
●●●●
"Kau! Sedang apa kau disini hah?" Bentak Bryan penuh kebencian.
"Aku? Tentu saja kemari untuk menemui kakak ku dan mencari ayah dari anak ini!" Jawabnya tak kalah sengit.
"Berapa kali sudah ku bilang anak itu bukan anakku! Bagaimana mungkin kau sebagai ibunya tidak tau siapa ayah dari anak itu!" Terjadi perdebatan yang menguras tenaga mereka berdua.
Zach yang sedari tadi memperhatikan Bryan sedang berbicara dengan seseorang jadi penasaran ada hubungan apa dia dengan orang itu.
"Ada apa Mas? Siapa yang sedang berbicara dengan Bryan itu?" Celo juuga ikut penasaran.
"Sebentar. Mas lihat dulu, kamu tetap disini ya." Celo menganggukkan kepalanya patuh.
"Ada Bry? Siapa orang ini?" Zach segera menghampiri Bryan begitu turun dari mobil.
"Ini.. di-a…" ia bingung harus berkata apa.
"Kakak.." saut seseorang itu.
"Chris.." nampak jelas kerutan di keningnya.
"Sedang apa kau disini?" Bukannya menjawab, Chris malah memeluk erat tubuh besar kakaknya.
Celo yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil jadi tercekat melihatnya. Ia berpikir mungkin wanita itu adalah Melodi, perlahan ia turun dan menghampiri mereka.
"Mmas…" panggilnya.
"Sayang. Chris lepas." Zach sedikit mendorong tubuh adiknya dan berlari kearah istrinya.
"Siapa itu Mas?"
"Itu Christa." Jawabnya singkat.
"Kak Chris." Celo bersiap akan menghampirinya.
"Jangan kesana. Kita masuk saja kedalam." Ia segara merangkul istrinya untuk masuk kedalam rumah mereka. Membiarkan Bryan mengurus adik satu-satunya itu.
••••
"Ikut aku aku sekarang!!" Bryan menarik paksa tangan Christa dan memaksanya untuk masuk kedalam mobil Zach.
"Tidak! Aku tidak mau! Lepas. Kakak…kakak.." percuma saja, Zach sudah masuk dan menutup pintu, ia juga tak memperdulikan adiknya itu.
"Diam Chris! Jika saja kau bukan adik Zach sudah ku habisi kau!" Usai memasukkan Christa kedalam mobil, Semaksimal mungkin Bryan melajukannya menuju sebuah hotel.
"Kau mau membawa ku kemana hah??" Ia memukul-mukul lengan Bryan yang tengah menyetir. Tapi itu semuanya berpengaruh karena tenaga wanita itu tak seberapa.
Tak berapa lama Bryan menghentikan mobilnya didepan sebuah hotel besar. Ia akan menyewakan wanita itu hotel sebelum mengirimnya untuk pulang.
"Kenapa kau membawaku kesini hah! Oh…aku tau, kau pasti merindukan tubuhku ya kan!! Jujur saja brengsekk!!" Ia masih saja setia memukuli Bryan yang kini tengah menyeret tubuhnya.
Setelah memesan satu kamar untuk satu pekan, Bryan kembali menyeret Christa untuk ke kamarnya. Tak main-main, Bryan memasang president suit selama wanita itu menginap disana.
"Masuk!" Titahnya seraya mendorong kecil tubuh Christabyang sekarang mulai agak gembul.
"Sial!!" Umpatnya.
"Kau bisa membunuh anak mu Bry." Lagi ia bicara ngawur meski sebenarnya ia tau bahwa itu memang bukan darah daging Bryan.
"Berhenti mengatakan bahwa anak haram mu itu anak ku! Atau aku sendiri yang akan menghabisi anak mu itu." Tutur Bryan tajam seraya tangannya mencengkeram erat kedua sisi wajah Christa.
"Ayo lah Bry, jangan terlalu larut dalam kebencianmu pada ku. Bagaiman kalau kita bersenang-senang malam ini." Ia menyentuhkan tangannya di dada Bryan dan sedikit memainkannya.
"Br****ek!! Berhenti melakukan hal menjijikkan layaknya j***ng Chris." Dengan keras dan kasar Bryan kembali mendorongnya.
Ia beranjak ke tas Christa, disana ia mengambil semua barang berharga milik wanita itu. Bukan mau mencurinya, tapi ia hanya mencegah wanita itu kabur lagi atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
"Apa yang kau lakukan?" Ia menjangkau apa yang diambil Bryan dari tas nya.
"Kau tetap disini sampai Shane menjemput mu!" Bryan pergi meninggalkan Christa dan menutup pintu kamar itu.
"Kenapa? Kenapa hidupku jadi hancur begini? Apa harus begini agar aku kembali mendapatkan perhatian meraka? Bry, aku sungguh mencintaimu."
"Bagaimana bisa Celo bisa hidup bahagia sementara aku harus menyingkirkan diri. Lihat saja kau Celo, akan ku buat kakak membenci mu dan membuat hidup mu seperti di neraka." Sorot matanya seperti menyala.
••••
Karena kedatangan Christa adiknya tadi, Zach jadi berubah dingin. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang ini, sampai Celo bicara pun tak ditanggapinya.
"Mas, air hangatnya sudah Celo siapkan. Seharian lelah bekerja, Mas akan lebih rileks jika sudah berendam air panas." Tanpa menjawab, Zach masuk saja ke kamar mandi.
"Mas kenapa ya? Sebaiknya Celo mandi di kamar mandi belakang saja. Kalau menunggu Mas nanti malam semakin larut." Celo mengambil pakaian ganti beserta handuknya untuk bebersih di kamar mandi belakang.
Dilain sisi, Zach tengah berendam air hangat yang sudah disiapkan istrinya tadi. Asyik dalam lamunannya, Zach tersentak atas apa yang diperbuatnya pada Celo barusan.
"Kenapa aku melimpahkan kekesalan ku pada Celo? Bodoh kau Zach, kau sudah menyakitinya." Ia menepuk-nepuk pipinya ringan untuk menyadarkan kebodohannya.
"Arghh…Chris…kenapa kau kesini? Kedatangan mu tidak diinginkan. Jika kau berani menyakiti Celo lagi, aku tidak akan tinggal diam." Zach mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Zach keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan Celo juga masuk ke dalam kamar mereka. Beberapa saat mereka beradu pandang, namun Celo mengakhiri lebih dulu karena takut jika Zach akan marah.
"Dari mana?" Ia bertanya pada Celo masih dengan wajah dinginnya.
"Mm..itu, Celo mandi dikamar mandi belakang Mas. Kalau menunggu Mas malam akan semakin larut." Saat bicara pun ia masih tidak berani menatap mata suaminya. Zach mendekat kearah Celo, ia mengangkat dagu istrinya lalu menciumnya dengan lembut.
Celo yang tidak siap sedikit terjuyung karena dorongan dari Zach. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut dan malam itu mereka kembali menghabiskan malam panjang penuh cinta.
Lewat tengah malam, mereka masih belum tertidur. Zach masih setia mendekap tubuh mungil Celo dalam pelukan hangatnya.
"Mas minta maaf atas sikap Mas tadi."
"Tidak apa-apa Mas." Celo masih nampak kelelehan karena kegiatan mereka barusan.
"Mas takut kalau-kalau Chris akan menyakiti kamu lagi." Ia semakin mengetatkan pelukannya.
"Mas jangan berpikiran seperti itu. Kasihan kak Chris, jika Mas tidak mempercayainya siapa lagi yang akan mempercayainya?"
"…." Tak ada jawaban dari Zach.
"Mas, kenapa kak Chris tidak tinggal bersama kita saja? Kemana tadi Bryan membawanya?"
"Kau tidak mengerti Celo." Zach memejamkan matanya untuk menekan agar emosinya tidak meledak.
"Maaf Mas. Celo tidak akan membahas itu lagi." Celo memilih mengalah, ia takut jika Zach menunjukkan kemarahannya dan itu membuat Celo sangat takut.
"Mass…apa yang Mas lakukan. Hentikan-ann..Mmas-ss.." Zach meraba perut datar Celo sampai naik ke atas.
"Sekali lagi ya." Ucapnya sedikit memohon dangan pandangan mata sudah berkabut.
"Celo lelah Mas." Bukannya menolak tapi ia benar-benar lelah.
"Mas janji cuma sekali lagi. Bukankah Dokter bilang kita harus sering-sering usaha nya agar dia cepat datang kesini." Sedikit memanipulasi ucapannya Zach kembali mengusap perut datar Celo berharap bayi mereka segera hadir disana.
●●●●
Mampir yuk teman-teman ke judul baru
UNEXPECTED LOVE
jangan lupa dukungannya dengan cara LIKE & COMMENT
FREE
TERIMA KASIH