Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Juga ingin mengucapkan selamat tinggal



▪︎▪︎▪︎


Chris berjalan dengan langkah gontai ke arah ranjang dimana suaminya, Shane berbaring kaku sudah tak bernyawa disana. Wajahnya pucat pasinya, masih terlihat tampan, juga senyum tipis masih tertinggal disana.


Dengan air mata yang tiada hentinya mengalir, Chris berdiri tepat disisi tubuh kaku suaminya. Wanita itu meraih tangan besar yang beberapa tahun ini telah membelai tubuhnya, dan sayangnya kini tangan itu terasa sangat dingin.


"Kak, kenapa Kakak pergi meninggalkan ku? Bukankah Kakak sudah berjanji akan kembali pada ku lagi? Hiks.." tangannya yang di gunakan untuk menggenggam jemari Shane, ia pisahkan sejenak untuk mengusap air mata yang mengaburkan pandangannya.


"Bahkan Kakak pergi tanpa tau bahwa aku sedang mengandung sekarang. Aku hamil kak, anak yang selama ini selalu kita tunggu, kini akhirnya datang. Tapi Kakak sudah lebih dulu pergi. Bagaimana aku harus menjalani hari-hari setelah ini Kak? Bagaimana dengan anak kita kelak?" Chris berkeluh kesah pada suaminya yang sudah tiada itu.


Sementara yang lainnya, hanya bisa menyaksikan dari jauh memberi waktu untuk wanita itu melepas kesedihan juga kepergian Shane.


Flashback


"H-hamil? Saya hamil Dokter?" Chris terbangun dari pingsannya. Belum habis rasa syok nya atas kepergian sang suami yang sangat mendadak, Chris kembali dikejutkan akan kabar kehamilannya.


Chris tidak tau apakah ia harus bahagia sekarang, sementara ia baru saja kehilangan sebagian dari hidupnya yaitu suaminya. Ia kembali menangis.


"Sebaiknya Nona tidak terlalu stress, karena kandungan anda masih sangat muda, baru tiga minggu. Dan itu usia yang sangat rentan." Jelas Dokter.


"Terima kasih Dokter, saya akan jaga kesehatan. Tapi sekarang saya harus menemui suami saya." Dokter itu yang tau kabar bahwa Chris baru saja kehilangan suaminya ditengah kabar kehamilannya, merasa simpati.


Ia perhatikan, Chris turun dari ranjang tempat ia berbaring tadi dengan tertatih. Bukan karena kesakitan, melainkan karena ditinggal orang yang dicintai untuk selamanya.


"Hati-hati Nona." Dokter itu membantu Chris berjalan hingga sampai di ruangan dimana suaminya berada.


Flashback off


***


Tiga hari berlalu semenjak kepergian Shane untuk selama-lamanya. Mami yang cemas akan keadaan Chris, membawanya untuk tinggal di rumah utama.


Wanita itu hanya diam saja tanpa bicara sepatah kata pun kepada siapapun. Namun untungnya, dia masih mau makan, karena selalu diingatkan perihal keberadaan bayinya, buah cintanya bersama sang suami. Satu-satunya harta paling berharga selain harta tentunya.


Pemandangan miris selalu terjadi saat petang menjelang. Chris duduk di ruang tamu layaknya, istri menunggu suami yang pulang bekerja, ia juga mengecek ponselnya acap kali berharap semua hanya mimpi dan Shane akan pulang ke rumah.


"Pi, mau sampai kapan putri kita seperti ini? Mami takut jiwanya akan terganggu nantinya." Dari kejauhan, kedua orang tuanya memerhatikan Chris sedari tadi.


"Papi juga tidak tau harus bagaimana Mi." Sama seperti sang istri, Papi juga pasrah dan tidak tau harus mengambil langkah apa lagi.


Tidak berselang lama, terdengar suara sorak bocah lelaki dari halaman depan rumah. Papi dan Mami masih setia bersembunyi, mereka mau melihat reaksi Chris saat keponakan yang sangat ia sayang datang.


"Bibi…" panggil Aldric lantang, seraya berlari menghampiri Chris, sedangkan Archie, anak berjalan santai bersama kedua orang tuanya namun tak lupa dengan senyum manis yang mampu membuat siapa saja menginginkannya.


"Sayang, kemari nak. Temani Bibi menunggu Paman kalian pulang." Chris merentangkan kedua tangannya lebar, untuk menyambut pelukan dari keponakannya. Detik berikutnya, Archie pun menyusul masuk dalam pelukan Bibinya.


Tidak jauh dari mereka Zach dan Celo kini sudah bergabung bersama orang tua mereka. Mereka menatap sendu pemandangan Chris memeluk kedua bocah kembar itu.


***


Benar saja, Chris yang tiga hari ini selalu murung dan tidak pernah tersenyum juga tatapan kosongnya, kini bisa tersenyum kembali bahkan ia tertawa bersama dua keponakannya.


"Bagaimana sayang, kau setuju dengan usulan Mami?" Zach menggenggam jemari Celo, bukannya tidak mengizinkan hanya saja pria itu takut jika anak-anaknya akan rewel sebab belum pernah berpisah dari Ibu mereka.


"Celo setuju Dadd. Apapun itu asal Chris perlahan bisa melupakan kesedihannya. Celo tidak tega melihat Chris begitu, seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya." Celo yang tadi menatap sang suami, kini mengalihkan kembali tatapannya ke Chris yang sedang asyik bermain bersama kedua anaknya.


"Terima kasih sayang, kau memang berhati malaikat." Ungkap Mami yang selalu bangga akan kebaikan hati menantunya. Wanita yang telah menjadi nenek itu, berpindah duduk jadi disebelah Celo. Sementara Papi yang duduk tidak jauh dari mereka tidak bisa di tebak raut wajahnya.


***


"Apa? Kenapa bisa?" Bryan terkejut mendengar kabar melalui ponsel yang baru saja ia terima. Ia baru saja hendak membaringkan tubuhnya di ranjang karena waktu sudah menunjukkan jam tidur. Sementara Sesyil, wanita itu masih duduk di meja rias untuk melakukan rutinitasnya memaksi cream wajah.


"Maaf Bry, Zach melarang kami mengabari mu karena kau masih dalam suasana pengantin baru juga perusahaan disana sedang mengalami guncangan sebab perubahan nilai mata uang." Jelas Eric yang ternyata menghubungi Bryan.


"Tapi aku juga harus tau, aku juga bagian dari kalian bukan." Bryan semakin menegakkan tububnya, sebelah tangannya meremas erat alas kasur yang saat ini ia duduki. Terlihat juga matanya memerah karena menahan laju air mata yang akan turun.


Sesyil memerhatikan suaminya melalui cermin meja rias. Ia penasaran, pembicaraan apa sampai membuat Bryan bersedih sampai demikian. Ia belum mau bertanya karena pasti akan mengganggu komunikasi suaminya itu dengan orang diseberang sana.


"Ya, aku tau bagaimana perasaan mu Bry. Tapi semua sudah terjadi." Suara Eric terdengar lirih, pria itu juga sama dengannya. Sama-sama kehilangan sahabat yang sudah seperti saudara sendiri bagi mereka.


"Tapi, bagaimana bisa? Apa yang terjadi Ric?"


"Dia kecelakaan. Saat berhenti di rest area, tiba-tiba saja sebuah truck kehilangan kendali lalu menghantam mobilnya. Mobilnya terseret cukup jauh, dan,- dan Shane kehilangan nyawanya saat itu juga." Terang Eric singkat, jelas terdengar duka masih pekat dari nada bicaranya.


"Aku akan ambil penerbangan pagi besok."


"Tidak Bry,-" Eric akan melarang, namun dengan cepat Bryan menyelanya.


"Aku juga ingin mengucapkan selamat tinggal Ric. Untuk selamanya." Bryan menyerah, setetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Bersamaan dengan itu panggilan mereka berakhir.


Sesyil menghampiri suaminya dengan gerakan pelan dan diam tanpa suara. Di rengkuhnya kepala pria itu untuk di benamkan di dadanya, karena posisinya yang berdiri tepat di tepi ranjang. Sebelah tangannya untuk memeluk, sementara sebelah lagi ia gunakan untuk mengusap-usap lembut punggung sang suami.


"Hikss…." Isakan kecil keluar dari bibir Bryan, ia melupakan rasa malunya, toh Sesyil istrinya. Wanita yang telah berjanji untuk menerima keadaannya apapun itu.


▪︎▪︎▪︎


jangan lupa dukungannya ya teman-teman, berikan VOTE, LIKE juga tinggalkan COMMENT kalian.


bagi yang belum mampir, silakan baca Season 2 nya, disana menceritakan kehidupan anak-anak mereka. bagiamana jika putra Celo bertemu dan menjalin hubungan dengan putri Melodi, orang yang pernah mengacau rumah tangga mereka?


ada juga "ISTRI SIMPANAN DOKTER TAMPAN" cast nya, masih berhubungan dengan Season 2. silakan mampir, lumayan buat nunggu Novel Favorites kalian Update.


ikuti juga saya di IG @areumkang16


TERIMA KASIH