
▪︎▪︎▪︎▪︎
Kandungan Celo memasuki bulan ke delapan yang mana bertepatan dengan bulan hari jadi perusahaan keluarga Alterio. Di usia yang ke delapan ini, Celo semakin kesusahan saja karena selain bayinya kembar juga berat badannya yang tidak bertambah. Meski begitu ia sama sekali tidak mengeluh malah sangat menikmati perannya sebagai ibu hamil.
"Sayang sekali ya nak cucu Mami tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya." Desah Mami sedikit kecewa.
"…." Tidak tau harus menjawab apa, Celo hanya tersenyum ringan.
"Mulai sekarang, jangan lagi melakukan pekerjaan apapun ya nak. Mami khawatir dengan persalinan mu nanti." Benar, rasa khawatir beliau lebih besar dari rasa kecewanya. Sebab beberapa bulan setelah hamil Celo tak menunjukkan perubahan berat badan dan itu membuat siapa saja cemas tak terkecuali Dokter yang menanganinya.
"Tidak apa-apa Mi, jangan cemas begitu. Celo sungguh baik-baik saja." Ia menegaskan bahwa semua baik-baik saja agar orang terdekatnya tidak cemas. Bohong jika Celo tidak cemas, sebenarnya ia juga sangat takut dengan apa yang akan di hadangnya saat melahirkan. Namun bagaimana lagi, toh hamil dan melahirkan adalah kodrat setiap wanita.
"Maafkan Mami ya nak." Sesal beliau.
"Maaf kenapa Mi?" Celo terheran dibuatnya.
"Seharusnya kalian menunda dulu untuk punya anak, tapi karena keegoisan Mami malah jadi begini." Beliau menyampaikan penyesalannya.
"Mi, ini bukan salah siapa-siapa. Celo hamil bukanlah kesalahan Mi, ini anugrah. Cepat atau lambat Celo pasti akan hamil, hanya saja lebih cepat." Meski tersenyum terselip kesedihan disana.
"Maaf sayang, Mami bukannya bermaksud begitu." Merasa bersalah karena memuat menantunya berkecil hati.
^^^^
Sesampainya dirumah, Mami dan Celo disuguhkan oleh seseorang yang sudah sangat lama tidak bertemu.
"Chriss.." pekik Mami begitu melihat seseorang itu. Disamping Chris nampak Papi yang sepertinya baru saja menyambut kepulangan Chris.
"Mi," sapanya canggung. Lain halnya Mami, beliau bergegas menghampiri putri semata wayangnya lalu memeluknya erat.
"Kamu kemana saja nak? Mami sangat merindukan mu." Ujarnya disela pelukan mereka.
"Chris juga Mi, Maaf untuk segalanya." Cairan bening mulai meluncur dari kedua sela matanya.
"Tentu nak, tanpa kau minta pun Mami sudah pasti akan selalu memaafkan mu." Tukas Mami lembut.
Sementara Celo, bukannya tidak memperdulikan adik iparnya itu, ia malah sibuk menatap sekeliling berharap ada kejutan menantinya. Chris disela pelukannya dengan Mami, menangkap ekspresi wanita kakaknya sedang mencari sesuatu membuatnya sedikit tergelak.
"Kenapa tertawa huh?" Kesal Mami.
"Lihat menantu Mami, sepertinya dia berpikir kakak juga datang. Kasihan Celo, ia pasti sangat merindukan suaminya." Bisik Chris antar ia dan Mami saja.
"Dia tidak ada!" Chris melepas pelukan ibu dan anak itu untuk menjawab pertanyaan yang tidak dilontarkan wanita hamil itu.
"Ah…" sautnya sedih.
"Sayang sebaiknya Celo ke atas, istirahat ya nak." Pinta Mami, tak dipungkiri hampir seharian mereka berada diluar rumah.
"Ya Mi. Pi, Kak Chris, Celo ke kamar dulu." Pamitnya pada semua.
"Ya. Hati-hati di tangga." Timpal Papi ikut mencemaskan menantunya.
"Ya Pi." Celo selalu menghargai orang-orang yang mencemaskannya.
^^^^
Malam harinya usai makan malam bersama, Celo lansung pamit kembali ke kamar. Mungkin karena sudah delapan bulan ditambah lagi bayinya kembar, Celo semakin sangat kelelahan. Bukan lelah seperti biasa, tapi lelah yang benar-benar menguras tenaga.
Tok tokk
Baru akan merebahkan tubuhnya, ia mengurungkan niat untuk untuk itu. Dengan tertatih dihampiri daun pintu untuk mengetahui siapa yang mencarinya malam-malam.
"Kak Chris," saut Celo gugup, sebenarnya lebih ke takut.
"Boleh masuk? Ada yang ingin ku bicarakan?" Ujarnya datar juga dingin.
"Ss-ilakan masukk Kkak." Sangat kentara sekali ketakutan dimatanya. Ditambah Chris juga mengunci pintu dari dalam. Sedang Chris, melihat raut ketakutan istri kakaknya bukannya iba, ia malah ingin tertawa.
"…." Takut berkata, Celo memilih untuk duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
Dugh
"Astaga! Kakak sedang apa? Apa yang sedang kakak lakukan?" Jeritnya, begitu melihat Chris berlutut di kakinya.
"Celo, aku minta maaf atas semua perlakuan buruk ku terhadap mu. Keegoisan telah menutup hatiku." Dari matanya, Celo melihat kesungguhan.
"Berdirilah Kak, duduk disini." Ujar Celo sungkan.
"Tidak. Sebelum kau memaafkan ku." Sautnya tak mau kalah.
"Kak, sebelum kakak memintanya sudah Celo maafkan." Ia menarik pelan lengan Chris agar duduk sejajar dengannya.
"Aku berpikir dan selalu menyalahkan orang lain atas setiap keburukan yang menimpaku. Tanpa ku sadari, itu semua tak terlepas dari diriku sendiri. Aku baru tersadar disaat semua sudah pergi, pria yang ku cintai bahkan anakku sendiri." Ia menangis seraya mencurahkan segala isi hatinya.
"Aku sudah berubah Celo, ku mohon bantu aku untuk menjadi lebih baik lagi seperti mu." Lirihnya.
"Tentu kak." Mereka saling berbagi pelukan.
"Celo turut berduka ya kak, maaf karena Celo tidak bisa menemani kakak disaat terpuruk."
"Tidak apa-apa. Selamat juga atas kehamilan mu. Hey kembar, jangan nakal ya didalam sana. Bibi sudah menyiapkan hadiah spesial untuk kalian berdua, jadi cepatlah keluar kasihan Mommy kalian." Chris berbicara ke arah perut besar Celo, seolah yang diajak bicara benar ada di hadapannya.
"Terima kasih Kak." Sebelum keluar dari kamar Celo, mereka sempat berbincang sejenak sampah akhirnya mereka sama-sama lelah dan mengantuk.
^^^^
"Bagaimana? Apa sudah ada cara bagaimana aku akan menyelinap ke acara tersebut?" Tanya si pria gembul pada seorang yang sepertinya orang suruhan.
"Tenang Tuan, anda bisa masuk tanpa ada seorang kun yang mengenali." Saut si orang suruhan.
"Bagus. Ini untu mu." Dia melepaskan segepok uang untuk orang suruhannya karena sudah berhasil menjalankan misi.
Usai menerima bayaran pria itu pergi begitu saja dari tempat yang nampak seperti sebuah bangunan tua. Pria itu duduk dengan kaki yang dinaikkan diatas sebuah meja.
"Lihat saja Zach, akan ku buat istri tercinta mu itu merasakan bagaimana melahirkan ditempat terpencil dan tak ada seorang pun yang akan membantu. Kalian harus merasakan setiap penderitaan yang sudah dilewati oleh wanita juga anakku." Geramnya seraya mer***s cerutu yang tadinya terselip di antara jari tengah dan jari telunjuknya.
Kilatan dendam jelas menyala di bola matanya, telinganya memerah memendam itu semua. Pria yang tak lain dan tak bukan ialah ayah biologis anak Melodi. Entah bagaimana ceritanya ia bisa bebas berkeliaran dari penjara.
"Sebentar lagi, aku menemui kalian dan kita akan hidup bersama." Celetuknya lalu tertawa sendiri.
^^^^
Disisi lain, Eric yang mendapat kabar kaburnya pria tua itu. Segera turun tangan, ia tak mau sampai kecolongan. Bukan tidak mungkin istrinya yang tengah hamil juga akan ikut jadi sasaran.
"Nico, segera temukan dia!!" Perintah Eric.
"Baik Bos." Tak membuang waktu, Nico bergegas mencarinya.
"Sekali lagi kau berani menyentuh keluarga ku. Aku yang akan menjadi malaikat maut mu!!" Eric tersenyum iblis, membuat siapa saja yang melihatnya akan memilih bunuh diri saja.
▪︎▪︎▪︎▪︎