
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hari ini Zach sudah diizinkan pulang, karena memang keadaannya tidaklah serius. Seharian kemarin sudah cukup ia mengistirahatkan tubuhnya. Sesuai janjinya pada Celo kemarin, hari ini mereka akan berkunjung ke makam keluarga istrinya itu.
Jadilah saat sekarang mereka berada di makam kedua orang tua serta Nenek Celo. Selain karena rindu sudah beberapa bulan tidak kesana, mereka juga ingin berbagi kabar bahagia mengenai kehamilan Celo.
Celo berlutut diantara makan Ayah dan Ibunya yang sengaja diletakkan bersebelahan, sementara makan Neneknya terletak disebelah diatas makam kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, Nenek, maaf Celo baru berkunjung lagi. Beberapa bulan terakhir Celo ikut Mas Zach, suami Celo keluar negeri. Kalian baik-baik saja kan disana, Bahagia juga kan?" Cairan bening mengalir bebas di kedua sisi wajahnya.
"Kalian tenang saja, Celo disini juga bahagia. Bahkan sangat bahagia sekarang, Celo punya mertua yang baik, suami yang sangat mencintai Celo, apalagi sekarang Celo sedang hamil. Celo bersyukur mempunyai keluarga baru yang sangat baik, tapi sampai kapan pun kalian juga masih keluarga Celo." Ia mengusap air matanya, kali ini yang Zach lihat bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.
Menyaksikan itu semua, Zach tersadar bahwa tidak semua kebahagiaan itu semu. Ia bersyukur bisa bertemu Celo, karena selama dengan Melodi tidak sekali pun dia membuat orang tuanya bahagia apalagi bangga. Beruntung belum terlambat untuk membahagiakan Mami, Papinya.
"Entah bagaimana jadinya jika kita tidak bertemu, mungkin aku masih terus terbelenggu dengan butanya cinta. Tak tau juga sebahagia apa pria yang mendapatkan mu." Dalam diam ia memperhatikan istrinya, tak lupa Zach menghaturkan rasa syukur karena Celo ia hidup jauh lebih baik sekarang berkat kelembutan istrinya itu.
^^^^
"Bi..Bibi.." suara Mami menggema di seantero kediaman megah Alterio.
"Saya disini Nyonya, maaf tadi tidak terdengar karena saya sedang menyiram tanaman dibelakang." Ujar Bibi menunduk takut.
"Ah..maaf Bi, saya tidak marah." Saut beliau dengan senyum lebar.
"Itu, kamar Zach sudah selesai dirapikan?" Tanya Beliau melanjutkan bertanya.
"Sudah Nyonya."
"Bagaimana dengan bunganya?" Tanya Mami lagi lebih antusias.
"Beres Nyonya, pokoknya kamar Tuan muda sudah seperti kamar penganti baru." Nampaknya Bibi juga tidak kalah semangatnya.
"Bagus. Semoga setelah ini rumah kita akan kedatangan seorang bayi mungil dan lucu. Kalau itu perempuan pasti secantik menantu ku, kalau laki-laki pasti setampan putra ku." Beliau membayangkan ucapannya sendiri.
"Iya Nyonya, sudah lama sekali semenjak Nona Chris dewasa." Saut Bibi.
"Ya. Hah….dimana anak itu sekarang?" Mami yang belum mengetahui keberadaan putrinya seketika berubah murung.
"Maaf Nyonya." Sesal Bibi.
"Tidak apa-apa. Ayo kita ke dapur, kita masak sesuatu yang spesial." Meski sedih, Mami menyembunyikannya dan kembali bersikap ceria.
^^^^
"Mas,"
"Ya, sayang." Sekarang ini mereka masih dalam perjalanan pulang ke rumah Mami di jemput oleh supir.
"Celo kangen rumah Ayah, Celo mau menginap disana boleh kan?" Pintanya, ia sangat merindukan keluarganya yang sekarang sudah tidak ada lagi.
"Tentu boleh sayang, bagaimana kalau besok? Karena kalau hari ini, Mami pasti sudah mempersiapkan sesuatu untuk kita. Kasihan Mami kalau kita tidak menginap di rumah." Jelas Zach takut wanita akan tersinggung.
"Ya Mas. Celo juga masih kangen Mami." Senyum ceria kembali tampak di wajah istrinya.
"Heumm…" penuh sayang, di usapnya pucuk kepala wanita yang kini mengisi sepenuh hatinya.
"Mas, saat ini Celo kan sudah hamil. Apa Mas masih akan membawa anak Melodi ke rumah kita?" Ia menatap serius kearah Zach, tepat ke matanya.
"Astaga sayang. Dari mana kau dapat pemikiran seperti itu?" Zach rasa mungkin ini saya yang tepat untuk meluruskan kesalah pahaman mereka.
"Mas, menyuruh Celo pergi lalu Melodi tinggal di rumah kita. Apa namanya kalau Mas tidak mau mengambil anaknya sementara Celo belum ketahuan hamil waktu itu. Atau Mas benar-benar akan kembali padanya dan meninggalkan Celo?" Semua yang ia rasakan keluar juga pada akhirnya.
"Astaga Celo, sampai sejauh itu pemikiran mu. Dengar, Mas sebenarnya tau bahwa semua itu hanya jebakan Melodi." Ungkapnya.
"Tapi Mas biarkan seolah Mas tidak tau apa-apa agar mereka percaya karena dengan begitu kita bisa tau rencana mereka. Disaat Mas tau Chris menyerang mu, ingin rasanya memberi pelajaran pada anak nakal itu, tapi tidak Mas lakukan karena akan ada hal lebih buruk lagi yang akan terjadi." Zach menjelaskan perlahan apa yang ia rencanakan saat itu.
"Jadi karena itu Mas menyuruh Celo pergi?"
"Ya. Tapi mereka tetap menemukan mu, beruntung kau dan anak kita baik-baik saja." Desahan nafas lega terhembus di bibir Zach.
"Lalu kenapa Melodi bisa tinggal disana?" Masih ada yang mengganjal kiranya di benak Celo.
"Kalau soal itu Mas juga tidak tau, sampai akhirnya ia mencelakai Chris." Masih pedih rasanya melihat adiknya diperlakukan hampir serupa bi****ng.
"Celo, jika bertemu Chris nanti, jangan membencinya maafkan lah dia. Memang benar ia bersalah tapi semuanya itu tak luput dari peran serta Mas yang selalu mengacuhkannya. Mas mohon, karena dia adik Mas satu-satunya." Mohon Zach, ini kali pertama ia melakukannya.
"Tentu Mas, sebelum Mas minta pun Celo sudah memaafkan Kak Chris. Peran serta kita ikut mempengaruhi perubahan Kak Chris."
"Terima kasih sayang." Mereka saling berpelukan, menghiraukan supir yang sedang menyetir didepan.
^^^^
Benar saja yang dikatakan suaminya, sesampai di rumah mereka disambut beberapa sanak keluarga juga pesta kecil-kecilan. Yang membuat Zach tak habis pikir ialah saat memasuki kamar mereka. Kamarnya berubah aneh dengan bunga mawar bertebaran dimana-mana, tapi tidak dengan Maminya yang mengatakan bahwa itu semua romantis.
"Mas tidak menyukainya?" Tanya Celo yang melihat raut ketidak sukaan suaminya.
"Bukannya tidak suka, tapi ini-. Ya sudah lah kita bersihkan saja." Keluhnya.
"Biar Celo saja, Mas istirahat dulu disofa sana." Titah Celo, ia tau bahwa sebenarnya pria itu meringis menahan ngilu dari lukanya.
"Tidak sayang, kau harus banyak istirahat kasihan anak kita." Bantah Zach khawatir.
"Kalau begitu kita berdua saja biar cepat selesainya dan kita bisa istirahat." Itulah jalan tengah yang di ambil Celo.
Jika sudah berdua, tidak ada kata lelah bagi mereka. Usai membersihkan kamar terutama ranjang dari kelopak bunga mawar yang bertebaran akhirnya setelah membersihkan diri masing-masing barulah mereka bisa istirahat dengan tenang.
^^^^
"B, sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini sebelum semakin jauh." Bryan kembali menemui kekasihnya karena ia merasa ada sesuatu yang janggal.
"Apa maksud mu Se? Mengakhiri bagaimana?" Ia tak paham akan situasinya.
"Berulang kali ku pikirkan, ku putuskan aku belum siap menjalani hubungan ini B. Semua terlalu cepat dan mudah, aku belum siap menghadapi masalah besar di kemudian hari. Maaf Bry." Gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari kehidupan Bryan.
"Kenapa? Apa masalahnya? Apa aku melakukan kesalahan?" Semua tidak bisa diterima begitu saja.
"Tidak. Tidak ada masalah juga tidak ada yang salah. Hanya saja kesiapan dan aku belum siap. Sekali lagi maaf Bry selamat tinggal." Sekuat yang ia bisa ditahannya air mata yang siap meluncur di pelupuk matanya. Takut akan menangis jika berlama-lama, Sesyil segera pergi dari sana meninggalkan Bryan dengan penuh tanda tanya besar.
▪︎▪︎▪︎▪︎