
■■■■
Pagi harinya Zach terbangun dan melihat keadaan masih sangat sepi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
"Dimana Celo? Apa dia dibelakang?" Gumam Zach pada diri sendiri.
Sepuluh menit mencari ia sama sekali tak menemukan Celo maupun Bibi.
"Apa jangan-jangan dia kabur lagi? Shitt…" Zach bergegas keluar dari rumah. Dia terus berlari dengan pakaian awut-awutan khas orang bangun tidur. Tak heran banyak warga memperhatikannya dengan aneh, maklum lah saat ini mereka sedang berada didesa.
"Kemana lagi kau pergi Celo…" Zach juga mengacak-acak rambutnya, memperjelas tampilannya yang seperti orang gila.
Zach terus berjalan sampai rumah milik ibu Celo tak tampak lagi dari jangkauan mata. Samar-samar Zach mendengar seseorang memanggil namanya.
"Mas…"
"Mas Zach…"
"Nak Zach…" Celo dan Bibi bergantian memanggil Zach yang nampak aneh menurut mereka.
Celo dan Bibi baru saja berbelanja di pasar untuk membeli bahan makanan. Mereka berniat akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas nikahan Celo dan Zach. Itu semua atas permintaan Bibi. Sepulangnya dari pasar, mereka malah melihat suami Celo itu berlarian tak jelas seperti orang yang sedang panik.
Sementara Zach, begitu ia mendengar suara yang tak asing baginya lansung saja ia berbalik mencari sumber suara. Dari jauh ia melihat Celo dan Bibi sedang menenteng kantong belanjaan di masing-masing tangan mereka. Melihat itu, perasaan Zach sungguh sangat-sangat lega, ia berlari kecil menghampiri Celo lalu menubruknya untuk kemudian dipeluknya erat.
Beberapa orang gadis remaja yang tadinya terpesona akan penampilan Zach meski sangat berantakan terpaksa harus gigit jari.
"Mmas.. mas kenapa?" Tanya Celo disela-sela pelukan mereka.
"Aku pikir kau akan pergi lagi." Entah sadar atau tidak dikecupnya kepala Celo berulang kali.
"Celo hanya ke pasar bersama Bibi mas."
"Tetap saja, itu membuatku cemas."
"Sudah ah mas. Malu, kita di lihat orang-orang." Ucap Celo dengan malu-malu, namun tetap saja ia membalas pelukan pria yang kini sudah sah berstatus sebagai suaminya itu.
"Ehemm…" Bibi menggoda mereka dengan deheman.
"Maaf Bi." Ucap Zach tanpa rasa malu.
"Dasar anak muda. Ah ya, sekalian saja Bibi mengundang tetangga-tetangga kita untuk datang kerumah nanti siang. Zach, bantu Bibi membawa belanjaan ini." Tukas Bibi seraya memberikan kresek belanjaannya pada Zach.
"Apa kresek mu juga mau dibawakan sekalian?" Tawar Zach pada Celo. Sekarang mereka hanya berdua, ditinggal Bibi untuk mengundang para tetangga.
"Tidak usah mas. Celo bisa membawa sendiri."
"Baiklah. Untuk apa belanja sebanyak ini? Lalu, dalam rangka apa Bibi mengundang tetangga," tanya Zach sambil mereka tetap melanjutkan langkah.
"Untuk syukuran mas. Bibi bilang, kita harus mengundang tetangga untuk membagikan kabar bahagia bahwa kita sudah .. menikah." Celo sedikit menggantung kata di akhir kalimatnya.
"Apa harus? Kita bisa membuat pesta mewah saat dikota besok setelah buku nikah kita siap." Celo hanya terdiam mendengar jawaban Zach.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung." Zach minta maaf setelah melihat keterdiaman Celo.
"Bukan mas. Celo hanya masih canggung saja." Zach hanya tersenyum, ia cemas jika perkataannya bisa saja menyinggung istrinya.
"Lagi pula, Celo lebih senang jika kita hanya mengadakan syukuran kecil-kecilan dari pada harus besar-besaran." Ucapan Celo sukses membuat Zach melongo, setiap wanita pasti menginginkan pernikahan mewah dan megah tapi Celo, gadis ini hanya mau yang sederhana saja.
"Baiklah. Apa pun itu asal kau bahagia." Kata-kata tulus itu keluar dari mulut seorang Zach.
°°°°°
Malam harinya semua hidangan telah selesai digelar disebuah tikar. Mereka hanya duduk lesehan saja dilantai rumah, karena memang seperti itu lah jika didesa.
Zach terheran-heran dengan bingkisan yang mereka bawakan, ada yang membawakan alas kasur, ada pakaian, handuk dan lain sebagainya. Mereka jadi tak enak hati, niatnya hanya untuk menyebar kabar bahagia malah terkesan menyusahkan mereka. Tapi dengan mudahnya mereka menjawab, mereka senang akan hal ini.
Acara syukuran selesai saat sudah pukul sepuluh malam. Mereka semua bersenang-senang, tertawa dan bercanda bersama. Pembahasan mereka semua tak terlepas dari Celo dan Zach dan hubungan mereka kedepannya, mereka juga mendoakan dengan tulus pasangan baru ini selalu bahagia.
Setelah selesai bebenah rumah yang juga dibantu oleh Zach mereka tidur dikamar masing-masing. Kali ini Bibi menyuruh Zach dan Celo satu kamar dan beliau dikamar satunya lagi, karena Bryan sudah di suruh Zach kembali ke kota saat siang tadi.
"Eh…mana boleh pasangan yang baru saja menikah harus berpisah kamar. Tidak baik." Oceh Bibi menakut-nakuti.
"Sudah sana. Ini sudah malam." Bibi mendorong-dorong tubuh mereka berdua ke dalam kamar.
°°°°
Didalam kamar Zach dan Celo duduk berhadapan, Celo duduk di ranjang sementara Zach duduk di hadapan Celo dengan sebuah bangku kecil.
"Besok kita kembali ke kota." Zach memulai pembicaraan serius mereka.
"Tapi Celo mau tinggal disini mas." Berat rasanya jika harus kembali lagi ketempat dimana ia kehilangan semua orang terkasihnya.
"Tapi kita harus kembali, disamping aku harus bekerja kita juga harus mendaftarkan pernikahan kita secara sah dan juga memberi tau orang terdekat kita. Kita harus minta restu mereka." Zach bicara dengan sangat lembut.
"Lalu, apa kita akan kembali lagi kesini?"
"Jika kau ingin berkunjung ke sini tentu saja. Tapi jika untuk tinggal disini itu tidak mungkin. Kau ingat apa yang dikatakan bapak tadi, rumah istri adalah dimana suaminya berada. Tapi aku tidak akan memaksamu, jika kau ingin tetap disini silakan. Aku akan pulang kemari seminggu sekali." Zach menjelaskannya secara pelan-pelan.
"Tapi mas…"
"Pikirkanlah." Zach melihat keengganan dimata Celo, memberinya waktu untuk berpikir.
"Sudah malam. Tidurlah." Sambung Zach lagi. Ia merabahkan tubuhnya disisi ranjang lainnya, meski masih berdekatan dengan Celo karena ranjangnya yang kecil.
"Jangan berpikir untuk tidur di sofa. Kita sudah sah sepasang suami istri sekarang." Ucap Zach seolah bisa membaca isi otak Celo.
"Yy-ya mas.."
Malam ini, pertama kalinya bagi Celo tidur sekamar bahkan satu ranjang dengan seorang pria yang merupakan suaminya dan orang yang dicintainya.
°°°°
Pagi hari, Bibi dan juga Zach sudah bersiap-siap akan kembali ke kota. Lain halnya dengan Celo, ia terlihat masih santai-santai saja.
"Celo, kau belum bersiap juga nak?" Tegur Bibi. Belum sempat menjawab, Zach sudah menyahutinya.
"Celo tidak ikut kita Bi." Jelas terdengar nada kekecewaan disana.
"Apa? Kenapa?" Tanya Bibi heran.
"Mmm…itu…" Zach menghampiri Celo ke depan rumah, karena ia berada di halaman sedang memanaskan mesin mobil.
"Tidak apa-apa. Baik-baik disini, setiap akhir pekan aku akan pulang kemari." Zach merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan sejumlah uang untuk Celo, istrinya.
"Pegang ini."
"Tapi untuk apa mas? Tidak usah." Tolak Celo.
"Tidak apa-apa. Ini sudah kewajiban ku untuk memenuhi kebutuhan mu." Lagi-lagi Celo merasa bersalah.
"Ambillah." Ucap Zach lagi.
"Tidak usah mas. Karena…."
■■■■
Tekan FAVORITE
Lalu dukung dengan LIKE
Tinggalkan COMMENT
Bagi yang bersedia silakan VOTE
TERIMA KASIH