Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tak akan pernah merenggut kebebasanmu



"Tidak apa-apa. Ini sudah kewajiban ku untuk memenuhi kebutuhan mu." Lagi-lagi Celo merasa bersalah.


"Ambillah." Ucap Zach lagi.


"Tidak usah mas. Karena…." Celo menggantung ucapannya.


■■■■


"Karena Celo ikut mas ke kota." Zach senang mendengarnya.


"Ah…anak nakal ini membuat orang cemas saja." Marah Bibi.


"Maaf bi."


Celo memang tak perlu berkemas lagi karena ia juga belum sempat menata barang-barang miliknya.


"Sudah siap semua? Bisa kita berangkat?" Tanya Zach pada Bibi dan istrinya.


"Sudah. Ayo jalan Zach." Saut Bibi.


Di perjalanan terlihat Bibi sudah tertidur lelap di bangku belakang, mungkin karena terlalu lelah kemarin.


Zach sesekali melirik ke arah istrinya yang tengah menyenderkan kepala di sandaran jok mobil. Ia juga sama terlihat lelah.


"Istirahatlah kalau kau lelah." Sebelah tangan Zach beralih menggenggam satu tangan Celo.


Celo hanya membalas dengan gelengan disertai senyuman.


"Kenapa?" Tanya Zach.


"Tidak apa-apa mas. Celo tidak mengantuk." Zach kembali mengusap kepala Celo. Tiga hari ini Celo merasa sangat bahagia atas perlakuan Zach padanya, namun tak sedikit juga ia pun merasa takut. Takut ini semua hanya mimpi atau hanya buaian semata. Tapi hatinya berkata, biarlah setidaknya ia pernah mengecap yang namanya bahagia.


"Kau mau kita tinggal di rumah kita sendiri atau apartement?" Suara Zach, agar suasana terasa lebih santai.


"Kenapa kita tidak tinggal di rumah Celo saja mas?" Jawabannya tak ada di pilihan yang disebutkan oleh suaminya tadi.


"Rumah itu hanya akan membawa kenangan buruk bagimu. Tapi jika kau rindu kita bisa menginap di sana sesekali." Celo senang mendengar jawaban Zach.


"Lalu, kenapa tidak dirumah Mami saja? Sayang jika kita hanya berdua saja." Saran Celo lagi.


"Huftt…kita harus mandiri. Lagi pula, tak baik jika kau berada satu lingkup dengan Christa." Dalam hati, Celo mengiyakan perkataan suaminya. Entah mengapa, ia bahagia dengan semua kata-kata suaminya yang selalu mengutamakan kenyamanannya.


Sedangkan Zach sendiri, ia juga heran. Setiap ia berbuat baik pada Celo, ada suatu ketenangan dihatinya dan ia puas akan hal itu. Memang sulit, tapi perlahan Zach bisa mengendalikan perasaannya pada Melodi.


"Celo ikut mas saja."


"Baiklah. Aku akan minta Bryan mencarikan rumah atau apart yang bagus dan aman yang sekiranya juga dekat dengan kantor."


"Baiklah mas."


Setelahnya mereka hanya membicarakan hal-hal yang ringan saja.


°°°°


Hampir enam jam menyetir, akhirnya mereka sampai di kota. Zach tak lansung menuju rumah orang tuanya, melainkan mengantarkan Bibi dulu dan mampir ke rumah Celo untuk mengambil barang-barang seperlunya.


Untuk malam ini Zach dan Celo akan menginap di rumah Mami sekaligus memberi tau kan perihal pernikahan mereka.


"Eummm….mas, apa tidak apa-apa kita memberi tau Mami dan Papi bahwa kita sudah menikah tanpa minta restu mereka?" Ucap Celo sedikit cemas.


"Jangan khawatir, Mami pasti senang dengan kabar ini. Apa pun yang akan terjadi nanti. Ingat, kau istriku sekarang dan tanggung jawab ku selamanya." Zach mengatakan itu dengan pandangan yang tak pernah lepas sedikit pun dari mata istrinya.


"Ya mas." Celo menuruti apa yang di ucapkan suaminya itu. Biar bagaimana pun pria ini lah tempatnya bernaung sekarang, suaminya.


"Mas. Apa Celo masih boleh membantu Bibi di toko bunga?" Tanya Celo takut-takut.


"Tentu boleh. Aku tidak akan pernah merenggut kebebasanmu." Saut Zach.


Zach yang melihat itu memegang kedua pundak istrinya da menatap matanya dalam.


"Jangan lagi bicara seperti itu. Setiap orang pasti akan menemui titik terendah dalam hidupnya. Hanya saja mereka menyikapinya dengan berbeda-beda dengan cara mereka masing-masing." Zach seakan tak mengerti dirinya yang sekarang yang mampu berbicara dengan bijaknya selain dalam hal pekerjaan.


"Sudah. Ayo kita ke rumah Mami, mereka pasti merindukan mu." Zach berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan agar diraih istri kecilnya.


Mereka pulang ke rumah Mami setelah cukup waktu bagi Zach mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah seharian menyetir.


°°°°


Mami melihat mobil Zach memasuki pekarangan rumah mereka. Segera saja beliau menghampiri putranya, bermaksud akan menanyakan keberadaan Celo. Karena Zach yang selalu menemaninya.


Baru akan memanggil nama anaknya, terlihat Celo ikut keluar dari dalam mobil lewat pintu satunya. Mami terheran, antar senang atau terkejut melihat Celo bersama putranya itu.


Tak cukup sampai di situ, beliau juga semakin heran melihat Zach menarik dua buah koper besar yang nampaknya tak hanya miliknya saja.


"Kenapa banyak sekali barangnya Zach? Bukannya kemarin hanya sedikit? Apa mungkin barang-barang milik Celo? Lalu apa Zach akan membawa Celo tinggal di rumah kita?" Serentetan pertanyaan berputar di otak Mami.


"Celo…syukurlah kau baik-baik saja nak. Mami mencemaskan mu, kau dari mana saja? Apa kau pergi bersama Zach?" Pertanya yang berbeda keluar dari mulut Mami.


"Mi…bertanya satu-satu. Celo bisa pusing nanti." Ucap Zach di selingi senyuman yang kemudian berdiri disamping Celo


"Apa benar ini Zach putraku? Oh Tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini? Kenapa bisa dia bersikap manis pada Celo." Mami berteriak senang dalam hati. Bagaimana tidak, selama ini Zach hanya bisa bersikap manis pada keluarganya, Audrey dan juga Melodi tapi tidak pada gadis lain.


"Oo..oke." Mami berlari memeluk Celo, hingga mereka sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung Zach menahan tubuh Celo dengan sebelah tangannya.


"Mi, sebaiknya kita masuk dulu." Ucap Zach lagi. Sedangkan Celo ia hanya diam saja dan tersenyum.


Mereka duduk sejenak di ruang keluarga, membicarakan dan menjawab pertanyaan heboh dari Maminya. Papi juga terlihat dari arah belakang tangga, ruangan kerja Papi saat di rumah.


"Celo, apa kabar nak?" Sapa Papi.


"Celo baik Pi." Senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya.


"Sebentar, Mami ke belakang dulu." Dengan antusiasnya Mami melangkah cepat menuju dapur bermaksud menghidangkan minuman dan juga cemilan untuk anak-anaknya. Ya, Mami memutuskan akan mengangkat Celo jadi putrinya.


Tak beberapa lama, Mami kembali dari dapur di ikuti Bibi yang membawa nampan berisikan cemilan ringan.


"Bi, tolong bawakan barang Celo ke kamar tamu ya. Jangan lupa untuk membersihkannya. Ah, ganti juga alas kasurnya." Ucap Mami menggebu-gebu.


"Tidak Bi, letakkan barang Celo di kamar Zach, juga sekalian punya Zach bi." Ucap Zach menginterupsi perintah Maminya.


"Eh. Kau tidak tidur disini malam ini nak?" Tanya Mami sedikit lemah. Zach menggeleng.


"Lalu?? Apa maksudnya?" Papi dan Mami heran dengan gelengan putra mereka.


"Mi, Pi, maaf sebelumnya. Tapi Zach dan Celo sudah menikah, sudah sejak dua hari yang lalu." Ucap Zach mantap, digenggamnya tangan Celo. Jelas sekali tangan gadis itu terasa basah dan sangat dingin.


"APA!!" Mami terkejut bukan main akan ucapan putra semata wayangnya barusan. Sementara Papi, beliau sudah menduga akan hal ini. Papi lah yang paling tau bagaimana tindak tanduk putra satu-satunya itu.


Jangan menganggap remeh bahkan menertawakan kejadian pedih yang menimpa dan di alami seseorang. Karena cepat atau lambat kita juga pasti akan mengalaminya. Jangan pula memaksakan agar seseorang tegar menghadapinya, sebab setiap orang punya cara tersendiri untuk menghadapi dan menyikapinya.


■■■■


Tekan FAVORITE


Lalu dukung dengan LIKE


Tinggalkan COMMENT


Bagi yang bersedia silakan VOTE


TERIMA KASIH