Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
bachelor party



■■■■


Tepat pukul 7 malam, Zach menjemput Celo kekediamannya juga minta izin pada ayah dan neneknya. Seperti yang ia tau ini pasti kali pertama untuk Celo keluar malam.


"Sudah siap?" Tanya Zach, ia memperhatikan penampilan Celo dari atas hingga kebawah. Sama seperti saat malam lamaran, Celo berhasil membuat Zach terpukau. Kali ini Celo hanya memakai A-line dress berbahan dasar brokat warna merah.


"Ssudah mmas.." gadis itu berucap malu-malu dan itu sukses menyadarkan Zach dari pesonanya.


"Hem..baiklah, kita pamit pada nenek dan ayah dulu."


"Ya mas."


Usai berpamitan, Zach dan Celo segera kemobil untuk mencapai tujuan mereka kepesta yang diadakan oleh sahabat Zach. Kali ini pesta di adakan disalah satu night club milik Eric entah surprise apa yang akan mereka berikan.


°°°°


Zach membawa Celo kesebuah tempat yang sangat asing baginya. Seperti yang kita tau Celo bisa dikategorikan sebagai gadis yang kurang beruntung. Sebenarnya bukan kurang beruntung juga, hanya saja kehidupannya hanya pas-pasan sehingga untuk datang kesebuah pesta ia harus berpikir seribu kali.


"Ini tempat apa mas? Kenapa gelap sekali disini?" Tanya Celo. Terkadang Zach juga tak habis pikir, apa sebegitu sulitnya hidup gadis ini hingga untuk mengetahui tempat seperti ini saja ia tak tau.


"Night club. Tempat orang membebaskan diri sesaat, lebih tepatnya tempat untuk bersenang-senang." Seketika ucapan Zach barusan membuat Celo takut.


"Tenang saja, aku akan menjagamu. Tak akan ada seorang pun yang bisa menyakiti bahkan menyentuhmu. Percayalah." Terang Zach yang mengerti kegelisahan Celo. Ia pun menggenggam tangan gadis yang sebentar lagi akan sah menjadi istri penggantinya. Ya, hanya pengganti.


"…." Celo hanya diam saja, tapi dalam hati ia percaya Zach tak akan menjerumuskannya.


Begitu masuk Celo sungguh-sungguh terkejut, didalam sana jauh diluar dugaannya. Semua orang bercampur menjadi satu, pria dan wanita bercampur bahkan lebih dari separo diantara wanita-wanita itu menggunakan pakaian yang tak layak pakai. Dan mereka juga diam saja saat beberapa pria mengerubungi bahkan menyentuh tubuh mereka. Celo yang melihatnya semakin bergidik ngeri tatkala beberapa pria menatap kearahnya dengan tatapan lapar padahal pakaiannya sangatlah tertutup.


"Mas…Celo takut." Ucapnya gemetaran.


"Jangan takut. Ada aku disini." Tangan Zach yang semula menggenggam tangannya kini beralih kepinggang rampingnya. Dan sukses membuat Celo semakin takut.


"Jangan takut. Percayalah, aku tidak akan macam-macam. Jangan salah paham, ini hanya agar kau lebih dekat denganku supaya tubuhmu tak bersentuhan dengan pria-pria kotor itu." Ucap Zach menjelaskan.


"Bodoh kau Celo, mas Zach cuma bermaksud melindungimu.." Celo merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.


Cukup susah melewati lautan manusia yang tengah terbakar gairah. Hingga akhirnya Zach dan Celo sampai diruangan yang hanya diperuntukkan untuk mereka saja. Didalam sana nampak Eric dan kekasihnya Audrey lalu Shane dan dua wanita malam dengan pakaian kekurangan bahan khasnya.


"Heyyo…bro…" mereka saling memberi salam ala lelaki.


"O ya, kenalkan ini Celo she's my future wifey." Zach memperkenalkan Celo pada sahabatnya.


"Celo, ini Eric, dia pemilik tempat ini so, don't be scared. Ini kekasihnya Eric Audrey, dan ini Shane si pria bodoh yang menyebalkan." Jelas Zach memperkenalkan sahabat-sahabatnya.


"Hey..hey keep calm bro! I'm a good boy okk!"


"Cihh.." jelas saja Zach mencibir Shane, orang jelas-jelas dia punya peliharaan juga dua lagi.


"Haii Celo. Aku Audrey, salam kenal. Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa kasih tau aku." Audrey mengulurkan tangannya.


"Dia gadis baik-baik bukan seperti yang dua ini. Dia juga cantik dan lembut." Pikir Celo dalam hati.


"Ahh..iiyya kak. Salam kenal." Tak ingin membuat Audrey menunggu Celo membalas uluran tangannya.


"Kemarikan ponselmu." Audrey meminta ponsel Celo, bermaksud memasukkan contactnya.


"Ingat, jika butuh sesuatu segera hubungi kakak."


"Terimakasih kak." Entah kenapa begitu melihat Celo, Audrey merasa ingin dekat dengan gadis itu terlebih lagi setelah ia mendengar apa yang telah terjadi antara dia dan zach.


"Gadis ini sungguh menarik ia bisa berteman dengan siapa saja dan juga bisa membuat setiap orang yang mengenalnya bisa merasa nyaman." Batin zach berucap.


"Udah mulai malam ni. Gimana kalo kita nge-game aja." Shane mulai angkat bicara karena ia mulai merasa bosan.


"TOD ajalah biar seru." Eric ikut-ikutan.


Mereka bermain TOD sebuah botol berputar diatas meja dihadapan mereka.


"Okk, the first Shane." Teriak Audrey.


"I chose dare."


"Shane, kamu telan tu es batu." Mereka semua tertawa dengan tantangan yang diberikan Zach.


"Shitt!! Suruh nyosor kek, atau maen gitu." Balasnya memelas, tapi tetap saja dilaksanakan toh itu aturannya kan.


"Oke next."


"Celo…" teriak mereka bersama.


"Celo pilih truth aja."


"Sudah berapa kali kau dicium Zach?" Dengan sembrononya Shane bertanya.


"…." Karena malu dengan pertanyaan Shane Celo hanya menggeleng serta menyembunyikan wajahnya.


"Wahh…hebat juga kau nahannya bro.." sindir Shane pada Zach.


"Next…"


Saat botol berputar ponsel Zach bergetar tanda ada panggilan masuk.


Drtt..drrtt…


"Sebentar ada panggilan dari Bryan." Bryan adalah salah satu orang kepercayaan Zach yang pernah ia suruh menyelidiki kasus penyerangan papinya beberapa waktu lalu.


"Okk.."


Mereka tetap melanjutkan permainan sepeninggal Zach mengangkat panggilan.


°°°°


"Ada apa?"


"Aku sudah menemukannya kak." Ucap Bryan diseberang sana.


"Dimana?"


"Distrik Haidian, Beijing, China."


"Apa Eric tau ini?"


"Ya. Apa kak Eric tidak memberi tau kak Zach?"


"Shitt!!" Zach lansung memutus sambungan dengan Bryan.


Ia kembali masuk kedalam dengan emosi menyelimutinya.


"Ric, kita harus bicara!!" Zach menghampiri Eric ia tak ingin jika sahabatnya yang lain melihat jika mereka akan bertengkar akhirnya.


Setibanya diluar lansung saja Zach melayangkan pukulannya pada sahabatnya itu. Namun, bukan Eric namanya jika ia menerima begitu saja.


"Sepertinya aku tau apa yang akan kau bicarakan." Ucapnya tenang.


"Ya! Dan kau berlagak tak tau, kau buat aku seperti orang bodoh Ric! Sahabat macam apa kau ini HAH!" Zach meluapkan segala emosinya.


"Berarti Bryan belum mengetahui keseluruhannya."


"Lalu kenapa tak kau sendiri yang memberi tau ku heh!"


"Karena kau egois! Aku tak mau kau menyakiti gadis yang kau bawa tadi!!"


"Kau bilang aku egois! Kau lebih egois brengsek!! Kau mau mencegah aku menyakiti gadis itu, sementara disisi lain aku akan menyakiti wanita yang paling ku cintai!! Persahabatan macam apa ini!!" Zach benar-benar marah sekarang, ia sudah tak bisa berpikir secara logis, cinta sungguh telah membutakannya.


Zach merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan menghubungi Bryan kembali.


"Bryan carikan aku tiket penerbangan sekarang!!" Setelahnya ia lansung memutuskan panggilan itu. Zach pergi meninggalkan Eric dan semua. Bahkan ia meninggalkan Celo untuk yang ketiga kalinya.


"Zach, kau meninggalkan gadis itu!"


"Urus saja dia bersamamu!" Teriaknya.


"Asal kau tau Zach, Melodi pergi karena dia telah mengkhianatimu. Dia hamil anak pria lain!!" Eric balas berteriak yang sukses membuat langkah Zach terhenti.


"Kau yang pengkhianat Ric, jangan mengkambing hitamkan orang lain." Tentu saja dia tidak akan percaya begitu saja ucapan sahabatnya.


"Terserah!! Jika kau mau tau kenyataannya silakan saja kau susul dan kau juga harus siap untuk kecewa!!" Setelah mengucapkannya Eric kembali masuk kedalam, sementara Zach benar-benar pergi.


°°°°


Celo kembali kerumahnya tepat pukul 10 malam. Dia pulang diantar Eric dan Audrey, mereka beralasan Zach ada panggilan meeting mendadak.


Baru akan memejamkan mata, dering ponsel memanggilnya.


"Mas Zach." Senyum mengembang dikedua sudut bibir gadis itu, ia tak tau sama sekali apa yang sedang terjadi.


"Halo mas." Sapanya.


"Celo, jangan lupa bersiap besok pagi. Supir akan menjemputmu dan yang lain"


"Yya mas.." Celo menjawabnya dengan penuh senyum.


"Ingat, besok adalah pernikahan kita."


"Ya mas, Celo ingat itu."


"Baiklah, selamat malam."


"Mas juga, selamat malam." Celo sungguh bahagia sekarang, meski ia tau cintanya bertepuk sebelah tangan.


■■■■