
●●●●
Hari ke tiga di Holland, Christa merasa bosan terkurung terus-terusan seperti ini. Bryan sama sekali tak mengunjunginya apalagi kakaknya, Zach. Mau kabur tapi bagaimana caranya, ia tak memegang uang sepeser pun, Bryan benar-benar mengambil semua-semuanya.
"Arghh…bisa gila aku lama-lama disini. Ini semua gara-gara kau bayi s*al." ia memukul perutnya tapi tak cukup keras untuk membuatnya kesakitan.
"Kak Zach malah tak memperdulikan aku, pasti gara-gara ja**ng kecil si***n itu." Memang dasar Chris, segala sesuatu kesialan yang menimpa dirinya selalu disangkut pautkan dengan Celo.
"Aduhh…kalau sampai kakak tau aku hamil bagaimana? Dia pasti akan membunuh ku. Oh…sungguh sial sekali hidup ku ini."
Tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dan Chris segera menghampiri, ia sudah sangat hapal kalau itu pasti layanan kamar.
"Permisi Miss, ka-." Belum usai dua wanita itu berbicara Chris sudah memotongnya.
"Ya ya..lakukan sesuka kalian." Ucapnya dengan malas.
Seperti hari sebelum-sebelumnya, karyawan hotel tersebut menata bermacam ragam makanan di sebuah meja kecil di balkon kamar hotel itu.
"Apa anda masih membutuhkan sesuatu yang lain Miss?"
"Tidak. Kalian boleh pergi." Usirnya dengan gaya pongah.
Ia mulai mendekati meja itu dan menyantap sajian yang ada. Bukannya apa-apa, tapi semenjak hamil nafsu makan Chris seolah menanjak tajam. Ia selalu lapar dan itu pun tak sedikit yang akan ia makan.
"Bayi si***n ini sungguh menyusahkan. Aku akan jadi gemuk jika makan banyak begini terus." Umpatnya kesal tapi tetap saja memakan semua makanan itu.
Di sisi lain luar kamar, dua karyawan tadi tengah mengatai Chris.
"Kau lihat kan, betapa sombongnya wanita tadi. Jangan kan memberi service charge, berterima kasih pun tidak." Cemooh nya yang di warnai kekesalan.
"Kau benar. Tapi sepertinya, wanita itu wanita simpanan. Lihat saja, ia tak di diperbolehkan keluar oleh pria yang menyewakannya kamar." Timpal temannya.
"Kau benar juga. Sudahlah, sebaiknya kita kembali bekerja sebelum kena tegur." Puas menggosipi Chris, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
••••
Siang ini Celo makan siang bersama suaminya dan Bryan. Seperti katanya kemarin mereka akan selalu makan siang bersama, meski harus direcoki oleh Bryan. Karena dapur mini permintaan Celo sedang dalam tahap renovasi maka ia menyiapkan semuanya dirumah. Sementara untuk pekerjaan rumah lainnya dan juga mengurusi tanaman, Celo menyerahkannya pada Bibi.
Drrt drtt
Ditengah makan siang mereka ponsel Celo bergetar karena panggilan masuk.
"Kak Audrey?" Gumam nya pelan namun masih tertangkap pendengaran Zach.
"Kenapa?" Tanya nya.
"Dari Kak Audrey Mas, sebentar Celo terima dulu." Serunya.
"Ha-"
"Celo….kenapa kau jarang menghubungi ku? Kau jahat!" Suara keras di seberang sana bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa pengang.
"Ma-maaf Kak. Celo takut akan mengganggu, makanya jarang menghubungi." Jujurnya.
"Celo..hiks…" usai berteriak kencang suara Audrey mendadak berubah menjadi isakan. Panggilan yang di loudspeaker itu jelas terdengar oleh Zach dan tak lupa ada Bryan juga disana.
"Kakak kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Celo manjadi panik seketika.
"Aku..hiks..hikss.. aku dan Eric sudah melakukannya." Prangg..bagai petir disiang bolong lansung saja Celo me non active kan loudspeaker nya.
Entah kenapa sebagai sesama wanita Celo jadi malu akan kepolosan Audrey.
"Astaga, apa baru saja Kak Audrey mempermalukan dirinya sendiri?" Batin Celo.
"Kak…lalu kenapa kak Audrey menangis?" Celo sedikit memelankan suaranya dan memalingkan wajahnya kebelakang agar pembicaraannya tak lagi bisa didengar oleh dua pria di hadapannya ini.
"Aak-akku hammil sekarang hiks.." Audrey benar-benar bom waktu bagi Celo karena sewaktu-waktu bisa meledak. Ia tak menyangka saja, jika Audrey yang dewasa dimatanya itu bisa sangat sepolos ini.
"Hamil?" Satu perkataan Celo itu sukses mencuri perhatian Zach dan Bryan. Jika Zach bisa menduga bahwa itu adalah Audrey, lain halnya dengan Bryan. Ia cemas jika orang lain tau akan kehamilan Chris.
"Shitt…apa Audrey tau tentang kehamilan Christa?" Umpat Bryan dalam hati.
Kembali ke Celo, ia masih setia mendengar curahan hati sahabat yang sudah dianggapnya kakak itu.
"Wahh…selamat ya kak. Semoga kalian selalu sehat." Celo tersenyum. Zach yang sedari tadi memperhatikannya tau bahwa istrinya itu sedikit bersedih sekarang.
"Terima kasih. Tapi aku malu Celo..hiks..hikss…" Dasar Audrey yang polosnya keterlaluan.
"Kenapa harus malu? Kalian kan suami istri wajar jika kakak hamil." Celo coba menenangkan Audrey yang terus saja terdengar suara isakan nya.
"Kak Audrey ada-ada saja. Nanti Celo tanyakan pada Mas Zach kapan kami bisa kembali."
"Baiklah. Terima kasih Celo."
"Ya kak, sama-sama. Jaga kesehatan kakak dan juga keponakan Celo, juga titip salam pada kak Eric."
"Baiklah. Bye…"
Mereka memutus sambungan panggilan yang aneh itu. Bagaimana tidak aneh, Audrey menghubunginya untuk memberi kabar kehamilannya dengan cara yang tak biasa.
"Kakak ipar, kenapa masakan mu selalu saja enak?" Bryan berceloteh layaknya seperti anak kecil, ia berusaha menutupi kegugupan nya.
"…." Celo hanya tersenyum saja menanggapi celotehan Bryan karena ia juga bingung harus bagaimana menanggapinya.
"Kau ini, tinggal makan saja apa susahnya. Ocehan mu itu bikin pusing kepala saja." Terang saja Zach kesal, waktu yang harusnya hanya berdua harus di ganggu Bryan, ya walaupun ia tak terlalu keberatan.
"Bos, andai saja aku yang duluan bertemu kakak ipar pasti aku yang akan menikmati ini semua." Melihat kekesalan Bosnya itu, timbul lah ide untuk menggoda Zach.
"Kau!! Jika sudah selesai makan, sana pergi. Atau kau mau ini jadi makan siang terakhir mu hah!" Meski tak berteriak, tapi jelas saja Bryan emosi.
"B-bbos…ak-kuu hanya bercanda Bos." Bibirnya memucat seketika melihat tatapan mematikan Zach, segera ia angkat kaki dari sana. Niat untuk menggoda malah jadi bumerang baginya.
"Mass…" ingat Celo.
"Apa sayang? Mas juga cuma bercanda padanya, salah sendiri membangunkan macan yang sedang tidur." Senyum penuh ejekan terpatri di wajah tampannya.
"Mmm…apa yang dikatakan Audrey tadi?"
"Kak Audrey hamil dan ia merasa malu pada Kak Eric."
"Hah..dasar anak itu." Ia coba mencairkan suasana hati istrinya.
"Mas, habis ini Celo mau keluar sebentar ya membeli pupuk. Pupuk untuk cabai di rumah sudah tinggal sedikit." Tutur Celo meminta izin.
"Baiklah. Nanti Mas minta supir kantor mengantar mu, maaf Mas tidak bisa temani."
"…." Celo tersenyum.
"Sayang, Mas balik dulu. Sebentar lagi Mas minta supirnya ke sini." Pamit Zach yang tak lupa mengecup istrinya sebelum pergi.
"Ya Mas."
Celo sama sekali tak keberatan atas apa yang diperbuat Zach, toh suaminya itu punya niat baik untuk melindunginya. Melindungi bukan berarti ia mengekang dan Celo tak merasa terkekang sama sekali. Ia selalu merasa melayang karena semua perbuatan manis suaminya itu.
••••
Selesai berbelanja kebutuhan berkebunnya, Celo kembali lagi ke mobil untuk diantar kembali ke toko bunga miliknya. Baru akan masuk ke dalam mobil ia menangkap sosok siluet yang dikenalnya.
"Kak, Kak Chris.." panggil Celo. Ya, ia melihat Chris tengah berjalan seorang diri.
"Celo.." merasa namanya di panggil Chris menoleh dan mendapati Celo yang memanggilnya.
"Kak Chris mau kemana? Ayo ikut Celo pulang." Ajaknya pada Chris, tak seperti sebelum-sebelumnya ia tak menolak bahkan ia tak marah lagi pada Celo.
●●●●
Teman-teman semua jangan lupa ya
Tekan Favorite
Beri Like dan tinggalkan Comment atau saran kalian
Bagi yang bersedia silakan VOTE Free kok 🤭🤭🤭
TERIMA KASIH BANYAK
#**workfromhome
#stayathome
#staysave**
***Semoga kita semua terjauhkan dari bahaya yang mengintai diluar sana terutama Covid-19
Jika harus terpaksa keluar rumah jangan lupa gunakan masker mulut ya teman-teman
#darikitauntukkita***