
"Distrik Haidian, Beijing, China."
"Bry carikan aku tiket penerbangan sekarang!!"
■■■■
Malam itu juga setelah Bryan mencarikannya tiket penerbangan menuju Beijing, China. Zach bergegas menuju airport menyusul seseorang yang beberapa hari ini dicarinya.
"Tunggu aku. Aku akan menjemputmu dan membawamu kembali apapun alasanmu." Tekadnya sepenuh hati.
Sebelum benar-benar terbang, Zach menyempatkan waktu menghubungi Celo.
"Celo, jangan lupa bersiap besok pagi. Supir akan menjemputmu dan yang lain"
"Yya mas.."
"Ingat, besok adalah pernikahan kita."
"Ya mas, Celo ingat itu."
"Baiklah, selamat malam."
Entah apa maksud Zach sebenarnya. Apa yang akan dia lakukan di Beijing?
°°°°
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih hampir lima jam. Zach akhirnya memijakkan kakinya dinegara tirai bambu, tepatnya ia sekarang berada di Beijing, China. Sesegera mungkin Zach menuju alamat yang diberikan oleh Bryan.
Waktu setempat menunjukkan sudah hampir subuh. Sejam lebih bepergian dengan mobil, akhirnya Zach sampai ditempat tujuannya sebuah rumah klasik sederhana. Tanpa membuang lebih banyak waktu, lansung saja Zach turun dari mobil sewaannya bertamu kerumah itu.
Tok…tok…
Tak ada jawaban. Hanya orang gila yang menggedor-gedor rumah orang lain disaat pagi buta begini. Karena tak sabaran Zach terus saja menggedor lagi, ia tak peduli bagaimana tanggapan orang lain jika melihatnya.
Tokk…tokkk….
Kali ini jauh lebih keras dan kasar. Hingga si penghuni rumah merasa terganggu dan keluar.
Ceklek
"Sorry…wh-…" ucapan Melodi terpotong begitu ia melihat Zachlah yang berada dihadapannya. Ya, rumah itu adalah rumah Melodi tempat dimana ia bersembunyi selama seminggu ini.
"Z-Zzachery…" lansung saja ia menutup pintu rumahnya. Namun Zach masih lebih beruntung, secepat kilat ia menahan pintu tersebut. Keberuntungan Zach lainnya, tentu saja ia yang lebih kuat selain wanita Melodi juga sedang hamil muda.
"Kita perlu bicara!!" Ucap Zach tenang tapi tersirat tekanan disana.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kita sudah berakhir, pergilah." Melodi, berjalan membelakangi Zach.
Zach mengikuti Melodi, ia masih belum mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.
°°°°
Melodi menyerah, ia tidak akan pernah menang melawan kekeras kepalaan zach.
"Ini minumlah. Jam berapa kau berangkat kemari tadi?" Melodi masih menunjukkan kepeduliannya.
"Aku disini bukan untuk menjawab pertanyaan kau! Disini akulah yang akan bertanya! Jawab dengan jujur nona Achazia, jika tidak kau tau bukan bagaimana caraku menghadapi penghianat dan pembohong!!" Setiap kata yang keluar dari mulut Zach penuh dengan tekanan dan intimidasi.
"Aku tidak pernah menghianatimu Zach. Aku dipaksa.." Melodi mulai bicara.
"Heh..dipaksa? Kau dipaksa!! Lalu kenapa tak kau gugurkan saja anak harammu itu HAH!!" Timpal Zach setengah berteriak.
"Ohh..aku tau, kau menaruh hati pada pria itu kan!! JAWAB!!" Lanjutnya lagi, kali ini penuh dengan kemarahan.
"Katakan, siapa pria itu?" Melodi hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ia tak mau memberi tau Zach yang sebenarnya
"Ohhh…kau mau melindunginya atau mencintainya heh??" Ejek Zach.
"Tidak Zach, tidak. Aku hanya mencintaimu. Percayalah. Asal kau tau itu." Melodi mulai ketakutan akan kemarahan Zach.
"Kau tau bukan, aku hidup sabatang kara selama ini. Aku tak mau menggugurkan anak ini karena aku tak mau menjadi sebatang kara terus. Dan juga dia berhak untuk hidup Zach, meski aku sebatang kara tapi orangtuaku tetap memberikan kehidupan padaku. Terlepas bahagia atau tidaknya aku dimasa lalu." Melodi menyampaikan semua curahan hatinya.
Zach seketika luluh mendengarnya, karena memang dasarnya ia sangat mencintai wanita itu.
"Tapi kenapa kau melakukan ini padaku?" Zach mulai bingung dan goyah akan kemarahannya.
"Karena aku mencintaimu Zach."
"Aku tak mau membohongi dan menyakitimu."
"Tapi tetap saja kau menyakitiku. Ayo kita kembali dan melanjutkan pernikahan kita. Bilang saja pada semua orang itu anakku, semua akan percaya." Ide gila itu tiba-tiba saja terlintas diotak kotornya.
"Tidak bisa Zack. Seorang ibu tak akan pernah bisa membohongi jati diri anaknya. Karena hanya ibunyalah yang tau siapa ayah dari anaknya." Tolak Melodi.
"Lagi pula, dari yang kudengar kau tetap akan menikah besok bukan. Dengan wanita lain." Lanjut Melodi.
"Ya. Tapi kau jangan khawatir, pernikahan ini hanya sementara. Gadis itu hanya akan menggantikanmu sampai kau kembali. Setelahnya semua akan kembali keposisinya semula. Setelah anak ini lahir kau harus kembali kesisi ku. Kau mengerti!!" Zach menyampaikan semuanya tanpa ada keraguan dan lebih cenderung seperti sebuah perintah.
"Inilah yang membuatku berpaling dan bisa dipaksa pria lain Zach." Ucap Melodi dalam hati.
"Itu artinya kau mempermainkan wanita itu Zach. Kasihan dia."
"Apanya yang kasihan? Malahan dia akan senang setelahnya. Dan juga, ini bentuk pembalasan karena kau sudah dipermainkan pria itu! Satu lagi, Chris bilang gadis itu sudah menggoda kekasihnya." Tutur Zach panjang lebar.
"Zach!!"
"Sudahlah. Kenapa harus memikirkan orang lain, cukup hidup kita saja. Oke!" Zach memegang kedua pundak Melodi, meyakinkan gadis itu akan cintanya.
"Sudahlah. Aku tau kau lelah dalam perjalanan tadi, istirahatlah sejenak." Ia lelah jika harus terus melayani sifat egois Zach.
"Baiklah. Tapi kita belum selesai bicara, kita lanjutkan lagi nanti." Zach memeluk Melodi sekilas sebelum dia istirahat dikamar yang disediakan Melodi.
°°°°
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, Melodi berhasil membujuk Zach untuk pulang ke negaranya dan melanjutkan rencana pernikahannya.
"Baiklah. Baiklah. Tapi ingat, kau hanya milikku!" Bisik Zach tepat ditelinga Melodi.
"Tapi kau juga harus ingat Zach, meski kau menikahi wanita itu kau harus tetap menjaga cintamu untukku." Jari telunjuk Melodi dengan gatalnya bermain di dada bidang Zach.
"Tentu sayang." Zach mengecup sekilas kening Melodi sebelum benar-benar meninggalkan wanitanya kembali kenegaranya.
Zach meninggalkan rumah Melodi dan segera menuju airport. Ia harus segera kembali dan melanjutkan pernikahannya dengan Celo. Dalam perjalanan, ponsel Zach bergetar karena panggilan masuk dilihatnya sekilas dan tertera nama Celo.
"Ya.."
"Mas..ini aku Celo."
"Ya, aku tau. Ada apa?"
"Mas dimana sekarang?"
"Dalam perjalanan. Tunggulah sebentar lagi."
"Baiklah mas, tapi mas tidak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja. Tunggulah."
"Ya mas."
Zach, mulai merasa gundah sekarang, apakah ia harus menikahi gadis itu. Melodi benar-benar membawa pengaruh besar didirinya.
°°°°
Setelah menempuh kembali penerbangan udara selama hampir lima jam, Zach lansung menuju rumahnya. Sedikit lagi Zach memasuki gerbang rumahnya, tapi karena ada hal yang mengganjal Zach mengurungkan niatnya. Ia memberhentikan mobilnya diseberang jalan rumahnya.
"Celo, maaf. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Maaf." Zach menghubungi Celo dan membatalkan pernikahan mereka secara sepihak.
"Yy-.." ia memutuskan sambungan sebelum Celo banyak bertanya akhirnya ia akan goyah karena kasihan dengan gadis itu. Zach telah dibutakan oleh cinta, ia tak dapat lagi membedakan tindakannya.
Cinta adalah sebuah takdir yang kita sendiri tak tau kemana akan membawa kita. Jika kita dipertemukan dengan orang yang kita cinta, bukan berarti kita akan selalu berjodoh dengannya. Dan juga pertemuan kita dengan orang yang kita cinta bukan berarti kita bisa mengikatnya sesuai dengan waktu yang kita inginkan bisa cepat bisa juga lambat. Semua itu adalah takdir yang berkuasa.
■■■■
Bagi yang mau tau alasan Zach meninggalkan Celo dihari pernikahan mereka dan juga apa yang terjadi dengan pertemuan Zach dan Melodi udah dijelasin di chap ini ya..
Jangan lupa Like dan Comment agar saya bisa lebih sering dan cepet Up nya ya…
Votenya juga ya bagi yang mau
Makasih…