Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Kunang-kunang



"Be my wife, please Audrey…" ucapan bersejarah seumur hidup itu keluar dari bibir Eric. Anehnya, bukannya menjawab Audrey malah menangis dan memukul tubuh kekar Eric yang tengah


Berlutut dihadapan nya.


●●●●


"Sayangg... kenapa hanya diam saja? Kaki ku kram sayang…" Eric bergumam pelan seraya menggeram kecil melihat kediaman Audrey, ia merasa perasaannya getar getir.


"Ric, apa kau sedang melamar ku?" Pertanyaan bodoh meluncur begitu saja dari bibir mungil Audrey.


"Astaga. Dasar bodoh!" Zach yang melihat itu menepuk pelan keningnya.


"Be mine please. Audrey Jelita Wallie.." dengan sabar Eric mengulangi ucapannya.


"Yes..yes...yesss Eric. Aku mau" segera saja Audrey menerjang tubuh Eric yang masih dalam posisi berlutut. Terang saja tubuh mereka ambruk dengan Audrey yang menimpa tubuh calon suaminya itu. Bukannya tak kuat, namun seperti kata Eric tadi kakinya sudah kram.


"Thanks sayang." Eric mengecup kening gadis yang baru saja ia lamar itu.


"Ehemm…. Sebaiknya kalian bangun sekarang." Zach yang juga ikut senang, mengingatkan posisi sahabatnya itu sekarang.


Karena malu, Audrey lansung saja berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Sayang, bantu aku." Ucap Eric manja. Tepat setelah mereka berdiri segala penerangan lansung berfungsi kembali.


Prok prokk


Riuh tepuk tangan menggema disegala penjuru restoran tersebut. Mereka memang sengaja tidak mem booking restoran itu karena permintaan Eric, ia ingin semua orang tau siapa calon istrinya dan betapa romantisnya seorang Eric Adinatama.


"Tunggu, cincinnya mana?" Tanya Audrey dengan polosnya. Sedangkan Eric hanya tersenyum, ia sudah sangat hafal akan kepolosan calon istri yang sangat dicintainya ini. Sebelum Audrey berkata lagi, segera saja Eric memasangkan cincin di jari manis calon istrinya itu.


"Ric, kenapa kau membawa kunang-kunang?" Lagi pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari bibirnya.


"Sebagai penerangan." Sautnya gemas.


"Kenapa pakai kunang-kunang? Kau bisa memakai Super Bong milik ku." Entah dia benar-benar polos atau bodoh, Eric pun terkadang dibuat bingung olehnya.


"Sayang, aku sedang melakukan hal romantis oke." Gumam Eric lagi.


"Tapi tetap kau harus menjawabnya sayang." Wajah polos Audrey benar-benar membuatnya tak sampai hati.


"Karena cahaya kunang-kunang itu alami. Seperti cinta kita, semua alami tanpa ada campur tangan siapa pun. Aku tulus mencintai mu sampai kapan pun." Eric berucap dengan setulus hatinya.


"Mas, Super Bong itu apa?" Celo yang penasaran bertanya pada suaminya.


"Entahlah, sepengetahuan ku itu semacam lightstick. Seingat ku, setiap Audrey akan datang ke konser atau bahkan bertemu idolanya dia akan membawa itu." Eric menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Idola kak Audrey? Siapa?" Celo makin penasaran rupanya.


"Pria-pria korea, kalau tidak salah ingat mereka Super Junior. Tanyakan saja nanti pada nya, lambat laun dia juga akan meracuni mu dengan pria-pria itu." Zach sedikit kesal mengingatnya.


Zach dan Celo memberi ucapan selamat pada kedua pasangan yang sudah memutuskan akan menikah itu. Tak hanya mereka semua orang disana juga ikut, seakan sekarang mereka sedang mengadakan pesta pernikahan sehingga harus di salami oleh para tamu.


°°°°


Selama di perjalanan, Zach sekilas mencuri pandang kearah istrinya. Semenjak keluar dari restoran tadi istri kecilnya tak lagi bersuara.


"Kenapa heumm…" Zach menggenggam tangan Celo dengan satu tangannya sementara tangan sebelah lagi memegang setir mobil.


"Tidak ada Mas. Celo hanya bahagia melihat kak Audrey akan menikah dengan kak Eric." Ia menatap dalam ke manik mata suaminya yang dicintainya itu.


"Lalu apa kau kecewa?" Tanya Zach lagi.


"Kecewa kenapa Mas?" Bukannya jawaban yang diberi, ia malah bertanya balik.


"Karena pernikahan kita. Maaf. Maaf karena aku belum mencintai mu, dan juga aku tidak melama rmu secara pantas apa lagi romantis seperti yang Eric lakukan tadi." Zach bersunguh-sungguh akan ucapannya sekarang. Ia juga menepikan mobilnya sejenak untuk melanjutkan pembicaraan mereka.


"Mas, Celo tidak kecewa karena ini pilihan Celo dan Celo juga mencintai Mas. Saat ini Mas memang belum mencintai Celo, belum bukan berarti tidak Mas. Selama Mas masih mempertahankan pernikahan kita, Celo akan terus berusaha agar Mas bisa mencintai Celo." Sekarang, berganti Celo yang menggenggam tangan suaminya. Ia meyakinkan bahwa ia bahagia sekarang.


"Terima kasih Celo. Aku berjanji akan mempertahankan pernikahan kita, dan aku akan belajar membuka hatiku untuk mu." Balas Zach dengan tak kalah tulusnya.


"Sebenarnya aku sudah membuka hatiku untuk mu. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakan mu. Terima kasih." Batin Zach.


"Sekarang kita mau kemana lagi?" Rasanya Zach masih belum mau pulang, ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya sebelum mereka terpisah sementara waktu.


"Sudah malam Mas kita pulang saja. Nanti Mami mencari kita." Celo rupanya tak kalah bodohnya dengan Audrey.


"Kenapa Mas tertawa?"


"Celo, kita sudah menikah dan kau pergi bersama suami mu. Jadi mereka tidak akan mencari kita." Saut Zach dengan tawa yang masih jelas disana.


"Hehee…" Celo hanya tertawa sekilas akan kebodohannya.


"Jadi, kita kemana?"


"Mmm…terserah Mas saja. Tapi sebaiknya kita pulang saja, bukannya besok Mas akan berangkat." Terdengar jelas nada kesedihan disana.


"Baiklah." Zach kembali melajukan mobilnya.


°°°°


Zach dan istrinya sampai di rumah sudah larut tengah malam. Bukannya tak mau menuruti kemauan Celo, tapi Zach sangat ingin menghabiskan waktu berdua meski hanya berkeliling dengan mobil saja.


"Sepi sekali Mas." Ujar Celo.


"Tentu saja, ini sudah sangat malam Celo." Zach terkekeh geli membalas perkataan istrinya.


"Hehee…."


Mereka melanjutkan langkah ke kamar mereka. Zach memilih mengistirahatkan tubuhnya di ranjang sedangkan Celo, gadis itu masuk ke kamar mandi untuk ganti baju dan juga membersihkan wajahnya.


Begitu keluar dari kamar, ia mendapati suaminya sudah berganti pakaian dan sedang berselonjor di atas ranjang.


"Mas belum tidur?"


"Belum. Ayo kemari." Titah Zach seraya menepuk sisi kosong disampingnya.


"Kita akan berpisah sementara waktu sampai semua berkas mu siap. Setelah itu susul aku ke Holland, nanti Eric atau Shane yang akan mengantar mu." Ucap Zach serius dengan tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil Celo.


"…." Tanpa bersuara Celo hanya mengangguk kan kepalanya saja.


"Sementara itu, habiskan waktu mu untuk pergi kemana pun kau suka. Tapi ingat, selalu berhati-hati atau sebaiknya pergi berdua dengan Audrey." Lagi, Celo hanya mengangguk.


"Jika butuh sesuatu jangan sungkan bicara pada Mami atau siapa pun yang dekat dengan kita. Aku akan selalu menghubungi mu saat disana." Zach yang heran akan reaksi Celo hanya tersenyum tipis. Pasalnya ia tau bahwa istrinya sedang bersedih.


"Kenapa?"


"…." Kali ini Celo hanya menggelengkan kepala saja.


"Hei…tatap aku." Zach meraih dagu Celo agar ia bisa menatap bola mata istrinya. Sesaat kemudian ia melihat air mata jatuh disana.


"Jangan menangis."


"Celo takut."


"Jangan takut. Bukankah kau sendiri yang bilang, jika aku memberi kesempatan pada pernikahan ini itu artinya aku akan membuka hati untuk mu. Percayalah." Celo terkejut, kenapa Zach tau tentang ketakutannya.


"Lagi pula ini hanya sementara, secepatnya kau akan menyusul. Mengerti." Zach mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya.


Perlahan tapi pasti Zach mengecup bibir tipis istrinya. Membawa tubuh ringkih itu berbaring dengan dia diatasnya.


"Kau milikku, dan aku milik mu. Untuk malam ini bisakah kita bersatu dan saling memiliki?" Zach meminta izin pada istrinya untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri.


Dengan malu-malu Celo mengiyakan, ia menyerahkan segalanya untuk pria yang dicintainya terlebih pria itu sudah sah menjadi suaminya.


Untuk pertama kalinya, Celo melalui malam panjang dengan Zach dan ia tak menyesal akan hal itu.


●●●●


Maaf teman-teman baru Up lagi.


Tapi jangan lupa LIKE, COMMENT nya ya.


Silakan VOTE juga bagi yang bersedia.


Sebelum itu tambahkan dulu ke FAVORITE ya teman-teman


TERIMA KASIH BANYAK…