Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Bye Daddy



▪︎▪︎▪︎▪︎


"Zach usai sarapan ini, temui Papi ke ruang kerja. Ada hal penting yang harus Papi bahas dengan mu." Pagi ini keluarga Alterio sarapan bersama lagi sayangnya ada yang kurang yakni Chris.


"Ya Pi." Sarapan pagi ini menghidupkan kembali suasana yang sempat redup.


"Pi, Mi, Zach mau kasih tau sesuatu." Yang merespon tidak hanya orang tuanya, tapi Celo juga ia tak tau apa yang akan di sampaikan suaminya itu.


"Apa nak?" Mami menoleh penuh harap ke putranya.


"Delapan bulan lagi kalian akan kedatangan anggota baru, Celo sedang hamil cucu kalian sekarang." Ujar Zach penuh semangat.


"Apa? Astaga, Pi, Mami tidak lagi bermimpikan?" Beliau menepuk-nepuk pelan wajahnya sendiri, membedakan antara mimpi dan kenyataan sebenarnya.


"Tidak Mi. Disini, sudah tumbuh cucu Mami Zach mohon doanya agar istri dan anak Zach selalu sehat sampai saatnya dia datang ke dunia ini." Ujar Zach seraya mengusap lembut perut istrinta yang masih rata. Celo terharu dengan ucapan suaminya, tak hanya ucapan dimata pria itu Celo juga melihat cairan bening menggenang di sudut mata elangnya.


"Tentu. Sayang, selamat ya nak. Mami akan lebih memperhatikan mu mulai dari sekarang." Mami memeluk erat menantu kesayangannya itu.


"Terima kasih Mi."


"Sama-sama sayang."


Hari ini, tepatnya pagi ini keluarga Alterio mendapat berkah tak terkira. Mereka sangat bahagia akan kabar baik ini, setidaknya bisa menghibur ditengah hilangnya Chris.


^^^^


"Sayang, Mas ke Papi dulu. Ingat untuk hati-hati, jangan kerjakan yang berat-berat." Meski masih diatap yang sama, Zach masih saja mengingatkan istrinya.


"Tenang saja nak, Mami pasti akan memperhatikan istri mu toh ini akan jadi cucu pertama Mami." Mami berdiri diantar mereka berdua.


"Hehe…"


"Sudah sana, sepertinya penting yang akan disampaikan Papi mu" bukannya mengusir, Mami hanya mengingatkan saja.


"Jadi, apa Zach sudah mencintai mu nak?" Tanya Mami lansung penuh penasaran.


"…." Bukannya menjawab, Celo malah menunduk ia menyembunyikan wajahnya yang sudah merona kemerahan.


"Ah Mami tau, pasti sudah. Iya kan?" Melihat reaksi menantunya, Mami jadi semakin menggodanya.


"Celo malu Mi."


"Kenapa malu sayang? Mami sangat bahagia, akhirnya Zach bisa terbebas dari obsesinya terhadap wanita ular itu." Tak ada habisnya beliau memeluk Celo, baginya istri putranya itu tak hanya menantu tapi juga putrinya.


Di sudut lain rumah itu, Zach sedang berbicara serius dengan Papi nya. Mereka nampak serius membahas sesuatu yang penting.


"Apa tindakan mu selanjutnya? Apa kau hanya akan diam saja atas semua yang dilakukan wanita itu? Dia tak hnaya menyakiti, tapi dia juga sudah membunuh keturunan Alterio yang bahkan belum terlahir ke dunia ini." Marah Papi tapi masih dengan sikap tentangnya.


"Jadi Papi sudah tau semuanya?" Zach sudah tidak heran lagi, Papi nya memang selalu memantau apa saja kegiatan mereka tanpa ikut campur karena itulah Zach tidak pernah keberatan akan hal itu.


"Ya. Dan kau tau bagaimana perasaan Papi sekarang? Papi sangat marah Zach, tapi Papi mau kalian bersikap dewasa dan menyelesaikannya sendiri. Papi tidak yakin jika Papi sendiri yang bertindak." Terang Papi.


"Zach paham Pi, untuk urusan pria-pria itu biar Eric yang menghukumnya, setelah itu baru diserahkan ke kepolisian. Untuk Melodi, Papi tenang saja Zach sendiri yang akan menghukumnya." Ia juga sangat dendam pada wanita itu.


"Papi percayakan padamu. Setelah ini apa kau akan kembali ke Holland?"


"Ya Pi."


"Tapi Pi, perusahaan Zach masih belum stabil sekarang." Sebenarnya yang di Holland itu adalah perusahan milik Zach sendiri yang ia bangun dari nol untuk masa depannya bersama Melodi, tapi itu dulu lain halnya sekarang.


"Butuh berapa lama?"


"3 bulan, beri Zach waktu tiga bulan Pi. Setelah semua stabil Zach akan menyerahkannya ke Bryan."


"Baiklah. Kalau begitu biar Chris menetap disana bersama Bryan." Ujar Papi lagi.


"Maksud Papi? Tapi Bryan sudah memiliki kekasih Pi dan mereka saling mencintai." Tolak Zach yang tau hubungan Bryan dan Sesyil.


"Biar mereka yang memutuskan sendiri." Ucap Papi datar.


"Baiklah. Sementara Zach akan menitipkan Celo disini sampai kembali."


"Ya, Celo lebih aman berada disini mengingat wanita itu yang masih bebas berkeliaran di luaran sana." Saut Papi tidak suka.


^^^^


Tibalah hari kepergian Zach kembali ke Holland. Sebenarnya Celo sangat ingin ikut, beruntung Zach bisa meyakinkannya bahwa Usia anak mereka masih sangat muda dan rentan.


"Sayang, maafkan Mas. Mas janji setiap bulannya akan pulang kesini untuk melihat kalian." Di tatapnya dalam-dalam wajah istrinya itu.


"Ya Mas. Hati-hati dijalan, kabari Celo jika sudah sampai juga titip salam untuk semua disana."


"Ya." Zach meraih wajah istrinya. Meraup bibir manis yang sudah menjadi candu itu, mengingat lama sekali ia akan berpuasa untuk tidak mengecupnya.


"Sayang, jangan nakal ya nak. Jangan menyusahkan Mommy, Daddy hanya pergi sebentar." Ia berujar pada perut istrinya seakan bayi di perut Celo sudah bisa diajak bicara.


"Mas berangkat." Pamitnya setelah sebelumnya memeluk lama tubuh mungil wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.


"Bye Daddy, semoga selamat sampai disana. Mommy akan selalu merindukan Daddy disini, ingat jangan macam-macam ya Dadd." Gumam Celo lirih memperhatikan punggung suaminya yang perlahan mulai menghilang.


"Ayo kita pulang nak." Mami yang juga ikut mengantar putranya membawa Celo untuk segera pergi dari sana.


"Ya Mi."


"Ayo kita berbelanja, kata orang dengan belanja kita bisa menghilangkan kesedihan." Ujar Mami asal untuk menghibur menantunya. Dengan adanya Celo Mami tak lagi kesepian ditambah lagi Celo tengah hamil cucunya.


^^^^


"Ahh sial!! Kemana aku harus bersembunyi sekarang. Mereka berhasil membuatku menjadi buronan dimana-mana. Kenapa juga pria tua itu harus sampai tertangkap." Kesalnya yang masih saja menyalahkan orang lain.


Saat sekarang wanita itu tengah bersembunyi di pinggiran kota yang kebetulan ia menemukan sebuah rumah kosong. Setelah hari dimana ia dicekik oleh Zach tepat hari itu juga polisi mengejarnya.


Bryan dengan bukti yang kuat melaporkannya ke polisi. Sementara pria tua itu ia berhasil pergi sehari sebelum Bryan melaporkan mereka dan ia pria itu juga yang sudah menculik Celo dan coba menghabisi Zach.


"Arghh..kenapa tidak terpikir sebelumnya kalau di rumah itu ada cctv? Gagal sudah semua. Gagal, dan gagal terus!!"


"Ini lagi, kapan anak ha**m ini akan keluar. Dibunuh pun juga percuma karena tidak bisa yang ada aku malah yang terbunuh." Sudah seperti orang gila, ia mengumpat dan marah pada dirinya sendiri.


"Lihat saja, sampai kapan kalian semua akan tertawa bahagia? Aku akan kembali suatu hari nanti, dan menghabisi kalian satu persatu." Seringai iblis jelas tercetak di wajahnya.


▪︎▪︎▪︎▪︎