
●●●●
Sebelum pulang ke rumah Celo mengajak Christa ke toko bunganya dulu. Karena ia selalu pulang bersama Zach, dan juga ia belum bisa meninggalkan tokonya pada karyawan baru. Bukan apa-apa, itu akan membuat karyawannya leluasa terhadapnya dikemudian hari nanti.
"Ini tempat apa? Bukannya yang kemarin rumah kalian?" Tanya Chris.
"Mmm…ini toko bunga kak. Mas Zach yang membuatkannya untuk Celo, karena merasa bosan dirumah."
"Oh..baguslah. Berarti kakak ku benar-benar mencintai mu." Ia tersenyum begitu tulus pada Celo.
"…." Jawaban yang diberikan Celo hanya berupa senyum malu-malu.
"Mm…Celo, maafkan atas sikap ku selama ini ya. Aku terlalu larut dalam kecemburuan ku pada mu." Ia beralih menggenggam kedua tangan Celo.
"Tidak ada yang perlu di maafkan kak, semuanya sudah lalu. Sekarang saatnya kita melihat kedepan." Ucap Celo.
"Terima kasih." Chris memeluk Celo erat.
Ditengah pelukan hangat mereka, Zach datang disusul Bryan dibelakangnya.
"Ehemm…" karena tak mengetahui siapa yang tengah memeluk istrinya, Zach berdehem singkat. Benar saja cara itu ampuh, mereka melepas pelukan mereka setelahnya.
"Mas..." "Kakak…" mereka bersuara bersamaan.
"Chris? Sedang apa kau disini?" Pertanyaan ketus terlontar secara refleks dari bibir Zach, tak hanya itu ia juga menarik Celo agar menjauh dari adiknya itu.
Bukan hanya Zach, Bryan juga terkejut melihat wanita itu ada disana. Ia melempar tatapan tajamnya pada Chris yang kebetulan juga sedang menatapnya.
"Mas…ayo kita bicara sebentar." Celo menangkap bahwa suaminya itu pasti akan memarahi Chris, terlebih dahulu ia membawa Zach sedikit menjauh untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang mau kau bicarakan?" Ia berucap dengan dingin pada Celo.
"Mas, kak Chris sudah berubah. Ia sudah menyesali perbuatannya, lagian kasihan jika ia harus tinggal sendiri dan jauh dari kita." Tutur Celo.
"Dan kau mempercayainya." Saut Zach dengan tak kalah datar dan dingin dari tadi.
"Mas, kalau bukan kita sebagai saudara yang percaya lalu siapa lagi? Bagaimana jika orang lain diluar sana nanti akan memanfaatkannya? Kali ini saja, biarkan kak Chris tinggal bersama kita dan kita lihat dia benar berubah atau tidak." Jelas Celo.
"Kau benar-benar berhati malaikat Celo, tapi tau kah kau, bahwa kebaikan mu itu suatu hari nanti yang akan menjadi bumerang untuk mu sendiri." Bisik Zach dalam hati.
"Terserah kau saja. Tapi ingat, dia adalah adik ku dan aku yang lebih tau sifat aslinya. Kau harus lebih berhati-hati lagi saat bersamanya." Zach mulai melunak, ia membelai lembut wajah istrinya.
Di sudut lain kembali ke Bryan dan Chris, nampaknya Bryan terbawa emosi atas tindakan membangkang wanita ini.
"Kenapa kau keluar hah!! Bukan kah aku sudah bilang untuk tetap berada di hotel sampai aku menjemput mu!" Dengan semua emosinya ia mencengkeram kuat kedua sisi wajah Chris.
"Sak-kkit Bry, maafkan aku. Aku sangat bosan berada disana sendirian." Ucapnya sedikit terbata menahan sakit
"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan Chris?" Tak berhenti disitu Bryan memancing apa yang sedang direncanakannya.
"Aku tidak merencanakan apa-apa. Sungguh. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf pada Celo, aku juga mau berteman dengan celo dan memulai hal baru dengannya sebagai kakak ipar ku." Tak ada sorot kebohongan dimatanya, namun Bryan tak akan terkecoh begitu saja.
"Awas saja kau berani mengacaukan kehidupan Zach dan Celo, aku benar-benar akan menghabisi mu." Janji Bryan dalam hati.
••••
Sebelum kembali ke rumah, Zach meminta Bryan untuk mengambil semua barang-barang milik adiknya di hotel. Sebenarnya Zach enggan sekali membawa adiknya itu, karena ia sudah sangat hapal bagaimana tabiat Christa. Ia tipikal orang sangat sulit untuk diatur apalagi berubah.
Ya, tapi semua balik lagi pada Celo, setiap orang yang ditemuinya akan terbawa hawa positive darinya dan akan berubah cepat atau lambat. Bukti nyatanya adalah dirinya sendiri, ia bisa berubah dan bahkan dengan cepat bisa melupakan obsesi cintanya pada Melodi.
"Celo, ini terakhir kalinya Mas bertanya, apa kau yakin akan membawa Chris ke rumah kita?" Dalam hati kecilnya ia masih berharap istrinya itu akan berubah pikiran. Bukannya ia membenci adiknya itu, tapi ia sedang berusaha untuk tidak membencinya karena akan menyakiti salah satu orang paling berharga di hidupnya.
"Mas, untuk terakhir kali pula Celo yakin dengan ini. Kak Chris keluarga kita, adik kandung Mas." Zach menyerah dan memilih diam setelahnya.
Sesampainya dirumah Celo mengantar Chris ke kamar yang sudah disiapkan oleh Bibi Welma. Beruntung rumah mereka cukup besar meski hanya berlantai satu tapi didalamnya terdapat lima kamar. Zach sengaja mendesain rumahnya dengan banyak kamar kalau-kalau nanti para sahabatnya datang untuk menginap.
"Terima masih Celo, kakak ipar." Imbuh Chris tulus.
"Sama-sama kak. Kakak istirahat saja dulu, Celo mau menyiapkan makan malam untuk kita." Pamitnya. Meski Celo telah menjadi kakak iparnya, tapi ia kekeh tetap memanggil Chris dengan sebutan Kakak karena ia memang lebih tua dari Celo.
••••
Hari-hari berjalan normal-normal saja. Apa yang di khawatirkan Zach tentang perilaku adiknya tidak lah terbukti karena Chris benar-benar sudah berubah berlaku baik. Ia tak pernah mengganggu Celo bahkan mau membantu setiap pekerjaan Celo.
Seperti hal nya pagi ini, ia bersikeras untuk ikut bersama Celo ke toko. Ia berkata bahwa berada dirumah seharian itu membosankan, lagi pula ia tak mengerti berkebun dikhawatirkan ia akan memusnahkan semua tanaman Celo.
"Kak Chris yakin mau ikut Celo?"
"Iya. Aku bisa mati karena kebosanan jika berada di rumah terus." Ucapnya dengan memelas.
"Baiklah Kak."
Walaupun tak pernah terjadi sesuatu yang buruk selama Chris bergabung bersama mereka. Itu semua tak membuat Zach dan Bryan lengah untuk terus memantau Chris. Mereka masih belum bisa percaya sepenuhnya akan perubahan itu.
Bagi Bryan ia harus lebih ketat memata-matainya karena sampai sekarang wanita itu tidak pernah lagi membahas tentang kehamilannya.
"Kenapa dia tidak pernah lagi mengungkit kehamilannya? Apa yang sebenarnya ia rencanakan? Jika terlalu lama ia disini, semakin lama perutnya akan semakin membesar." Bryan berperang dengan pikirannya karena Chris.
Celo yang tak sengaja melihat Bryan memperhatikan Chris secara lekat, menghampiri pria itu. Ia harus meyakinkan adik angkat suaminya itu bahwa Chris sudah benar-benar berubah.
"Bry, percayalah. Kak Chris sudah benar-benar berubah sekarang. Kalian tak perlu lagi bertingkah berlebihan seperti ini. Bagaimana jika ia tau, ia akan sedih karena saudara dan orang terdekatnya saja tidak mempercayainya." Tutur Celo mencoba lebih meyakinkan Bryan.
"Baiklah. Akan ku coba." Lebih baik ia mengalah dari pada harus berdebat dengan Celo dan malah berakhir ditangan Bos nya, Zach.
"Bry, setiap orang pasti punya cara dan waktunya sendiri untuk berubah ke arah yang lebih baik. Tidak hanya aku, kau bahkan orang lain diluar sana juga begitu." Ujar Celo dengan bijaknya.
"Ya."
"Kau benar-benar wanita yang hebat Celo, Zach sangatlah beruntung memiliki mu di sisinya." Pikir Bryan, tak lupa ia melempar senyumnya pada istri Bosnya itu.
"Celo, aku balik ke kantor dulu, ingat masak yang enak. Karena aku akan selalu menumpang makan jika itu kau yang memasaknya." Gurau pria itu.
"Ya, ya…dan kita akan selalu mendengar omelan dan dengusan dari Mas Zach." Celo juga ikut menimpali gurauan Bryan.
●●●●
Teman-teman semua jangan lupa ya
Tekan Favorite
Beri Like dan tinggalkan Comment atau saran kalian
Bagi yang bersedia silakan VOTE
TERIMA KASIH BANYAK
#***workfromhome
#stayathome
#staysave
#darikitauntukkita***