Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Bryan-Sesyil



▪︎▪︎▪︎


Usai pesta kecil-kecilan putra kembar Zach, Bryan kembali ke hotel. Pria itu berjalan menuju kamarnya, seperti hotel kebanyakan, setiap kamar akan melalui lorong-lorong yang temaram karena sudah malam. Tinggal melewati beberapa pintu lagi, Bryan akan sampai di kamarnya.


Masih melanjutkan langkahnya, Bryan melihat tepat di hadapannya seorang wanita tengah diseret paksa oleh pria yang nampak seumuran dengannya.


"Lepp-ashh kan sayy-ya...ttoolong. siapapun tolong saya." Teriak wanita itu yang terus mempertahan posisinya agar pria itu tidak berhasil membawanya dan melakukan hal buruk padanya.


"Diam!! Kau pikir ada yang akan menolong mu hah? Ini hotel, bisa saja aku mengelak dengan mengatakan bahwa kau adalah j***ng yang sudah aku bayar Nona!" Bentak pria itu pada si wanita.


"Tidak Tuan, saya mohon jangan bawa saya."


Awalnya Bryan tidak peduli, tapi karena suara wanita itu sangat mirip dengan seseorang maka ia putuskan untuk menghampiri mereka terlepas dari apa hubungan sepasang manusia itu.


"Maaf Tuan, sebaiknya anda hentikan? Apa anda tidak lihat bahwa pasangan anda tidak menginginkannya?" Bryan semakin mendekat bermaksud untuk memastikan sesuatu.


"Siapa kau? Ah, ada yang mau jadi pahlawan disini rupanya. Pergi atau ku habisi kau!!" Bentaknya yang sayang tidak membuat Bryan gentar sama sekali.


"Heh," jelas sekali Bryan mencibirnya, perlahan ia mendekati pria itu dan berbisik.


"Eric Adinatama, kau bisa tau aku dari dia." Bisik Bryan, yang lebih terdengar menakutkan. Meski temaram, Bryan bisa jelas melihat wajah pucat pria itu. Tidak mau mengambil resiko, secepatnya ia angkat kaki dari tempat itu.


"Anda tidak apa-apa Nona?" Bryan lebih mendekat lagi ke wanita itu.


"Tte-rimma kasihh Ttuan. Maaf, ss-aya harus perg-gi." Sautnya bergetar ketakutan.


"Tunggu. Mau lari kemana lagi kau Se?" Tukas Bryan yang sudah sedari awal mengenali gadisnya meski tidak melihat jelas wajahnya, ia bisa mengenali siluetnya. Begitu pun Sesyil, gadis itu juga tau jelas bahwa pria itu ialah pria yang sangat ia cintai dan ia tinggalkan begitu saja melalui bau tubuhnya.


***


Sedikit paksaan, Bryan berhasil membopong gadisnya ke kamar yang ia tempati selama beberapa hari disini. Sedangkan sesyil, bukannya ia tidak berusaha menolak, tapi memang tenaga Bryan berkali lipat lebih kuat darinya.


"Kenapa kau bawa aku masuk ke sini B? Bagaimana jika istri mu tau dan berpikiran bahwa aku menggoda mu?" Pekiknya begitu Bryan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Hah. Aku benar-benar tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut mu Se. Apa sebegitu buruknya aku di mata mu heh?" Pria itu marah, tapi sorot matanya lebih menyiratkan kekecewaan yang dalam.


"Kenapa ia begitu terluka? Apa ia sedang bermasalah dengan istrinya?" Tanya Sesyil dalam hati.


"Kemana saja kau selama ini? Enam tahun Se. Nyaris enam tahun aku mencari mu seperti orang gila." Bentaknya kasar. Amarah kecewa dan sedih semua menjadi satu.


"Tentu saja kau gila! Bagaimana bisa kau masih mencari mantan kekasih mu disaat kau sudah memiliki istri, apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanyanya?" Masih dengan kesalah pahaman, Sesyil mencerca Bryan dengan kalimat yang sama sekali pria itu tidak pahami.


"Mantan kekasih? Hanya kau yang memutuskan, tapi tidak dengan ku!!" Jika saja kamar hotel tidak didesain kedap suara mungkin semua orang akan mendengar semua pertengkaran mereka.


"Kau benar-benar egois Bry, lepaskan aku, berbahagialah bersama istri dan anak-anak mu." Sesyil hendak berdiri tapi Bryan menahannya malah menariknya hingga membuat gadis itu kembali terduduk.


"Istri lagi, istri lagi!! Apa yang sebenarnya kau bicarakan Hah!!" Malam itu mereka berbicara dengan saling membentak satu sama lain.


"Siapa yang menikah? Siapa yang menjadi istri ku? Apa karena kesalah pahaman yang tidak aku ketahui kau meninggalkan ku Se?" Suaranya mulai melunak.


"Jawab!!" Karena tak kunjung di jawab Bryan kembali meninggikan suaranya. Sesyil yang sedari tadi menunduk mendongakkan kepalanya, membuat tatapan mereka bertemu.


"Kau dan Christa." Jawabnya tanpa memutus tatapan mata mereka.


"Heh, ya Christa menikah. Tapi bukan dengan ku, tapi dengan Shane." Bryan menjawab dengan menyembunyikan senyumnya.


"Tapi waktu itu-" ia mulai menceritakan kejadiannya.


Flashback


"Sesyil, kau ikut melayani tamu undangan pernikahan Nona Alterio ya karena kita kekurangan orang." Ujar manager Hotel tempat Sesyil bekerja.


"Baik Nyonya." Tanpa curiga ia menerima tugasnya, karena ia juga lupa bahwa Alterio adalah nama keluarga Besar Zach suami Celo.


Sampai acara di mulai, Sesyil tidak sengaja melihat Bryan menggandeng Chris keluar dari salah satu kamar, terkejut tentu saja. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain dan bukan dirinya.


"…." Tidak sanggup lagi, ia meneteskan air mata dan kabur dari pekerjaannya.


"Semoga kau bahagia Bryan." Ucapnya tulus disepanjang langkahnya pergi dari sana.


Flashback off


"Bodoh. Hahaha.." Bryan malah tertawa dan mengejek Sesyil.


"Kenapa kau tertawa? Kau jahat B." Ia memukul dengan keras lengan besar pria yang masih dicintainya itu.


"Hahaha.." masih saja ia melanjutkan tawanya.


"Diam B! Diam!!" Sekuat tenaga ia mendorong Bryan hingga tersungkur ke lantai.


"Wauw, lama tidak bertemu kau semakin kuat saja ya. Kalau begitu kau pasti kuat juga melayani ku disini." Dengan kurang ajarnya Bryan menepuk kasur yang sedang mereka duduki.


"Mesum!!" Pekik Sesyil menjauhkan tubuhnya.


"Pantas saja aku seperti melihat mu hari itu." Gumam Bryan pelan tapi masih dapat didengar Sesyil.


"Kenapa kau meninggalkan ku waktu itu?" Cukup lama mereka terdiam, Bryan kembali menanyakan alasan gadis itu meninggalkannya dan ia harus tau itu.


Sesyil mulai menceritakan segala apa yang dilihatnya hari itu di kamar inap Chris. Dari ia datang lalu melihat Bryan menarik Chris untuk di ciumnya.


"Maafkan aku, memang benar aku menciumnya. Tapi itu hanya untuk memastikan apa yang kurasakan terhadapnya, tidak lebih. Harusnya kau lihat dan dengar sampai akhir, atau setidaknya kau tanyakan pada ku." Jelas Bryan pelan mengusap wajah gadis yang digilainya itu.


"Maaf B. Maaf karena sudah salah paham dan meninggalkan mu." Setetes cairan bening lepas begitu saja dari pelupuk matanya.


"Jangan menangis. Aku akan terluka nantinya." Penub kasih di hapusnya air mata itu.


"Sebenarnya alasan kepergian ku bukan hanya itu. Aku tidak siap jika kau tau siapa aku sebenarnya, aku hanya anak yang tidak diinginkan lalu dibesarkan di panti asuhan. Sementara kau, kau pria hebat dan berkedudukan, aku takut jika hanya dipermainkan oleh mu. Lalu, setahun setelah itu, aku mendapat kabar bahwa orangtua kandung ku ada di negara ini. Itulah sebabnya aku disini sekarang dan bekerja di hotel ini." Tak ada lagi yang disembunyikan Sesyil hingga semua beban itu hilang begitu saja.


"Lalu bagaimana orang tua mu?" Bryan meresapi setiap cerita gadisnya


"Mereka tidak mau menerima ku." Sautnya lirih.


"Belum. Karena tidak ada orangtua yang tidak menerima anak mereka." Ucapan Bryan menenangkan Sesyil.


"Kau tau Se, mungkin ini yang dinamakan jodoh. Setelah semua kesalah pahaman kita dan setelah sekian lama kita terpisah, Tuhan akhirnya mempertemukan kita lagi. Lewat semua perjalanan dan juga kesamaan nasib kita." Sesyil mengernyit heran. Ia menunggu penjelasan lanjutnya.


"Kau salah besar Se, hanya saja aku sedikit lebih beruntung karena bertemu Zach, ia mengangkat dan membimbing ku sampai akhirnya aku sampai di titik ini. Orangtua ku entahlah, apa mereka itu ada atau tidak."


"Satu hal yang harus kau tanamkan diotak dan hati mu, tidak ada wanita lain hanya kau seorang. Aku rela mencari bahkan menunggu mu selama ini, selama apapun." Bryan melanjutkan kalimatnya.


"Bryan…"


"I love you Nona Sesyil."


"I love you more Tuan Bryan." Tidak tau siapa yang memulai, kini bibir mereka saling menyatu dan me****t bergantian.


"Nona Sesyilia, maukah kau menikah dengan ku?" Disela ciuman lembut mereka, Bryan melamar Sesyil. Ia harus cepat atau gadis itu akan kabur lagi.


"B, ini terlalu cepat. Beri aku waktu." Pintanya, ragu.


"Sekarang, atau tidak sama sekali." Dengan yakinnya, Bryan mendesak gadis yang dicintainya itu.


"B, aku, aku, maaf tapi aku-"


▪︎▪︎▪︎