani suami dan keluarga barunya.


"Celo, kenapa pagi-pagi begini kau sudah kemari nak? Apa kau tak menyiapkan kebutuhan suamimu?"


"Iya bi, semalam Celo pulang kerumah karena mas Zach harus keluar negeri ada pekerjaan mendesak. Celo merasa segan saja jika harus tinggal disana dan juga Celo belum terbiasa." Jelasnya dengan meyakinkan.


"Benar begitu?" Semua ini benar-benar aneh bukan.


"Lalu, apa setelah menikah kau masih akan tetap bekerja? Apa nak Zach mengizinkan?" Lanjutnya lagi


"Tentu saja." Jawannya.


"Ya, bibi pikir suamimu akan melarangmu bekerja karena dia kan orang kaya raya." Ucap bibi ceplas ceplos.


"Bibi ini ada-ada saja…sudah ya, Celo mau beberes dulu bi. Wahh…sehari saja Celo tak kemari semua jadi berantakan begini." Celo coba mengalihkan pembicaraan mereka dengan bersungut seolah ia mengeluh.


"Dasar anak nakal." Bibi ikut tertawa mendengar keluhan Celo.


°°°°


Hingga malam tiba Zach terus saja melajukan mobilnya tanpa tau arah. Ia bingung harus kemana, ia yakin jika ia singgah ditempat sahabatnya yang ada dia akan kenal omel dan berujung dengan kekesalannya. Terlebih jika ia ketempat Eric lebih parah lagi ia pasti akan babak belur meski kekuatannya dan Eric tak beda jauh.


Tak terasa mobil Zach tiba diseberang toko bunga tempat Celo bekerja. Ia juga heran kenapa hatinya menuntunnya kesana. Zach memutuskan untuk turun karena hatinya menyuruh begitu. Begitu ia turun bertepatan sekali dengan keluarnya Celo dari toko seperti bersiap akan pulang.


Mereka sama-sama menoleh, dan sesaat mereka saling beradu pandang.


Deg..


"Mas Zach.." Celo menghampiri Zach yang masih berdiri mematung didepan mobilnya.


"Bisa kita bicara?" Pinta Zach pada Celo.


°°°°


Zach mengajak Celo duduk disebuah kedai yang tak jauh dari toko bunga. Tanpa basa basi setelah memesan menu, lansung saja Zach menyampaikan apa yang akan disampaikannya.


"Aku membebaskanmu. Aku tidak akan menuntutmu juga tidak akan meminta ganti rugi seperti kesepakatan kita kemarin. Dan juga, seperti janjiku kemari aku akan menanggung semua biaya hidup kalian sepenuhnya. Dan terakhir, tidak akan pernah ada lagi pernikahan antara kita." Zach mengucapkan semuanya dengan santai tanpa ada beban.


Banding terbalik dengan Celo, gadis itu merasa tercekat ditenggorokannya sangat sulit untuk bernafas. Celo terdiam, ia masih harus menguatkan hatinya agar tak menangis dihadapan Zach, ia tak mau pria itu merasa iba akan keadaanya yang sekarang.


"Nona…hey…kau bisa mendengarku bukan…" Zach melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah Celo.


"Ya mas...mm…Tuan. Terimakasih telah membebaskan Celo. Tapi maaf ma-tuan, Celo akan tetap membayar hutang karena itu adalah kewajiban dan juga hutang akan dibawa sampai mati. Maaf juga, Celo tidak bisa menerima bantuan apapun lagi dari tuan karena itu juga bukan kewajiban tuan dan kita tidak punya hubungan apapun untuk itu." Celo mengucapkan semuanya tanpa keraguan karena memang sudah bertekad akan melupakan Zach dan segala yang berhubungan dengannya.


"Heh…kau mengatakan itu semua, karena kau marah kita tidak jadi menikah. Benar begitukan N.O.N.A" Zach menekankan kata terakhirnya. Ia merasa marah karena Celo menolak bantuan yang ia tawarkan secara baik dan tulus.


"Tidak tuan, saya sama sekali tidak marah. Bahkan saya tak berhak untuk itu. Tidak ada yang salah antara kita, semua adalah permainan takdir. Saya menolak bukan karena marah tuan, ini hidup saya dan saya yang akan memperjuangkannya." Celo berada pada batas pertahanannya, ia menyerah mempertahankan air matanya hingga jatuh berderai.


"Aku tau kau butuh untuk pengobatan ayahmu." Zach masih saja tak mengerti kondisi saat ini.


"Tidak tuan, bahkan jika saya harus berjuang seorang diri selamanya, saya tidak butuh bantuan anda atau orang lain. Sekali lagi maaf, saya sudah masuk dalam kehidupan anda tuan." Celo tak sanggup jika harus berlama-lama disana, saat ia melihat Zach lengah segera Celo berlari keluar, pergi meninggalkan pria itu.


Sementara Zach, pria itu baru tersadar setelah Celo tak lagi ada dihadapannya.


"Sial…kenapa seolah dunia menentang segala keputusan yang aku ambil." Zach kesal dengan dirinya sendiri.


"Benar yang papi bilang, aku harus menemukan jati diriku kembali aku tak bisa begini terus." Ia berlari keluar setelah sebelumnya meninggalkan uang yang kelebihan sepertinya.


Ia terus berlari mengejar Celo, namun gadis itu sudah pergi jauh.


°°°°


Langit malam ini sangat gelap karena disertai mendung sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Zach melajukan mobilnya akan pulang kerumah. Baru beberapa meter melaju, Zach melihat Celo duduk disebuah bangku dipinggir jalan. Gadis itu duduk sendiri dengan tatapan kosong.


"Apa yang dilakukannya disana? Bagaimana kalau ada orang berniat jahat?" Tak dipungkiri dalam hati ia masih peduli pada gadis itu.


Beberapa saat setelah itu, hujan turun membasahi bumi. Herannya Celo tak beranjak sedikitpun, Zach merasa semakin geram melihatnya. Tapi ia tak berniat untuk turun karena ia mau memberi ruang pada gadis itu untuk menuangkan tangisnya yang tertelan bersama hujan.


°°°°


"Hiks…hiks…mas, kenapa kita harus bertemu jika harus berakhir seperti ini? Bahkan, apa aku tak berhak atas permintaan maafmu mas?" Celo masih saja menangis dalam hujan. Dan benar sepangjang pembicaraan mereka tadi tak ada sepatah kata maaf yang terucap dari bibir Zach.


"Maaf karena sudah mencintaimu mas. Ibu, bantu Celo melupakan mas Zach dan segala tentangnya. Celo juga mau bahagia ibuu…" lagi, suara tangisnya tertelan suara hujan.


■■■■


Favorite+


like+


comment+


vote


Please…


Thanks…