
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Ada apa hah?" Bentaknya, karena kesal selalu diganggu.
"B-bbry…tol-tohl-tol-long akk-uh…." Suaranya tersendat-sendat seperti kehabisan nafas.
"Kau kenapa? Chris??"
"….."
"Chris?? Christa??" Teriakan Bryan jelas terdengar.
Zach mendengar nama adiknya disebut menghampiri Bryan.
"Ada apa? Kenapa dengan adikku Bry?" Melihat raut panik Bryan, Zach jadi cemas. Secepat kilat ia meraih kunci mobilnya dan berlari keluar.
"Kenapa dia?" Semua orang memandang heran. Tak lama setelah Zach keluar, Bryan juga ikut menyusulnya.
"Ada apa?" Shane menahan lengannya, ia juga penasaran ada hal apa yang terjadi.
"Christa….ahh…aku juga tidak tau apa yang terjadi." Kekhawatiran kentara sekali di wajahnya.
"Kami ikut." Mereka berbondong-bondong menyusul Zach dan Bryan.
^^^
Setibanya dirumah, Zach melihat Bi Welma juga baru datang nampaknya beliau habis pulang dari pasar. Melihat Tuannya sangat panik beliau menanyakannya.
"Ada apa Tuan?"
"Chris Bi…Chris…" tak mau waktunya terhambat karena pertanyaan Bibi, Zach lansung saja masuk.
"Chris…" "Astaga. Nonaaa…" teriak Zach dan Bi Welma berbarengan.
"Kakkh…" lirihnya lemah nyaris tak terdengar. Darah segar dimana-mana, pakaiannya robek disana-sini tak jauh dari tempat Chris meringkuk terdapat pakaian dalamnya. Tak terbayangkan apa yang baru saja dialami adik semata wayangnya itu.
Tegopoh-gopoh Bi Welma mengambilkan selimut dari kamar dan menyelimuti Nonanya, air mata ikut membasahi wajah tuanya.
"Bertahanlah sayang…kakak akan membawa mu ke rumah sakit." Ujarnya cemas berurai air mata.
"Sakkith kakk.." hanya suara rintihan yang terdengar.
Zach mendekap erat tubuh lemah adiknya untuk di bopongnya, bergegas ia menuju mobil diikuti Bibi. Zach menempatkan Chris di pelukan Bi Welma di bangku belakang.
Seperti orang kesetanan, Zach tak mempedulikan jalanan beruntung tak terlalu padat lalu lintas. Seringkali ia menoleh ke belakang, memastikan adiknya masih bernafas.
"Tuhan, selamatkan adikku, ku mohon jangan ambil dia." Dalam hati Zach terus merapalkan doa agar Chris baik-baik saja.
Sebagai dua orang berhubungan darah, Zach bisa merasakan kesakitan adiknya. Ia berjanji akan menghabisi orang-orang yang telah mencelakai adiknya itu.
^^^
Prangg
"Kenapa ini? Kenapa bisa pecah?" Di tempat Celo, wanita itu merasa perasaanya sangat tidak enak. Pikirnnya sedari tadi melayang ke Chris.
Meskipun adik iparnya itu sudah berbuat jahat padanya, tetap saja Celo masih respeck dan menyayanginya.
"Ada apa ini? Kenapa dada Celo sangat berat? Sesak sekali." Ia terduduk begitu saja di lantai saat sedang memasak.
"Huft…huftt…" ia mengatur nafas agar sesak itu berkurang. Sekelabat mimpi buruk semalam terbayang kembali.
"*Kak Chris, kakak mau kemana?" Celo melihat Chris berjalan menjauh, saat ia memanggilnya Chris berhenti.
"Kakak mau kemana? Wajah kakak pucat sekali." Ia kembali bertanya, tangannya digenggam oleh Chris dan itu sangat dingin.
"Celo, maaf. Selama ini aku sudah bersalah, rasa iri sudah menyelimuti hati ini." Chris tersenyum setelah ucapannya.
"Kembalilah ke Kak Zach, jangan pernah tinggalkan dia." Sambungnya.
"Sebelum kak Chris minta maaf, Celo sudah memaafkannya kak." Chris memeluk Celo erat.
"Terima kasih Celo, kakak ku beruntung sudah memilih mu." Jelas saja ketulusan disana.
"Tidak kak, Celo yang beruntung Mas Zach sudah memilih Celo." Masih dalam berpelukan.
"Celo, jaga keponakanku baik-baik. Nanti dia pasti akan menjadi orang yang baik seperti mu." Chris terus saja mengucapkan kata-kata yang enak untuk didengar.
"Ya kak, terima kasih." Chris melepas pelukannya.
"Celo, aku harus menjemput putri ku. Sampai jumpa lagi." Perlahan Chris menghilang bersama datangnya kabut putih*.
Celo menangis sesenggukan mengingat mimpinya, semua terasa begitu nyata. Air mata jatuh begitu saja tatkala Celo merasa Chris tidak baik-baik saja.
"Tuhan, lindungi lah kak Chris juga anaknya. Dimana pun ia berada."
^^^^
"Tuan…bagaimana ini? Hiks…" melihat Bi Welma yang menangis tersedu Zach merengkuhnya, disini Bi Welma lah pengganti sosok Maminya.
"Tidak apa-apa, Chris akan baik-baik saja. Ya, dia pasti akan baik-baik saja, dia kuat Bi." Zach menguatkan Bibi, juga dirinya sendiri.
Flashback
*Brakk
"Arghhh…." Chris kecil yang nakal, ia selalu ingin ikut kemana pun Zach pergi. Sama hal nya hari ini, dia membuntuti kakaknya sampai sebuah mobil menyerempetnya.
"Chriss…" ia berlari menghampiri Chris kecil yang terluka dipinggir jalan.
"Kau tidak apa-apa? Lutut mu terluka, ayo kita ke rumah sakit." Ajak Zach khawatir melihat adiknya terluka.
"Tidak kak, Chris kuat kok. Nanti kalau ke rumah sakit kakak pasti meninggalkan ku, kalau nanti Mami Papi tau Chris pasti dilarang main keluar lagi." Chris kecil berujar lirih.
"Dasar kau…baiklah. Tidak akan kakak bawa ke rumah sakit, tapi kita pulang kerumah. Sini, naik." Zach berjongkok di depannya agar adiknya itu mudah untuk naik kepunggungnya.
"Kak…"
"Hmm.."
"Nanti kalau Chris jatuh atau terluka lagi, apa kakak masih akan menolong Chris?" Imbuhnya.
"Tentu saja, sampai kapan pun kakak tidak akan membiarkan mu terluka lagi." Janji Zach pada Chris kecil*.
Flashback off
Hampir tiga jam Chris didalam sana, namun belum seorang pun dokter keluar dari sana. Hanya beberapa perawat saja yang keluar untuk mengambil sesuatu.
"Kenapa mereka lama sekali?" Bryan juga tak kalah cemasnya, ia merasa bersalah telah mengabaikan wanita itu. Andai saja ia menerima panggilannya lebih awal pasti Chris baik-baik saja sekarang.
Ceklek
Pintu besar itu terbuka, dua orang dokter perempuan keluar dari sana. Menyerbu dokter adalah hal pertama yang mereka lakukan.
"Bagaimana keadaan adik saya Dokter?" Zach tak bisa menahannya lagi.
"Maaf Tuan, keadaan adik anda masih dalam pemantauan kami. Maaf, apa ada diantara tuan-tuan ini suami dari pasien?" Mereka saling menoleh satu sama lain.
"Suaminya sedang ada pekerjaan penting di luar kota. Sampaikan saja pada kami, kami semua kakaknya." Eric ambil bagian untuk bicara tidak mungkin bukan jika mereka bilang bahwa Chris hamil tanpa suami.
"Sebaiknya kita bicarakan diruangan saya saja. Mari." Ujar Dokter satunya, Zach dan Eric yang pergi.
^^^
"Apa yang terjadi? Adik kami baik-baik saja bukan?" Tanya Zach lagi.
"Seperti yang tadi saya bilang, pasien masih dalam pengawasan. Secara fisik semua baik-baik saja, tapi sayang secara emosional pasien tidak baik-baik saja. Maaf, tapi harus saya sampaikan pasien baru saja mengalami pele***an dan disaat pasien sedang hamil. Itu menyebabkan guncangan besar sehingga pasien mengalami trauma berat. Apa tuan-tuan paham?" Jelas Dokter dengan bahasa yang mudah mereka pahami.
"Apa?? Pele***an? Hahh.." Zach tertawa dalam tangisnya.
"Manusia macam apa yang tega melakukan itu pada wanita yang sedang hamil?" Kedua tangannya mengepal kuat sampai-sampai buku jarinya memutih. Eric yang melihat itu mengusap pelan bahu Zach.
"Bagaimana dengan bayinya?" Tanya Eric.
"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, tapi akibat kejadian itu pasien harus kehilangan bayinya. Sekali lagi maafkan kami." Ujar Dokter itu penuh sesal.
"Tidak masalah. Kalian sudah berusaha, semua Tuhan lah yang menentukan. Terima kasih sudah membantunya." Eric menghaturkan banyak terima kasih.
"Apa boleh kami menemuinya?" Zach bertanya dengan pandangan lurus kedepan.
"Hanya satu orang saja."
"Baiklah. Kalau tidak ada lagi kami kembali dulu." Pamit Zach dan menarik Zach keluar bersamanya.
^^^^
"Bagus, satu lalat sudah tersingkir, tinggal satu lagi. Ahh….saatnya kita berburu. Kira-kira ada dimana ya??" Seseorang dengan senyum iblis nya tengah asik menikmati sebotol anggur yang lansung diminum dari botolnya.
"Kemenangan sudah didepan mata. Haha hahaha hahaa" suara bak seringai iblis itu menggema di tempatnya berada saat ini.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Jangan lupa dukungannya ya
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
TERIMA KASIH