Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Pil pencegah kehamilan



▪︎▪︎▪︎▪︎


Sehari usai kepulangan Zach dan Celo dari libur dadakan mereka, hari berjalan seperti biasa. Mereka selalu pergi pergi berdua dan berpisah di depan kantor, Celo masuk ke toko sementara suaminya menuju kantornya.


Begitu pula pulangnya, mereka juga selalu bersama, Celo akan menunggu Zach menjemputnya dan suaminya akan dengan senang hati menghampiri istrinya.


"Masih ada pelanggan sayang?" Sore ini seperti biasa Zach menghampiri Celo untuk pulang bersama.


"Tidak Mas, baru saja pergi." Sahut Celo seraya mengemasi box bekalnya, untuk makan malam mereka di rumah.


"Sudah selesai?"


"Sudah. Yuk Mas, kita pulang." Ajak Celo, Zach meraih bawaan istrinya.


"Nona, Sesyil tidak sekalian ikut kami? Saya bersedia jika harus menjadi supir kalian lagi." Tawar Zach diselingi candaan. Sedang Sesyil yang mendengarnya menjadi malu dan salah tingkah karena sedikit merasa bersalah.


"Nona Sesyil sedang menunggu Bryan Mas." Celo menimpali pertanyaan suaminya.


"Bryan?"


"Ya, Bryan. Sini." Celo menarik bahu suaminya karena Zach yang terlalu tinggi untuk ukuran Celo yang mungil.


"Mereka sepasang kekasih." Bisiknya.


"Heumm??" Zach mengernyit tak percaya.


"Iya. Nanti saja Celo ceritakan, nanti Nona Sesyil malu." Celo menggandengblengan suaminya seraya berpamitan pada Sesyil.


"Nona Sesyil, kami duluan ya."


"Ya. Hati-hati di jalan Miss, Tuan." Mereka melambai satu sama lain, setelahnya Celo dan Zach hilang di balik pintu.


^^^


"Bagaimana ceritanya mereka bisa berkencan?" Zach tak habis pikir atas apa yang di kabarkan istrinya barusan.


"Sungguh Mas."


"Tunggu? Apa kau yang men comblangkan mereka sayang?" Ia jadi sangsi akan campur tangan Celo di hubungan orang kepercayaan mereka masing-masing itu.


"Tidak Mas. Ini real mereka berdua." Sanggah Celo.


"Tapi bagaimana bisa?"


"Mas ingat hari Kak Chris dibawa ke rumah sakit oleh Bryan?" Zach menganggukkan kepalanya.


"Hari itu juga mereka mulai berkencan." Jelas Celo penuh semangat dan bahagia.


"Aneh." Gumam Zach.


"Tidak ada yang aneh Mas, Celo yakin Bryan tidak hanya mempermainkan Sesyil. Dia benar-benar mencintainya." Yakin Celo pada suaminya.


"Kau yakin sekali? Sudah seperti para normal saja." Cibir Zach mencubit hidung Celo.


"Tentu saja yakin, karena tatapan mata mereka penuh cinta seperti kita." Usai menyudahi kalimatnya Celo jadi malu sendiri.


"Kita? Memang kita kenapa?" Goda Zach yang membuat Celo semakin memerah karena malu.


"Mmm….tapi bagaimana dengan kak Chris Mas, jika Bryan bersama Sesyil?" Tetap saja seorang Celo akan memikirkan perasaan orang disekitarnya.


"Jangan campuri percintaan orang lain, biarkan saja." Zach yang gemas kembali mencubit, tapi kali ini pipi Celo.


"Mm…Mas.."


"Mm…"


"Tadi pagi Celo sudah melakukan test nya." Ucap Celo ragu.


"Lalu bagaimana hasilnya?" Ia juga ikut penasaran akan hasilnya.


"Entahlah Mas Celo belum lihat, Celo takut melihat hasilnya." Tukasnya lemah.


"Tidak apa-apa. Kalau kau tidak mau melihat ya sudah, lupakan saja. Sayang, Mas tidak pernah meminta bahkan mendesak mu untuk segera hamil. Jadi, apa pun hasilnya tak akan pernah merubah apapun di antara kita." Zach menguatkan Celo, ia menautkan jari-jari mereka untuk menyalurkan cintanya dan juga untuk menguatkan istrinya itu.


^^^


"Nona, kau pesan dulu makanannya, apa saja yang kau suka. Aku perlu menghubungi seseorang sebentar." Malam ini, Bryan mengajak kekasih barunya berkencan dan saat ini mereka sedang dinner di restoran.


"Pergilah. Sana yang jauh." Sesyil memang orang yang apa adanya, ia tak sungkan menunjukkan rasa cemburu juga curiganya.


Lepas menjelaskannya pada Sesyil dengan cara yang tak biasa, Bryan berlalu untuk menghubungi seseorang.


"Dimana kau si***n?" Maki Bryan begitu terdengar sahutan dari seberang sambungan.


"Kau yang si***n, ada apa?" Tanya nya to the point.


"Kemana saja kau! Bukannya kau berjanji akan membantu melindungi Celo dari wanita ja**ng itu!" Marah Bryan penuh emosi.


"Aku sedang ada di Roma sekarang. Aku tau itu, tapi aku bisa apa jika dia sudah masuk ke rumah Zach. Jika muncul secara tiba-tiba disana yang ada beruang kutub itu akan salah paham lagi pada ku." Terang Nate. Ya, pria yang di hubungi oleh Bryan tak lain ialah Nate.


"Shitt." Umapatnya kasar.


"Kau tenang saja, aku sudah punya rencana sendiri untuk membuka topeng wanita itu." Nada tenang juga yakin ditangkap Bryan dari ucapan Nate.


"Baiklah, aku juga susah melakukan sesuatu untuk membuktikannya." Yakin Bryan dengan bangga.


"Sombong!" Cibir Nate.


"Ya sudah, aku sedang berkencan sekarang." Ujar Bryan akan mengakhiri panggilan mereka.


"Ingat, jangan sampai hamil lagi. Haha…" ejek Nate dari seberang.


"Bre****k, itu bukan anak ku!! Aw-"


Tutt


Belum selesai ia mengancam, sambungan telah di putus sepihak oleh Nate.


^^^


Menunggu wanita tercintanya menyiapkan makan malam mereka, Zach bersantai sejenak di teras belakang rumah. Dari sana ia bisa menikmati hasil berkebun istrinya. Ia memandang kagum akan keahlian Celo menata semua kelompok tumbuhan dan sayuran.


"Pantas saja Celo sangat menggilai berkebun, ini sangat indah juga menenangkan." Zach berbicara dengan dirinya sendiri.


"Iya Kak. Celo memang sangat pandai." Tiba-tiba saja Chris datang dan menyahuti ucapannya.


"Boleh Chris ikut duduk disini kak? Chris merindukan kakak." Ucapnya dibuat se iba mungkin.


"Mm…" Zach hanya bergumam pelan, kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


"Apa Celo sampai sekarang belum hamil juga kak?" Imbuhnya memulai percakapan, yang lansung mendapat tatapan mematikan dari Zach.


"Mm-mmaf Kkak." Ia menunduk bersalah.


"Kau tak berhak ikut campur, dalam rumah tangga kami kau hanya orang luar Chris." Ketua Zach.


"Chris tau kakak sangat ingin punya anak, apa lagi saat ini Chris dan juga Melodi sedang hamil. Tapi Celo belum juga." Bukannya mengindahkan peringatan Zach, ia malah kembali memancing kemarahan pria itu.


"Apa ingin kau katakan sebenarnya?" Tanya Zach datar penuh penekanan.


"Sebenarnya, tadi pagi Chris tidak sengaja melihat Celo meminum obat. Chris pikir Celo sakit, makanya Chris membawa bungkus obat itu ke apotek di ujung jalan. Tapi…" ia menggantung ucapannya untuk menunggu reaksi dari kakaknya.


"Tapi apa?" Kali ini lebih datar dari tadi.


"Itu bukan obat kak, tapi pil pencegah kehamilan." Ia tak berani menatap Zach karena takut.


"Shit! Beraninya dia mempermainkan ku!!" Jelas sekali Zach marah dengan aduan Chris.


"Kemarikan buktinya." Dengan kasar ia merampas bungkus itu dari tangan adiknya. Dengan langkah lebar Zach masuk kedalam mencari keberadaan istrinya.


"Kak..kakak tunggu. Sebaiknya dibicarakan dengan baik-baik, kasihan Celo kak." Dengan nada cemas di buat-buat Chris coba menghentikan kakaknya.


Melihat kakaknya sudah menghilang di balik pintu dengan emosi memuncak, raut wajah Chris lansung berubah senang. Senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya.


"Bagus. Rasakan kau Celo! Inilah akibatnya jika kau berani bermain-main dengan ku. Sebentar lagi wanita rendahan itu pasti akan ditendang keluar dari rumah ini." Ia menengadahkan kepalanya ke atas menikmati sapuan angin.


"Sekarang saatnya menyaksikan pertunjukan besar. Emm…sepertinya masih pertunjukkan pembuka, yang besarnya masih harus menunggu lagi." Ia berkata seorang diri bak orang gila yang disertai senyum liciknya.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman dengan LIKE & COMMENT


VOTE juga sangat mempengaruhi kapan Up nya…


TERIMA KASIH buat semua yang sudah sedia memberi dukungan dan Vote nya