
●●●●
Sekeluarnya mereka dari ruangan Dokter Nate nampak dari kejauhan seorang wanita dengan perut mulai membuncit memperhatikan mereka.
"Zach…"
••••
"Aku merindukan mu Zach, kenapa kau tak pernah lagi menghubungi ku? Apa wanita itu istri mu? Apa dia juga sedang hamil? Apa dia juga yang sudah membuat mu melupakan ku?" Tatapan itu sangat sendu.
"Tapi tenang saja Zach, secepatnya akan ku buat kau berbalik pada ku lagi." Tatapan sendu itu hanya bertahan sebentar yang digantikan dengan seringai licik.
"Miss Melodi…" dari kejauhan terdengar namanya di panggil, segera ia masuk kedalam ruangan Nate. Ya, wanita itu adalah Melodi.
"Selamat siang Miss Melodi." Sapa Nate.
"Siang Dokter Nate." Senyum khas wanita ja**ng menghiasi wajahnya.
"Ingat tak ada batasan untuk ancaman ku kemarin Miss." Sekarang giliran Nate yang menyeringai licik.
"A-appa maksud Dokter?" Wajah serta bibirnya memucat tak lupa tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Jangan kau kira aku bodoh! Aku tau kau melihat mereka di depan. Dengar, jika kau mau bermain-main dengan ancaman ku boleh di coba Miss." Tatapan dingin itu membuat siapa saja yang melihatnya bisa merasa seperti tertusuk pisau belati. Menakutkan.
"Tid-tiddak Dokter. Aku tidak akan mengganggu mereka."
"Bagus. Jadilah wanita hamil yang baik, dan aku menyukainya." Nate tersenyum penuh arti. Lain halnya dengan Melodi, wanita itu serasa di atas awan atas ucapan Nate barusan.
"Aku tidak akan mengejar Zach lagi jika kau mau dengan ku. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengganggu wanita sia**n itu." Batin Melodi dengan pikiran liciknya.
"Heh…aku tau apa yang ada di otak jahat mu itu ja**ng." Nate juga membatin melihat arti tatapan mata Melodi.
"Sudah selesai bukan. Sebaiknya kau pergi menjalankan rencana licik mu itu, agar aku juga bisa memberi mu pelajaran Melodi." Setiap kata yang terucap dari bibir Nate penuh penekanan.
"Tiddakk. Aku akan lansung pulang." Ia segera beranjak meninggalkan Nate seorang diri di ruangannya.
••••
Sudah satu minggu semenjak Melodi melihat Zach bersama istrinya dan juga ia bertemu dengan Nate. Entah kenapa ia merasa ancaman Dokter tampan itu benar adanya, ia merasa setiap gerak gariknya selalu diawasi seseorang.
"Hah…Dokter tampan itu ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Setiap keluar selalu saja ada yang mengikuti ku." Keluhnya pada diri sendiri.
"Heh bayi si***n, kenapa ayah mu tidak pernah datang lagi ya? Aku kan sangat merindukan sentuhan nya." Ia menepuk pelan baby bump nya.
"Apa? Kau tidak tau? Heh…dasar bayi tak berguna." Makinya pada janin yang ada di perutnya sendiri.
"Bosan di rumah terus, pergi kemana ya?" Wanita hamil itu sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ahhh…aku pergi ke sana saja." Ia berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
"Delinnn…" teriaknya memanggil asisten pribadinya.
"Ya Nona, anda butuh sesuatu?"
"Selalu saja itu yang kau ucapkan! Antar aku ke suatu tempat." Perintahnya penuh nada pongah.
"Tap-"
"Cukup antar aku! Tak ada kata tapi." Kali ini dengan nada bentakan.
"Baik Nona."
••••
Tring
Suara bel berdenting pertanda ada pelanggan yang datang. Karyawan Celo yang sedang tidak sibuk mengampirinya.
"Selamat siang Miss, ada yang bisa kami bantu?" Tanya nya dengan ramah.
"Tentu saja! Kau pikir aku kemari untuk memilih sendiri lalu mengepaknya sendiri juga begitu! Dasar orang rendahan!!" Hinanya dengan kasar.
"Ma-maaf Miss…"
"Heuh…satu pekan yang lalu aku memesan buket bunga disini. Aku suka hasilnya, siapa diantara kalian yang menatanya?" Meski bertanya tetap saja ia menggunakan nada sombongnya.
"Atas nama siapa Nona?" Karyawan Celo bertanya dengan takut-takut.
"Ahh…Nyonya yang sedang hamil itu." Ingatnya.
"Nyonya? Kau pikir aku sudah tua hah!!" Sekali lagi karyawan itu salah lagi dalam berkata.
"Maaf…itu Bos kami sendiri yang menatanya. Katanya spesial karena anda tengah hamil Miss…"
"Oh…kalau begitu pinta ia kemari. Aku mau dia menata satu keranjang bunga lagi untuk ku." Titahnya.
"Sebentar Miss, saya panggil Bos dulu." Bukannya menjawab ia malah mengibaskan telapak tangannya layaknya mengusir hewan.
"Miss…pelanggan wanita yang hamil pekan lalu datang ke mari. Katanya dia, mau Miss untuk menatakan bunga lagi untuknya.
"Ah..baiklah. pasti dia sangat cantik." Senyum lebar di nampakkan oleh Celo.
"Cantik sih cantik Miss, tapi dia sombong dan tidak ramah. Saya tidak menyukainya."
"Benarkah? Mungkin saja itu bawaan bayinya." Bela Celo.
"Bawaan bayi apanya? Jika masih dalam kandungan saja sudah begitu apalagi saat dia lahir dan tumbuh dewasa. Pasti akan mengerikan." Ia bergidik ngeri membayangkannya.
"Kau ini ada-ada saja." Celo beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Melangkah keluar dari privat room miliknya untuk menemui pelanggannya, Melodi.
"Mana Bos kalian itu heh? Sombong sekali dia, baru juga punya toko kecil ini." Hinaan dan umpatan tak pernah lepas dari bibir merah menyalanya.
"Selamat siang Nona, Maaf membuat anda menunggu hingga tak nyaman." Celo menghampiri Melodi yang sedang memunggungi nya.
"Heh!!" Melodi memutar tubuhnya dan matanya lansung bertemu tatap dengan mata bulat milik Celo.
"Heii…lihat. Apa ini? Pucuk di cinta ulam pun tiba, tak perlu mencari istri mu yang menampakkan dirinya sendiri Zach. Persetan dengan Nate, aku akan mengerjai wanita ini dan membuatnya kehilangan bayinya." Sorak Melodi dalam hati dan bodohnya ia menduga Celo tengah hamil sekarang.
"Nona…" panggil Celo disertai lambaian didepan mata Melodi.
"Ah…ya..Maaf saya melamun. Saya sedang memikirkan warna bunga apa saja yang nanti akan saya pilih." Bohongnya.
"Dasar, wanita bermuka dua. Jelas-jelas tadi dia mengatai Miss Celo." Bisik salah satu karyawan Celo pada temannya.
"Huss…nanti kalau dia dengar bagaimana? Bisa-bisa Miss Celo yang akan kena masalah."
"Iya juga ya." Mereka memilih diam dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
"Jadi anda mau yang bagaimana Miss?" Celo mulai mencatat dan menggambarkan bagaimana rangkaian yang akan ia tata.
"Yang bagus saja, seperti kemarin. Saya sangat puas akan hasilnya." Ia mulai bermain peran sekarang.
" ahh…terima kasih jika anda puas Miss." percuma saja Celo berterima kasih, Melodi sama sekali tak menggubrisnya.
••••
Tak butuh waktu lama untuk Celo memilih bunga yang cantik dan juga menatanya seindah mungkin. Tak ayal itu mendatangkan decak kagum dari pelanggan lainnya yang kebetulan ada disana.
"Wahh…indah sekali. Mm…apa boleh saya sering-sering berkunjung kemari?" Pintanya dengan mengusap perut buncitnya, dan juga ada maksud terselubung disana.
"Tentu saja, kami akan sangat senang jika Nona sering datang." Celo memberikan senyum terbaiknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, thanks." Ia berjalan dengan angkuh sementara bunganya dibawa oleh asistennya.
"Kita mau kemana lagi Nona?" Tanya Delin takut salah lagi.
"Kita mengintai seseorang dulu disini." Entah kenapa ia yakin Zach akan menemui istrinya.
Bingo! Baru lima belas menit, ia menangkap siluet Zach yang akan masuk ke toko bunga tersebut.
"Hehee…Zachery, i'm back honey…" ia tersenyum miring seraya menggigit bibir bawahnya.
●●●●
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman... jadikan FAVORITE
Dukung dengan LIKE & COMMENT
Juga VOTE jangan lupa FREE kok
TERIMA KASIH