
▪︎▪︎▪︎
Pagi ini tidak seperti biasa, Bryan masih betah bermalas-malasan di atas ranjang yang tentunya bersama istri tercintanya. Sesyil yang hendak bangun pun harus gagal sebab eratnya pelukan Bryan.
"Kenapa heum?" Sesyil membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi sang suami. Sebelah tangannya yang tadi terjepit antara tubuhnya juga tubuh Bryan, ia bebaskan untuk kemudian di usapkan lembut ke wajah pria yang dicintainya itu.
"Tidak ada." Bryan berbohong demi menjaga perasaan istrinya itu.
"Tidak ada, tapi kenapa wajahmu terlihat bimbang? Tidak biasanya juga kau malas untuk datang ke kantor." Ujar Sesyil sembari menggeser tangannya memainkan kancing piama tidur Bryan.
"Jangan dimainkan. Aku tidak sanggup menahan godaan di pagi hari." Tukas Bryan yang sukses membuat wajah Sesyil merah padam karena malu.
Plak
"Kau ini." Wanita itu memukul ringan dada Bryan yang tadi ia mainkan.
"Memang kapan kau bisa tahan godaan heh? Dasar pria mesum!" Dengan semua kekuatannya, Sesyil lepas dari dekapan suaminya. Sebelum Bryan bergerak untuk meraihnya kembali, ia sudah masuk ke dalam kamar mandi hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup kasar.
"Baby. Ayolah. Kau tau, aku merindukan mu." Sorak Bryan setengah berdiri menggunakan kedua lutut di atas ranjang mereka. Ia mengacak rambutnya kasar, sebab gairahnya pagi ini gagal tersalurkan.
"Maaf sayang. Aku lupa jika pagi ini ada janji dengan W.O, mereka memesan banyak bunga untuk pesta pernikahan." Pekik Sesyil agar suaranya bisa terdengar dari luar.
"Shit! Orang yang menikah, aku yang harus menahan gairah!" Umpatnya kasar, kemudian beranjak dari kasur lalu melangkah ke arah balkon.
Tiga puluh menit cukup bagi Sesyil untuk ritual mandi paginya. Masih mengenakan jubah mandi, wanita itu duduk di depan meja rias sembari tangannya mengaplikasikan make up natural di wajahnya. Bryan yang sudah masuk kembali ke dalam kamar mereka, menghampiri Sesyil. Ia setengah mendudukkan bokongnya di meja rias tepat di hadapan sang istri. Bola mata biru ke abu-abuan miliknya menelusuri siluet sang istri mulai dari wajah hingga kaki.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" Sesyil bertanya namun masih di sibukkan dengan ritual kecantikannya.
"Kenapa semakin hari kau semakin cantik saja Baby?"
"Apa?" Sentak Sesyil, jika sudah memuji seperti ini, biasanya Bryan tidak akan membebaskan Seyil barang sejengkal pun dari atas ranjang mereka.
"Bry, ini sangat penting. Aku tidak mau karena keterlambatan ku, pernikahan dua orang menjadi kacau." Sesyil bersungut dengan tatapan memelasnya.
"Baiklah. Tapi tidak untuk nanti malam." Gertak Bryan. Memang dasar, pria mesum tidak punya aturan juga hati, begitulah umpatan Sesyil untuk suami mesum yang sayangnya ia cintai itu.
"Biar aku bantu." Bryan melihat Sesyil melepas lilitan handuk di kepalanya dan hendak untuk mengeringkannya. Berinisiatif untuk membantu, hitung-hitung berbaik hati pada wanita yang sudah mau menerima segala kekurangannya. Ia beranjak dari posisi sebelumnya untuk mengambil hair dryer yang di letakkan rapi di rak perlengkapan make up milik Sesyil.
"Terima kasih sayang." Sesyil meraih tengkuk sang suami yang kini telah berada di belakangnya untuk mengeringkan rambutnya untuk memberikan kecupan sekilas.
***
Siangnya, karena bosan berada di rumah seharian seorang diri. Bryan berpikir untuk datang saja ke kantor, sekedar untuk mengecek jika ada berkas yang penting. Lagi pula, ia tidak mau terlihat seperti seorang suami yang tega membiarkan istrinya mencari nafkah di luaran sana, sementara ia bermalas-malasan saja di rumah.
"Ya, rencana awal memang seperti itu. Tapi aku terlihat seperti pengangguran yang di nafkahi istri jika terus tidur di rumah." Bryan mengerucut kesal. Baginya, felix bukanlah orang lain, karena mereka sama-sama di asuh dan di didik oleh Zach. Dari mereka yang bukan siapa-siapa hingga kini di kenal dan disegani di dunia bisnis.
"Tuan ini, ada-ada saja. Mana ada yang seperti itu?" Felix menyahuti candaan Bryan.
"Ada. Kau tidak percaya? Coba saja kau survei ke negara lain yang padat penduduk, disana mereka banyak yang mengandalkan istri. Lalu, disaat istri mereka bekerja mencari uang, mereka malah bermain di belakang bersama perempuan lain." Jelas Bryan, yang entah kenapa malah membicarakan kisah drama dengan episode berkepanjangan itu.
"Hahaha, Tuan ini."
"Kau lupa? Hanya kita berdua di sini, jangan panggil Tuan. Itu terlihat, aku seperti lebih tua dari mu." Ingat Bryan ke Felix yang sebenarnya lebih tua beberapa tahun darinya.
"Maaf. Sudah jadi kebiasaan, agak sulit merubahnya." Ujar Felix.
***
Sore menjelang, Bryan mampir ke toko bunga di seberang jalan tepat di depan perusahaan Zach untuk menjemput sang istri. Ia beniat untuk mengajak Sesyil pergi kencan sebelum malam tiba dan melepas rindu mereka di atas ranjang.
"Sayang, kau datang ke kantor?" Sesyil di kejutkan dengan Bryan menghampirinya dengan pakaian formal yang biasa ia kenakan jika ke kantor.
"Aku bosan di rumah sendirian." Bak anak kecil, pria dewasa itu mengerucutkan bibirnya lalu berlari memeluk Sesyil. Persis anak kecil yang merindukan Ibunya.
"Tau bosan, kenapa tidak dari pagi tadi saja kau datang ke kantor heum?" Sesyil malas memeluk Bryan. Wanita itu mengusap lembut punggung juga kepala sang suaminya. Meski Bryan cukup tinggi baginya, namun karena pria itu menunduk dan menumpukan berat tubuhnya di bahu Sesyil, jadilah wanita itu bisa mengusap kepalanya.
"Aku pikir kau mau menemaniku seharian di rumah. Eh, tapi kau malah mementingkan pernikahan orang lain ketimbang suami tampan mu ini." Bryan kembali bersungut, ia lalu mengurai pelukan mereka.
"Kau ini ada-ada saja. Ayo kita pulang." Sesyil beranjak dari hadapan Bryan, wanita itu berjalan ke arah meja kerjanya untuk meraih tas serta ponselnya.
***
Usai berkencan singkat, sepasang suami istri itu kini tengah berbaring di atas ranjang usai melepas rindu dan bergulat panas disana. Sesyil tiduran di atas dada keras Bryan yang masih lembab karena peluh akibat pergulatan mereka tadi.
"Sayang," panggil Bryan, sebelah tangannya mengusap lembut punggung polos tidak berbalut pakaian milik Sesyil, sementara tangan sebelahnya ia jadikan sebagai bantalan di kepala.
"Heum…" sahut Sesyil dengan suara serak dan masih mengatur mengatur nafas.
"Kau tau bukan, semua yang kita miliki dan nikmati ini bukanlah milikku. Apa kau siap jika suatu hari nanti, kita melepas ini semua dan hidup sederhana saja?" Bryan berniat untuk menceritakannya pada sang istri. Ia tidak mau ada rahasia dalam rumah tangga mereka.
"Apa yang kau bicarakan? Kau sangat tau bukan, jika aku mencintai mu bukan karena apa yang kau raih dan kau miliki. Namun, karena itu memang dirimu. Bryan yang pekerja keras dan mencintai ku apa adanya." Sesyil bangun dari posisinya, ia duduk tepat disisi Bryan setelah sebelumnya melilitkan handuk untuk membungkus tubuh polos berkeringatnya. Sementara Bryan, masih dengan posisi yang sama, hanya saja tatapannya beralih mengikuti gerak Sesyil.
"Aku,-"
▪︎▪︎▪︎