Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Disayangkan kami harus memamerkan berlian se mahal dan se berharga itu.



▪︎▪︎▪︎▪︎


Tiba juga hari dimana keluar besar Alterio merayakan hari jadi perusahaan mereka, perusahaan ternama yang kini sudah merambah pasar Eropa.


Bertepatan malam ini juga, Papi akan mengumumkan pensiunnya beliau untuk di gantikan oleh putra satu-satunya Zach. Namun, hingga satu jam sebelum acara pria yang akan menjadi ayah tersebut belum juga terlihat batang hidungnya.


"Kau gelisah sekali, kenapa?" Chris yang baru saja selesai membantu merias kakak iparnya menangkap gelagat aneh wanita itu.


"Mm…Kenapa Mas belum juga datang ya kak?" Tanya Celo. Semenjak malam permintaan maaf Chris mereka jadi dekat bahkan saling curhat satu sama lain.


"Sabar saja. Kakak pasti datang, karena Papi sudah menyiapkan sesuatu yang sangat besar untuk suami mu itu." Chris yang mengetahui rencana Papi terlihat sangat senang.


"Hahh..baiklah Kak." Desahnya pasrah.


"Coba berdiri." Titah Chris. Wanita itu ingin melihat hasil karyanya.


"Uwahh…benar kata orang-orang, pesona wanita hamil memang berbeda. Aura kecantikannya bertambah berkali lipat, kau sangat cantik Celo." Imbuh Chris tulus.


"Kakak ada-ada saja." Celo merasa malu dengan pujian itu.


"Tidak, kau benar-benar sangat cantik malam ini. Tidak. Salah, tidak hanya malam ini kau semakin cantik semenjak menjadi ibu hamil." Tak ada habisnya Chris memuji istri kakaknya itu.


"Terima kasih." Balas Celo tak kalah tulusnya.


^^^^


"Bagaimana?" Pria bertubuh gembul kembali mendapat laporan dari anak buahnya, sementara ia menunggu disebuah mobil Van tepat di seberang Hotel. Dimana tempat diselenggarakannya pesta keluarga Alterio.


"Semua beres Tuan. Kita hanya perlu menjalankan sesuai rencana." Begitulah laporan pasti dari anak buahnya.


"Bagus. Kita akan masuk setelah semua keluarga inti datang." Ujarnya penuh perintah.


"Baik Bos." Anak buahnya pergi entah kemana.


"Tunggu dan lihat saja Zach? Kau akan kehilangan anak dan istri mu, seperti aku kehilangan wanita dan anak ku." Tangannya mengepal sehingga buku-buku jarinya memutih.


"Hah, jika ini berhasil aku telah menghabisi dua calon pewaris keluarga Alterio. Tidak hanya itu aku juga sudah mencicipi adik tersayang, bagaimana kalau istrinya juga? Pasti akan sangat seru." Semua keberhasilan rencananya sudah tergambar jelas di otaknya.


"Harusnya tidak hanya keluarga Alterio, Tuan Adinatama juga harus diberi pelajaran. Dilihat-lihat istrinya Eric juga manis, setelah puas akan ku jual istrinya itu ke Club miliknya sendiri." Entah keberanian dari mana ia berani menyusun rencana sedemikian rupa.


^^^^


Ball room termegah yang hanya di punya hotel itu, kini berisikan orang-orang penting semua. Mulai dari kerabat sampai ke sahabat terdekat, meski yang paling banyak tetaplah kolega dan rekan bisnis Papi.


Semua mata tertuju saat tiga orang wanita yang sangat mencuri perhatian masuk kedalam hall tersebut. Decak kagum mulai berbisik namun tak sedikit pula yang bertanya-tanya. Jika Mami dan Chris sudah pasti setiap orang pasti sudah mengenal mereka, lain halnya Celo hanya kerabat saja yang tau bahwa wanita hamil itu adalah menantu keluarga Alterio.


Sepasang mata dari ratusan orang yang hadir memandang Celo dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hei, tatapan kau itu membuat orang berpikiran lain." Sikut Shane melihat arah tatapan mata Zach. Benar, Zach sudah tiba sejak tiga jam yang lalu. Tapi Mami melarangnya untuk bertemu menantunya karena itu akan menjadi surprise.


"Wauu…Lihatlah Bos, kakak ipar semakin cantik dan se*y saja semenjak hamil. Aura kecantikannya bertambah berkali lipat." Ujar Bryan dengan pandangan mata tak bisa ia alihkan. Semua memang hadir disana tak terkecuali Bryan juga Nate.


"Jangan Bos. Itu hanya sebuah ungkapan, bukan pujian." Meski bercanda namun tetap saja, siapa yang melihatnya akan melihat mereka sedang bertengkar.


Tak mempedulikan pembelaan diri Bryan Zach melengos pergi begitu saja. Tak sedikit godaan terlontar dari bibir sahabat bahkan Papinya sendiri, Zach tak peduli, ia hanya ingin mendekap istri dan anaknya detik ini juga.


"Mas." Sapa Celo gugup, ia sangat malu dengan keramaian saat ini.


"Sayang, Mas sangat merindukan kalian." Tak mau waktu terbuang, Zach meraih tubuh mungil Celo yang kini tengah hamil kedalam pelukan hangatnya.


"Mas, disini banyak orang, mereka memperhatikan kita Mas." Ujar Celo malu dan tak enak hati.


"Biarkan saja, biar mereka tau bahwa ini adalah istri Mas dan disini ada anak Mas. Pewaris Alterio." Bisik Zach masih terus memeluk Celo.


"Ehem.." Mami dan Chris berdehem bukan bermaksud untuk mengganggu, tapi mau menggoda mereka.


"Hai baby, apa kabar kalian didalam sana? Tidak menyusahkan Mommy kalian kan?" Meski berat hati Zach melepas dekapannya, lalu beralih ke perut buncit Celo yang semakin besar saja.


"Tidak Daddy." Saut Celo menyerupai suara anak kecil.


Melihat interaksi akrab Zach dan Celo, menimbulkan desas desus dari para tamu disana. Sampai suara Papi yang ada di podium mengalihkan perhatian mereka semua.


"Selamat malam para tamu undangan yang terhormat, terima kasih atas kesediaan waktu anda semua malam ini. Tidak mau banyak basa basi malam ini tepat di hari jadi perusahaan kami. Saya mengumumkan pengunduran diri dari tanduk kepemimpinan Big A Company. Sebagai gantinya putra semata wayang sayalah yang akan mengambil alih segalanya Zachery Kevlar Alterio." Di akhir kalimat tampak Zach dengan gagahnya berjalan ke podium, meninggalkan istri, Mami, juga adiknya. Setiap langkahnya diriuhkan suara tepuk tangan dan decak kagum para kaum hawa.


"Selamat malam, terima kasih atas waktunya. Pertama saya berterima kasih pada Tuan dan Nyonya Alterio, juga Nona Christa atas semua dukungan dan kasih sayang mereka." Ujar Zach memulai pidato singkatnya.


"Malam ini juga saya akan memperkenalkan wanita yang sangat saya cintai, istri saya, menantu sah keluarga alterio." Chris menuntun Celo ke atas podium, sayang wanita hamil itu tak mau mengangkat kepalanya. Sampai dihadapan Zach, pria itu menariknya lalu merangkul pinggangnya. Celo yang terkejut sontak saja mengangkat wajahnya.


" Dan ini," seraya mengelus perut buncit Celo Zach kembali melanjutkan kalimatnya.


"Ini keturunan alterio, penerus Alterio." Zach berucap bangga, dikecupnya perut Celo lalu beralih ke kening istrinya lalu terakhir bibir tipis nan manis milik istrinya. Satu tangan Zach tak lepas memeluk perut Celo, begitupun kedua tangan Celo juga memeluk tangan Zach yang ada di baby bump nya sementara satu tangan Zach yang lain merengkuh mesra tengkuk istrinya.


Terdengar riuh tepuk tangan dan ucapan selamat di segala penjuru ball room di hotel tersebut. Namun akan aneh jika tak ada gunjingan terdengar.


"Kapan Zachery menikah? Kita tidak pernah menerima undangan. Jangan-jangan karena wanita itu sudah hamil duluan?"


"Benar. Lihat saja, wanita itu sepertinya bukan dari kalangan kita. Apa mungkin dari kalangan bawah?"


"Ah itulah, karena dia menolak putri kami. Akhirnya mendapat menantu tak jelas seperti itu." Tak sedikit cercaan dan cemooh dibelakang Celo. Mami yang mendengarnya segera saja menghampiri para ibu-ibu itu.


"Maaf, Ibu-ibu. Menantu saya wanita baik-baik, malah terlalu baik untuk pria seperti putra saya. Kami tidak mengadakan pesta bukan karena menantu saya hamil di luar nikah, tapi karena sangat disayangkan kami harus memamerkan berlian se mahal dan se berharga itu." Belajar dari Celo, Mami bisa menghadapi ibu-ibu bermulut berbisa itu dengan tenang. Ya walau dengan bahasa yang sedikit menekan.


"Maaf Nyonya." Saut mereka berbarengan.


"Ah ya satu lagi, kami menolak karena kami tau bahwa anda mau menutupi putri anda yang tengah hamil bukan?" Sindir Mami tepat sasaran.


Puas membuat para ibu itu memucat wajahnya, Mami dengan santai menghampiri keluarganya yang masih berada di podium.


▪︎▪︎▪︎▪︎