
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hari ini akhir pekan, Zach sudah merencanakan liburan untuk mereka berdua. Ia harus sering-sering mengajak istrinya keluar berdua dengannya, mengingat ketegangan yang baru saja terjadi yang disebabkan oleh Melodi.
"Bibi tau kemana perginya Chris? Dari semalam Zach tidak melihatnya."
"Anu…ittu…itu Tuan." Bibi takut mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan saja ada apa?" Zach meyakinkan Bi Welma untuk mengatakannya.
"Kemarin Nona Melodi datang, lalu sore hari mereka pergi keluar. Kalau Bibi tak salah dengar mereka pergi ke, ke…"
"Bibi tau bukan kalau Zach tidak suka bertele-tela, katakan kemana mereka?"
"Mm…kee…kke Baa-rr Tuan." Saut Bibi takut-takut.
"Heh…benar-benar tidak berubah." Sinis Zach.
"Mas…apa tidak sebaiknya kita mencari mereka?" Tanya Celo cemas.
"Untuk apa? Toh itu keinginan mereka." Zach menanggapi pertanyaan istrinya acuh tak acuh dengan tetap memakan sarapan paginya.
"Tapi Kak Chris kan sedang hamil Mas."
"Sayang, itu pilihannya."
"Baiklah." Celo tak mau mengawali hari mereka dengan perdebatan di pagi hari.
Saat ini Celo tengah berada di kamar mereka, ia sedang merapikan ranjang mereka yang sangat awut-awutan bak kapal pecah karena peperangan mereka semalam.
Celo merasa sepasang tangan kekar memeluk mesra perutnya. Tak perlu ditanyakan lagi siapa, sudah tentu itu Zach suami tercintanya.
"Sayang…habis ini berkemaslah, kita pergi berlibur. Tapi maaf hanya dua hari saja, tidak apa kan?" Zach berbicara dengan masih memeluk istrinya dari belakang, dan itu membuat Celo kegelian.
"Mass…Celo geli Mas." Nampak ia menggeliat dari kungkungan suaminya.
"Geli kenapa? Bagian mana yang geli?" Zach melanjutkkan menggoda istrinya yang berakhir dengan dia yang terjebak sendiri.
"Sayang, Mas berubah pikiran. Kita berangkatnya agak siangan saja ya, sekarang kita main dulu." Rengek Zach tepat di telinga wanitanya.
"Ma-main aappa Mass?" Bukannya tidak paham, meski sudah sering tetap saja Celo masih malu dan juga gugup.
"Jangan berpura tidak tau, dan juga Mas tidak suka penolakan." Terjadilah kehendak Zach pagi itu.
^^^
"Sebenarnya kita mau kemana Mas?" Siangnya usai kembali bebersih, Zach dan Celo pergi liburan dadakan karena adanya kesempatan.
"Sebenarnya Mas juga bingung mau kemana? Kau maunya kemana?" Memang benar, sebenarnya Zach tidak ada rencana sama sekali untuk mereka berlibur. Itu terjadi begitu saja saat ada kesempatan ia ingin menghabiskan waktu berdua lebih banyak bersama wanitanya.
"Mm…Celo search dulu ya Mas." Celo mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya, kemudian menyibukkan diri berselancar di dunia maya untuk mencari tempat yang indah untuk di kunjungi.
"Sudah ketemu sayang?"
"Mmm kita ke Bloemenmarkt saja bagaimana Mas?" Saran Celo.
"Tempat seperti apa itu?" Meski lama di Holland, ia tak begitu hapal tempat-tempat wisata disana.
"Mmm disini katanya, sejenis pasar bunga yang terapung di air gitu Mas." Jelas Celo seraya membaca apa yang ada di artikel di ponselnya.
"Okeh..dimana alamatnya sayang?"
"Singel, 1012 DH Amsterdam, Belanda."
"Ah…Mas tau tempatnya." Mereka segera meluncur ke tempat yang di mau istri kecilnya.
Tak perlu memakan waktu lama, mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Senyum cerah menghiasi wajah Celo, melihat bunga bagai melihat surga dunia bagi istrinya itu.
"Wahh…cantik sekali. Ayo kita kesana Mas." Celo menarik-narik tangan suaminya kesana kemari.
"Kau mau beli sesuatu?" Tanya Zach yang sedari tadi cuma mengikuti langkah kaki Celo.
"Nanti saja Mas. Celo mau puasin dulu melihat-lihat." Kembali ia menyeret Zach. Dengan sabar pria itu hanya mengikutinya, apa pun itu asal Celo bahagia.
Ia tak mau jika masalah seperti kemarin datang lagi ke kehidupan rumah tangga mereka. Biarlah egois, tapi sungguh Zach tidak mau ada gangguan yang akan merusak keluarga kecilnya kelak.
Sret
"Mas..kapan Mas membelinya?" Zach menyerahkan sebuket bunga tulip putih ke hadapan istrinya.
"…." Tanpa menjawab Zach menunjuk menggunakan bibirnya ke arah kios bunga yang memang sudah menyediakan bunga yang sudah di rangkai.
"Ahh…"
"Bukan Mas. Sayang sekali disini mayoritasnya semua bunga tulip saja."
"Oh…Mas kira apa? Tentu saja, Amsterdam kan dikenal dengan bunga tulip dan juga kincir anginnya. Karena bloemenmarkt ini bisa disebut pasar souvenir makanya kebanyakan bunga tulip sayang." Jelas Zach.
"Begitu ya Mas?"
"Mmm…kalau kau bosan kita pergi ke tempat saja." Ajak Zach seraya menggandeng mesra pinggang Celo.
^^^
Perjalanan sepasang insan itu berlanjut ke sebuah pulau di amsterdam. Usai maka siang tadi Zach lansung saja melajukan mobilnya.
"Sekarang kita dimana Mas?" Celo memperhatikan sekelilingnya.
"Di pulau sayang. Namanya West Frisian Island, disini kita bisa menikmati kehidupan desa dengan menyewa cottage. Menjelang senja nanti kita bisa bersepeda untuk melihat indahnya sunset."
"Benar Mas?"
"Ya sayang." Zach mencuri kilat ciuman di bibir istrinya.
"Mass.." Zach menunjukkan wajah tanpa dosanya setelah membuat Celo malu dengan wajahnya memerah seperti buah tomat.
Malam menjelang, selepas menyaksikan sunset yang menurut Celo paling indah. Mereka makan malam di sebuah restoran, bukan cuma makan malam biasa. Zach menyiapkan dinner romantis untuk istri tercintanya.
"Mas…terima kasih."
"Sama-sama sayang." Tak cukup sampai disitu, Zach mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna navy. Ia membuka di depan Celo dan tampaklah sebuah cincin indah bertahtakan berlian tapi simple seperti tipe Celo.
"Mas…ini untuk Celo?"
"Tentu sayang."
"Tap-ii ini terlalu berlebihan Mas." Tuturnya merendah.
"Tidak ada yang berlebihan untuk istri Mas tercinta." Zach menggenggam tangan istrinya lalu memasangkan cincin tersebut di jari manis lain yang tak terdapat cincin pernikahan mereka.
"Terima kasih sudah mau mendampingi Mas, terima kasih sudah mau menerima segala kekurangan Mas, terima kasih sudah percaya akan semua tentang Mas. Terakhir, terima kasih sudah menjadi istri Mas, i love you more my wifey." Sorot mata itu penuh cinta dan ketulusan.
"Terima kasih juga Mas, sudah memilih Celo. Saat ini Celo merasa jadi wanita paling bahagia di dunia ini." Setetes cairan bening jatuh dari pelupuk mata indahnya.
"Jangan pernah lagi mata ini menangis karena kesedihan, mata ini hanya boleh menagis karena bahagia." Zach berdiri, ia mengecup kedua mata Celo yang kini masih saja mengeluarkan air matanya.
"Yya Mas, i love tou too my sweet husband." Kecupan itu beralih menjadi kecupan di bibir mereka. Tak heran jika mereka bermesraan di sana, karena negara yang mereka tinggali termasuk negara bebas lagi pula mereka sepasang suami istri jadi sah-sah saja.
^^^
Malam semakin larut, Zach dan Celo sudah kembali ke cottage mereka setelah sebelumnya membeli beberapa pakaian untuk mereka pakai malam ini dan besok siang.
Bukan Zach namanya jika membiarkan Celo tidur tanpa ada serangan darinya. Belakangan Zach memang rutin meminta pada Celo karena ia memang sudah tidak sabar akan hadirnya bayi mungil di keluarga kecil mereka.
"Sayang, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu, berjanjilah jangan pernah tinggalkan Mas terlebih membenci Mas." Zach masih memeluk erat Celo usai penyerangannya barusan.
"Kenapa Mas bicara seperti itu?"
"Kan kata Mas 'jika' sayang. Sudah, tidurlah atau kau mau lagi?" Tangan Zach yang nakal kembali menggerayangi tubuh istrinya.
"Mass…"
"Ssttt…" entah pukul berapa malam panjang penuh cinta itu berakhir hanya mereka dan Tuhan lah yang tau.
^^^
Di kediaman Zach dan Celo nampak seorang pemuda keluar dari rumah mereka. Disaat bersamaan Christa juga baru kembali dari rumah dengan diantar Melodi.
"Bry…" sapa Chris saat mereka berpapasan.
"…" sayang, Bryan hanya berlalu begitu saja bahkan ia terkesan jijik usai mengetahui wanita itu baru saja kembali setelah pergi sehari semalam.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hai haii
Tetap semangat ya teman-teman
Kami para author akan selalu semangat untuk menyuguhkan hiburan berupa bacaan untuk mengurangi kebosanan karena dampak COVID-19
So, kalian juga harus semangat untuk mendukung kami dengan cara tinggalkan LIKE & COMMENT
Author akan semakin semangat jika mendapat tips berupa VOTE
TERIMA KASIH