Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Meski Dia Menolaknya



■■■■


Tiga hari sudah kepergian Ayah dan Nenek Celo dan selama itu pula Zach selalu menemaninya meski ia harus meninggalkan Celo saat malam tiba. Pria itu masih punya aturan untuk tidak menginap dirumah Celo mengingat gadis itu hanya tinggal sendiri sekarang, ia tak mau orang-orang akan berpikiran buruk jika ia menginap dirumah Celo. Zach juga tak pulang kerumah orang tuannya, selain karena jaraknya yang jauh ia juga sangat malas jika harus berdebat lagi entah itu dengan Mami atau Papi nya ditambah lagi kelakuan adiknya yang semakin hari semakin aneh saja.


"Mas...kapan mas akan pergi?" Tanya Celo masih dengan memakan makan malamnya. Saat ini Zach masih dirumah Celo, menunggu hingga gadis itu tertidur dan menutup semua jendela dan pintu keluarnya rumahnya.


"Kenapa? Kau mau mengusir ku?" Tanya Zach balik seraya menatap kearah Celo.


"Bukan begitu. Celo tak apa-apa sendiri, jadi kalau mas mau pergi silakan saja." Ujar gadis itu menampilkan senyum pastinya. Lagi pula siapa yang akan percaya dalam waktu tiga hari saja dia sudah bisa melupakan kesedihannya saat ditinggal orang-orang yang paling dicintainya.


"Ya. Aku akan pergi setelah semuanya selesai." Ucap Zach dan kembali melanjutkan makannya.


"Semuanya selesai? Apa yang selesai mas?" Celo bertanya dengan polosnya.


"Ehemm... begini." Sebelum melanjutkan perkataannya Zach menarik nafas dalam-dalam. Tak hanya itu, kedua tangan Zach juga menggenggam erat tangan Celo yang tak memegang alat makan. Sementara Celo menunggu apa yang akan disampaikan pria yang dicintainya, ia juga sudah menyiapkan hatinya apa pun yang nanti akan didengarnya.


"Ayo kita menikah." Ucapnya dalam sekali tarikan nafas dan penuh keseriusan. Celo yang awalnya sangat terkejut, beberapa saat kemudian menarik tangannya dari genggaman Zach.


"Jangan lakukan itu lagi mas. Celo sudah cukup hanya dengan mencintai mas dari jauh." Bibirnya melukiskan senyuman tulus.


"Aku sungguh-sungguh dan kali ini aku tak akan meninggalkan mu lagi." Zach kembali merengkuh tangan Celo dan menatap jauh kedalam mata gadis itu.


"Maaf mas Celo tidak bisa." Celo pergi meninggalkan Zach sendirian dan berlalu masuk kedalam kamarnya.


"Mas tidak perlu kemari lagi. Celo sudah tidak apa-apa dan juga Celo tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Percayalah. Dan terimakasih sudah kembali dan menemani Celo." Celo benar-benar hilang dibalik pintu kamarnya setelah ucapannya yang terakhir.


Zach hanya diam saja, ia juga tak bisa memaksakan kehendaknya untuk menikahi gadis itu sekarang. Semua itu sudah ia pikirkan dengan matang, ia tak mau jika gadis itu harus hidup sendiri dan takut jika akan ada orang yang akan berbuat jahat padanya makanya mereka harus menikah secepat mungkin.


Flashback


Malam kedua setelah pemakaman Bibi kedai minta berbicara dengan Zach. Beliau ingin berbicara serius empat mata saja dengannya.


"Bisa kita bicara sebentar? Hanya berdua saja." Bibi mengajak Zach berbicara di toko bunga miliknya. Karena beliau menutup tokonya karena masih dalam suasana berkabung.


"Ada apa Bib-"


Plakk


Belum selesai berucap satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi mulus Zach.


"Ada Bibi memukul saya?" Zach sedikit kesal karenanya.


"Jangan tanyakan hal yang sesungguhnya kau sendiri tau jawabannya." Bibi pun tak kalah sengit menjawabnya.


"Celo berbohong untuk menutupi kekurang ajaran mu!! Demi melindungi mu, gadis polos itu sudah berubah menjadi seorang pembohong besar!!" Bibi mencerca Zach dengan kenyataan-kenyataan dengan menggebu-gebu.


Deg


Zach juga teringat akan kata-kata Audrey yang mengatakan tentang kebohongan juga. Mungkinkah jika semua ini berhubungan pikir Zach dalam hati.


"Pembohong? Apa maksud Bibi yang sebenarnya? Tolong jelaskan Bi?" Zach semakin penasaran dibuatnya.


"Heh...Celo bilang setelah pernikahan kau pergi bekerja keluar negeri dan karena itulah ia pulang kerumah orang tuanya karena ia segan berada dirumah mertuanya. Dia juga bekerja direstoran saat malam hari dengan alasan mertuanya yang memintanya untuk selalu makan malam bersama mereka." Kali ini nada suara Bibi sudah agak pelan, beliau menceritakan semuanya dengan penuh derai air mata.


Saat itu juga Zach teringat semua cerita Celo saat malam itu ia membantu Celo ketika ia pulang dari restoran dan juga pada hari itu ia dipermalukan oleh dua orang. Namun gadis itu tak ada menceritakan ini semua, ia menutupinya. Zach merasa sangat-sangatlah menyesal, ia benar-benar sudah punya andil besar dalam perubahan hidup gadis itu.


"Sekarang apa? Bahkan Ayah dan Neneknya pergi membawa semua kebohongan gadis itu tanpa sempat ia mengungkapkan yang sebenarnya terjadi."


"Bukan pada Bibi kau minta maaf, tapi pada Celo. Ia sudah sangat banyak terluka selama ini karena mu." Bibi mulai melembut pada Zach, meski ia masih sangat marah. Tapi ia juga tak punya hak untuk menghakiminya.


"Ya bi. Tapi saya punya cara sendiri untuk minta maaf. Apa Bibi mau membantu?" Sebenarnya Bibi enggan, tapi melihat Celo begitu mencintai pria ini beliau jadi mengiyakan saja.


"Apa rencana mu?"


"Saya akan menikahinya." Ya, Zach sudah memikirkan hal ini.


"Kau sudah gila!" Seketika Bibi kembali emosi.


"Tapi hanya itu cara yang terpikirkan saat ini."


"Lalu apa setelah kau menikahinya? Kau akan meninggalkannya lagi?" Teriaknya.


"Tentu saja tidak bi. Setidaknya dengarkan dulu penjelasan saya. Bibi tenang." Pinta Zach meyakinkan, Zach menuntun Bibi untuk duduk ketempat nya semula setelah beliau tadi berdiri karena emosi.


"Bi, saya menikahi Celo bukan untuk mempermainkan nya. Kita tidak bisa membiarkannya tetap hidup sendiri, kita juga tidak tau kapan atau apakah orang-orang yang menyerang mereka kemarin akan datang lagi dan mengganggunya." Bibi membenarkan apa yang dikatakan oleh Zach.


"Tapi kau sungguh tak akan menyakitinya kan?"


"Saya berjanji demi mami dan adik saya." Sumpah Zach dihadapan Bibi.


"Baiklah. Tapi bagaimana jika dia menolakmu?" Bibi seolah sangsi akan rencana Zach untuk menikahi Celo. Mengingat luka yang sudah ditorehkan oleh pria itu dihatinya.


"Maka dari itu saya butuh bantuan Bibi."


"Bagaimana caranya?"


"Kami akan tetap menikah meski ia menolak."


"Kau mau memaksanya? Tidak! Bibi tidak mau." Tolaknya keras.


"Percayalah. Jika Celo didampingi oleh Bibi, dia akan mau. Ini semua juga demi kebaikannya."


"Hahh...baiklah. Lalu kapan kau akan menikahinya?"


"Secepatnya, mungkin tiga atau empat hari lagi. Sebelum aku pergi ke Holland."


"Baiklah." Bibi akhirnya menyetujui rencana gila Zach.


Flashback off


°°°°


"Aku akan kembali ke hotel dan kembali lagi kemari besok pagi. Ingat untuk mengunci semua pintu." Zach berucap dari luar dibalik pintu kamar Celo.


Didalam kamarnya Celo bingung harus menjawab apa. Bisa saja ia mengiyakan nya karena memang ia mencintai Zach dan ingin menikah dengannya. Tapi disisi lain, ia takut jika Zach hanya mempermainkan nya saja.


■■■■


Maaf ya semuanya baru bisa Up sekarang...


😔😔😔