
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Jadi kalian berkencan sekarang?" Celo begitu terkejut mendengar penuturan Sesyil tentang hubungannya dengan Bryan, pria itu sudah di anggap saudara sendiri oleh nya.
"…." Ia cuma menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Wahh selamat ya Nona." Celo menepuk pelan bahu Sesyil sebagai penyemangat.
"Tapi Miss, bagaimana kalau dia tau bahwa sebenarnya aku anak yang tak diinginkan? Aku juga tinggal di panti asuhan hingga sekarang." Ia jadi sangsi Bryan akan tetap melanjutkan hubungan mereka nanti setelah ia tau kehidupannya yang sesungguhnya.
"Dengar Nona, Celo juga tidak tau bagaimana persisnya kehidupan Bryan itu. Tapi satu yang jelas, dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Percayakan semua pada Tuhan, jika kalian memang berjodoh pasti kalian akan bersama." Cara berpikir Celo memang selalu selangkah didepan di bandingkan umurnya.
"Akan saya coba Miss. Kalau begitu saya kembali bekerja dulu." Dengan senyum merekah Sesyil kembali ke pekerjaannya.
"Bagaimana dengan Kak Chris, dia kan juga sangat menyukai Bryan. Tapi mau bagaimana lagi, Cinta tidak bisa di paksakan oleh manusia, itu semua Tuhan lah yang punya kuasa." Celo berkata sendiri pada dirinya.
"Sebentar lagi waktunya menjemput kak Chris, sebaiknya Celo hubungi Mas dulu." Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Zach.
Tutt tut
"Ya sayang?" Terdengar suara Zach dari seberang sana.
"Mas, harusnya sekarang kita jemput Kak Chris di rumah sakit." Ingat Celo pada suaminya.
"Aduhh… bagaimana ya sayang? Mas sedang meeting sekarang. Mas minta Garret saja ya mengantar mu, usai meeting Mas lansung pulang." Ujar Zach.
"Baiklah Mas."
"Ya sayang. Mas suruh Garret ke sana sekarang ya."
"Ya Mas. Celo tutup." Sambungan panggilan berakhir.
"Nona Sesyil, Celo pulang di awal ya. Titip toko." Pamit Celo seraya mempercayakan tokonya.
"Baik Miss."
^^^
"Nona Melodi, kenapa Nona bisa ada disini?" Kaget Celo saat mendapati wanita hamil itu di ruangan adik ipar nya.
"Heh…ternyata kau belum paham juga ya dengan cerita ku hari itu." Ejeknya menertawakan ke polosan Celo.
"Ternyata benar dugaan Celo." Celo bermonolog dalam hati.
"Bagaimana? Apa kau paham sekarang?"
"Apa tujuan Nona sebenarnya mendekati keluarga kami?" Celo berubah serius menanggapi ancaman rumah tangganya.
"Keluarga kami? Heh!! Kau hanya pengganti, ingat itu!!" Ia melontarkan lagi cemoohannya.
"Bukan hanya itu Melodi, dia juga seorang pengacau! Dia sudah merebut segalanya dari ku! Russel, Kakak, Mami, Papi juga…" Kali ini Chris yang berteriak marah, matanya menyiratkan dendam.
"Ke-kennapa Kak? Bukankah Kakak ssudah ber-rubah?" Saut Celo terbata-bata.
"Hehh…kau pikir gampang untuk berubah hah! Aku akan menghancurkan mu sampai jadi kepingan-kepingan tak berguna." Emosi Christa semakin tersulut karenanya.
K-kkak Chris…Celo minta maaf karena secara tidak lansung sudah menyakiti hati Kakak. Tapi sungguh, Celo tidak bermaksud seperti itu Kak hikss…" di pojokkan dua wanita hamil itu membuat Celo terguncang akan setiap kenyataan yang di terimanya.
"Tidak akan sebelum kau hancur!!" Chris maju ke depan, lalu menarik rambut Celo kasar.
"Mma-maaf kak." Sekali lagi Celo minta maaf, ia tak mau jika hubungan keluarga mereka akan rusak.
Tak hanya Chris, sekarang Melodi mengambil alih rambut Celo. Ia menariknya kasar, lalu mendorong tubuh mungil itu dengan kasar.
Ceklek
Garret yang mendengar suara gaduh orang ribut-ribut, menghampiri istri Bos nya. Sangat terkejutnya dia tatkala melihat Celo tersungkur di lantai sementara dua orang wanita lainnya hanya membiarkan bahkan mereka tertawa senang.
"Nona…mari saya bantu berdiri." Ia membantu Celo dengan memapah nya berdiri.
"Heh…kau lihat sendiri kan. Ia menikmati hidupnya sebagai parasit, menumpang pada Zach dan menikmati hasil jerih payah kakak mu." Melodi kembali menghasut Chris.
"Jangan dengarkan dia kak! Dia coba mengadu domba kita." Celo meraih lengan Chris.
Plakk
Tangan lancang Melodi dengan bebasnya mendarat di wajah manis istri Zach itu. Tenaganya tak main-main, hingga sudut bibir Celo sedikit pecah.
"NONA!! Anda sudah keterlaluan!! Kalau kalian terus bersikap kasar begini, akan saya laporkan kepada Tuan Zachery." Garret yang sudah tidak tahan dengan perlakuan bar-bar dua wanita itu mengambil tindakan tegas.
"Saya akan tetap melaporkan kalian, karena sebelumnya Bryan sudah mewanti-wanti saya akan kelakuan buruk anda!" Memang benar apa yang di katakan Garret, Bryan memberitahu segala sesuatu yang akan membahayakan Celo.
"Melodi, sebaiknya kita berhenti dulu, Bryan tidak main-main dengan ucapannya. Seperti yang kita tau, Bryan itu duplikat nya kak Zach." Bisik Chris ke Melodi.
"Lihat dan tunggu saja Celo!" Tekad Melodi dalam hatinya.
"Ayo pulang! Kau! Antarkan kami pulang!!" Ucapnya pongah dengan gaya Bossy nya.
Sambil menenteng tas pakaian milik Chris, Garret juga membantu Celo berjalan karena jelas wanita itu sangat ketakutan tubuhnya bergetar hebat.
^^^
Saat sampai di rumah, sudah menjadi kebiasaan Zach untuk mencari istrinya. Ia segera masuk ke kamar mereka dan menemukan Celo sedang duduk di ranjang dengan posisi membelakangi nya.
"Sayangg…" ia mengambil tempat tepat disisi wanita nya.
"Mas…Mas sudah pulang? Kenapa tidak memanggil Celo Mas?" Ia berucap tanpa melihat ke arah suaminya, sudah menjadi kebiasaannya jika sedang menyembunyikan sesuatu.
"Hei…kenapa menunduk begitu?" Ia meraih dagu istrinya untuk menatapnya. Emosi Zach lansung naik ketika melihat bekas luka di sudut bibir Celo.
"Apa ini?" Ia menatap geram seraya bertanya pada istri kecilnya.
"Bukan apa-apa Mas. Tadi pas ke kamar mandi gak sengaja terbentur pintu." Bohong Celo.
"Jangan bohong!! Mas tau kebiasaan mu yang satu itu. Cukup sekali itu kau jadi pembohong Celo jangan untuk kedua kalinya." Zach teringat saat Celo berbohong untuk melindunginya dari keluarganya tentang gagalnya pernikahan mereka dulu. Ia tak mau lagi jika wanita polos itu akan kembali berbohong untuk melindungi orang lain lagi.
"Benar Mas, Celo tidak berbohong." Ia menepiskan senyum manisnya.
"Baiklah, Mas akan percaya. Tapi jika Mas tau kamu berbohong, Mas akan habisi orang yang menyakiti mu itu." Zach menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Mm…" Celo menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.
"Saat Mas tau siapa orangnya, Celo yakin Mas tidak akan berani menyakitinya." Batin Celo yakin.
"Ya sudah. Mas mandi dulunya sayang." Sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi, ia menyempatkan diri mengecup sekilas bibir mungil istrinya itu.
"Mass…."
"Ya sayangg…." Rengekan Celo menggema di kamar besar mereka.
^^^
Tok tokk
Dua kali mengetuk Zach lansung saja masuk ke kamar yang ditempati adiknya. Kosong, tak ada siapa pun.
"Kemana lagi dia? Apa dia tidak bosan menginap di rumah sakit terus menerus?"
Tak menemukan adiknya di kamar, Zach bermaksud mencarinya ke ruang tengah. Baru saja keluar ia berpapasan dengan Bi Welma.
"Bi, apa Bibi ada melihat Chris." Tanya Zach pada Bibi.
"Di teras belakang Tuan."
"Oh. Baiklah, terima kasih Bi."
"Ya Tuan, kalau begitu saya ke belakang dulu." Beliau pamit dengan sopan.
Zach bergegas ke teras belakang dimana adiknya berada. Biar bagaimana pun dia tetap mengkhawatirkan keadaanya. Setibanya di teras Zach melihat Chris bersama seorang wanita.
"Chris…" panggilnya. Tapi yang berdiri bukanlah Chris melainkan seseorang yang sangat ingin di lupakannya.
"Hai Zach…" sapa Melodi. Ialah yang nerdiri dan bukannya Chris.
"Melodi?" Saut Zach dengan suara parau.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman dengan LIKE & COMMENT
VOTE juga sangat mempengaruhi kapan Up nya…
TERIMA KASIH buat semua yang sudah sedia memberi dukungan dan Vote nya
***Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga di bulan penuh berkah ini di hapuskan segera Wabah COVID-19
Aamiin...🙏🙏🙏***