Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Jangan membelanya



▪︎▪︎▪︎


Petang hari, kediaman Bryan tampak sepi. Sesyil sedang beristirahat di kamar mereka sedangkan Bryan pergi ke kedai kopi mereka. Sementara Zach ia kembali ke kota untuk membantu Felix yang kerepotan dan sering mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang ia handle sendiri. Untuk Chris, ia sengaja Zach titipkan di rumah Bryan guna meluruskan permasalahan yang diciptakan Ayah mereka.


Saat ini, wanita itu tengah duduk di teras depan rumah sembari menyaksikan anak-anak kecil yang asyik bermain. Tangannya dengan setia mengusap lembut perutnya dan terkadang mengajak calon anaknya itu berbicara.


Dari kejauhan penglihatan Chris menangkap sosok Bryan yang datang menggunakan sepeda motor. Segera ia mengulum senyum manakala Bryan memasang wajah masam saat bertatapan dengan tidak sengaja. Pria itu sudah memberhentikan sepeda motornya tepat di halaman depan, kemudian melangkah memasuki rumah.


"Hai Bry," sapa Chris kaku bak dua orang yang baru saja saling mengenal.


"Untuk apa kau disini? Kenapa tidak ikut dengan Zach saja ke kota?" Bryan menyahuti tanpa menatap lawan bicara, ia memunggungi Chris karena tadi pria itu sudah beberapa langkah untuk masuk ke dalam rumah.


"Maaf." Imbuh Chris dengam suara nyaris berbisik dan kepala tertunduk dalam.


"Untuk apa?"


"Untuk segalanya Bry. Tolong maafkan aku juga Papi." Chris mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk, mencari tau bagaimana reaksi pria yang pernah ia cintai itu.


"Apa dengan maaf, semua akan kembali seperti sedia kala lagi? Aku sudah terlanjur kecewa, dan juga calon anak kami tidak akan pernah kembali lagi." Ujar Bryan sarat akan sindiran.


"B-Bry,-"


"Sebaiknya kau kembali ke kota. Aku akan minta Felix untuk menjemput mu kemari." Setelahnya Bryan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Chris sendiri dengan tangisnya.


"Argh…auwhh…s-ssakit. Kau kenapa sayang?" Chris meraba sekitar mencari apa saja untuk ia gapai, ia mendudukkan tubuhnya setelah meraih tangan kursi rotan yang semula ia tempati.


"Huf…huf…" Di aturnya nafas dengan tangan mengusap-usap perutnya untuk menenangkan calon anaknya yang entah kenapa.


"Kenapa sayang? Ashh…." Ringisan kecil kembali terdengar manakala rasa keram di perutnya tak kunjung mereda.


Chris menggigit kuat bibir bawahnya menahan sakit juga nyeri, peluh pun sudah membanjiri kening hingga lehernya.


"Astaga Chris! Kau kenapa?" Sesyil berniat untuk menemani Chris terkejut melihat kondisi wanita itu yang melawan rasa sakit seraya tangannya memegangi perut.


***


"Kasihan sekali Chris jika sampai kehilangan anaknya." Lirih Sesyil duduk di depan ruang tunggu dimana Chris di tangani. Ya, mereka membawa wanita itu ke klinik modern yang kebetulan tidak jauh dari rumah mereka.


"Itu semua karma, karena keegoisannya kita sampai kehilangan calon anak kita." Bryan berucap geram di samping sang istri. Sorot matanya menggambarkan kebencian.


"Tidak Bry, kau salah. Chris sama sekali tidak tau menau perihal permintaan Paman pada kita." Sesyil tidak terima jika Chris di tuduh demikian oleh suaminya. Perasaan sesama wanita membuatnya iba dengan kondisi Chris saat ini, hamil tanpa di dampingi seorang suami yang kini telah berada di surga.


"Apa maksud mu Baby? Jangan membelanya." Bryan menoleh menatap Sesyil, mengernyitkan kening heran.


Flashback


Memasuki waktu makan siang, Sesyil sibuk berkutat di dapur dengan di bantu Bibi Wu. Sementara semua orang telah pergi dan Chris tengah beristirahat di kamar tamu yang telah di siapkan.


"Hai Se, sedang menyiapkan makan siang?" Chris melangkah mendekati Sesyil kikuk.


"Ya. Ehm, maksud ku tidak terlalu." Chris mengusap tengkuknya malu. Kini ia berdiri tepat di samping Sesyil, tangannya meraih beberpaa sayuran dan akan memotongnya namun terhenti.


"Bolehkan aku membantu mu?" Tanya Chris memastikan.


"Tentu saja. Kita akan lihat bagaimana jika dua resep di gabungkan dalam satu makanan." Seloroh Sesyil semangat.


"…." Sedang Chris hanya tersenyum melihat kehangatan yang di lemparkan Sesyil padanya. Wanita itu sama sekali tidak menyimpan rasa benci terhadapnya.


Dua jam berkutat di dapur, kini kedua wanita yang sama-sama tengah hamil itu menikmati makan siang bertiga dengan Bibi Wu. Sesekali mereka tertawa entah membicarakan hal apa.


Selepas menikmati makan siang, Sesyil mengajak Chris ke taman belakang untuk menikmati udara segar. Ia menunjukkan kepiawaian berkebunnya yang di ajarkan oleh Celo.


"Mm…Se, aku mewakili Papi minta maaf yang sebesar-besarnya dan juga atas nama diri ku sendiri. Aku juga turut berduka atas kepergian calon anak kalian." Sesyil menunduk sedih, dari nada suaranya bisa di nilai jika ia amat menyesal atas segalanya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan Chris, yang lalu biarlah berlalu. Toh aku masih tetap bersama dengan Bryan, dan aku juga minta maaf soal itu. Aku tidak bisa melepas Bryan untuk kedua kalinya." Terang Sesyil. Ia menjaga kata-katanya agar tidak menyinggung wanita itu.


"Aku mengerti itu. Sejujurnya saja, aku tidak mengetahui tindakan Papi ini, Beliau salah menyimpulkan jika aku masih mencintai Bryan. Namun, aku sepenuhnya juga tidak menyalahkan Papi, karena beliau melakukannya semata karena menyayangi ku. Walau caranya salah. Sekali lagi maafkan aku dan Papi." Chris menjelaskan.


"Maksud mu? Bukan kau yang meminta Paman melakukan ini?" Sesyil cukup terkejut akan penjelasan Chris, tapi ia juga tau bahwa wanita itu jujur, terlihat jelas dari sorot matanya.


"Bagaimana mungkin aku menikah lagi dengan pria lain sementara aku baru saja kehilangan suami. Terlebih aku sangat mencintai Kak Shane, san selamanya akan seperti itu. Tidak ada niat sedikit pun untuk ku mencari penggantinya." Air mata meluncur begitu deras dari wajahnya. Ia akan jadi sangat emosional jika membahas mendiang sang suami, Shane.


"Chris…" Sesyil beralih ke samping Chris, mendekap wanita itu dan menenangkannya.


"Aku tau kau kuat. Kau harus bertahan demi anak kalian." Lirih Sesyil tepat di telinga Chris, yang di angguki olehnya.


"Terima kasih. Sekali lagi, aku minta maaf untuk anak kalian. Aku sangat paham bagaimana rasanya kehilangan anak yang bahkan kita sama sekali belum melihat rupanya." Lagi, kenangan buruk kembali memenuhi benak Chris.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, Tuhan sudah mengirimkan gantinya untuk kami." Sesyil mengurai pelukan mereka. Ia mengusap air mata Chris dengan ibu jarinya sembari senyum.


"Apa maksud mu?"


"Ya. Aku sedang hamil sekarang, sudah bulan ke tiga." Aku Sesyil, tidak mau Chris terus merasa bersalah.


"Selamat Se. Selamat atas kehamilan mu." Chris begitu bahagia hingga ia kembali memeluk Sesyil.


"Terima kasih."


Flashback off


"Kita tidak punya hak menghakimi Chris maupun Paman Bry. Paman melakukan itu karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Sementara Chris, ia juga tidak ingin hal serupa ini menimpa hidupnya. Wanita mana yang ingin kehilangan suaminya terlebih di saat ia hamil." Sesyil menggenggam kedua tangan Bryan dengan kedua tangannya. Meyakinkan sang suami untuk menghapuskan rasa kecewanya itu.


"Maafkanlah mereka Bry."


▪︎▪︎▪︎▪︎