Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Janji yang sudah terlambat



■■■■


Malam ini Celo dan Zach sudah sah dan resmi jadi sepasang suami istri. Sesampainya di kota nanti Zach akan mendaftarkan pernikahan mereka ke pengadilan agama. Zach tidak ingin mereka hanya menikah dibawah tangan saja atau hanya sah dimata agama, ia juga tak mau jika Celo akan berpikir bahwa pernikahan mereka cuma sekedar main-main.


Celo mencium tangan Zach sebagai bentuk pengabdiannya pada sang suami. Sementara Zach untuk pertama kalinya ia mengecup kening Celo.


Tak ada tamu undangan, gaun pernikahan dan juga pelaminan. Pernikahan mereka hanya dihadiri oleh Bibi sebagai saksi dipihak wanita dan Bryan saksi dipihak pria. Yang berbeda kali ini adalah sebuah cincin berlian nan indah sebagai mas kawin yang nyatanya memang dikhususkan untuk Celo, bukan cincin milik Melodi.


"Silakan masuk. Maaf, beginilah keadaan rumahnya. Tadi Celo sudah sempat membersihkannya, jadi sudah bersih dan bisa untuk ditempati." Celo mengajak semuanya untuk menginap di rumah kecilnya. Tidak mungkin jika Bryan dan Bibi kembali ke kota saat malam hari sedangkan Zach, ia tak tau harus bagaimana mengatakannya.


"Tidak apa-apa nak. Dari pada harus kembali malam ini juga." Bibi tersenyum seraya mengusap pelan wajah Celo.


Zach, pria itu masih saja diam, bukan karena dia tidak suka apa lagi menyesal. Pria itu hanya masih bingung saja, bagaimana harus memperlakukan Celo, istrinya kedepannya.


"Mm…maaf..kamar disini hanya ada dua." Celo bingung harus bagaimana.


"Tenang saja nona saya bisa tidur dimana saja." Ucap Bryan dengan jengkel.


"Atau begini saja, Celo akan tidur bersama Bibi. Mas dan teman mas bisa tidur dikamar satunya lagi." Celo pikir itulah jalan tengahnya, ia juga masih canggung jika harus satu kamar bahkan satu ranjang dengan Zach.


"Eii…mana boleh begitu." Sanggah Bibi.


"Tidak masalah bi." Kali ini Zach yang menjawab.


Mereka semua beristirahat di kamar yang tersedia, di akui semuanya mereka sangat lelah. Dalam sehari ini mereka sama-sama menempuh perjalanan jauh, meski berbeda waktu dan terpisah.


"Mmas, ini selimutnya. Maaf jika sempit dan tidak nyaman." Celo masuk ke kamar yang ditempati Zach dan Bryan setelah sebelumnya mengetuk pintu dan di persilakan Zach dari arah dalam.


"Tak apa. Tidurlah, kau juga pasti sudah lelah." Zach mendekati Celo dan mengusap pucuk kepalanya. Celo hanya membalas dengan senyum lau berlalu keluar, sementara Bryan sudah tertidur karena terlalu lelah mungkin.


°°°°


Flashback


Terlihat seorang gadis tengah membersihkan debu-debu yang memenuhi sebuah rumah mungil. Meski hanya seorang diri tak mematahkan semangatnya untuk bekerja seorang diri. Celo hanya perlu membersihkan debu dan mengganti segala sesuatunya karena selama ditinggal ada tetangga baik hati yang secara rutin selalu mengecek keadaan rumahnya.


Ditengah kesibukannya Celo mendengar ada suara ketukan pintu. Ia berpikir mungki tetangganya, katanya mereka akan menemani Celo bebersih rumah.


Tok tokk


"Ya bi, sebentar…" segera Celo melepas apron dan masker mulutnya, ia bergegas menuju pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya Celo begitu melihat seseorang dihadapannya.


"Mas Zach." Sungguh, Celo tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Pria yang sangat ingin dijauhinya tiba-tiba saja berdiri dihadapannya.


"Ya ini aku. Kemana pun kau akan pergi kita akan tetap bertemu lagi. Jangan pernah pergi bahkan meninggalkan ku lagi Celo." Setelah ucapannya Zach merengkuh tubuh Celo, membawa kedalam pelukannya.


"Dari mana mas tau Celo di sini?"


"Tak sulit bagiku untuk menemukan mu." Jawaban Zach sangat dibenarkan Celo dalam hati, apa yang tak bisa didapatkan seorang Alterio. Mungkin hanya Melodi jawabannya.


"Silakan masuk dulu mas. Tidak enak dilihat warga sekitar, kita orang asing disini." Celo mempersilahkan Zach masuk kedalam rumahnya.


"Ada apa sampai mas menyusul Celo kemari? Bukankah semua sudah jelas kemarin." Tutur Celo begitu kembali dari arah belakang untuk menyuguhkan minuman untuk Zach.


"Bisa kita keluar sebentar? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Tanpa menjawab pertanyaan Celo, Zach malah mengajaknya pergi.


"Kemana? Jika kembali ke kota, Celo tidak bisa mas. Celo akan tinggal disini." Kekeh Celo.


"Tidak. Ke suatu tempat saja." Zach tarus saja membujuk Celo.


"Baiklah. Celo bersiap sebentar mas."


"Mmm…" sepeninggal Celo, Zach kembali menghubungi Bryan.


"Bagaimana? Apa semua sudah siap?"


"Sudah bos. Tapi apa kau yakin?"


"Ya. Ya. Ya…" Begitu mendengar jawaban dari orang kepercayaannya, Zach memutuskan sambungan panggilannya.


"Kau sudah siap?" Tanya Zach, melihat Celo keluar dari sebuah ruangan yang nampak seperti sebuah kamar.


"Sudah."


"Ayo…" Zach meraih tangan Celo untuk kemudian di genggamnya. Celo merasa terkejut dibuatnya namun tak munafik ia juga merasa senang, pipinya bersemu merah seperti buah tomat.


Lima belas menit perjalanan dengan mobil, Zach berhenti tempat disebuah bangunanan dimana tempat pasangan mengikat janji suci pernikahan.


"Ayo turun." Zach turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu lainnya untuk Celo.


"Tempat apa ini mas?" Gadis itu bertanya sambil matanya menatap ke sekeliling.


"Tempat kita akan menikah." Zach menatap Celo dalam.


"Mas. Kita sudah bicarakan ini semalam. Celo tidak bisa mas. Maaf…" Celo beranjak meninggalkan Zach.


"Izinkan aku menepati janji yang sudah terlambat ini. Aku akan menjaga mu selamanya, tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mu termasuk diriku sendiri." Tak tinggal diam, Zach mengungkapkan isi hatinya.


Celo yang baru beberapa langkah saja berjalan tiba-tiba berhenti mendengar perkataan Zach.


"Tapi kenapa harus menikah mas?" Tanya Celo tanpa membalikkan badannya ke arah Zach.


"Karena aku ingin kau selalu ada disamping ku dan selalu berada dalam jarak pandang ku." Zach menghampiri Celo dan memeluknya dari belakang.


"Celo Adhisti Horrace…maukah kau menikah dengan ku?" Zach membalikkan tubub Celo menghadap kearahnya dan menatap matanya. Pria itu melamar Celo saat mereka akan menikah nantinya jika Celo menerimanya.


"Y-yya mas. Celo mau." Cukup lama ia menatap mata Zach mencari kebohongan tapi tak ia temukan. Akhirnya, itulah jawaban yang diberikan Celo, ia ingin mencobanya.


"Terima kasih." Zach tersenyum dan kembali memeluk Celo.


"Ayo masuk. Mereka sudah menunggu kita." Ajak Zach.


"Mereka? Siapa mas?"


"Orang yang akan menikahkan kita." Saut Zach santai.


Mereka berdua masuk dan duduk di sebuah ruangan disana ada seorang penghulu dan beberapa orang dari kantor sipil untuk mencatat pernikahan mereka, dan juga ada satu orang yang sangat tak asing bagi Celo.


"Bibi…" segera saja Celo memeluk Bibi.


"Baiklah, apa kita bisa memulainya?" Ucap pak penghulu.


"Silakan pak." Kali ini Bibi lah yang menyahuti.


Pengucapan janji suci Zach dan Celo berjalan lancar. Senyum tak lepas dari wajah mereka semua kecuali Bryan, nampaknya ia tak senang jika Zach menikahi Celo. Malam harinya mereka memutuskan pulang ke rumah Celo karena ajakan si pemilik.


Flashback off


■■■■


Teman-teman….


Tekan FAVORITE


Lalu dukung dengan LIKE


Tinggalkan COMMENT


Bagi yang bersedia silakan VOTE


TERIMA KASIH