Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Membandingkan



"Zach...kenapa tidak bilang kalau Celo yang akan jadi istrimu??"


"Maminya aja yang selalu begitu, anak belum selesai bicara mami udah buru-buru menyimpulkan." Lagi, Zach mencemooh maminya.


"Ya..ya, terus saja Zach, terus saja olok-olok mamimu ini."


"So sorry mih...Zack becanda kok. Hehehee..."


"Jadi bagaimana kalian bisa bertemu?? Celo, ceritakan sama mami nak..." mami bergelayut manja ditangan Celo seperti anak kecil.


Sekilas Celo melihat kearah Zach, dan benar saja Zach memperingatinya lewat tatapan mata.


"Itu mi, kemarin Celo ga sengaja nabrak Zach. Ya udah, sebagai ganti maaf Zach minta Celo buat gantiin Melodi." Tentu saja dia tidak akan menceritakan yang sebenarnya, bisa habis Zach kalau maminya tau yang sebenarnya.


"Zach, beginilah harusnya kau cari istri. Tidak seperti Melodi, lihatkan sekarang saj-"


"Mih..udahlah mi. Sampai kapanpun Zach akan selalu mencintai Melodi, apapun yang terjadi. Jangan banding-bandingkan Melodi dengan dia, dan lagi disini dia hanya sebagai pengganti." Zach merasa sangat kesal karena maminya membanding-bandingkan wanita yang sangat dicintainya dengan Celo yang baru ditemuinya.


"Itu tu yang mami tidak suka. Kau selalu saja membangkang jika sudah menyakut wanita itu, tanpa kau sadari dia membawa pengaruh buruk padamu."


Dalam hati sebenarnya Zach sedikit membenarkan perkataan maminya, Melodi memang egois dan arogan. Tapi mau bagaimana lagi ia begitu mencintai melodi.


"Ya sudahlah. Mami malas berdebat denganmu. Yang ada ujung-ujungnya pasti kau akan membantah mami lagi."


"Ya udah. Maaf mi."


"Celo sayang bagaimana kalau mulai sekarang kau mulai pindah kesini. Itung-itung mulai membiasakan diri."


"Mmaaf bibi, Celo tidak bisa. Kasihan orang dirumah." Tolak Celo halus.


"Begitu ya....sayang sekali. Tapi, kok bibi sih sayang, panggil mami dong sebentar lagi kau akan jadi putri mami juga." Mami begitu gemas akan tingkah Celo.


"Y-ya ma-mmi."


"Mm...ttu- kkak Zach, apa Celo bisa pulang sekarang? Tadi Celo janji pada bibi kedai hanya pergi sebentar." Celo berucap sedikit pelan pada Zach.


"Oh. Baiklah silakan balik sendiri. Aku masih punya banyak keperluan lain." Rasanya dia malas sekali mengantarkan Celo, karena tadi dia sempat dibandingkan dengan Melodi.


"Baiklah kak."


"Lohh..jangan gitu dong nak. Kasiankan Celo harus pergi sendiri."


"Tidak perlu b- mmi...Celo bisa sendiri."


Zach yang dapat tatapan aneh dari maminya terpaksa mengalah untuk mengantarkan Celo.


"Aishh...baiklah. Ayo.."


"semoga saja sebelum tuh wanita balik, Zach udah bisa nerima Celo dan juga mencintainya." harap mami dalam hati.


°°°°


Dalam mobil mereka hanya diam saja sama seperti waktu mereka akan berangkat tadi.


"Kemana kau harus kuantar nona??"


"Tidak usah tuan, antarkan saja saya sampai ada halte."


"Baiklah."


Seperti perkataan Celo Zach benar-benar menurunkan Celo dihalte terdekat.


"Terimakasih tuan."


Tanpa menjawab Zach lansung saja melajukan mobilnya. Dan tak lama setelah itu bus yang akan ditumpangi Celo juga datang.


°°°°


Selepas mengantar Celo hingga halte terdekat, Zach menemui teman-temannya ditempat biasa mereka berkumpul.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan solusi dari masalah ini Zach?" Eric yang lebih peka menanyai sahabatnya, selain itu Zach juga minta bantuan padanya untuk mencari Melodi.


"Sudah.." dia menjawabnya acuh tak acuh.


"Tak ada jejak satupun. Sepertinya ada seorang berpengaruh dibelakang hilangnya Melodi." Eric yang backgroundnya seorang pekerja malam agak kesulitan melacaknya.


"Sulit bukan berarti tak mungkin kan." Zach tak pernah ragu akan kemampuan sahabatnya satu ini.


"Ya. Tapi ini akan memakan sedikit waktu." Eric tak gentar akan tantangan Zach.


"Tak masalah asal kau menemukannya. Aku harus tau kenapa dia pergi begitu saja dan tanpa ada kabar sedikitpun..." Ada emosi terpendam dalam diri Zach saat ini.


"Lalu bagaimana dengan semua rencana pernikahan kalian?" Shane ikut bergabung dalam pembicaraan mereka karena dari tadi ia sibuk dengan sendirinya.


"Aku akan tetap menikah sesuai rencana. Aku tidak mau kalau sampai nama baik keluargaku tercoreng karena wanita egois itu." Nampak jelas Zach marah dengan Melodi.


"Lalu kau akan menikah dengan siapa? Tak mungkinkan kau menikah dengan diri kau sendiri.. hahahaa kau lucu Zach..." Shane tertawa ia menanggapi ucapan sahabatnya dengan lucu.


"Ya tentu tidak bodoh!! Mana bisa aku menikah sendiri. Kau pikir aku orang gila." Ya pastilah Zach kesal dengan candaan Shane.


"Ya...siapa tau sajakan, kau jadi gila karena ditinggal mempelai wanita." Lanjutnya mengejek.


"D.I.A.M!" Seketika itu juga Shane membungkam mulutnya serapat mungkin.


"Zach, dengan siapa kau akan menikah?" Berbeda dengan Shane, Eric menanggapinya dengan serius.


"Dengan perempuan yang hari itu kuceritakan.." jawabnya santai.


"Apa? Jadi kau benar-benar memanfaatkan gadis polos itu?" Eric seolah tak percaya akan sikap Zach satu ini.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku tak punya pilihan lain." Ia berucap dengan frustasinya.


"Kau tau sendirikan umurnya masih 18 tahun."


"Ya tentu aku tau itu. Apa kalian tau siapa gadis itu?"


"Siapa?" Shane dan Eric berbarengan.


"Dia gadis yang waktu itu sudah menyelamatkan papi. Jadi mami sangat menyukai gadis itu dan lansung menyetujuinya."


"Wahh...selamat broh.." dasar Shane selalu saja sembrono.


"Zach ini bukan masalah mami setuju atau tidak. Tapi bagaimana dengan gadis itu? Tentu masa depannya masih panjang." Eric benar-benar tak mengerti akan jalan pikiran sahabatnya ini.


"Aku akan menanggung semua hidupnya, begitu juga dengan masa depannya dan juga ini hanya sementara. Hanya sampai Melodi kembali dan menempati posisinya yang sebenarnya."


"Kau akan tetap menerima Melodi jika kembali nanti?" Sekarang Shane yang bertanya.


"Tentu saja.."


"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa kau akan membuangnya?" Entah kenapa Eric sedikit marah akan pemikiran Zach.


"Aku tidak membuangnya Ric. Aku hanya mengebalikan semua pada tempatnya semula. Dan lagi kenapa kau sepertinya sangat memperhatikan gadis itu? Kau menyukainya Ric?" Zach menyipitkan matanya kearah Eric.


"Kau tak akan paham Zach!! Bagaimana hancurnya wanita yang ditinggalkan!!" Eric berucap dengan berapi-api dan pergi setelahnya.


Mereka berdua terdiam melihat ledakan emosi Eric, tak seperti biasanya, ia selalu bisa bersikap tenang.


"Eric kenapa??" Zach heran akan tingkah Eric hari ini.


"Kau lupa, Eric kan emang selalu simpati dengan wanita. Apalagi jika ia melihat wanita disakiti. Kau ingatkan masa lalu ibunya??" Shane mengingatkan akan masalalu Eric san ibunya yang kelam.


"Ahh...bagaimana aku bisa lupa akan hal itu. Aku harus minta maaf.." sesal Zach.


"Ya. Sebaiknya memang begitu.."


Zach pergi meninggalkan Shane sendirian dan segera menyusul Eric. Ia tak mau kalau sampai persahabatannya kacau hanya karena kelalaiannya.


°°°°


Semenjak pertemuannya dengan Zach, belakangan ini Celo lebih banyak melamun. Ia selalu terpikirkan akan bagaimana hidupnya nanti dan jika ia dibawa kerumah mertuanya setelah menikah nanti bagaimana dengan nenek dan ayahnya? Semua itu selalu melayang-layang dibenaknya.


"Ibu...lindungi kami dari surga dan berikan Celo kekuatan melalui semua ini bu. Celo sangat menyayangi kalian semua." tanpa dikomandoi air mata jatuh dengan sendirinya.


■■■■