
■■■■
"Astaga…kenapa malam ini mas Zach sangat tampan, malahan semakin bertambah ketampanannya. Rasa apa ini? Kenapa sangat aneh dalam perutku, seperti ada kupu-kupu." Celo membatin, sungguh Zach benar-benar tampan sekarang dengan baju kaos putih dilapisi kemeja polos warna cream yang sengaja tak dikancingi.
Sama dengan Celo, Zach menatap Celo tanpa berkedip sedikitpun.
"Kenapa dia sangat manis dan juga terlihat dewasa disaat bersamaan." Ucap Zach tulus dalam hatinya.
"Ehem hem…sayang mari sini duduk dekat bibi dan nenek".
Tanpa bersuara Celo duduk disamping bibi dan neneknya bertepatan dihadapan Zach.
Tanpa banyak pembahasan mereka setuju Celo dan Zach menikah empat hari lagi. Untuk semua persiapan dan kebutuhan keluarga Alteriolah yang menanggungnya meski sempat diwarnai perdebatan.
°°°°
Besoknya Zach menjemput Celo dan memintakan izin pada bibi karena mereka harus memeriksa ulang persiapan pernikahan mereka.
"Hari ini kita kemana dulu?" Tanya Zach pada Celo.
"Terserah mas saja, Celo akan ikut." Zach tersenyum dengan jawaban calon istrinya itu.
"Kalau gitu kita fitting gaun saja dulu, setelah itu baru pesan cincin. Biar searah semua agar tak memakan banyak waktu."
Celo hanya tersenyum dengan penjelasan Zach.
Zach melajukan mobilnya dengan santai, toh mereka juga tidak terburu waktu. Selama itu pula mereka hanya diam saja tanpa ada yang mau buka suara hingga mereka tiba ditempat tujuan.
°°°°°
"Hayy daddy…mau jemput rancangan baju pengantin kalian pasti…ya kann…" seorang pria lemah gemulai menyambut mereka saat baru melangkahkan kaki masuk dalam gedung yang merupakan sebuah boutique ternama.
"Dimana bibi Rein?" Tanya Zach dengan sedikit rasa geli, bibi Rein adalah bibi Zach adik dari maminya.
"Heihh…beliau ada didalam, masuk saja Dadd…kenapa sih gak mau sama akyu? Kesel deh ahh…" pria separuh wanita itu merengek dengan manjanya, karena geli juga kesal Zach menarik Celo pergi dari sana.
Tok tok
"Ya, masuk saja." Terdengar sahutan dari arah dalam ruangan.
"Ahh…Zach…duduk nak…" bibi Rein mempersilahkan mereka duduk setelah tau yang datang itu Zach.
"Thanks bi…" Zach mengajak Celo ikut duduk disampingnya.
Zach memperkenalkan Celo pada bibinya setelah mereka bertiga duduk.
"Apa kau mau melihat hasil rancangan kemarin Zach?" Tanya bibi Rein
"Ya, tinggal beberapa hari lagi bi."
"Mm…apa nona manis ini yang akan memakainya?"
"Ya bi.."
"Baiklah. Nona manis mari ikut bibi sebentar, kita harus memastikan apakah ukurannya pas.." bibi tersenyum lalu menggandeng tangan Celo kearah ruang ganti.
"Zach, bibi pinjam Celo sebentar kau jangan kemana-mana." Zach hanya tersenyum menanggapinya.
"ya..ya sepuas bibi sajalah.." ucapnya diakhiri kekehan.
°°°°
Bibi Rein mengeluarkan sebuah gaun pengantin yang sangat-sangat indah dan cantik menurut Celo namun ada sedikit terbuka dibagian dadanya.
"Nah sayang, mari coba gaun ini. Asisten bibi yang akan membantumu." Seperti perkataan bibi, Celo mengganti pakaiannya dengan dibantu seseorang yaitu asisten bibi.
"Mm..sepertinya ini sedikit kebesaran bagi nona. Tapi tenang saja secepatnya akan kami perbaiki." Ucap si asisten tersenyum.
"Gaun ini terlalu bagus dan juga mahal pasti..." ucapnya sedikit rendah.
"Tidak nona, anda sangat-sangat cantik memakainya." Puji si asisten.
"Satu lagi kak, mm…itu, apa dibagian dadanya tidak bisa ditutupi? Celo merasa tidak nyaman." Lagi asisten tersenyum.
Bibi yang mendengarnya, juga ikut tersenyum.
"Kakak benar, gadis ini memang special. Disaat semua orang suka memakai baju yang menunjukkan lekuk tubuhnya agar terlihat sesexy mungkin dia malah merasa risih." Bibi Rein berucap dalam hati.
"Ya bi, terimakasih."
Sepeninggal bibi Rein, Celo yang penasaran menanyakan perihal gaun itu.
"Kak, gaun sebagus ini apa bibi sendiri yang mendesainnya?"
"Ya nona, bos sendiri yang mendesainnya sesuai permintaan nona Melodi. Karena gaun ini dia yang seharusnya memakainya." Mendengar itu Celo merasa terhenyak. Si asisten yang melihatnya merasa bersalah karena telah mengatakannya.
"Maaf nona, saya tidak bermaksud apa-apa." Ia merasa bersalah pada Celo.
"Tidak apa-apa kak." Celo hanya bisa tersenyum karena memang bukan salah siapa-siapa.
°°°°
Bibi keluar menghampiri Zach yang sedang menyesap teh yang sebelumnya sudah disediakan.
"Zach, apa dia gadis yang akan menggantikan Melodi?"
"Ya, bi. Kenapa?"
"Tidak. Ah ya Zach, apa tidak apa-apa baju milik Melodi diberikan pada Celo?"
"Tak masalah, jika dia kembali dia akan mengerti. Lagi pula, jika membuat yang baru apa akan terkejar?"
"Iya juga. Lagi pula bibi belum menyiapkan desainnya."
"Hmm.."
"Mm Zach, apa kau masih mengharapkan dia kembali?"
"Tentu saja bi. Sampai kapanpun Zach akan selalu mencintai Melodi. Zach sangat yakin dia akan kembali walau entah kapan karena dia hanya boleh menjadi milik Zach!" Ia mengucapkan semua dengan penuh penekanan.
"Lalu bagaimana dengan Celo, kau hanya akan menghancurkan hidupnya!!" Bibi tak kalah sengit melawannya.
"Cukup bi! Bibi sama saja dengan mami, selalu saja membuat Zach pusing!! Ini hidup Zach, jika Celo bersedia menikah dengan Zach berarti dia siap menerima apapun resikonya!!" Entah kenapa perbincangan mereka berubah menjadi sengit. Setelahnya Zach beranjak akan pergi dari sana, baru dua langkah ucapan bibinya menghentikannya.
"Bagaimana jika gadis itu jatuh cinta padamu Zach? Dia akan terluka." Bibi berucap begitu karena ia tau arti dari ekspresi yang dipancarkan Celo, entah gadis itu menyadarinya atau tidak.
"Itu bukan urusan Zach!" Ego sedang menguasai pikiran dan akal Zach.
"Ah..katakan pada gadis itu untuk menunggu disini, nanti akan kujemput." Ucapnya tanpa menatap bibinya sedikitpun.
"Dasar anak keras kepala.." bibi mengatai keponakannya itu.
Celo yang dari tadi tak sengaja mendengarnya merasa sangat sedih. Tapi ia tak mengerti kenapa ia harus sedih, karenanya ia menghampiri bibi Rein yang tengah memijit pelipisnya.
"Mm..bibi, mas Zach dimana?" ia bertanya seolah ia tak mengetahui apapun.
"Zach ya? Tadi dia menerima televon dari seseorang sepertinya penting. Dia berpesan untuk menunggunya saja disini." Bibi Rein menampilkan senyumnya agar Celo tak merasa ada yang aneh.
"Begitu ya. Tapi Celo juga harus kembali ke toko."
"Benarkah? Kalau begitu biat diantar supir bibi saja."
"Tidak usah bi, Celo bisa naik bis." Tolak Celo.
"Eii…jangan begitu."
"Tak apa bi, Celo bisa sendiri." Masih saja ia tersenyum.
"Baiklah jika kau keras kepala. Ingat hati-hati dijalan, tiga hari lagi kalian akan menikah ingat itu nak." Nasehat bibi.
"Ya bi, terimakasih." Ucap Celo dengan senyum manisnya.
°°°°
Malamnya harinya, Celo menyadari sesuatu saat ia akan menenggelamkan diri dalam dunia mimpi. Suatu kenyataan menghantam pikiran Celo, lamaran, gaun pengantin, pernikahan, calon mertua bahkan calon suami itu semua bukanlah miliknya ia hanya sosok pangganti. Semua hanya pinjamam dan pada saatnya nanti, siap tak siap ia harus mengembalikan semua pada posisinya semula.
Mengingat itu semua Celo merasa sesak karena pada saat itu ia harus rela melepas pria yang dicintai pergi dari hidupnya untuk selamanya. Ya, akhirnya Celo menyadari bahwa debaran yang selalu ia rasakan adalah tanda ia mencintai pria itu, Zach. Aneh memang pria kejam yang seharusnya ia benci justru malah membuatnya jatuh dalam pesonanya.
"Kenapa kenyataan selalu tak adil padaku? Hiks…hikss…" tak bisa ditahan air mata berdarai dikedua matanya.
"Aku mencintaimu mas. Hiks..hikss.." malam itu perasaan cinta Celo tenggelam dalam tangisnya.
°°°°