
●●●●
Sudah beberapa hari berlalu semenjak Zach menemani istrinya membeli bibit bunga. Sejak saat itu pula lah wanitanya itu tak lagi kebosanan karena ia punya kegiatan baru sekarang. Dan juga Zach mencarikan seorang Bibi untuk menemani dan membantu Celo meringankan pekerjaan rumah yang tentunya beliau juga harus bisa berkebun.
Tak tanggung-tanggung, Celo bukan hanya menanam bunga. Tapi ia juga menanam beberapa sayuran dan juga cabai, menantu keluarga Alterio itu kini benar-benar berkebun.
"Bagaimana tumbuhan cabai mu?" Zach selalu saja menanyakan perkembangan tumbuhan yang ditanam istrinya itu. Zach mau supaya istrinya itu tetap semangat dengan adanya dukungan dari suaminya.
"Mm...sudah mulai keluar tunasnya Mas. Celo jadi tidak sabar untuk melihat hasilnya." Serunya penuh semangat.
"Baguslah. Habis ini ikut lah bersama Mas ke kantor." Ajak Zach pada Celo.
"Kenapa? Apa ada sesuatu terjadi?" Ujar Celo penasaran.
"Tidak ada sayang, tenang saja. Mas cuma mau di temani oleh istri Mas yang cantik ini." Zach mencubit gemas hidung Celo.
"Mmm….baiklah. kalau begitu Celo bersiap dulu." Baru akan beranjak Zach menahan tangannya.
"Kenapa Mas?"
"Pakai dress yang cantik ya sayang, ini hari spesial untuk mu." Pernyataan Zach barusan membuat Celo jadi penasaran.
"Mmm….baiklah." tak mau banyak bertanya Celo hanya menuruti perkataan suaminya saja.
Selama di perjalanan dalam mobil Zach selalu saja menggoda istri kecilnya. Sungguh hari ini Celo sangatlah manis hampir saja Zach batal membawanya karena tak mau berbagi kecantikan istrinya pada lelaki diluar sana, tapi karena ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Celo ia terpaksa harus mengikhlaskan nya.
"Sayang, kalau tidak bersama Mas, jangan berdandan cantik seperti ini ya." Zach selalu menggenggam tangan Celo jika pergi bersama. Ia seperti istrinya itu akan ditarik pergi oleh seseorang saja jika ia melepasnya.
"Tentu saja Mas, seorang istri akan berdandan agar tampil cantik didepan suaminya dan Celo hanya akan berdandan untuk Mas." Tersirat jelas kejujuran dan kesungguhan disana.
"Terima kasih sayang." Kali pertama Zach mengucapkan terima kasih dan itu kepada istrinya, Celo.
••••
Zach memberhentikan mobilnya di parkiran khusus dewan direksi kantor. Seperti biasa ia akan selalu berlaku romantis pada istri kecilnya.
"Sayang ayo." Ia mengulurkan tangannya untuk digenggam Celo karena wanita itu urung untuk turun dari mobil.
"Apa tidak apa-apa Mas? Celo takut akan membuat Mas malu nanti." Akhirnya ia mengungkapkan keraguan yang sedari tadi meliputi hatinya.
"Malu kenapa? Coba Mas lihat." Ia menarik istrinya keluar lalu memutar tubuh Celo seakan memeriksa apa yang salah.
"Tidak ada yang salah. Apa yang kau takutkan heum?" Zach meraih dagu istrinya supaya mudah untuk bersitatap.
"Lihatlah penampilan Celo, Celo takut orang akan mencemooh Mas karena kampungan. Atau Mas diam saja, jangan sampai ada yang tau kalau Celo itu istri Mas." Ia mengulum senyum setelah tatapan Zach menusuknya.
"Dengar, kau sekarang nyonya Alterio. Tidak peduli apa pun kata orang, kau adalah istriku dan kau hidup dengan ku bukan dengan mereka. Mengerti nyonya." Zach gemas dengan Celo yang terlalu polos.
"Mass….maaf."
"Ya sudah. Kita kesini bukan untuk menunjukkan kesedihan mu, tapi untuk menemani suami mu bekerja."
"Baiklah Mas."
Mereka berjalan bersisian dengan satu tangan Zach merangkul mesra pinggang ramping Celo. Begitu masuk, semua fokus tertuju kearah mereka. Bagaimana tidak, pagi ini Bos mereka membawa seorang wanita dan itu sangat mesra.
Tak sedikit sapaan untuk Zach dan juga tatapan iri dan mengolok dari para karyawan wanita disana, namun ada juga yang penasaran dan bertanya-tanya.
Zach sengaja menggunakan lift karyawan biasa karena ia ingin memperkenalkan istrinya dengan cara yang tak biasa. Yaitu melalui gunjingan para karyawan yang sangat suka bergosip. Kebetulan sekali pagi itu lift sangat padat akan karyawan yang baru saja berdatangan.
Ting
Pintu lift kembali terbuka tatkala ada satu orang lagi yang hendak masuk.
"Heh…Bos, kenapa kau menggunakan lift karyawan?" Bryan terkejut melihat Kakak angkatnya berada disana, karena tak biasanya seperti itu.
"Eh…tunggu! Kakak ipar? Kenapa ada disini juga?" Keterkejutan Bryan bertambah mana kala ia melihat Celo ada disana.
"Bu-bukkan begittu Bry." Gugupnya.
Tak lama terdengar kasak kusuk dari orang-orang disekitar mereka tak lain adalah karyawannya.
"Ehemm…lalu kau sendiri kenapa di lift ini sekarang? Bukannya kau ya yang suka bermain dengan bawahannya?" Seketika Bryan terdiam, karena kedoknya yang suka menggoda para gadis ketahuan.
"Santai Bos, itu wajar aku single. Sedangkan kau Bos, kau sudah beristri, cantik pula." Cibir nya.
Ting
"Sudahlah." Begitu pintu lift terbuka Zach membawa istrinya keluar dari sana dengan tangan yang masih setia dipinggang Celo begitu pula Bryan, ia juga mengekor Bos dan istrinya tersebut.
Baru dua langkah kaluar, seperti dugaan Zach para karyawan yang bertemu mereka tadi lansung saja bergosip.
"Heh apa kalian dengar tadi, Tuan Zach sudah menikah dan wanita tadi istrinya."
"Iya. Tapi sepertinya wanita itu bukan berasal dari kalangan atas, lihat saja gayanya itu."
"Tapi dia cantik kok. Dan juga sepertinya tuan Bryan juga dekat dengannya, buktinya wanita itu hanya menyebut nama tuan Bryan seperti panggilan tuan Zach untuk tuan Bryan."
Begitulah sekiranya gunjingan mereka, ada yang berpandangan positive dan tak sedikit pula yang berpandangan negative.
••••
"Sayang tunggu disini sebentar ya, Mas mau menemui Bryan dulu." Zach meninggalkan istrinya sebentar di ruangannya.
"Wahh…besar sekali ruang kerja Mas Zach. Mari kita lihat-lihat sejenak." Celo beranjak dari duduknya dari sebuah sofa yang ada diruangan suaminya.
"Rapi sekali semuanya, ciri khas Mas sekali." Celo terus menelusuri ruangan itu, sampai terdengar suara ketukan dari arah luar dan menampakkan seorang wanita.
Celo menoleh dan pas sekali tatapannya bertemu dengan wanita itu.
"Maaf nona, anda siapa? Anda tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan orang, apalagi anda orang asing." Ujarnya dengan sedikit kasar.
"Siapa bilang saya orang asing? Lagi pula dari mana salahnya jika saya masuk ke ruangan suami saya sendiri." Celo terbawa kesal jadinya.
"Suami? Hello nona, ini sudah siang silakan anda bangun dari tidur anda dan tinggalkan ruangan ini segera sebelum saya panggil security." Ucapnya pongah.
"Ya, saya Nyonya Alterio. Anda sendiri siapa?" Celo membalikkan pertanyaan wanita itu.
"Jangan mengada-ada No-"
"Dia benar." Zach tiba dari arah belakangnya di ekori oleh Bryan.
"Tu-ttuan Zachery."
"Apa yang salah dwngan istri saya Nona Gwen?" Tatapan Zach sungguh sangat mematikan.
"Mmaaf Nyonya saya tidak tau." Ucapnya seraya menahan malu.
"Sudah sana keluar. Lain kali biasakan lah berbicara sopan kepada setiap orang agar kau tidak dipermalukan lagi." Usir Bryan disertai cemoohan nya.
Seperti pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Namun tetap saja sopan santun adalah yang paling utama. Kemana pun kita pergi jagalah kesopanan kita terlebih lagi jika kita berkunjung ke negeri orang.
●●●●
Teman-teman mampir juga yuk ke judul baru saya "UNEXPECTED LOVE"
berikan dukungannya ya teman-teman..
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Tetap jaga kesehatan ya semuanya.