
■■■■
Terkadang Celo merasa dunia tak adil padanya, kenapa tuhan memberi kehidupan yang keras padanya? Namun ia tak boleh mengeluh, ia yakin diluar sana masih lebih banyak orang yang jauh lebih kurang beruntung darinya.
"Lima hari lagi aku akan menikah, bagaimana aku akan memberitaukan nenek dan ayah? Mereka pasti akan terkejut sekali nanti." Bukan apa-apa, tapi semenjak ia bertemu Zach ia selalu merasa kebingungan.
"Bagaimana ini? Apa aku bertanya pada bibi kedai saja? Tapi bagaimana jika bibi akan berpikiran yang tidak-tidak tentangku? Aduh…benar-benar pusing jadinya." Dia sudah hampir seperti orang gila bicara sendiri, bibi kedai yang melihatnya hanya geleng-gelang kepala melihat tingkahnya.
"Nak, kau kenapa? Bibi perhatikan dari tadi kau seperti sedang ada masalah? Mau cerita pada bibi?" Bibi coba menanyakan masalah yang dihadapi Celo, karena anak itu tak terlihat seperti biasanya.
"Mm…anu.. itu-" dia nampak ragu untuk bercerita.
"Tidak apa-apa, mana tau bibi bisa membantumu. Kau tau sendiri bukan kau sudah bibi anggap sebagai pengganti putri bibi yang sudah lama meninggal." Digenggamnya tangan Celo erat.
"Terimakasih bibi. Mm…begini bi, Celo akan menikah lima hari lagi. Tapi Celo bingung bagaimana akan mengatakannya pada ayah dan nenek, Celo takut mereka akan terkejut."
"Menikah? Tapi dengan siapa? Kenapa begitu mendesak?" Bibi kedai saja yang mendengarnya sangat-sangat terkejut apalagi nenek dan ayahnya.
"Hahh…itulah kenapa Celo ragu untuk mengatakannya."
"Baiklah coba ceritakan pada bibi apa yang sudah terjadi?"
"Celo akan menikah dengan pria yang memenjarakan Celo kemarin lusa bi."
"Kenapa bisa?"
"----" Celo pun menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya tanpa terlewat satupun.
"Celo, sungguh malangnya nasibmu nak. Bibi tak habis pikir pria itu begitu tega memanfaatkanmu." Bibi kedai merasa sangat geram akan perlakuan Zach pada Celo.
"Sudahlah bi, mungkin ini memang sudah takdir Celo. Asal nenek dan ayah bisa hidup nyaman Celo rela melakukan apa saja. Toh Celo menikah bukan jadi simpanan atau jadi pekerja malam."
"Ya. Kau benar nak. Apapun yang akan terjadi kelak bibi akan selalu ada untukmu." Ya. Anak ini benar-benar luar biasa disaat umurnya yang sekarang ia harusnya menikmati kebebasan bukan menanggung beban yang seberat ini.
"Terimakasih bibi…" Celo menghambur dalam pelukan bibi yang sudah dianggap sebagai ibu olehnya itu.
°°°°
Usai minta maaf pada Eric Zach akhirnya bisa bernafas lega. Bukannya ia takut pada Eric namun ia sangat menghargai persahabatan mereka terlebih lagi Eric sering membantunya menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan dunia malam. Setiap pebisnis pasti akan mengalaminya, contohnya saja ketika papinya diserang oleh seseorang.
Zach sampai di kediamam Alterio dengan wajah yang sedikit ditekuk, sebenarnya ia tak habis pikir kenapa semua orang menganggap Celo tak pantas untuk dijadikannya sebagai pengganti. Apa kelebihan yang dimiliki gadis itu, sehingga semua menyukainya?
Baru beberapa langkah saja memasuki rumah Zach melihat maminya sedang duduk disofa tamu.
"Ahh… pasti ada sesuatu lagi" gumamnya, lalu ia mengusap wajahnya sedikit kesal.
"Mami menunggu Zach?"
"Hehee…anak mami tau aja. Kesini sebentar nak, ada yang mau mami sampaikan." Mami meminta Zach duduk dekatnya.
"Apa yang mau mami sampaikan, ini udah malam mi." Ucapnya merengut.
"Ini tentang pernikahanmu. Apa tidak sebaiknya kau datang kerumah Celo dan melamarnya secara baik dan pantas"
"Tidak usahlah mi Zach malas. Toh inikan hanya sementara, hanya sampai melodi kembali lagi."
"Zachh…jadi pernikahan ini hanya sebuah permainan bagimu nak? Tak baik mempermainkan pernikahan, terlebih Celo, itu akan sangat merugikannya Zach. Kasihan dia!"
"Kasihan dari mananya mi?? Setelah Melodi kembali semua akan kembali keposisi seharusnya. Dan untuk Celo, Zach akan tetap memenuhi kebutuhan dia dan keluarganya. Apa yang salah sih mi??"
"Zach akan pastikan itu. Celo tidak akan pernah hamil anaknya Zach."
"Terserah kau sajalah Zach. Mami pusing jika harus selalu bertentangan denganmu!" Mami kemudian beranjak pergi dari sana, beliau berjalan menuju kamar dengan tangan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Celo lagi Celo lagi. Menyesal rasanya telah memakai gadis itu!! Arghh…" Zach yang kesal menendang kesembarang arah.
Zach juga melangkah kekamarnya, hari ini sangat-sangat menjengkelkan karena semua orang menentangnya.
°°°°
Rembulan berganti mentari, pagi menyambut Zach yang masih bergelung ditempat tidurnya. Rasanya malas sekali jika harus bangun apalagi turun kebawah sarapan bersama maminya. Bukan apa-apa ia masih merasa kesal dengan perdebatannya kemarin.
"Dasar anak durhaka kau Zach!! Harusnya kau tidak kesal pada mamimu sendiri, justru kaulah penyebab segalanya." Ia bergumam pada dirinya sendiri.
"Harrghh…. Sial…" dirinya bergegas kekamar mandi, Zach bertekad harus minta maaf pada maminya karena papinya selalu mengajarkannya untuk meminta maaf pada yang lebih tua. Apalagi ini maminya, ia akan habis jika papinya sampai tau.
Saat diruang makan, disana sudah ada mami dan papinya namun tidak ada adiknya karena dia masih berlibur.
"Pagi mi, pagi pi." Zach menghampiri kedua orangtuanya sambil mengecupnya.
"Hmmm…" hanya papi yang berdehem membalas sapaan putranya.
"Mih…Zach mau makan mi…" Zach coba berbaikan dengan maminya, tapi mami hanya diam saja namun tetap mengambilkan sarapan anaknya.
Papi yang sedari tadi memperhatikan merasa keheranan, tidak biasanya istrinya diam-diam begini. Jika sudah seperti ini pasti ia sedang marah pada anaknya.
"Hey…hey…ada apa ini? Tidak baik bersungut-sungut didepan makanan." Papi coba memperbaiki hubungan antara anak dan ibu tersebut.
"Hahh…mi…Zach minta maaf." Ucapnya dengan memelas.
"Hemm…"
"Maafkan Zach mi. Baiklah, Zach akan menuruti kemauan mami, Zach akan melamar Celo secara pantas. Tapi maafkan Zach mi."
"Zach, ini bukan masalah kau menuruti mami atau tidak. Juga bukan soal permintaan maaf, tapi ini tentang kebiasaan. Mami tidak mau jika kau tumbuh dengan keegoisan. Kau harus berpikir bijak dan belajar bertanggung jawab. Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan nak." Papi hanya diam dan menyaksikan interaksi antara anak dan istrinya, itulah yang membuatnya semakin mencintai istrinya caranya mendidik anak sangat patut dibanggakan.
"Ya mi."
"Jangan hanya berpikir mami mengekangmu nak, mami hanya ingin yang terbaik untukmu dan adikmu. Mami tidak mungkin menyesatkan kalian, kalian adalah nyawa mami nak." Perkataan mami di akhiri dengan derai air mata.
"Zach benar-benar minta maaf mi." Zack berdiri menghambur memeluk maminya.
"Zach sayang mami…"
"Papi juga mau dipeluk pagi-pagi gini…" papi tersenyum dan ikut memeluk anak dan istrinya.
"Kita harus selalu begini, Ingat pesan papi ya.." mereka saling berpelukan dipagi yang cerah ini.
"Jangan sakiti Celo ya nak. Posisikan dia diposisi mami dan Christa."
"Zach akan coba mi."
Sebagai seorang trilioner dan sebagai kepala keluarga papi Zach, John Rivera Alterio memanglah seorang pria yang hebat.
■■■■