
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Apa ini artinya Mas akan melepaskan Celo dan kembali ke Melodi?" Celo masih tak paham akan situasi saat ini.
"Tidak. Mas mohon jangan bertanya sekarang. Percayalah, Kita akan selalu bersama selamanya." Ia menangkup kedua sisi wajah Celo meyakinkan istrinya itu.
"Ya Mas. Celo percaya." Ia memeluk erat pinggang suaminya yang disambut baik oleh Zach.
"Mas, Celo mau pulang. Celo takut disini lama-lama Mas." Ucapnya sendu.
"Takut kenapa sayang?" Herannya.
"Rumah sakit merenggut segalanya dari Celo Mas." Ingatannya melayang pada saat Nenek dan Ayahnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Zach paham akan situasi istrinya saat ini hanya bisa memberi semangat dan menunjukkan bahwa ia selalu ada untuknya.
"Nanti Mas tanya dokter ya.."
"Ya Mas.
Sorenya, usai mendapat persetujuan dari Dokter untuk meninggalkan rumah sakit. Zach lansung memboyong istrinya ke apartement Bryan, ia juga meminta Sesyil menemani istrinya untuk tinggal disana. Takut jika berdua saja nanti Bryan akan khilaf terhadap Celo, sebenarnya Zach sendiri geli akan pemikiran gilanya itu.
"Sayang, tidak apa-apa kan kalau sementara waktu sampai persiapan kembali ke negara kita selesai, kau tinggal di tempat Bryan dulu." Tanya Zach lagi.
"Tidak apa-apa Mas. Tapi…kenapa Celo harus pergi?" Wanita itu benar-benar butuh alasan yang tepat sebenarnya.
"Celo please…" ujar Zach dengan sorot mata memohon.
"Baiklah Mas, Celo tidak akan bertanya lagi." Cicitnya pelan
^^^
Saat ini, Celo sudah beristirahat di salah satu kamar yang ada di apartement Bryan. Ia tak sendiri, ada Sesyil disana menemaninya seperti ucapan suaminya tadi.
Ceklek
Zach membuka pintu kamar istrinya, sebelum pergi ia ingin puas memandang wajah manis istrinya itu. Bukan apa-apa, Zach merasa sebagian besar hatinya sudah berada didiri Celo akan hampa rasanya jika mereka berjarak.
"Kalau begitu aku keluar dulu ya Celo." Pamit Sesyil bermaksud memberi ruang bagi pasangan suami istri itu. Mereka juga tak lagi memakai panggilan formal, cukup saling memanggil nama saja.
"Ada yang kau rasakan sekarang?" Ia menghampiri Celo, duduk disamping istrinya.
"Tidak ada Mas. Hanya saja, jika boleh jujur Celo tidak mau jauh dari Mas. Sesak rasanya hati ini." Ia selalu jujur tentang perasaannya terhadap suaminya itu.
"Maaf sayang, tapi untuk sekarang kita harus seperti ini dulu. Bersabarlah. Mas janji ini tidak akan lama." Ia menggenggam erat jemari istrinya.
"Celo mencintai Mas." Ujarnya. Kali ini Celo berinisiatif sendiri, ia yang lebih dulu mencuri ciuman di bibir suaminya.
Merasa kualahan karena Zach menahan tengkuknya, barulah tautan bibir itu terlepas namun masih dalam jarak yang sangat dekat.
"Mas juga sangat mencintai mu sayang." Usai membalas kata cinta istrinya, Zach kembali menyatukan bibir mereka.
Sore itu mereka manfaatkan untuk memadu kasih, mengungkapkan rasa cinta mereka melalui sentuhan seperti biasanya. Tapi, Zach menahan diri mengingat istrinya sedang sakit dan baru saja keluar dari perawatan.
^^^
Seminggu sudah Celo tinggal bersama Bryan dan sesyil dan selama itu pula lah Zach tidak menghubunginya. Celo juga tidak pergi ke toko karena larangan suaminya dan itu membuat ia nyaris mati karena kebosanan. Tak ada toko, tak ada taman, terlebih tak ada Zach pria yang sudah menjadi sebagian dari nafasnya bahkan hidupnya.
"Bry…." Saat keluar dari kamar yang ditempatinya, Celo melihat pria itu sedang bermalas-malasan di ruang tengah seraya menggonta-ganti chanel televisi.
"Mmm…" sahutnya acuh tak acuh. Celo mendekat lalu mengambil tempat disisi pria itu.
"Kau tidak bosan seperti ini terus?" Tangannya beralih merebut remote yang dipegang Bryan.
"Tentu saja. Ini semua karena suami bodoh mu itu! Dia mencoba membunuh ku secara perlahan!" Seru Bryan dengan emosi yang mencapai ubun-ubun.
"Kenapa malah marah pada Celo? Kalau begitu kita berdua lah yang coba di bunuhnya." Celo menimpali ucapan gila Bryan dengan wajah polosnya.
"Astaga!! Aku benar-benar akan mati sekarang!" Jeritnya frustasi.
"Kau kenapa Bry?" Celo menarik tangan pria itu yang sedang menjambak sebagaian rambutnya.
"Astaga. Jangan sentuh aku! Ingat Celo, aku ini seorang pria. Dan kau tau? Pria akan melepaskan amarahnya pada wanita dan kebetulan kau ada disini." Imbuhnya dengan wajah yang sedikit menakutkan, niatnya menggoda Celo untuk menghibur diri.
"Lalu?" Entah bodoh atau berpura tak tau, Celo membuat niat Bryan untuk menggodanya malah menjadi bumerang sendiri bagi pria itu.
"Astaga." Tak tahan dengan kepolosan Celo, Bryan beranjak dari sana.
"Kau mau kemana?" Tanya wanita itu setengah berteriak.
"Memesan makanan. Kau mau?" Jawabnya sekaligus menawarkan.
"Boleh. Celo juga sedang malas masak." Soraknya agar tertangkap pendengaran Bryan.
Lima belas menit menunggu, pesanan mereka sampai. Mereka makan berdua layaknya adik dan kakak, karena mereka tak layaknya jika disebut sebagai pasangan.
"Bry…"
"Sudah seminggu ini Mas Zach tidak pernah menghubungi Celo. Celo merindukannya." Jika bersama Bryan, Celo selalu jujur dengan perasaannya.
"Ternyata itu yang membuatnya selalu uring-uringan dan tak bersemangat." Pikir pria itu.
"Kau sudah menghubunginya lebih dulu?" Tanya Bryan karena ia tau watak asli Bos nya itu.
"Sudah. Tapi Mas tidak menjawabnya, apa mungkin terjadi sesuatu ya Bry? Perasaan Celo jadi tidak tenang." Ia juga mengungkapkan kepanikannya.
"Shitt. Es balok itu benar-benar." Umpat Bryan dalam hati.
"Ini. Kau gunakan ini saja." Bryan menyodorkan ponselnya. Jika Celo menggunakan itu, bisa dipastikan Zach lansung menjawabnya.
"Terima kasih." Dengan wajah berbinar, ia mengambil ponsel itu lalu menghubungi suaminya.
Tutt
.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan istri ku?" Jawab Zach cepat dari seberang sana, juga dipenuhi kepanikan.
"Mas…ini Celo." Tak di pungkiri Celo sangat bahagia, bukan karena ia bisa mendengar suara prianya, tapi juga karena suaminya itu mencemaskan keadaannya.
"…." Tak ada lagi suara Zach begitu Celo bilang bahwa itu dia.
"Mas….Mas tidak apa-apa?" Dengan diamnya Zach Celo menanyakan kabarnya, takut Zach sakit atau apa.
"Yya…"
"Celo merindukan Mas." Lansung saja ia mengungkapkan rasa rindunya.
"Mmm.." suara di seberang hanya gumaman yang terdengar.
"Mas tutup dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Tanpa menunggu persetujuan dari Celo lansung saja Zach memutus sambungan panggilan mereka.
"Mmas…" Ia jadi sedih.
^^^
"Kau mau kemana?" Tanya Bryan melihat Celo menyeret koper kecilnya.
"Celo tidak bisa begini terus. Celo merindukannya Bry, dan itu menyesakkan. Apapun itu ketakutan Mas, Celo akan hadapi." Lalu ia melangkah hendak keluar.
"Ingat kata suami mu. Jangan keluar Celo." Ingat Bryan.
"Celo tidak peduli larangan itu, Celo harus pulang." Kekehnya tak mau dicegah.
"Kau harusnya paham. Zach tak mau kau terluka, jika masih ada Chris disana ia akan menyakiti mu lagi seperti kemarin!" Teriak Bryan karena wanita itu sangat keras kepala.
Deg
"Jadi Mas Zach tau yang sebenarnya?" Batin Celo bertanya.
"Tapi Celo harus tetap pergi Bry. Apapun itu, yang lebih menyakitkan adalah berpisah dari orang yang kita cintai." Ujarnya yakin. Tak lagi mempedulikan larangan Bryan, Celo keluar dengan tergesa.
"Shit! Mereka memang serasi, sama-sama keras kepala." Umpat Bryan mengacak rambutnya.
^^^
"Nona kembali." Sapa Bi Welma terkejut melihat istri majikannya itu.
"Ya Bi. Celo merindukan rumah." Bibi hanya bisa tersenyum, meski sebenarnya ia cemas jika Celo tetap berada di rumah ini.
"Siapa yang da-ttang? Ow..ow.oww..Nyonya besar kita datang." Dari arah dalam muncul seorang wanita hamil.
Deg
"K-kkauu.."
▪︎▪︎▪︎▪︎
Harusnnya ini Up kemarin, tapi tak tau mengapa jaringan ngambek keknya di tempat saya.
Maaf ya teman-teman…
Tap tetap Jangan lupa beri dukungannya
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
VOTE juga untuk memberi author semangat
TERIMA KASIH