Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Extra part - Seth Kyler Alterio



▪︎▪︎▪︎▪︎


Di kehamilan kedua ini Dokter mengatakan bahwa Celo bisa melahirkan secara normal. Tak ayal hal itu membuat Celo sangat bahagian karena ia bisa merasakan jadi wanita sesungguhnya. Maksudnya, setiap wanita pasti ingin merasakan bagaimana sakitnya berjuang melahirkan anak agar mereka bisa merasakan perjuangan Ibu mereka.


Sebaliknya, Zach sangat mencemaskan istrinya itu, bukan apa-apa, ia hanya khawatir saja. Mendengar cerita Audrey yang sudah melahirkan dua anaknya dengan persalinan normal, Ayah dari anak kembar itu bergidik ngeri. Meski ujung-unjungnya istri sahabatnya itu mengungkapkan rasa bahagia tak terkira.


"Sayang, sebaiknya operasi saja ya. Daddy tidak sanggup melihat kau harus menjerit kesakitan seperti Audrey." Disela menunggu pembukaan sempurna kelahiran bayi ketiganya, Zach masih berusaha membujuk istrinya.


"Sudah sejauh ini Dadd, Mommy juga mau tau bagaimana rasanya sakit melahirkan." Berusaha kuat, Celo meyakinkan suaminya.


"Hahh, baiklah sayang. Dadd akan selalu disamping kalian." Mau tidak mau, dengan berat hati Zach harus mengizinkan Celo untuk melahirkan normal. Apapun itu yang terpenting istri dan anaknya harus selamat dan baik-baik saja.


"Si kembar bagaimana Dadd? Siapa yang jemput mereka?" Sedari tadi Celo terus saja memikirkan kedua putranya.


"Tenang saja, mereka bersama Mami dan Papi." Zach terus saja mengusap sayang perut buncit Celo.


"Mami, Papi ke sini?" Ujarnya terpekik.


"Tentu saja, mereka tidak mau melewatkan cucu ke tiga mereka." Saut Zach senang.


"Harusnya ini cucu ke empat mereka. Sayang, Kak Chris harus kehilangan bayinya waktu itu, beruntung sekarang ia sudah hamil kembali. Tapi sayang, Kak Shane telah lebih dulu pergi tanpa tau keberadaan calon anak mereka." Jelas sekali gurat kesedihan di wajah wanita yang akan menjadi Ibu tiga anak itu.


"Sudahlah sayang. Ingat, Dokter bilang kau harus rileks, jangan tegang dan banyak fikiran." Ingat Zach.


^^^^


Tibalah waktunya persalinan Celo, dengan setia Zach pun ikut masuk ke dalam ruang bersalin membantu menguatkan istrinya. Sementara, di luar kamar bersalin sudah berkumpul semua orang terdekat mereka tak terkecuali si kembar yang sudah tidak sabar untuk menyambut kehadiran adik mereka.


"Owaa..owa…" tangis bayi menggema di lorong lantai dimana kamar bersalin berada.


"Ah…akhirnya cucu kita lahir lagi Pi." Desah mami lega pada Papi.


"Grandma, apa tadi suara adik kami?" Tanya Aldric penuh semangat.


"Ya sayang." Walau Archie tidak ikut bertanya, raut bahagia terlihat jelas di wajah kecil itu.


Ceklek


Tampak Zach keluar dari kamar persalinan dengan menggendong seorang bayi mungil. Wajah bahagia juga lega tercetak jelas diwajah yang masih saja muda itu.


"Cucu Mami nak? Laki-laki atau perempuan?" Tanya Mami antusias.


"Laki-laki Mi." Meski mereka mengharapkan seorang putri untuk melengkapi keluarga bahagia mereka, tapi mereka tetap bersyukur karena dia lahir dengan sehat tanpa kurang suatu apapun.


"Adik kita laki-laki Ar. Siapa namanya Dadd?" Masih dengan antusias, Al memeluk adik kembarnya.


"Seth Kyler Alterio. Kalian suka?" Tanyanya sedikit membungkukkan tubuhnya agar si kembar dapat meraih adik mereka.


"Ayo, sapa adik kalian." Ujar Zach pada anak-anaknya.


"Hai Seth, selamat datang di dunia ini." Ucap Aldric.


"Selamat datang jagoan kecil, kami akan menjaga mu." Kali ini Archie yang berucap.


"Bagaimana Mommy anak-anak?" Karena terlalu senang, hampir saja Mami lupa menanyakan kondisi menantunya.


"Celo baik-baik saja Mi, hanya kelelahan saja. Tadi dia juga sempat menangis karena terlalu bahagia bisa menjadi Ibu seutuhnya." Tukas Zach kembali mengingat wajah terharu istrinya itu.


"Syukurlah."


^^^^


Setelah beberapa jam menunggu prosedur di kamar bersalin, akhirnya Celo juga bayinya di pindahkan ke kamar inap. Dikamar itu terasa pengap karena kado-kado yang sudah menumpuk dari berbagai relasi, rekan hingga karyawan Zach di kantor.


"Bagaiman keadaan mu? Sudah tidak sakit lagi kan?" Kini giliran Audrey yang menemani Celo karena anak-anaknya tengah bermain bersama dengan para ayah mereka juga.


"Mm…Kak Audrey benar, tidak sesakit itu rasanya. Terlebih saat kita sudah melihatnya, sakit itu hilang seketika." Ujar Celo bahagia.


"Benarkan." Ucapnya bangga.


"Oh ya, kali ini siapa yang memberi nama anak kalian?" Tanya Audrey lagi.


"Daddy anak-anak. Kenapa Kak?" Celo ikut bertanya heran.


"Kenapa tidak kau saja?"


"Memang kenapa Kak?" Celo masih bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa. Kau tau Celo, melihat kau melahirkan begini aku jadi ingin hamil dan melahirkan lagi." Terang saja ucapan Audrey barusan sukses membuat Celo tercengang.


"Hahaha.." Celo hanya bisa tertawa saja.


"Itu seru kau tau. Hanya saja aku sedikit menyesal." Tukasnya ambigu.


"Menyesal kenapa? Kak Audrey dari tadi aneh." Kata Celo.


"Astaga." Celo benar-benar tidak habis pikir di buatnya.


"Iya kan, nama mereka bagus-bagus. Apalagi Yesung, ahh Siwon juga atau Donghae, Khuhyun, Shindong. Banyak pilihan kann…" keluhnya.


"Tentu saja Kak Eric tidak mau. Kak, nama anak itu harus sesuai keinginan kita juga sesuai dengan doa kita untuk si anak agar kelak mereka hidup sesuai dengan doa kita yang baik. Juga agar mereka tidak terbebani karena menyandang nama orang lain yang belum tentu sesuai dengan doa kita." Ucapan Celo berhasil membuat Audrey tertegun, bukan karena tidak terima. Tapi ia merasa malu karena Celo lebih berpikir dewasa dari dirinya.


"Mm…Celooo…" ia berhambur memeluk sahabatnya itu.


Selama persahabatan mereka, tidak pernah sekalipun mereka saling tersinggung. Mereka saling berbagi cerita dalam segala hal termasuk cara mendidik anak-anak mereka.


^^^^


Genap sudah lima bulan usia Seth, dan hari ini bertepatan dengan hari jadinya Zach. Karena tidak suka ulang tahunnya di besar-besarkan, jadilah mereka hanya mengadakan makan malam keluarga saja.


"Happy birthday Dadd." Si kembar menghampiri pria yang berstatus sebagai ayah mereka lalu memeluknya ringan.


"Terima kasih nak." Ujarnya tulus. Setiap tahun ulang tahunnya terasa begitu berarti karena selalu ditemani orang-orang tercintanya. Terlebih tahun ini karena anggota keluarganya bertambah satu orang lagi.


Acara makan malam sederhana itu terasa sangat hangat akan kehadiran semua keluarga. Hingga malam tiba dan mereka membubarkan diri untuk kembali ke hunian masing-masing.


Sebelum tidur, itulah saatnya Celo memberikan ucapan selamat untuk suami tercintanya.


"Selamat ulang tahun Dadd." Ia kembali membawakan sebuah kue kecil dengan lilin berangka 34.


"Terima kasih Momm." Ujarnya seraya mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kenapa tersenyum?" Tanya Zach saat mendapati wanitanya itu trersenyum diam-diam.


"Tidak apa-apa." Ia mengulum senyumnya, karena ketahuan menertawai suaminya.


"Ah, kau menertawakan umur ku heumm?"


Bingo


Celo ketahuan.


"Bukan begitu Dadd, hanya saja Celo tidak habis pikir kita bisa menikah." Benar, ia tidak ada maksud mengatai umur suaminya mengingat usia mereka yang terpaut sembilan tahun.


"Apa maksud mu? Kau mau mengatai suami mu ini sudah tua heh?" Sinisnya, masih dalam artian bercanda.


"Bukan Dadd.." ia tak segan lagi menampakkan tawanya.


"Dengar ya Nona, pria 34 tahun ini berhasil memberi mu tiga anak. Ingat itu." Cibirnya.


"Ya. Ya, terima kasih anaknya suami ku." Cibir Celo balik.


Usai acara cibir mencibir mereka, kini sepasang suami istri itu tengah duduk bersandar dikepala ranjang. Zach mengerjakan sesuatu di laptopnya sementara Celo menunggui suaminya itu bekerja.


"Dadd, apa Daddy mau punya anak lagi?" Tanya Celo yang berhasil mengalihkan perhatian suaminya.


"Apa itu kode sayang?" Senyumnya dengan menaik-naikkan kedua alisnya.


"Dadd, Momm serius."


"Tidak. Cukup mereka bertiga dan kau, tak lebih." Ujar Zach gak kalah seriusnya.


"Tapi Celo tau kalau Dadd menginginkan seorang putri. Tidak masalah kalau kita menambah satu anak lagi." Celo yang tau kemauan suaminya memberikan solusi.


"Tidak sayang, apa jadinya jika kau hamil lagi dan ternyata putra lagi. Apa kita akan terus begitu selanjutnya? Dengar, ada atau tidaknya anak perempuan di keluarga kita tidak akan mengubah apapun, kita akan selalu bahagia. Cukup kau saja perempuan satu-satunya di rumah kita, biarkan putra-putra kita dan aku memanjakan mu." Zach berkata seraya menatap jauh kedalam manik mata indah Celo.


"Terima kasih sayang." Ucap Celo tulus lalu berhambur memeluk pria yang menjadi teman hidupnya itu.


"Sama-sama. Omong-omong, mana kadonya?" Tanya Zach layaknya anak kecil.


"Itu disana." Saut Celo seraya menoleh kearah baby box yang terdapat Seth mungil didalamnya.


"Astaga. Aku pikir benar-benar akan mendapatkan anak lagi malam ini." Desahnya kecewa.


"Hahaha… sebagai kadonya, Seth akan tidur bersama kita malam ini." Kalimat Celo barusan, sangat mengerikan ditelinga Zach.


"Sayangg…" rengek Zach dikala istrinya meraih tubuh mungil putra bungsunya yang berada didalam Baby box.


Nama anak itu harus sesuai keinginan kita juga sesuai dengan doa kita untuk si anak agar kelak mereka hidup sesuai dengan doa kita yang baik. Juga agar mereka tidak terbebani karena menyandang nama orang lain yang belum tentu sesuai dengan doa kita. __areumkang__


▪︎▪︎▪︎▪︎


Haii dearr… ini extra chap lagi ya...


Jangan lupa mampir, sequelnya sudah Up kok


▪︎▪︎▪︎ Your wife is not your wife ( difference ) ▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa dukungannya ya, TERIMA KASIH..