Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Sangat Tampan



Celo melihat kearah tangannya yang digenggam Zach, ini kedua kalinya Zach menggenggam tangannya dalam seharian ini. Entah kenapa ia tak keberatan malah ia mendapat kenyamanan dan kekuatan disana.


■■■■


Zach memberhentikan laju mobilnya saat mereka telah sampai didepan gang menuju rumah Celo.


Klik


Celo membuka pintu mobil hendak turun dari mobil Zach, sebelum benar-benar turun ia merasa Zach menggenggam tangannya jelas saja Celo menoleh.


"Kenapa mas??" Tanyanya.


""Tidak. Tidak apa-apa, masuklah." Jawabnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Celo hanya mengangguk heran dengan sedikit senyum.


""Mm…nona, sampai jumpa nanti malam." Akhirnya Zach mengucapkan yang sebenarnya akan diucapkannya dari tadi.


Lagi Celo hanya tersenyum bedanya kali ini senyuman yang lebih lebar dan tentu saja sangat manis menurut orang yang melihatnya.


°°°°


Selepas mengantar Celo, Zach benar-benar lansung pulang. Ia juga harus bersiap-siap bukan, walaupun ini hanyalah permintaan ibunya tapi Zach nampak seperti menikmatinya. Ia bisa merasakan bagaimana melamar seorang gadis dihadapan orangtuanya, ia juga merasa deg-degan. Lain halnya dengan Melodi, memang ia melamarnya dengan suasana romantis namun tak ada rasa deg-degan disana karena mereka memang sudah berkomitmen akan menikah.


"Sayang, kau sudah pulang nak." Dengan sangat antusiasnya mami menyambut putranya pulang.


"Ya mi. Zach sengaja pulang cepat. Tadi dijalan Zach juga ketemu Celo, trus Zach antar juga pulang." Terangnya.


"Hehe.."


"Papi mana mi?"


"Mm…dimana ya? Coba lihat dibelakang, mami belum ada bersama papi seharian ini."


"Hah?? Yang bener aja mi. Ntar papi ngambek lo..hayoo…"


"Zach ahh… jangan gitu lahh..mami marah ni…" mami merasa ngeri dengan candaan anaknya.


"Marah aja. Zach gak takut tu." Setelah berkata begitu secepat kilat ia kabur kearah belakang dimana papinya berada.


"Aishh…anak ini. Tapi syukurlah dia mulai memperhatikan gadis manis itu." Mami senyum-senyum sendiri sambil melanjutkan pekerjaanya menata hantaran yang akan mereka bawa nanti.


°°°°


Disudut lain, tepatnya ditaman belakang rumah kediaman Alterio papi Zach terlihat sibuk mengurusi beberapa tanaman milik istri tercintanya.


"Pih…" Zach menghampiri papinya yang sepertinyab tak menyadari kedatangannya.


"Ehh..Zach.."


"Mamih tu bener-bener yah pi…"


"Kenapa lagi?"


"Papi belum tau? Mami punya selingkuhan pi.." ucap Zach dengan senyum tersembunyinya.


Tanpa menjawab papi lansung menoleh kearah putranya dengan wajah kaget setengah mati.


"Siapa? Siapa orangnya?" Kali ini suara papi lebih menyeramkan dari raut wajah kagetnya.


"Itu tu…calon menantunya mami.." ucap Zach yang di akhiri dengan pecahnya tawanya.


"Dasar anak kurang ajar!!" Papi yang hampir saja mau meledak jadi melampiaskan kesalahan dengan menjewer kuping putranya.


"Ampun pi…just kidding okk…" Tetap saja ia masih tertawa diikuti papinya juga.


"Tau tuh mami, dari tadi sibukk terus.." ucap papi sedikit kesal dengan istrinya.


Setelah tawa mereka reda barulah kembali serius.


"Pi… Paman Max pasti punya banyak kenalan dokter spesialis kan pi?" Zach bermaksud menanyakan perihal pengobatan ayah Celo, calon ayah mertuanya.


"Tentu saja. Kenapa memang?" Ucap beliau masih sambil mengurusi tanaman.


"Papi akan tanyakan."


"Thanks pi…"


"Mm…Zach, jika benar kau mau membawa ayahnya Celo ke dokter lebih baik jangan disampaikan nanti nak. Takutnya mereka akan tersinggung dan menyangka bahwa kita tidak menerima keadaan mereka yang sekarang." Papi menjelaskan agar putranya tidak salah langkah dan malah menyakiti perasaan orang lain.


"Papi bener. Hampir aja Zach melakukan kesalahan, makasih lagi ya pi.."


"Sudah tugas papi nak. Bagi mami dan papi kalian tetap putra putri kecil papi yang sampai kapanpun akan selalu kami tuntun."


Beliau tersenyum mengusap pucuk kepala anaknya.


"Udah sana siap-siap, ntar mami heboh lagi.." Zach segera beranjak kedalam masuk kekamarnya untuk bebenah.


°°°°


Tak berbeda jauh dengan kediaman Alterio rumah kecil Celo juga terjadi sedikit kehebohan, ya hanya sedikit karena hanya ada Celo, nenek dan bibi kedai yang juga ikut membantu karena beliau menganggap Celo sebagai ganti putrinya.


"Bagaimana bu, apa semua sudah lengkap? Apa kita perlu membeli sesuatu lagi?" Bibi menanyakan apa masih ada yang kurang karena separuh dari hidangan bibilah yang membelinya.


"Sudah cukup Mei, Celo bilang mereka yang kemari hanya bertiga saja."


"Baiklah. Saya pamit pulang sebentar mau bersih-bersih, nanti saya kemari lagi bu." Pamit bibi kedai.


"Baiklah. Terimakasih banyak Mei, selama ini kau sungguh sudah banyak membantu keluarga kami. Terimakasih banyak nak." Ucap nenek penuh kesungguhan.


Sepeninggal bibi nenek juga menyuruh Celo bersiap-siap. Takut nanti mereka bisa datang kapan saja.


"Celo, kemari sebentar nak." Tak lama Celo menghampiri neneknya sehabis menemani sang ayah.


"Ya nek."


"Eihh…anak nakal ini. Cepat sana berpakaian, sebentar lagi calon suami dan mertuamu akan datang" nenek berucap sedikit memukul pantat cucu satu-satunya. Mendapat omelan segera saja Celo berlari kekamarnya.


"Ingat, dandan yang cantik ya nak.." beliau sedikit berteriak.


Sementara dalam kamar Celo sibuk pilah pilih baju apa yang pantas ia pakai. Ia tak mau sampai nanti ayah dan neneknya malu karena ia salah berpakaian.


"Apa mas Zach dan keluarganya benar-benar akan datang? Jika benar, apa aku pantas jadi istri mas Zach dan menantu dikeluarga mereka?" Pikiran Celo menguar entah kemana-mana.


Selesai berperang dengan batin Celo memilih satu midi dress yang kata neneknya itu dress yang dipakai ibunya saat dilamar ayahnya. Meski sudah sangat lama namun dress itu masih terlihat bagus dan bersih karena disimpan rapi oleh nenek.


°°°°


Tak lama berselang setelah bibi kedai kembali, Zach dan kedua orangtuanya juga datang. Nenek dan bibi menyambut mereka dengan kekeluargaan yang pekat.


"Selamat malam tuan, nyonya, selamat datang dirumah kecil kami." Terlihat bibi menyambut kedatangan mereka.


"Malam juga nyonya jangan begitu, besar kecilnya suatu rumah bukanlah masalah, yang terpenting kehangatan yang dihadirkan didalamnya." Mami Zach menghampiri bibi dan nenek sembari memeluk mereka satu persatu bergantian.


Papi menyikut Zach meminta anaknya untuk memperkenalkannya juga.


"Ahh…ya nek, bi, kenalkan ini mami, dan ini papi Zach." Zach memperkenalkan kedua orang tuanya meski sudah kecolongan oleh maminya.


"Mih, pih, ini nenek Celo dan ini.." ia bingung harus bagaimana mengenalkan bibi kedai.


"Saya bibi, sekaligus ibu angkat Celo." Mereka saling berjabat tangan sesudahnya.


"Silakan tuan, nyonya, nak Zach silakan duduk." Bibi menyilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


"Mei, panggilkan Celo. Tidak sopan membuat orangtua menunggu."


"Ya bu. Sebentar."


Tak lama bibi keluar dengan Celo mengekor dibelakangnya. Dia nampak malu-malu merasa dirinya tak pantas ada disana, namun karena ia sudah berani memulai maka ia juga yang harus menyelesaikannya. Celo melangkah pelan, saat sampai dihadapan semua orang tanpa sengaja matanya menatap mata elang milik Zach.


"Astaga…kenapa malam ini mas Zach sangat tampan, malahan semakin bertambah ketampanannya. Rasa apa ini? Kenapa sangat aneh dalam perutku, seperti ada kupu-kupu." Celo membatin, sungguh Zach benar-benar tampan sekarang dengan baju kaos putih dilapisi kemeja polos warna cream yang sengaja tak dikancingi.


Suatu masalah jika kita berani memulai, maka kita juga yang harus menyudahinya. Jangan biarkan terbengkalai atau diselesaikan orang lain sebab tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan, karena dari masalahlah kita dapat belajar.


°°°°